Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

"40 tahun yang lalu " dan "Hidup Bung Karno"

Expand Messages
  • Umar Said
    Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr yang sampai sekarang sudah dikunjungi 619 620 kali = = = = = = = = = = « 40 tahun yang
    Message 1 of 1 , Jun 23, 2010
    • 0 Attachment

       Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr

      yang sampai sekarang sudah dikunjungi  619 620  kali

       

       = = = =   = = =   = = =           

       

       

      « 40 tahun yang lalu » dan   «  Hidup Bung Karno ! »

       

       

       

      Kalimat yang tercantum di atas adalah kutipan judul dari dua tulisan yang dibuat oleh  Sdr Iwamardi dan Sdr Muhammad As dalam rangka memperingati Hari Wafatnya Bung Karno beberapa hari yang lalu. Kedua tulisan tersebut melengkapi kumpulan » Tulisan-tulisan tentang wafatnya Bung Karno » yang sudah disajikan di berbagai milis dan juga di website. Dari kumpulan tulisan-tulisan itu semuanya nampak sekali pandangan banyak kalangan yang melihat kebesaran atau keagungan Bung Karno dan juga kemarahan besar dari berbagai  golongan terhadap perlakuan yang tidak manusiawi dari pimpinan Angkatan Darat (waktu itu) terhadap satu-satunya pemimpin besar rakyat Indonesia, Bung Karno.

       

      = = =

       

      40 tahun yang lalu 

       

      Hari ini , 21 Juni 2010, tepat 40 tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah kehilangan seorang  pembawa obor penyuluh bangsa, obor yang telah diidamkannya, dirancangnya dan dibikinnya , dinyalakannya untuk menunjukkan jalan terang yang harus ditempuh bangsa yang muda ini menuju dunia bebas, dunia adil dan makmur yang menjadi idaman bangsa dan pembawa obor penyuluh ini. Obor yang telah lebih dari 40 tahun dia sulut dan nyalakan dan sinarnya telah dia abdikan kepada bangsa Indonesia ini, sejak dia muda dan mengalami pemenjaraan dan pembuangan yang dilakukan kolonialis Belanda ini, secara keji dan penuh penghianatan  telah dicoba dipadamkan oleh seorang jendral bernama Suharto dan konco konconya, atas perintah tuan tuannya di seberang sana, demi harta kekayaan yang bisa mereka sedot dari bumi Nusantara ini dan demi memenuhi lapar dan dahaga kekuasaan yang dia dan kroninya telah idam idamkan secara diam diam ada dibenak mereka sewaktu mereka berpura pura ikut barisan yang dipimpin pencipta dan pembawa obor penyuluh bangsa : Bung Karno , pahlawan pemersatu dan pembebas bangsa Indonesia, architekt pembangun Republik Indonesia yang kita cintai ini !

       

      Obor itu telah meredup sinarnya selama 45 tahun sejak peristiwa kudeta penghianatan jenderal Suharto & Co, tetapi tidak pernah padam, walaupun minyak dan zat asam telah dipisahkan secara paksa dari obor itu oleh rejim orba dan penerusnya  dengan dibuatnya dan diberlakukannya sampai sekarang  TAP no. XXIII MPRS /1967 yang chianat dan tidak syah itu , yang oleh pemerintah pemerintah  pasca orba tidak dicabut , bahkan masih digunakan secara aktif. 

      Satu hal yang sangat memalukan dan merupakan cacad pemerintah dan cacad bangsa, pemerintah dan bangsa yang menghukum dan menginjak injak HAM pahlawan bangsanya yang justru telah memungkinkan lahirnya bangsa ini, Bung Karno architekt Republik Indonesia !

       

       

      Dalam memperingati hari wafatnya pemimpin besar kita yang telah terlalu besar pengorbannya bemi existnya republik ini, patutlah kita merenungkan kembali, membayangkan , akan pernahkah  ada  dan berdiri Republik Indonesia ini tanpa adanya perjuangan gigih Bung Karno beserta kawan kawan seperjuangannya selama berpuluh puluh tahun itu ?

