Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[Editorial] Krisis Hutang Di AS

Expand Messages
  • ulfha
    Krisis Hutang Di AS Selasa, 2 Agustus 2011 | Editorial Berdikari Online Kalau saja tidak terjadi kesepakatan antara Partai Demokrat dan Partai Republik, maka
    Message 1 of 1 , Aug 2, 2011
    • 0 Attachment

      Krisis Hutang Di AS


      Selasa, 2 Agustus 2011 | Editorial Berdikari Online

      Kalau saja tidak terjadi kesepakatan antara Partai Demokrat dan Partai Republik, maka negara superpower Amerika Serikat bisa saja bangkrut karena mengalami status gagal bayar utang (default).

      Dalam kesepakatan terbaru di DPR AS, batas tertinggi utang Amerika Serikat adalah US$2,4 triliun atau sekitar Rp20.200 triliun. Sedangkan sebelumnya batas tertinggi utang AS dipatok pada angka US$14,3 triliun atau sekitar Rp120,900 triliun.

      Apa dampak kebijakan terbaru ini? Kebijakan terbaru ini memang berhasil menyelamatkan AS dari kebangkrutan dan potensi gangguannya terhadap ekonomi global, tetapi akan disertai pemangkasan besar-besaran terhadap belanja sosial di dalam negeri seperti perawatan kesehatan, Jaminan Sosial, pensiun, dan lain-lain. Tetapi tidak ada kenaikan pajak sepeserpun untuk kaum kaya di Amerika Serikat.

      Lagi-lagi Barack Obama—presiden berkulit hitam yang digadang-gadang akan membawa perubahan dan harapan di Amerika Serikat—menjadi algojo untuk menghancurkan kesejahteraan rakyat pekerja di Amerika Serikat. Sebelumnya, Obama menyetujui paket penyelamatan terhadap kaum kaya dan para bankir di AS senilai 23,7 Trilyun USD.

      Media-media kiri dan progressif di Amerika Serikat menyebut kejadian ini sebagai serangan paling buruk terhadap sisa-sisa kemenangan kelas pekerja di negeri itu.

      Ketentuan tentang penentuan batas tertinggi (plafon) utang sudah terjadi 74 kali sejak tahun 1962, dan sudah 10 kali sejak tahun 2001.

      Krisis utang sendiri terjadi, selain karena belanja militer yang sangat tinggi di masa-masa sebelumnya, juga dihasilkan oleh "pengambilan sistim perbankan oleh para penjudi"—meminjam istilah Michael Hudson, seorang professor ekonomi di University of Missouri. Ini tidak terpisahkan dari perkembangan ekonomi global yang semakin mengarah pada finansialisasi dan spekulasi.

      Dengan begini, seorang kapitalis dapat melipatgandakan keuntungan dalam waktu singkat. Dengan mengklik mouse komputer, anda dapat memindahkan miliaran dolar di pasar keuangan di seluruh dunia. Persoalannya, model ini memang bisa menciptakan keuntungan dalam hitungan detik, iya, namun tidak pernah menciptakan nilai baru—hanya industri, pertanian, perdagangan dan jasa yang menciptakan nilai baru. Ini mendorong keterpisahan antara sistem finansial dan ekonomi riil. Karena finansialisasi sangat tergantung pada aksi spekulatif, maka tidak mengherankan kalau sektor finansial hinggap dari satu gelembung ke gelembung lainnya, dari krisis ke krisis.

      Jika ditelusuri akar pokonya, maka krisis hutang yang terjadi di AS dan juga menyerang sebagian negara Eropa saat ini berpangkal pada kontradiksi dalam kapitalisme global, yaitu krisis over-produksi, atau sering disebut over-akumulasi atau over-kapasitas.

      Saat ini, ada sekitar 14,1 juta orang yang dikategorikan sebagai pengangguran di AS, naik 5% dalam lima tahun terakhir. Dari total pengangguran itu, hanya 7,5 juta jiwa yang mendapat asuransi pengangguran. Sedangkan ada 6,6 juta jiwa pengangguran yang tidak menerima bantuan apapun.

      Alih-alih berfikir keras bagaimana caranya mengurangi pengangguran, sebagaimana yang dilakukan Roosevelt di tahun 1930-an, tetapi Obama malah sedang mempersiapkan serangan lebih keras terhadap kesejahteraan rakyat dengan memotong belanja sosial, termasuk pemangkasan jaminan sosial.

      Di tahun 1913, Lenin, pemimpin revolusi Rusia yang terkenal itu, pernah berkata: "Eropa yang terbelakang dan Asia yang maju". Kata-kata Lenin itu tentu saja, ketika itu, dianggap kata-kata kosong. Kini, setelah 98 tahun berlalu, kata-kata Lenin itu kembali menemukan kebenarannya: negara-negara Eropa satu per-satu jatuh ke dalam krisis dan kemelut ekonomi, bahkan Amerika Serikat pun terhitung yang paling merosot. Sedangkan kekuatan Asia, Afrika dan Amerika Latin perlahan-lahan bangkit. Dan terutama sekali di Amerika Latin, dimana sejumlah negara progressif berusaha mengambil jalan pembangunan di luar kerangka yang diperkenankan imperialisme dan kapitalisme.

      Anda dapat menanggapi Editorial kami di: redaksiberdikari@...

      http://berdikarionline.com/editorial/20110802/krisis-hutang-di-as.html

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.