Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Pidato Politik Pimpinan PRP Menyambut Sewindu Ulang Tahun PRP

Expand Messages
  • KP-PRP
     Pidato Politik Pimpinan Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja Nomor: 416/PI/KP-PRP/e/V/12 (Disampaikan pada Hari Lahir PRP 13 Mei 2012)     Sewindu PRP:
    Message 1 of 1 , May 15, 2012

     Pidato Politik
    Pimpinan Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja
    Nomor: 416/PI/KP-PRP/e/V/12
    (Disampaikan pada Hari Lahir PRP 13 Mei 2012)
     
     
    Sewindu PRP: Progresifkan Radikalisasi Gerakan Buruh dalam Persatuan Politik Kelas Pekerja!
     
     
    Jakarta, 13 Mei 2012
     
    Kawan-kawan seperjuangan,
                Tahun ini PRP genap berusia sewindu (delapan tahun). Dilahirkan pada 13 Mei 2004 di Solo, oleh bidan-bidan pergerakan kiri yang mencemaskan arah politik pasca kejatuhan rezim Soeharto yang dikuasai gerakan reformis untuk memoderasi kekuatan gerakan sosial ke arah pendulum politik demokrasi yang pro-kapitalisme. Sedangkan ada bagian-bagian dari gerakan kiri tergergaji oleh iming-iming pragmatis untuk berkolaborasi dengan kekuatan borjuasi yang menguasai partai-partai politik. Sekali pun tetap ada yang bertahan dalam skala perlawanan-perlawanan kecil. Demikianlah, latar belakang yang melahirkan gagasan UNIFIKASI KIRI, ialah untuk menyatukan perlawanan-perlawanan kecil yang memiliki tujuan serupa, yakni melawan kapitalisme baik di bidang ekonomi, politik, dan budaya.
                Mari kita refleksikan kembali perkembangan objektif di Indonesia. Di bidang ekonomi, petunjuknya dapat kita saksikan pada kemulusan pasar bebas masuk ke Indonesia. Privatisasi berjalan terus. Pemberlakuan sistem kerja kontrak dan outsourcing terhadap kaum buruh makin meluas. Pencabutan subsidi juga terus terjadi, sekalipun dibuat bertahap dan kadang tanpa pemberitahuan pada publik. Di bidang politik, demokrasi liberal berhasil diwujudkan dalam mekanisme pemilihan langsung yang mengedepankan prosedur ketimbang substansi dari demokrasi. Demokrasi liberal di Indonesia terus dibayangi oleh bahaya militerisme. Terutama karena borjuasi sipil Indonesia tidak terbentuk sebagai borjuasi yang tangguh, yang sanggup membangun sebuah struktur ekonomi-politik kapitalis yang tangguh. Di samping itu, ketergantungan borjuasi Indonesia pada modal asing menyebabkan mereka sangat tidak mampu membuat keputusan ekonomi-politik yang populis. Karena itu, borjuasi Indonesia membutuhkan militer sebagai penjamin keberlangsungan kekuasaan kelas mereka. Di bidang budaya, kita dijejali dengan propaganda mistik melalui agen-agen borjuasi, terutama media massa. Atas nama pasar bebas, berita-berita dan cerita-cerita yang mistik serta penuh kekerasan, mewarnai media televisi maupun cetak. Tayangan-tayangan kuis dan kontes-kontes idola, secara efektif juga digunakan untuk membelokkan isu-isu yang kritis dari benak rakyat, karena rakyat terbujuk oleh harapan semu untuk bisa keluar dari krisis kemiskinan mereka melalui acara-acara semacam ini
                Dengan latar belakang objektif itulah PRP mempunyai mandat untuk membentuk formasi baru gerakan kiri, menyatukan kekuatan rakyat pekerja yang terbelah-belah, dan tidak efektif kerjanya. Formasi baru gerakan kiri atau unifikasi kiri tersebut haruslah dipimpin oleh rakyat pekerja yang sokogurunya adalah buruh dan tani.
     