       

      Mungkin sangat bermanfaat buat kita semua, bila kita mau sedikit membuang waktu membaca artikel yang telah dimuat dimilis ini, “ Mengenang Wafatnya Bung Karno“  oleh Y.T.Taher (Australia), seorang korban kesewenag wenangan rejim orba Suharto, dan “ Hidup Bung Karno !!! “ oleh Mohammad As , seorang pendukung Bung Karno.

       

      Jika kita bandingkan kehidupan Bung Karno dan presiden Suharto, pada pokoknya ada „sedikit“ perbedaan yang besar :

      Bung Karno : Dia telah mengorbankan dan menyumbangkan seluruh hidupnya, jiwa raganya demi kepentingan bangsa Indonesia .

      Presiden Suharto : Dia telah mengorbankan seluruh kepentingan bangsa Indonesia  demi kepentingan dirinya, kekuasaan dan harta benda .

      Itu saja bedanya !!

       

      Buat BK

      Dipagi berembun sejuk ini

      Kutarik napas dalam

      Kuhirup udara segar

      Kukenang intan-murni pikiranmu

      Setiamu pada bangsamu

       

      Bagai cahaya tak pernah pudar

      Walau kau lewati lubang hitam dijagad lebar

      Biar hati dan jantungmu tak lagi berdetak

      Yang direnggut manusia judas

      Sinarmu tetap berkilau emas

       

      Kami gantungkan cita setinggi bintang

      Maju terus ke dunia cita

      Ke keadilan yg terdamba

      Biar jalan penuh bahaya

      Vivere pericolosopun ditempuh jua

      Tak satupun boleh menghalang

      Jerman , Juni 2008

      Iwa



      Mari kita  galakkan nyala obor kemerdekaan yang telah dicipta, dinyalakan dan dibawa sebagai penyuluh jalan terang bangsa Indonesia ini !!!
      Obor Ajaran Bung Karno yang telah teruji dan terbukti kebenarannya !


       
      * * *

       


      Mohammad As.
      —

       

      HIDUP  BUNG  KARNO !!!

       

      HIDUP BUNG KARNO !!!

       

      Kiranya tidak ada kata-kata yang lebih tepat untuk diucapkan jika ditujukan kepada Bung Karno, selain dari tiga kata tersebut, yang kalau dituliskan, ditulis dengan huruf besar dan tebal serta diiringi dengan tiga tanda seru. Tiga kata tersebut di atas lebih menjiwai perasaan kita daripada segala ucapan rasa cinta, rasa hormat dan setia akan ajaran-ajaran serta cita-citanya.

      Begitu juga untuk memperingati Hari Ulang Tahun beliau tanggal 6 Juni marilah kita memekik sekeras-kerasnya dari lubuk hati sedalam-dalamnya:

      HIDUP BUNG KARNO !!!

       

      Sangatlah sukar, jika bukan tidak mungkin, untuk membayangkan bagaimana jalan sejarah andaikata di bumi Indonesia tidak pernah lahir seorang yang bernama Bung Karno. Mantan Kepala Staf Angkatan Perang T.B.Simatupang, dalam tulisannya tentang Bung Karno menyatakan: “Namun hidup kita sebagai Negara dan Bangsa agaknya akan jauh lebih miskin sekiranya dia tidak pernah hidup dan berjoang di antara dan bersama-sama kita”.

