Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[Editorial] Perang Psikologis Imperialis

Expand Messages
  • ulfha
    Perang Psikologis Imperialis Selasa, 22 November 2011 | Editorial Berdikari Online Kolonialisme akan selalu mencari segala cara untuk tetap bertahan lama.
    Message 1 of 1 , Nov 22, 2011
    • 0 Attachment

      Perang Psikologis Imperialis


      Selasa, 22 November 2011 | Editorial Berdikari Online

      Kolonialisme akan selalu mencari segala cara untuk tetap bertahan lama. Salah satu cara yang ditempuh adalah proses dehumanisasi; rakyat jajahan dihancurkan karakternya, dijauhkan dari akar budayanya yang progessif, dan dibutakan dari akar historisnya. Ujung dari proyek ini adalah penaklukan kesadaran dan penghancuran kebudayaan.

      Dalam aspek psikologis, muncul perasaan minder atau rendah diri di kalangan rakyat yang terjajah. Kolonialisme menyebarkan berbagai propaganda untuk menunjukkan bahwa rakyat di negeri jajahan tidak bisa bertahan hidup tanpa bergantung dari kolonialis. Muncul perasaan inlander di kalangan pribumi.

      Karena itu, ketika berusaha membangkitkan gerakan untuk menuntut kemerdekaan, para pendiri bangsa kita berussaha membunuh "perasaan rendah diri" itu. Bung Karno dan Bung Hatta–keduanya aktif di Partai Nasional Indonesia (PNI)–berusaha membangkitkan sikap "self-reliance" (jiwa yang percaya kepada kekuatan sendiri) dan "self help" (jiwa berdikari) di kalangan rakyat Indonesia.

      Begitu Indonesia secara formal sudah merdeka, para pendiri bangsa pun masih terus-menerus membangkitkan "jiwa self-reliance" dan "self help" ini. Salah satu bentuknya adalah penyusunan konstitusi, yakni UUD 1945, yang benar-benar anti segala bentuk penjajahan. Para pendiri bangsa juga terus-menerus berusaha menyakinkan: setiap bangsa punya jalan sendiri menuju cita-citanya. Tidak mesti harus menuruti atau mengekor pada jalan bangsa lain. Bangsa Indonesia harus merumuskan jalannya sendiri.

      Tetapi, meskipun Indonesia sudah merdeka secara formal, kolonialisme belum sepenuhnya terlikuidasi. Bahkan, pihak kolonialis terus-menerus melancarkan perang psikologis untuk menghalangi bangsa Indonesia membangun negerinya secara berdikari.

      Salah satu bentuk perang psikologis itu adalah bahwa bangsa Indonesia lebih rendah derajat ekonominya: Indonesia belum punya kapital yang cukup, bangsa Indonesia belum memiliki tenaga ahli yang hebat, bangsa Indonesia belum punya teknologi, dan bangsa Indonesia belum bisa mengatur rumah tangganya sendiri.

      Karena itu, menurut propaganda asing itu, bangsa Indonesia jangan memutus hubungan dengan kapital asing dan uluran tangan negeri-negeri imperialis. Bahkan, di kalangan bangsa kita sendiri ada yang menganjurkan agar kekayaan alam sebaiknya diserahkan kepada kapital asing untuk mengelolahnya. Pasalnya, menurut mereka ini, bangsa Indonesia belum punya kapital dan kecapakan untuk mengelola sendiri kekayaan alamnya.

      Bung Hatta pernah mengeritik pedas pendapat-pendapat semacam itu. Wakil Presiden RI pertama ini menyebut mental semacam ini sebagai "economische minderwaardigheid", suatu penyakit rendah diri dalam perekonomian. Bung Hatta menganggap hal itu sebagai salah-satu bentuk senjata psikologis kolonialisme untuk menaklukkan "semangat" bangsa kita untuk membangun perekonomian sendiri.

      Perasaan semacam itu juga masih nampak sampai sekarang. Ini terutama terjadi di kalangan pemerintah kita yang memang bermental inlander dan sebagian besar intelektual kita yang sebagian besar otaknya diracuni oleh teori barat.

      Sebagai contoh: ketika ada seruan untuk melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Tiba-tiba pemerintah yang bermental inlander dan intelektual pro-barat ini angkat bicara: "Jangan! kita belum punya kapital, teknologi juga belum kita punyai, dan bangsa kita belum punya kecakapan untuk menjalankan perusahaan asing itu."

      Mereka-mereka ini lebih takut jikalau modal asing "kabur" dari Indonesia dibanding ratusan juta rakyatnya terperosok dalam kemiskinan. Mereka pun menganggap biasa perampokan kekayaan alam kita oleh pihak imperialis sebagai "harga yang harus dibayar" untuk berjalan di belakang negeri-negeri imperialis itu.

      Jika Evo Morales, Presiden Bolivia yang berfikiran anti-imperialis itu, punya alur berfikir seperti pemerintah Indonesia dan ekonom-ekonom didikan barat itu, mungkin rakyat Bolivia tidak akan mendapat keuntungan apa-apa dari kekayaan alam mereka. Tetapi karena Evo Morales berani mengeluarkan dekrit nasionalisasi kepada perusahaan-perusahaan asing itu, Bolivia pun berhasil menaikkan penerimaannya dari eksplorasi sumber daya alam. Keuntungan itulah yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan, pendidikan, kesehatan, perumahan rakyat, dan lain-lain.

      Indonesia bangsa yang besar dan modal nasional yang besar pula. Kalaupun kita belum sanggup melakukan nasionalisasi 100%, tetapi setidaknya kita bisa berdaulat terhadap seluruh kekayaan alam kita: kita bisa menaikkan pajak/royalti yang mesti dibayar oleh perusahaan asing yang mengelola kekayaan alam kita, bisa memaksa pihak asing tidak boleh mengekspor bahan mentah sebelum kebutuhan domestik terpenuhi, bisa memaksa perusahaan asing melakukan alih-teknologi, bisa memaksa pihak asing menghormati hak-hak pekerja Indonesia, dan lain sebagainya.

      Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@...

      http://berdikarionline.com/editorial/20111122/perang-psikologis-imperialis.html

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.