    Kawan-kawan seperjuangan,
                Sebagai pimpinan PRP, kami mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan seperjuangan, baik anggota PRP, serikat-serikat buruh/pekerja, serikat-serikat tani, kelompok mahasiswa, kelompok perempuan, maupun semua kelompok marjinal yang disebut rakyat pekerja, dalam upaya bahu membahu mewujudkan unifikasi kiri. Selama sewindu formasi baru gerakan kiri mencapai kemajuan kuantitatif dan kualitatif.
                Secara kuantitatif, terjadi peningkatan jumlah serikat-serikat buruh yang berlawan terhadap serikat buruh yang pro-kapitalis. Tetapi krisis kapitalisme pada 2007, serikat buruh yang pro-kapitalis pun mulai berlawan terhadap perusahaan dan kebijakan negara. Privatisasi dan outsourcing yang merangsek ke dalam BUMN serta Perguruan Tinggi, juga melahirkan serikat buruh di dalamnya yang berlawan terhadap kapitalisme. Di lapangan, semua serikat tersebut membentuk formasi baru dalam mengangkat isu penghapusan outsourcing, kenaikan upah, melawan pemberangusan serikat (union busting), dan privatisasi sektor strategis yang menghapus subsidi bagi kepentingan rakyat pekerja. Aksi-aski pun meningkat dari pemogokan di pabrik sampai rally di jalan menuju pusat-pusat kekuasaan dan aksi blokade jalur transportasi di Jabodetabek. Di Papua, pemogokan kerja dari buruh PT Freeport hingga berbulan-bulan merupakan kemajuan dari serikat buruh tambang yang selama ini terbungkam dan hanya melakukan aksi dalam skala kecil
                Secara kualitatif, terjadi proses penyatuan gerakan dalam format konfederasi dan dari gerakan untuk kesejahteraan belaka melangkah maju ke gerakan politik yang berdimensi nasional. Kemajuan kualitatif yang berhasil menyatukan serikat buruh manufaktur, perkebunan, pulp dan kertas, serta BUMN, petunjuknya dapat kita lihat pada terbentuknya Konfederasi Serikat Nasional (KSN) pada Nopember 2011. KSN adalah contoh formasi baru dari dari gerakan buruh yang menerobos batas tangga pemeringkatan buruh kerah biru dan buruh kerah putih. Kemajuan kualitatif juga terjadi pada penyatuan serikat buruh dengan serikat tani, serikat perempuan, serikat nelayan, dan masyarakat adat dalam sebuah konfederasi yang bernama Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI) pada Desember 2011. Baik KSN maupun KPRI telah melangkah pada agenda politik melawan kapitalisme yang berwujud neoliberalisme-kolonialisme-imperialisme-patriarkisme-fundamentalisme (NEKOLIMPATFUN). Keduanya juga merancang solusi keluar dari krisis di Indonesia, antara lain dengan menasionalisasi industri migas dan pertambangan strategis serta membangun industrialisasi nasional yang dikontrol oleh rakyat pekerja.
               