       

      Sampai seberapa jasa-jasa Bung Karno untuk bangsa dan negara, tidak lagi dapat diukur. Di tahun-tahun tigapuluhan, Bung Karno lah yang berhasil mempersatukan segala macam bentuk gerakan, dengan meyakinkan bahwa tujuan utama rakyat Indonesia ialah membebaskan diri dari penjajahan Belanda dan bahwa musuh pokok rakyat Indonesia pada waktu itu ialah penjajah Belanda. Bung Karno lah pencetus Pancasila yang kemudian menjadi dasar dan filosofi negara kita. Bung Karno lah yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sehingga diikuti oleh semua suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Bung Karno lah yang berusaha menyatukan bangsa dengan NASAKOM-nya. Bung Karno lah yang menjadi arsitek konferensi Asia-Afrika. Bung Karno lah yang......... Bung Karno lah yang.......... Bung Karno........................... Bung Karno................................... Bung Karno .......................................

       

      Bung Karno adalah seorang raksasa yang telah lahir di bumi Indonesia. Bung Karno adalah seorang pahlawan dan pemimpin yang, seperti Danco dalam dongengannya Maxim Gorki, ketika bangsanya berada dalam kegelapan telah merenggut jantung dari dalam dadanya untuk diangkat tinggi-tinggi sebagai penerangan jalan ke arah kemerdekaan dan kebahagiaan.

       

      Raksasa macam begini, mau tidak mau pasti menimbulkan rasa kagum dan hormat, bukan saja oleh kawan, tapi juga oleh lawan. Hanya manusia-manusia kerdil, berwatak kerdil dan berjiwa kerdil, berusaha menyembunyikan kekerdilannya dengan menghina dan mencemoohkan Bung Karno. Setelah Bung Karno tiada, mereka berusaha mengubur jasa-jasanya bersama dengan jenazahnya. Mereka juga berusaha mengubur ajaran-ajarannya dalam debu sejarah yang terlupakan dengan melarang rakyat membaca tulisan-tulisannya. Setelah Bung Karno tiada, mereka berteriak setinggi langit bahwa Bung Karno seorang politik yang telah gagal, bahwa Bung Karno telah gagal dalam merealisasi impian dan cita-citanya. Mereka berteriak bahwa Bung Karno sudah terkalahkan untuk selama-lamanya.

       

      Padahal yang selalu diimpikan oleh Bung Karno, yang dicita-citakan oleh Bung Karno, ialah negeri Indonesia yang adil, makmur, tenteram dan damai. Yang diimpikan oleh Bung Karno, yang dicita-citakan oleh Bung Karno ialah bangsa Indonesia yang berharga diri, bermartabat  dan berbudaya tinggi. Apakah ini semua sudah gagal? Apakah cita-cita ini sudah terkalahkan? Apakah Indonesia yang adil, makmur, tenteram dan damai sudah tidak mungkin lagi direalisasi? Apakah bangsa Indonesia tidak mungkin lagi menjadi bangsa yang berharga diri, bermartabat dan berbudaya tinggi?

       

      Jelas tidak! Memang Bung Karno telah gugur dalam perjuangannya sebelum cita-cita dan impiannya berhasil menjadi kenyataan. Akan tetapi Bung Karno sama sekali tidak gagal dan juga sama sekali tidak terkalahkan, karena impiannya, cita-citanya sudah diwarisi dan akan terus diwarisi serta membakar hati rakyat Indonesia. Pada suatu hari, cita-cita Bung Karno, impian Bung Karno, Indonesia yang adil, makmur, tenteram dan damai pasti akan menjadi kenyataan. Pada suatu hari, bangsa Indonesia pasti menjadi bangsa yang berharga diri dan berbudaya tinggi. Pada suatu hari, meskipun dia sudah tiada, Bung Karno dengan cita-citanya pasti akan mengalami kemenangan yang gemilang.

       

      Memang Bung Karno akhirnya gugur. Bukan terbunuh oleh ledakan granat atau tertembus peluru musuh, akan tetapi dibunuh pelan-pelan oleh seorang pengkhianat bangsa bersama kroni-kroninya, manusia-manusia kerdil lainnya. Howard P. Jones, bekas Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia, pernah menulis:

      “Sukarno terlalu sering menjadi korban dari kepercayaannya sendiri terhadap rakyatnya. Di samping kepintarannya sebagai orang Timur dalam bidang politik kecurigaannya terhadap Barat yang bisa dimengerti sebabnya, ia memiliki kepercayaan yang naif terhadap perseorangan dan keyakinan yang berbau mistik terhadap rakyat Indonesia dan kecintaan mereka kepadanya. Sukarno tidak bisa percaya bahwa ada orang Indonesia yang bermaksud jahat padanya.”

