Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[editorial] Seni Berpolitik Ala Jokowi

Expand Messages
  • ulfha
    Seni Berpolitik Ala Jokowi Rabu, 4 Januari 2012 | Editorial Berdikari Online Banyak politisi yang pandai berkampanye. Ia tidak segan-segan untuk menyerap
    Message 1 of 1 , Jan 4, 2012
    • 0 Attachment

      Seni Berpolitik Ala Jokowi


      Rabu, 4 Januari 2012 | Editorial Berdikari Online

      Banyak politisi yang pandai berkampanye. Ia tidak segan-segan untuk menyerap slogan dan kosakata radikal. Mereka juga pandai mengumbar janji-janji kepada rakyat. Tidak sedikit diantara mereka yang berani mematok waktu perubahan: 100 hari, 1 tahun, dan seterusnya. Tetapi, kadang-kadang, ketika orang-orang itu sudah berkuasa, janji-janji kampanye itu tak kunjung terlaksana.

      Di kota Solo, Jawa Tengah, seorang pemimpin tak menebar janji. Tanpa banyak gembar-gembor, tiba-tiba ia telah membuat banyak gebrakan. Joko Widodo, nama Walikota itu, suka melakukan gebrakan secara diam-diam. Ia bukan tipe pemimpin yang buru-buru menselebritaskan diri karena sukses kecil. Justru, dengan gebrakannya yang  cukup luar biasa, ia mengaku baru memulainya.

      Seperti yang terjadi baru-baru ini. Ketika pejabat berlomba-lomba menggunakan mobil mewah, ia justru memilih mobil rakitan siswa SMK di Surakarta. Jokowi¬ósapaan akrabnya¬ólangsung memilih mobil rakitan bernama Kiat Esemka itu sebagai mobil dinasnya. Pilihan Jokowi sangat ideologis: kandungan lokalnya 80%, harganya cukup murah (Rp95 juta), dan dibuat oleh tangan-tangan anak bangsa sendiri.

      Ada banyak elit politik yang gembar-gembor soal industri nasional dan kecintaan terhadap industri nasional. Akan tetapi, pada kenyataannya, mereka jusrtu berlomba-lomba memakai produk mewah yang diimpor dari luar negeri. Seolah-olah seorang pejabat identik dengan kemewahan. Itu pula yang membuat banyak pejabat seolah sengaja membangun jarak dengan rakyatnya.

      Di sini, Jokowi mengajarkan satu hal penting yang sekarang absen dalam politik Indonesia: kesatuan ucapan dan tindakan. Sebagian besar pejabat kita, bahkan Presiden kita, selalu gagal menyatukan ucapan dan tindakan.

      Hal lain yang diajarkan oleh Jokowi adalah soal kesederhanaan seorang pemimpin. Ia tidak mau dimanjakan oleh fasilitas. Dengan gaya hidupnya yang sederhana, termasuk sikapnya yang menolak menerima gaji, ia berusaha menunjukkan bahwa sebetulnya seorang pemimpin tak lebih dari "pelayan rakyat". Ia berusaha menularkan gaya hidup sederhana itu pada bawahannya. Dengan begitu, APBD pun tidak terkuras hanya untuk membiayai gaya hidup para pejabat dan aparatusnya.

      Selain itu, Jokowi juga berhasil menunjukkan bagaimana menggunakan kekuasaan. Ia berusaha menggunakan kekuasaannya untuk melayani kebutuhan rakyat. Sebagai seorang pemimpin politik, ia berani berpihak kepada ekonomi rakyat. Sikap ini patut dicontoh oleh Presiden SBY. Pasalnya, Presiden SBY selalu gagal melindungi kepentingan rakyat dan justru memilih terjerumus dalam arus kepentingan neo-kolonialisme.

      Jokowi juga berhasil menyingkirkan wajah represif yang selalu melekat dalam institusi "kekuasaan". Banyak kepala daerah, ketika berhadapan dengan protes rakyatnya, tidak segan-segan menggunakan aparatus kekerasan: Satpol PP dan kepolisian. Jokowi justru memilih sebaliknya: ia mengundang PKL untuk "ngopi bareng", sambil mendiskusikan solusi penataan PKL di kotanya.

      Dengan demikian, Jokowi berhasil menerapkan praktek politik yang berbeda. Akhirnya, karena gebrakan Jokowi, seorang pengagum musik cadas, orang menjadi tahu bahwa politik tak melulu soal korupsi, janji-janji palsu, dan sarana memperkaya diri. Akhirnya, kita menjadi tahu, politik adalah seni mengelola kekuasaan untuk kesejahteraan rakyat.

      Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@...

      http://berdikarionline.com/editorial/20120104/seni-berpolitik-ala-jokowi.html

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.