    Kawan-kawan seperjuangan,
                Dalam sejarahnya di Indonesia, organisasi  buruh pertama lahir pada tahun 1910 dari serikat perkebunan dan transportasi, mendahului  terbentuknya partai politik serta organisasi massa lainnya. Radikalisasi aksi-aksi serikat buruh mengalami peningkatan kualitatif ketika dipimpin oleh sebuah partai kelas yang memajukan radikalisasi gerakan buruh menjadi gerakan progresif melawan kolonial dalam kerangka politik pembebasan nasional. Meski gerakan tersebut dihancurkan rezim kolonial pada tahun 1926, namun kemudian tumbuh dan berkembang dalam gerakan bersenjata pada perang kemerdekaan 1942-1950. Setelah itu persatuan gerakan buruh yang menyatukan serikat buruh minyak, perkebunan, transportasi, kehutanan, kertas, garam, dan lain-lain, di dalam wadah SOBSI adalah yang paling dinamis melakukan nasionalisasi aset kolonial. Tetapi lagi-lagi mereka dihancurkan oleh kekuatan borjuasi yang menjadi jongos kolonialisme-imperialisme dalam Tragedi 1965. Cukup lama dibutuhkan waktu untuk membangunkan kembali serikat buruh yang berlawan terhadap serikat buruh korporatis negara yang dikontrol militer rezim Orde Baru. Sampai kemudian gerakan buruh berkobar kembali sejak dekade 1980-an menuntut kesejahteraan dan demokrasi. Gerakan ini mencapai radikalisasi pada pertengahan 1990-an dan krisis ekonomi 1997, meski belum cukup kuat bertanding kekuasaan di panggung politik nasional terutama pada masa reformasi politik sejak 1998.
                Dinamika penyatuan-perpecahanan-penyatuan organisasi buruh mencapai radikalisasi kembali setelah krisis kapitalisme 2007 dan Pemilu 2009. Serikat buruh yang di masa Orde Baru dan awal reformasi mendapat label “serikat kuning” justru menunjukkan radikalisasi dalam aksi-aksi tuntutan kenaikan upah pada awal 2012, dilanjutkan dengan aksi-aksi penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Ini babak baru yang menggeser posisi “serikat kuning” ke arah kiri. Dengan demikian kita menyambut gembira terbentuknya Majelis Pekerja/Buruh Indonesia (MPBI) sebagai blok politik buruh yang mulai berkesadaran kolektif anti-kapitalisme dengan mendasarkan diri pada Konstitusi 45. Meskipun acapkali kita berbeda pendapat dalam mengajukan solusi-solusi yang strategis. Namun hal itu tidak mengurangi penghargaan kami terhadap kemajuan MPBI.
                Justru serikat-serikat buruh yang selama ini melawan kapitalisme harus mewaspadai kondisi subjektifnya agar tidak terjebak ke dalam watak fasis, karena ketidakmampuan mengikuti dinamika perkembangan gerakan buruh, tidak mempunyai strategi menghadapi krisis kapitalisme, dan tidak sanggup membangun persatuan kekuatan kelas, karena pandangannya yang subjektif sempit. Watak fasis dapat timbul dari kondisi seperti katak dalam tempurung, merasa paling radikal dan paling benar, tetapi alhasil dalam kenyataannya dapat berubah menjadi oportunis dan reaksioner. Perkembangan seperti ini yang tidak kita kehendaki, karena menghambat ke arah unifikasi kiri dan proses hegemoni gerakan buruh. Maka ingat-ingatlah keadaan subjektif kita, agar selalu dalam kesadaran dan mawas diri
               
    Kawan-kawan seperjuangan,
                Memang semua kekuatan-kekuatan gerakan buruh yang saat ini mencapai radikalisasi masih harus diuji dalam perjuangan mencapai kekuasaan kelas pekerja. Pertanyaannya adalah: bagaimana kekuatan-kekuatan gerakan buruh itu dapat memajukan radikalisasi menuju kualitas gerakan yang progresif? Kawan-kawan, gerakan yang progresif adalah yang berdaya kemampuan membangun persatuan politik kelas pekerja yang mengelola radikalisasi gerakan buruh, gerakan tani, gerakan nelayan, gerakan perempuan, gerakan masyarakat adat, gerakan miskin kota, dan gerakan-gerakan lainnya, yang mengalami eksploitasi NEKOLIMPATFUN. Politik persatuan kelas pekerja harus dipimpin oleh kelas pekerja untuk mencapai hegemoni dan bukan “menyerahkan” diri dalam kepemimpinan elit borjuasi. Oleh sebab itu politik persatuan kelas pekerja memerlukan partai kelas pekerja untuk melakukan kepemimpinan dalam perjuangan kelas. Politik persatuan kelas pekerja tidak akan membiarkan diri dipimpin oleh partai politik borjuasi dan terjebak dalam kemenangan parlementer. Apalagi menjadi tim sukses pemenangan elit borjuasi untuk menduduki jabatan eksekutif. Tidak kawan-kawan! Persatuan politik kelas pekerja harus mampu membangun partai politik kelas untuk mencapai kemenangan ekonomi-politik yang substansial dan kultur kelas pekerja yang egaliter. Itulah cita-cita membangun Sosialisme yang tidak setengah-setengah. Sosialisme yang dipimpin oleh kelas pekerja untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat pekerja di Indonesia. Itulah yang mandat PRP untuk membangun unifikasi kiri. Itu pulalah yang dicita-citakan gerakan buruh pada tahun 1910 ketika  melawan kolonial.
     