       

      Memang mungkin buat Howard Jones sifat Bung Karno ini dianggapnya naif. Tetapi apakah ini bukan justru menunjukkan kebesaran jiwanya? Bahwa kemudian dia gugur akibat pengkhianatan manusia kerdil karena kebesaran jiwanya, mungkin memang itu sudah menjadi nasib yang tak terhindarkan buat seorang pahlawan seperti dia.

       

      Marilah kita kutip tulisan Rachmawati Sukarno th.1976 mengenai hari-hari akhir Bung Karno, untuk melihat  sampai seberapa kekerdilan jiwa manusia macam Suharto beserta kroni-kroninya.

      “....... sakitnya Bapak makin parah, terlebih-lebih karena ada periode di mana tidak seorang anggauta keluarga pun yang boleh menemani. Sejak itu, tempat di mana Bapak di-“karantina”-kan dengan ketat, sunyi, sepi sekali. Bisa dibayangkan betapa kesunyian mencekam di dalam gedung yang besar itu.

           Kurang terurus adalah kesan yang jelas timbul dari wajah Bapak dan tempat tinggalnya pada waktu itu, ketika penulis akhirnya diperbolehkan bertemu kembali pada sekitar tahun 1969. Mengapa sampai separah itu keadaan Bapak? Penulis tidak habis pikir, sedih bercampur gemas dalam perasaan pada waktu itu.

           Ketika penulis menanyakan keadaan Bapak selama tidak diperbolehkan bertemu anak-anak dan keluarganya, Bapak hanya berkata “di-interogasi”.

       

           Dan sejak itu Bapak hanya berbaring terus, karena jalan pun sudah sangat sulit, harus dipapah, tidur di atas sofa, tapi tidak mengurangi membaca majalah yang dibawakan oleh keluarga dari luar (itu pun setelah disensor) dan sembahyang berbaring.

       

           Pemeriksaan secara medis memang masih tetap dilakukan, tapi kesan yang timbul hanya pemeriksaan ala kadarnya, mengingat penyakit yang diderita Bapak adalah chronis dan complex yang membutuhkan perawatan khusus. Perasaan yang timbul dari seorang anak kepada bapaknya – hal ini memang menyedihkan sekali, tapi kesedihan itu selalu ditutupi dengan perasaan bahwa Bapak adalah seorang pejuang besar, sehingga kepedihan dan kesedihan ini adalah hanya sebagai konsekwensi dari perjuangannya.

       

           Perjuangan yang dirintisnya mulai dari usia yang relatif muda sekali sehingga detik Bapak terkapar di atas sofa di dalam kesunyian yang mencekamnya di alam Negara Merdeka yang dibebaskannya bersama-sama pejuang-pejuang lainnya dahulu dari tangan musuh, sungguh tragis rasanya. Pada hal status Bapak tidak jelas, artinya dibilang tahanan politik bukan, pensiunan bukan, Presiden juga bukan, karena tidak ada yang diakui secara jelas dan gamblang. Tapi demikianlah kenyataannya.

       

           Tanggal 6 Juni 1970, Hari Ulang Tahun Bapak yang ke 69. Penulis bersama Guruh (adik penulis) secara diam-diam mengambil photo-photo Bapak di dalam “karantina” karena jelas kalau sampai ketahuan security pada waktu itu pasti dilarang. Apakah bukan suatu yang “aneh” bila mengambil photo-photo bapaknya sendiri di Hari Ulang Tahunnya, dilarang? Tapi begitulah kenyataan pada waktu itu.

