Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Nyanyian Untuk Nasionalis Generasi Awal

Expand Messages
  • ulfha_raz
    Nyanyian Untuk Nasionalis Generasi Awal Oleh: Iwan Komindo*) Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas/Hari ini tumbuh dari masamu/Tangan kami yang neneruskan/Kerja
    Message 1 of 1 , Apr 3, 2010
    • 0 Attachment
      Nyanyian Untuk Nasionalis Generasi Awal


      Oleh: Iwan Komindo*)

      Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas/Hari ini tumbuh dari masamu/Tangan kami yang neneruskan/Kerja agung jauh hidupmu/Kami tancapkan kata mulia/Hidup penuh harapan/Suluh dinyalakan dalam malammu/Kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan.

      Syair tersebut terukir di makam Ali Archam di Digul Atas, tempat pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia . Lokasinya terletak di tepi Sungai Digul Hilir, Tanah Papua bagian Selatan.

      Sebagai tempat pengasingan, wilayah seluas 10.000 hektare itu memang terasing. Hutannya lebat berawa-rawa dan hanya bisa ditempuh lewat jalur laut. Di sana , wabah malaria merajalela memakan banyak korban. Ali Archam salah satunya.

      Sejarah mencatat, Digul Atas dipersiapkan secara buru-buru oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menampung tawanan pemberontakan PKI tahun 1926. Di kemudian hari, tokoh-tokoh pergerakan seperti Sayuti Melik, Mohammad Hatta, Muchtar Lutffi, Ilyas Yacub hingga Sutan Syahrir juga merasakan pahitnya tanah Digul.

      Syair di pusara Ali Archam ditulis oleh Henriette Roland Holst, seorang penyair wanita dari Belanda yang membenci sepak terjang kolonialisme. Puisinya juga terukir di Taman Makam Pahlawan Tangerang.

      Di kemudian hari syair itu menjadi terkenal setelah AJ Susmana menggubahnya menjadi lagu pada 1995 sewaktu menjabat Ketua Forum Seni Budaya Retorika Filsafat Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Lagu inipun kerap dikumandangkan para demontran. Nadanya cukup membuat bulu kuduk merinding.

      Kepada Berdikari Online, Mono menuturkan sedikit banyak kisah, sebelum membuat lagu itu, "Suatu hari di tahun 1995, saat berkunjung ke sekretariat Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) cabang Solo saya membaca buku Soe Hok Gie berjudul Di Simpang Kiri Jalan," kata Mono, demikian AJ Susmana biasa disapa.

      Dalam buku itu, sambung pria kelahiran Klaten, 20 November 1971 tersebut, Gie menceritakan tentang puisi karya Henriette yang diukir di pusara Ali Archam. Buku itu dilarang beredar pada masa Orba.

      Karena buku tersebut sulit dicari pada waktu itu, maka Mono yang pernah menjadi sekretaris Wiji Tukul di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) menulis syairnya pada secarik kertas. Di dalam bus, sepanjang jalan pulang dari Solo ke Jogja dia menghafalkannya dengan cara berdendang.

      "Sesampai di UGM, saya ambil gitar dan menyanyikannya. Kawan-kawan pun turut serta. Lagu itu gampang diterima, karena syairnya cukup menggambarkan pergerakan mahasiswa yang pada waktu itu mulai menggeliat," paparnya.

      Malpraktek sejarah

      Generasi di masa Orde Baru hingga Orde Reformasi ini tentu tak banyak tahu tentang Ali Archam, mengingat malpraktek sejarah yang dilakukan rezim Soeharto.

      Berbagai literatur sejarah menjelaskan, Ali Archam adalah sosok penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia . Dia salah satu pimpinan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 1926 yang menuntut Indonesia merdeka.        

      25 Desember 1925, bertepatan dengan hari Natal , pimpinan PKI--partai politik pertama di negeri ini menggelar pertemuan di Prambanan, Jogja. Pertemuan itu memutuskan perlunya mengadakan aksi bersama merebut kemerdekaan dari tangan Belanda.

      Pemberontakan yang semula direncanakan pada 18 Juni 1926, baru meletus 12 November 1926 hingga 1927. Sejumlah daerah seperti Sawahlunto, Padang Panjang, Padang Sibusuk, Silungkang, Banten, Jakarta, Tasikmalaya, Ciamis, Majalengka, Kuningan, Indramayu, Banyumas, Solo, Boyolali, Kediri, Pekalongan bergolak.

      Sayangnya, pemberontakan itu berhasil ditumpas oleh Belanda. Akibatnya 13.000 orang ditangkap, beberapa orang ditembak, 4.500 orang dijebloskan ke penjara, dan sebanyak 1.308 orang dikirim ke Digul.

      Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, Ali Archam cukup fenomenal dalam pemberontakan ini. Saat ditangkap, dia tetap tutup mulut meski disiksa oleh Belanda ketika ditanya siapa saja yang terlibat. Dalam keadaan hancur pisik dan psikis dia berpidato di hadapan para Digulis;

      Suatu pemberontakan yang mengalami kekalahan adalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh kita lebih kuat. Kita terima pembuangan ini sebagai suatu resiko perjuangan yang kalah. Tidak ada di antara kita yang salah, karena kita melawan penjajahan. Pihak yang bersalah ialah pemerintah kolonial! Sekali lagi, kita memang kalah, akan tetapi kita tidak salah! Yang salah adalah penjajah!

      Ketika pimpinan pemberontakan 1926 ini menemui ajal di Digul, sebagaimana diuraikan oleh Soe Hok Gie dalam bukunya,  seluruh kaum laki-laki dimandikan sebagai penghormatan terhadap keberanian dan keteguhan hati Ali Archam.

      Menurut Mono, sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan, Ali Archam tipikal orang yang cinta ilmu pengetahun. Tak ayal kemudian pada masa pemerintahan Bung Karno pernah didirikan Akademi Ilmu Sosial Ali Archam yang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Bagitu hura-hara 1965, kampus itu bubar.

      Bung Karno menilai pemberontakan Ali Archam cs sebagai suatu generale repetitie dari suatu radikale revolutionaionaire gymnastyk atau olahraga pemanasan untuk perjuangan revolusi yang lebih luas dalam menghadapi perjuangan pembelaan Proklamasi 17-8-1945.

      Sedangkan Bung Hatta mengatakan pemberontakan-pemberontakan itu menunjukan kepada dunia luar bahwa rakyat Indonesia sungguh-sungguh ingin merdeka.

      Tentang pemberontakan PKI 1926/1927, dalam buku Pengalaman Perjuangan Dalam Merintis Kemerdekaan halaman 251-252, Muluk Nasution mencatat, Negara RI telah menetapkan para pemberontak itu sebagai pahlawan perintis kemerdekaan dengan suatu undang-undang bernomor 5/PP/1964.

      Sejarah adalah ibu. Boleh berbeda pendapat dengan ibu, tapi jangan sekali-kali tidak mengakui ibu. Durhaka namanya! Orde Baru telah melakukan malpraktek sejarah sehingga kita lupa dengan kaum nasionalis generasi awal yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia . Sepertinya kesalahan serupa tak perlu berulang lagi...

       *) Jurnalis dan penyair, tinggal di Depok.

      Tulisan ini diambil dari: http://papernas.org/berdikari/index.php?option=com_content&task=view&id=743&Itemid=44
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.