    Kawan-kawan seperjuangan,
                Pada sewindu PRP ini, keadaan krisis kapitalisme semakin tajam di Eropa, Timur Tengah, Amerika Latin, Asia, dan bahkan Amerika Serikat. Kontradiksi kelas pun semakin tajam sebagai realitas sehingga Sosialisme menjadi harapan yang mekar kembali. Lihatlah, setelah kemenangan partai-partai sosialis di negara-negara Amerika Latin, kini kemenangan serupa terjadi pula di Perancis dan Yunani. Semangat persaudaraan Sosialis harus dapat kita bangun dalam simpul persatuan kelas pekerja di seluruh dunia. Untuk itu, kita membutuhkan konferensi internasional yang menjadi rahim kebangkitan Sosialisme. Maka kita rapatkan pergaulan kita di ranah internasional dan kita pergencar kembali gagasan konferensi internasional yang masih tertunda.
                Adapun tugas kita saat ini ialah memperbanyak propaganda-propaganda yang mewartakan aksi-aksi kongkrit dewasa ini yang dipelopori gerakan buruh dan gerakan tani. Selain itu propaganda kita adalah untuk menelanjangi kebohongan-kebohongan kaum pro-kapitalis yang menggunakan media massa untuk menyesatkan kebenaran realitas keadaan rakyat pekerja. Sebagai contoh, belum lama ini Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah menyatakan, bahwa angka pengangguran di Banten tertinggi di Indonesia, namun yang kemudian dituding sebagai biang keladinya adalah kaum pendatang di Banten. Ini contoh pernyataan dari seorang eksekutif yang memecah belah keadaan rakyat pekerja, baik yang disebut “asli” maupun “pendatang”, yang sebenarnya sama-sama miskin. Kebohongan semacam ini harus kita wartakan kepada massa rakyat pekerja di basis-basis. Cukup sudah, kata Multatuli. Kebohogan harus dilawan!
     
    Kawan-kawan seperjuangan,
                Marilah kita pergunakan pepatah berat sama dipikul ringan sama dijinjing untuk berpropaganda melawan kebohongan. Mari kita progresifkan capaian-capaian unifikasi kiri. Mari kita percepat pembangunan aliansi-aliansi di lokal-lokal untuk berpropaganda yang lebih masif.
     
                Akhirnya, pada kesempatan sewindu ulang tahun PRP, kami mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan seperjuangan dari Front Oposisi Rakyat Indonesia (FORI), yang di dalamnya termasuk Sarekat Hijau Indonesia (SHI), KPRI, KSN, Barisan Perempuan Indonesia (BPI), dan unsur-unsur LSM yang berketetapan untuk membangun persatuan politik kelas.
                Jangan lelah perjuangkan Sosialisme!
     
     
     
    Sosialisme, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!
    Sosialisme, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!
    Bersatu, Bangun Partai Kelas Pekerja!
     
     
    Jakarta, 13 Mei 2012
    Komite Pusat
    Perhimpunan Rakyat Pekerja
    (KP-PRP)
    Ketua Nasional
    Sekretaris Jenderal
     
    ttd.
    (Anwar Ma'ruf)
     
    ttd.
    (Rendro Prayogo)
     

    ___*****___
    Sosialisme Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!
    Sosialisme Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!
    Bersatu Bangun Partai  Kelas Pekerja!

    Komite Pusat

    Perhimpunan Rakyat Pekerja
    (KP PRP)

    JL Cikoko Barat IV No. 13 RT 04/RW 05, Pancoran, Jakarta Selatan 12770
    Phone/Fax: (021) 798-2566

    Email: komite.pusat@... / prppusat@...
    Website: www.prp-indonesia.org




Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.