       

           Dengan itikat kemanusiaan, photo-photo yang diambil itu dimuat oleh surat kabar di seluruh dunia untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya dari Bung Karno selama itu. Walhasil pada waktu itu penulis dan Guruh menghadapi security untuk mempertanggung-jawabkan peristiwa tanggal 6 Juni tersebut, memang tidak heran lagi. Buat penulis, photo ini merupakan kenang-kenangan yang bersejarah karena photo Bapak yang terakhir semasa hidupnya, jadi merupakan pengalaman penulis yang tidak terlupakan.

       

           Tanggal 11 Juni 1970 akhirnya Bapak harus dibawa ke RSPAD (sekarang R.S.Gatot Subroto). Di situ meskipun ada team medis, terasa perawatannya tidak memuaskan, misalnya mesin cuci (pembersih) darah yang diperlukan pasien seperti Bapak sampai akhir hayatnya tidak diberikan. Walhasil pasien yang butuh ini tidak tertolong lagi. Itu hanya salah satu contoh saja kesulitan yang dihadapi Bapak pada hari-hari terakhirnya. Lain-lainnya penulis hanya bisa mengelus dada saja, karena tidak tahu ke mana harus mengadu. Inikah sakratul maut yang harus dihadapi oleh seorang pejuang besar yang sebagian hidupnya diberikan untuk negara dan bangsanya termasuk orang-orang yang pada waktu itu jadi security, Dokter-dokter, Profesor, Perawat, penulis sendiri atau lain-lainnya?

       

           Yang jelas Bung Karno figure yang tak mudah dihapuskan dari sejarah bangsa Indonesia. Jasa beliau terlalu banyak – ini tak dapat dipungkiri, kecuali ada orang yang ingin memutar balikkan sejarah. Tetapi di samping itu sebagai manusia biasa beliau tak luput dari kesalahan dan dosa.

       

           Tepatnya tanggal 21 Juni 1970 jam 7 malam bersamaan pula akan dirayakannya Hari Ulang Tahun Kota Jakarta, seorang negarawan bangsa Indonesia menutup matanya, meninggalkan dunia fana ini yang penuh dengan segala macam ragam tingkah laku manusia, dengan segala kemunafikan dan keserakahannya. Beliau tidak sempat menikmati karyanya selama itu seperti Jakarta dengan gedung megah dan lampu-lampu beraneka ragam   ....................” -

       

      Sekarang keadaan Indonesia, maupun dunia, sudah berubah sama sekali jika dibandingkan dengan di jaman Bung Karno dahulu. Bahkan  Suharto yang haus darah, haus kekayaan dan haus kekuasaan, juga sudah dimakan cacing di dalam tanah. Sekarang rakyat Indonesia mendambakan akan terjadinya “reformasi total”, pendobrakan sama-sekali hal-hal yang tidak adil dan merugikan rakyat dari jaman “Orde Baru” yang sampai sekarang masih terus berjalan. Apakah harapan rakyat ini dapat ditumpukan kepada elite politik yang ada sekarang? Untuk itu marilah kita kutip sedikit kesan-kesan tentang Bung Karno yang ditulis oleh B.M.Diah pada th.1970, mantan Duta Besar Republik Indonesia di Hongaria, Inggris dan mantan Menteri Penerangan dalam kabinet Ampera, agar kita dapat membandingkannya dengan elite politik di Indonesia sekarang.

       

      .....“Bung Karno besar di bidang Internasional, sebab ia pejuang kebesaran Asia. Ingatlah Konperensi Asia-Afrika 1955 Bandung. Ia besar di bidang nasional, karena mencari dalil-dalil dan konsepsi-konsepsi untuk kemajuan Indonesia. Ingatlah Manipol. Ia besar di bidang kemanusiaan, sebab ia inginkan perdamaian dunia.

