Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Bls: [Diskusi-Pembebasan] Kesederhanaan Pemimpin Di Awal Berdirinya Republik

Expand Messages
  • forum kutaraja
    Message 1 of 1 , Aug 22, 2011
      Pada Sen, 22 Agt 2011 00:34 EDT ulfha menulis:

      >Kesederhanaan Pemimpin Di Awal Berdirinya Republik Senin, 22 Agustus
      >2011 |
      >
      >
      >Oleh : Ulfa Ilyas
      >
      >
      >Presiden SBY menghabiskan Rp 839 juta hanya untuk urusan bajunya. Untuk
      >penyusunan pidatonya saja, Presiden SBY pun harus menggerus dana APBN
      >sebesar Rp1,9 milyar. Sedangkan untuk kebutuhan pengamanan pribadi,
      >presiden SBY juga menggelontorkan uang APBN sebesar Rp52 milyar.
      >
      >Rata-rata pejabat di negeri ini seperti itu. Mereka "tega" hidup
      >mewah di tengah-tengah kemiskinan yang mencekik rakyatnya. Mereka juga
      >kebal dengan kritik dan tidak punya rasa malu lagi. Kalaupun ada yang
      >rela hidup sederhana, maka perilaku orang itu dianggap anomali dalam
      >kehidupan politik sekarang.
      >
      >Tetapi dulu, ketika Republik Indonesia ini baru lahir, para pemimpinnya
      >hidup sangat sederhana. Pernyataan kemerdekaan pun berlangsung
      >sederhana: bendera merah-putih hanya digerek di sebatang bambu yang
      >baru saja dipotong. Bendera kebangsaan pun hanya dua potong kain, merah
      >dan putih, yang dijahit sendiri oleh istri Presiden.
      >
      >Ketika baru saja dilantik menjadi Presiden, Bung Karno hanya
      >merayakannya dengan "lima puluh tusuk sate ayam". "Kumakan
      >sateku dengan lahap dan inilah seluruh pesta pengangkatanku sebagai
      >kepala negara," kenang Bung Karno dalam buku otobiografi, Soekarno
      >penyambung lidah rakyat.
      >
      >Ketika itu presiden belum punya mobil kepresidenan. Sudiro, seorang
      >pejuang dan aktivis Menteng 31, mengambil paksa mobil buck besar milik
      >Kepala Jawatan Kereta Api Jepang. Mobil itu sanggup memuat tujuh orang
      >dan merupakan mobil paling mewah di Jakarta saat itu.
      >
      >Juga, pada saat itu, untuk menyebarkan semangat kemerdekaan kepada
      >rakyat, maka dibikinlah 10 juta bendera merah-putih. Semua bendera itu
      >dibuat dari kertas biasa, lalu diserbakan ke seluruh pelosok tanah air.
      >
      >Saat itu presiden belum menerima gaji. Jangankan untuk membeli pakaian
      >mahal, kebutuhan untuk makan saja kadang tidak memadai. Pernah terjadi,
      >pada suatu malam, Bung Karno dan menteri-menterinya menggelar rapat
      >darurat. Malam sudah larut, tetapi tidak ada kopi dan sepotong roti pun
      >untuk disantap. Tukimin, salah seorang pembantu Bung Karno, mengambil
      >inisiatif untuk keluar mencari makanan.
      >
      >Lalu, soal pakaian. Jika kita lihat pakaian Bung Karno di era itu, ia
      >tampak gagah dengan uniform semi-militer. Rupanya, sebagian besar
      >pakaian Bung Karno itu dijahit sendiri. Pernah suatu hari Bung Karno
      >mendapat hadiah berupa pakaian bekas milik korp tentara wanita
      >Australia. Ia mempermak sendiri pakaian wanita itu dan mengubahnya
      >menjadi sebuah uniform seorang presiden.
      >
      >Ketika sekutu dan NICA mulai masuk Jakarta, situasi pun tidak aman.
      >Presiden Soekarno berkali-kali mendapat ancaman pembunuhan, bahkan
      >berkali-kali diberondong peluru. Alhasil, bung Karno dan istrinya harus
      >berpindah-pindah tempat dan kadang-kadang menginap di rumah penduduk.
      >
      >Kadang-kadang, seperti diceritakannya kepada Cindy Adams, Soekarno
      >harus tidur meringkuk dalam tikar di atas ubin yang lembab. Istrinya,
      >Fatmawati, pun harus bersabar untuk tidur di atas tikar itu.
      >
      >Pada tahun 1946, ketika Ibukota sudah pindah ke Jogja, Bung Karno
      >berkantor di gedung bekas kantor Gubernur di jaman Belanda. Gedung itu
      >sama sekali tidak memiliki perabot. Semua isinya sudah diangkut Jepang.
      >
      >Alhasil, ketika presiden akan menerima tamu-tamu negara, Bung Karno pun
      >kebingungan mencari perabot rumah tangga. "Apa akal kita untuk
      >mendapatkan piring," tanya Bung Karno kepada Mutahar, protokol
      >istana negara saat itu.
      >
      >"Mudah saja," jawab Mutahar dengan tenang. Ia lalu pergi ke
      >sebuah restoran Tionghoa dan meminjam sendok dan barang pecah-belah di
      >sana. Tetapi tidak ada taplak meja. Mutahar pun kembali mengetok pintu
      >rumah penduduk dan meminjam taplak meja warna putih di sana.
      >
      >Pernah suatu hari, ketika Presiden menyambut tamu dari Philipina, yang
      >disajikan hanyalah secangkir air putih. "Kami tidak punya anggur.
      >Jadi dia hanya minum air, karena itulah yang ada pada kami," kata
      >Bung Karno.
      >
      >Kesederhanaan semacam ini bukan hanya terjadi pada Bung Karno. Sebagian
      >besar pemimpin Republik saat itu adalah orang-orang sederhana. Jenderal
      >Soedirman, panglima besar TNI saat itu, hanya menerima pakaian kiriman
      >Bung Karno. Pakaian itu lalu dijahit oleh Soedirman, lalu dipergunakan
      >pada upacara HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1949.
      >
      >Lihat pula kisah Bung Hatta, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia.
      >Pada tahun 1950-an, ia sangat ingin memiliki sepatu Bally—sepatu
      >bermutu tinggi saat itu. Karena tidak punya uang yang cukup, Bung Hatta
      >menabung cukup lama untuk bisa membeli sepatu bermerek itu.
      >
      >Begitulah kesederhanaan para pemimpin Republik saat itu. Akan tetapi,
      >di dalam kesederhanaan itu terdapat semangat dan pengabdian yang sangat
      >besar. Mereka rela berkorban apapun demi bangsa dan rakyatnya.
      >
      >Mungkin, jika Lord Acton melihat kehidupan pemimpin Indonesia saat itu,
      >ia tidak akan buru-buru mengeluarkan kesimpulan: "Power tends to
      >corrupt, and absolute power corrupts absolutely."
      >
      >
      >
      >http://berdikarionline.com/sisi-lain/20110822/kesederhanaan-pemimpin-di-\
      >awal-republik.html
      >
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.