Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Pidato Politik Pimpinan PRP pada Hari Perjuangan Buruh Perempuan

Expand Messages
  • KP-PRP
    Pidato Politik Pimpinan Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja Nomor: 415/PI/KP-PRP/e/V/12 (Disampaikan pada Peringatan Hari Perjuangan Buruh Perempuan
    Message 1 of 1 , May 7, 2012
    Pidato Politik
    Pimpinan Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja
    Nomor: 415/PI/KP-PRP/e/V/12
    (Disampaikan pada Peringatan Hari Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia)


    Jadikan 8 Mei sebagai Hari Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia dan Marsinah sebagai Pahlawan Buruh Indonesia!


    Tangerang, 8 Mei 2012

    hari-hari makin rawan
    sia-sia kau mencari ketentraman
    di hari-hari penuh ancaman
    sia-sia kau cari aman
    mari kita bangun jalan perlawanan
    (Puisi Wiji Thukul, Nyanyian Kesesakan)

    Kawan-kawan seperjuangan,
           Setiap tanggal 8 Mei kita peringati hari gugurnya Marsinah, namun masih banyak buruh-buruh generasi baru yang tak tahu siapa Marsinah. Barangkali buruh-buruh saat ini lebih mengenal Ayu Ting Ting ketimbang Marsinah. Coba kami bertanya: apakah kawan-kawan tahu Ayu Ting Ting? Sekarang kami bertanya lagi: apakah kawan-kawan tahu Marsinah? Hanya sedikit yang tahu Marsinah sekali pun setiap tahun kita memperingatinya. Tetapi ada banyak yang tahu Ayu Ting Ting karena setiap menit suaranya terdengar di radio, di televisi, dan berkumandang dari mulut buruh di sela-sela rumah kontrakan. Kita lebih mudah mengingat “Alamat Palsu” sesuatu yang tak ada, sesuatu kebohongan ketimbang sesuatu yang nyata dari Marsinah, yakni suatu jalan perlawanan ketika hari-hari di pabrik makin rawan dan sia-sia mencari ketenteraman sehingga Marsinah pun berlawan. Tetapi barangkali juga kesalahan kami yang hampir tak pernah memperkenalkan Marsinah di sela-sela rumah kontrakan, di tengah-tengah kita bekerja di pabrik, di rapat-ratpat serikat kita atau pun di dalam pelatihan-pelatihan.
           Itulah sebabnya kawan-kawan, sejak 8 Mei 2009, Perhimpunan Rakyat Pekerja menetapkan, bahwa tanggal 8 Mei sebagai HARI PERJUANGAN BURUH PEREMPUAN INDONESIA untuk melengkapi Hari Buruh Internasional yang kita peringati setiap 1 Mei, untuk menegaskan adanya kejuangan buruh perempuan. Karena buruh perempuan tak sekedar hadir, tak sekedar buruh, dan tak sekedar perempuan, melainkan buruh perempuan adalah ibu yang berjuang melahirkan anak, adalah buruh yang yang keringatnya dihisap kapitalis, dan adalah pejuang dalam perjuangan buruh di Indonesia. Maka sudah selayaknya tanggal 8 Mei kita jadikan HARI PERJUANGAN BURUH PEREMPUAN INDONESIA agar kita selalu mengingat Marsinah sebagai pedoman perjuangan untuk menggerakkan semangat buruh-buruh perempuan yang masih malas berlawan. Tetapi juga untuk mengingatkan agar serikat-serikat di pabrik selalu mengingat masalah yang khas dari buruh perempuan, ialah masalahnya sebagai ibu, dan karena itu selayaknya serikat-serikat di pabrik memperjuangkan hak-hak buruh perempuan sebagai ibu di pabrik, seperti jaminan dan tunjangan untuk kesehatan reproduksi, untuk menyusui dan pengasuhan anak sampai 2 tahun, untuk cuti haid yang bebas dari persyaratan, untuk cuti persalinan, untuk tunjangan persalinan, untuk sarana menyusui dan penitipan anak di pabrik. Serikat-serikat buruh/pekerja juga selayaknya mengajak buruh perempuan untuk berorganisasi dan menyesuaikan jam rapat sesuai dengan jam tanggung jawab keibuannya.
           Memang ini berbeda dengan laki-laki, namun tanggung jawab buruh perempuan sebagai ibu layak kita hormati, dan bukan kemudian kita tinggalkan dalam perjuangan.