       

      .....Sebaliknya benar pula Bung Karno ini adalah human. Orang yang mau membunuhnya diampuninya. Peristiwa-peristiwa besar yang ditujukan terhadap dirinya tidak ada yang dihancurkan habis-habisan. Bahkan, pilot Amerika yang membantu oknum-oknum memberontak terhadap padanya dalam peristiwa PRRI dilepaskannya! Maukar, pilot AURI yang menembak Istana Merdeka tidak dihukum mati.

       

      .....Bung Karno yang sebenarnya, adalah seorang humanis. Ia tidak dapat melihat darah. Tidak senang mendengar perpecahan. Ia mencoba mempersatukan apa yang pecah. Ambillah umpamanya peristiwa-peristiwa percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Ia masih memberikan ampun pelaku-pelakunya. Pelaku-pelaku dalam pemberontakan PRRI juga diberikannya amnesti. Terlebih dahulu juga dengan pemberontakan Andi Azis. Peristiwa 17 Oktober, Permesta, semua berakhir dengan perdamaian nasional. Ia bukan penyokong fikiran kekerasan dibalas dengan kekerasan. Oleh karena itu maka pemimpin-pemimpin bangsa asing di lain bagian dunia kita menghormati Bung Karno dari sudut ini.

       

      .....Bung Karno lebih dari proklamator. Ia adalah BAPAK KEMERDEKAAN INDONESIA. Ia adalah ARSITEK dari pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

      .....Tanpa Sukarno tidak ada SATU Indonesia, tidak ada SATU bangsa, tidak ada Indonesia Merdeka, tidak ada bendera dan lagu Indonesia Raya.

       

      .....Sewaktu 99% orang Indonesia terpelajar mengharapkan hidupnya aman di jaman kolonial, ia menghabiskan waktu mudanya berjuang menentang kolonialisme.......Dengan proklamasinya kita semua, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke menjadi bangsa yang bernegara, bangsa yang bernama. Sebagai juga Washington mendirikan Negara Amerika Serikat, demikian juga pada hakekatnya Bung Karno mendirikan Negara Indonesia, negara Republik Indonesia. Dia juga memberikan kepada kita Undang-Undang Dasar. Ia juga yang membangunkan segala atribut, segala perlengkapan satu negara.

      .....Ia menghendaki kemakmuran bagi bangsa Indonesia. Ia menghendaki kebesaran bagi bangsa Indonesia.....Semboyannya ialah Panta Rei! Gerak terus, gerak maju.

       

      .....Pada waktunya Bung Karno berani mempertaruhkan jiwanya untuk sesuatu yang dianggapnya penting buat menegakkan negara. Ia lakukan semua keberanian itu, karena sebenarnya ia tidak menghendaki adanya perpecahan yang berdarah, pembunuhan sesama kita, penghancuran unsur-unsur kemanusiaan dalam masyarakat Indonesia.

       

      .....Bung Karno BUKAN tukang komplot.....Ia memupuk kekuatan dan kekuasaan tidak melalui partai. Tetapi tidak pula ia memakai “pressure group” atau barisan siluman buat menterrorisir partai-partai yang tidak mau ikuti kemauannya. Di sepanjang sejarah perjuangan Bung Karno ia tidak sanggup berkomplot. Ia tidak sanggup kasak-kusuk. Ia tidak mengirimkan orang-orangnya untuk “nggremet”, nyusup buat menerbitkan kekacauan di kalangan kawan dan lawannya.....Di dalam segala peristiwa yang terjadi terhadap Bung Karno, setahu saya, tidak pernah ia menggerakkan satu komplotan kontra terhadap musuh-musuhnya. Ia menolak pembunuhan. Ia menolak pembinasaan.

       

      .....Bung Karno toleran. Ia tidak mendendam panjang. Ia bukanlah Mr.Jekyl and Mr.Hyde. Ia tidak bermuka dua; satu jahat, satu manis dan baik. Bung Karno adalah manusia yang bersih dalam rongga dadanya.

