Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[Editorial] Persatuan Untuk Apa?

Expand Messages
  • ulfha
    Persatuan Untuk Apa? Jumat, 11 Maret 2011 | Editorial Drama reshuffle kabinet selesai. Setelah sebelumnya menggertak anggota koalisi setgab yang dianggap
    Message 1 of 1 , Mar 10, 2011
    • 0 Attachment

      Persatuan Untuk Apa?


      Jumat, 11 Maret 2011 | Editorial

      Drama reshuffle kabinet selesai. Setelah sebelumnya menggertak anggota koalisi setgab yang dianggap mbalelo, hari ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbalik arah, mencuci tangan, dan mengatakan tidak pernah berbicara apa-apa tentang reshuffle kabinet. Pihak yang sempat `merasa terancam' (Golkar dan PKS) seolah bersujud syukur. Sementara pihak yang terlanjur berharap (faksi tertentu yang pragmatis dalam PDIP dan Gerindra) harus menelan ludah kekecewaan. Jadinya cukup jelas, runtutan kejadian ini hanya tayangan drama tanpa makna, dengan SBY sebagai sutradara sekaligus pelakon utamanya. Sementara sejumlah politisi, secara sadar atau tidak, telah memainkan peran-peran pembantu di dalamnya.

      Oleh sang sutradara, drama ini dibumbui begitu banyak retorika, yang seakan begitu ringan, tanpa beban, mengatasnamakan kepentingan rakyat, tapi bertindak sebaliknya: anti rakyat. Reaksi pertama mungkin rakyat mahfum, bahwa apabila penguasa berkata A maka makna yang tersembunyi di baliknya adalah B, C, D, E… dan seterusnya. Bahkan tokoh-tokoh agama telah jelas dan tegas menyatakan bahwa bangsa ini sedang dipimpin oleh sebuah pemerintah yang pandai berbohong. Salah satu kebohongan yang paling sering disampaikan adalah tentang perlunya "persatuan sesama anak bangsa", "menjaga situasi yang kondusif", "bekerja demi kesejahteraan rakyat", dan sebagainya. Hal ini terutama disampaikan sejumlah politisi setgab sebagai pemeran pembantu tadi.

      Jelas di sini makna persatuan nasional telah dipelintir. Bagi pemerintahan SBY-Boediono, persatuan yang dikehendaki mengarah pada stabilitas pemerintahan dalam menjalankan agenda-agenda neoliberal, sejalan juga mempertahankan korupsi yang menempel pada penghisapan imperialis. Masih cukup segar dalam ingatan kita, bagaimana di masa lalu rezim Orba selalu berbicara tentang "persatuan bangsa", "harmoni", dan "demi stabilitas nasional", tapi di balik itu menjalankan politik represi, pecah-belah, kemudian turut merampok kekayaan bangsa bersama sekutu-sekutu asingnya. Meski dalam bentuk yang sedikit berbeda dan dikesankan `demokratis', hakekat "persatuan" dan "stabilitas" yang dimaksudkan pemerintahan SBY-Boediono dapat disamakan dengan rezim Orde Baru.

      Dalam rangka menghadapi imperialisme sekarang, tentu saja, tidak ada cara lain kecuali membangun persatuan nasional yang seluas-luasnya. Namun jelas, persatuan yang kita maksud bukan persatuan untuk melegitimasi sistem imperialis yang sedang dijalankan, melainkan untuk merombaknya, atau memutar alur haluannya.

      Sistem yang ada sekarang seumpama rangkaian selang-selang penghisapan yang ditanamkan pada kakayaan Tanah Air dan Bangsa Indonesia, kemudian disedot ke luar negeri, dengan perantara segelintir orang sebagai agen-agen lokalnya. Para kapitalis di luar negeri menjadi kaya raya, segelintir agen-agennya turut kaya, sementara mayoritas rakyat terus dihisap, sampai sebagian sudah kering, dipaksa saling sikut dan saling tikam untuk sekadar menyicipi cipratan rejeki yang tersisa. Kehancuran ekonomi membawa kehancuran pada lapangan politik dan sosial budaya.

      Persatuan nasional yang seluas-luasnya harus diarahkan untuk memotong putus selang-selang penghisapan atas negeri ini, agar kekayaan nasional yang terakumulasi oleh kerja sosial tidak terhisap keluar, dan dapat dinikmati secara adil dan merata oleh seluruh rakyat. Seluruh kekuatan-kekuatan politik yang berlawan terhadap neoliberalisme, di manapun berada, harus ambil bagian bergotong-royong untuk kebutuhan politik ini. Ancaman terhadap bangsa ini semakin nyata dengan ketidakpedulian pemerintahan SBY-Boediono terhadap segala kritik yang disampaikan. Bahkan kerap kali kritik dijawab dengan ancaman, politik represi, dan pecah-belah. Tentunya merajut persatuan melawan imperialisme bukan pekerjaan semalam seperti proyek Roro Jonggrang, dan karena itu, berangkat dari koreksi atas kesalahan di masa lalu, dibutuhkan semakin banyak unsur yang bersemangat dalam menyerukan dan membangun persatuan dimaksud. Hanya dengan demikian tersedia syarat bagi kemakmuran bersama.

      Anda dapat menanggapi Editorial kami di : redaksiberdikari@...

      http://berdikarionline.com/editorial/20110311/persatuan-untuk-apa.html

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.