    Kawan-kawan seperjuangan,
           Marsinah adalah buruh perempuan yang bekerja di pabrik arloji PT Catur Putra Surya, Porong, Sidoarjo. Ia seorang aktivis dalam pemogokan massal selama tanggal 3-4 Mei 1993 di pabriknya, untuk menuntut kenaikan upah 20% dari gaji pokok sesuai dengan Surat Edaran Gubernur KDH Tingkat I, Jawa Timur., No. 50/Th. 1992 . Ia dilahirkan pada 10 April 1969 di Nganjuk dan kemudian ditemukan jasadnya oleh anak-anak pada 8 Mei 1993 di Desa Jegong, Wilangan, Nganjuk. Menurut otopsi dokter forensik, Marsinah mati karena penganiayaan berat. Bagaimana Marsinah mati? Tak ada yang tahu, tetapi beginilah urut-urutan peristiwanya:
    • Pada tanggal 2 Mei, Marsinah dan aktivis buruh lainnya mengadakan rapat untuk melaksanakan pemogokan kerja demi menuntut kenaikan upah sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur.
    • Pada tanggal 3 Mei 1993, buruh PT Catur Putra Surya shift 1 sampai dengan shift 3 mogok kerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh.
    • Pada tanggal 4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.
    • Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan buruh yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.
    • Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.
    • Mulai tanggal 6, 7, 8 Mei keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.
           Anehnya, pihak Kodim kemudian menangkap, menyiksa, dan menjatuhkan vonis terhadap sejumlah management PT Catur Putra Surya dan seorang di antaranya dalam keadaan hamil muda, atas tuduhan telah membunuh Marsinah. Pada tahun 1993, dibentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM) yang didirikan oleh beberapa LSM dan serikat buruh untuk menginvestigasi dan mengadvokasi pembunuhan Marsinah oleh Aparat Militer. Inilah sebuah perjuangan buruh yang pertama kali mendapat dukungan luas dari masyarakat Indonesia.
           Memang kawan-kawan, sampai saat ini matinya Marsinah merupakan peristiwa gelap yang belum dapat diketahui siapa pelaku pembunuhnya. Runyamnya, pada tahun 2012 ini kasus Marsinah akan ditutup karena dianggap telah mencapai batas waktu peradilan. Tetapi kita tidak akan pernah mundur. Sejak 8 Mei 2010, Perhimpunan Rakyat Pekerja bersama Barisan Perempuan Indonesia (BPI) dan Front Oposisi Rakyat Indonesia (FORI) telah mempropagandakan Marsinah sebagai PAHLAWAN BURUH INDONESIA dan menyampaikan gagasan ini kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar. Secara gagasan, Menakertrans tidaklah keberatan, namun hingga Konfederasi Serikat Nasional (KSN) dan BPI membentuk panitia kerja Solidaritas Nasional untuk Marsinah (SNM) pada 20 Juni 2011 untuk menagih janji tersebut, sampai sekarang belumlah terwujud. Memang pengurusan gelar kepahlawanan alamatnya di Kementrian Sosial dengan melalui prosedur yang panjang dan politis, tetapi Menakertrans seharusnya memberikan dukungan politik pula.

    Kawan-kawan seperjuangan,
           Demi perjuangan buruh secara umum, dan meradikalisasi semangat juang buruh perempuan secara khusus, maka marilah kita tradisikan setiap tanggal 8 Mei kita peringati sebagai HARI PERJUANGAN BURUH PEREMPUAN INDONESIA sambil mengenang Marsinah sebagai pahlawan kita. Kita dukung perjuangan menuntut pertanggungjawaban negara terhadap pelaku pembunuhan Marsinah dan menuntut pula Marsinah sebagai PAHLAWAN BURUH INDONESIA. Dengan demikian kita mendobrak sejarah, dimana yang disebut pahlawan nasional selama ini hanyalah yang berjuang melawan kolonial dan berasal dari elit borjuasi. Saatnya kita membuat terobosan, bahwa yang menjadi pahlawan adalah termasuk yang berjuang melawan neoliberalisme-kapitalisme, imperialisme, dan militerisme, serta yang berasal dari kelas pekerja.
           Akhirul kalam, selamat memperingati Hari Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia dan mengenang Marsinah sebagai pahlawan kita. Semoga dengan ini memecut gairah buruh perempuan untuk aktif berorganisasi memperjuangkan haknya sebagai buruh dan ibu.



    Sosialisme, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!
    Sosialisme, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!
    Bersatu, Bangun Partai Kelas Pekerja!



    Tangerang, 8 Mei 2012
    Komite Pusat
    Perhimpunan Rakyat Pekerja
    (KP-PRP)
    Ketua Nasional
    Sekretaris Jenderal


    ttd.
    (Anwar Ma'ruf)


    ttd.
    (Rendro Prayogo)



    ___*****___
    Sosialisme Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!
    Sosialisme Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!
    Bersatu Bangun Partai  Kelas Pekerja!

    Komite Pusat

    Perhimpunan Rakyat Pekerja
    (KP PRP)

    JL Cikoko Barat IV No. 13 RT 04/RW 05, Pancoran, Jakarta Selatan 12770
    Phone/Fax: (021) 798-2566

    Email: komite.pusat@... / prppusat@...
    Website: www.prp-indonesia.org


Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.