      .....Hampir semua orang yang pernah bertemu mengatakan manusia yang berjiwa besar. Seorang yang mencintai sesama manusia. Dan saya tidak pernah mendengar Bung Karno menganjurkan kekerasan untuk mencapai kekuasaan.

      .....Tetapi, ia memang bukan nasionalis yang mlempem. Bukan pula nasionalis borjuis yang sudah senang dengan keadaan di lingkungannya. Ia nasionalis revolusioner. Ia seorang nasionalis yang bersemboyan: buat negara yang sedang berjuang tidak ada akhir perjalanannya. Ia anti kolonialis. Ia anti imperialis. Ia anti kapitalis. Ia anti fasisme.

      .....Ia mempunyai perasaan perikemanusiaan yang sangat besar. Ia menganggap perikemanusiaan itu universil. Dus, ia juga internasionalis. Lebih-lebih lagi, ia internasionalis yang ingin membesarkan Asia.

       

      .....Jenderal Suharto juga adalah anak didik Bung Karno. Demikian Amir Machmud dll jenderal-jenderal yang memegang pimpinan berbagai tatausaha negara di waktu itu. Bung Karno, Presiden Republik Indonesia yang berkuasa itu, tidak ada menempatkan sanak keluarganya pada satu pos penting pun”. -

       

      Membaca tulisan di atas, rasanya kita menjadi sedih atau malah bisa menjadi putus asa melihat perangai serta tingkah laku elite politik di Indonesia jaman sekarang. Akan tetapi, apabila kita mengingat ajaran Bung Karno, Bung Karno tidak pernah menumpukan harapannya kepada partai-partai politik maupun kepada elite politik, melainkan kepada pemuda. Karena itu marilah kita juga menumpukan harapan kita kepada pemuda dan, seperti Bung Karno, berani mengatakan “go to hell !”.

      “Kalau saya pemuda, saya akan berontak.....” terkenal kata-kata Bung Karno menggugah pemuda supaya berani meronta melawan partai-partai politik dengan elite politiknya yang saling bercakaran dan berebutan kekuasaan untuk kepentingan pribadi masing-masing. Seruannya kepada pemuda pada 17 Agustus 1951, tetap aktuil sampai sekarang dan akan selalu tetap aktuil sampai cita-citanya, impiannya, menjadi kenyataan:

       

             Pemuda !

            Lihat ! Engkau berdiri di tengah-tengah perjoangan bangsa kita mencari hidup. Engkau melihat pengacau-pengacauan, dan mendengar ratap-tangisnya berjuta-juta bangsa kita yang meminta ketenteraman dan keamanan. Engkau berjalan di antara orang-orang yang durhaka dan orang-orang yang jujur. Pembunuhan-pembunuhan dan pencurian-pencurian terjadi di muka rumahmu. Ada orang-orang berkata, bahwa itu adalah untuk sesuatu “idee”. Tetapi yang terjadi di hadapanmu itu adalah bukan sekadar hal “idee”, melainkan hal baik atau jahat !

             Maka aku menanya kepadamu: Dapatkah engkau diam-diam saja?

             Siapa yang diam di hadapan hal-hal semacam itu, sebenarnya mendegradir dirinya sendiri secara moril !

       

      Soekarno

      17 Agustus 1951.

       

       

       HIDUP  BUNG  KARNO  !!!

       

      Bung Karno: “Saya merasa diri saya sebagai sepotong kayu dalam satu gundukan kayu api unggun, sepotong daripada ratusan atau ribuan kayu di dalam api unggun besar yang sedang menyala-nyala.

      Saya menyumbangkan sedikit kepada nyalanya api unggun itu, tetapi sebaliknya pun saya dimakan oleh api unggun itu!

      Dimakan apinya api unggun . . . . !

      Tidakkah kita sebenarnya merasa semua demikian?”---

       

      Bung Karno, Presiden pertama RI: 06 Juni 1901 – 21 Juni 1970.

       

      * * *

       

       

       

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.