Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Selamat jalan Bung Ashar Soetjipto Moenandar

Expand Messages
  • Umar Said
    Tulisan berikut ini juga disajikan, sebagai lampiran tulisan In memoriam Ashar Soetjipto Moenandar, seorang tokoh revolusioner senior Indonesia , yang dimuat
    Message 1 of 1 , Feb 1, 2010
    • 0 Attachment
      Tulisan berikut ini juga disajikan, sebagai lampiran tulisan "In memoriam Ashar Soetjipto Moenandar, seorang tokoh revolusioner senior Indonesia" , yang dimuat  dalam website http://umarsaid.free.fr

       

       

       

      Selamat jalan Bung Ashar Soetjipto Moenandar

       

      Ketika dilangsungkan upacara pemakaman tokoh revolusioner senior, Ashar Soetjipto Moenandar, di Rotterdam (Holland) pada tanggal 26 Januari yang lalu, yang dihadiri sekitar 250  orang dan berdatangan dari Holland, Prancis, Jerman dan Swedia, telah berbicara empat orang untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

       

      Ke-empat orang itu adalah  Dr. Paul Thung (sahabat lama almarhum selama  68 tahun),  A. Umar Said, (mantan Pengurus PWI Pusat, sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika sebelum peristiswa 65) yang datang dari Paris bersama sejumlah teman-temannya, Ibrahim Isa (mantan sekjen Organisasi Indonesia untuk Setiakawan Rakyat Asia-Afrika dan sekarang Sekretaris Yayasan Wertheim di Belanda. Yang ke-empat adalah Sungkono, pimpinan Paguyuban Persaudaraan di Belanda, yang dulunya pernah belajat di Moskow.

       

      Di bawah ini adalah teks pidato tiga pembicara dalam upacara pemakaman tersebut, kecuali pidato Dr Paul Thung yang diucapkannya dalam bahasa Belanda, dan tanpa teks.

       

       

      Berikut adalah teks yang dibacakan A. Umar Said , yang diberinya judul « Patah tumbuh hilang berganti » :

       

       

      Kawan-kawan dan para sahabat yang tercinta,

       

      Pada hari ini kita bersama-sama menghadiri upacara pemakaman kawan tercinta Bung Ashar Soetjipto Moenandar, sebagai tanda penghormatan atau penghargaan terhadap apa yang telah diperjuangkannya selama hidupnya sebagai seorang revolusioner bagi rakyat Indonesia.

       

      Tentang sebagian riwayat hidup Bung Tjipto kita semua dapat menyimaknya kembali dalam bukunya « Kumpulan tulisan », yang diterbitkan berkat usaha sejumlah kawan di bawah pimpinan Bung Kasim. Buku ini  menyajikan berbagai pendapat dan fikiran-fikiran Bung Tjipto mengenai berbagai aspek gerakan revolusioner rakyat Indonesia, tentang  kejahatan besar Suharto beserta pendukung –pendukungnya,  tentang  peristiwa G30S, tentang masalah-masalah sosialisme dan berbagai masalah internasional. Dari itu semua nyatalah dengan jelas sekali bahwa Bung Tjipto adalah seorang intelektual revolusioner, seorang patriot yang sejak masa mudanya sudah memilih sosialisme dan Marxisme sebagai pedoman hidup dan lapangan perjuangannya.

       

      Di samping itu, seperti kita saksikan bersama, Bung Tjipto adalah satu orang yang dituakan oleh banyak orang, sebagai sosok yang rendah hati, berusaha bersikap correct terhadap semua orang, termasuk orang-orang yang tidak sependapat dengannya. Inilah sikap atau sifat-sifat utama Bung Tjipto, dan oleh karenanya ia terkenal bisa diterima atau dimengerti oleh berbagai kalangan dan golongan.

       

      Dari perjalanan hidup Bung Tjipto yang sangat menonjol adalah konsistensinya  dalam keyakinannya akan kebenaran tentang tujuan perjuangannya untuk sosialisme bagi rakyat Indonesia, walaupun perjuangan ini pernah mengalami pukulan-pukulan yang amat berat dari golongan reaksioner di bawah pimpinan Suharto yang bersekongkol dengan kekuatan-kekuatan nekolim, terutama imperialisme yang dikepalai AS.

       

      Dalam kaitan ini, baiklah kiranya kita dengar kembali apa  yang ditulis sebagai paragraf terakhir dalam bukunya « Kumpulan tulisan » yang berbunyi sebagai berikut :

      « Ribuan kawan dan sahabat dekat yang kukenal sudah tidak ada, mereka telah memberikan pengorbanan luarbiasa, mengenang mereka membuat hatiku amat sedih. Tetapi seperti peribahasa kita : Patah Tumbuh Hilang Berganti ! tetap kupelihara rasa optimis, karena percaya pada bangsa dan rakyatku, terutama pada generasi mudanya, yang kelak pasti akan berhasil mewujudkan cita-citanya untuk masyarakat yang adil dan demokratik !

       

      Atas ungkapan Bung Tjipto yang demikian ini, kiranya kita bisa sampaikan kepadanya, di tempat peristirahatannya yang abadi sekarang ini, bahwa optimismenya  itu tidaklah  sia-sia saja atau bukan ilusi belaka. Situasi di Indonesia  dewasa ini menunjukkan berbagai petunjuk , bahwa sejak beberapa waktu yang lalu, sedang terjadi perkembangan penting dalam gerakan rakyat  -- dan terutama gerakan generasi muda -- yang mengindikasikan bahwa pepatah « Patah Tumbuh Hilang Berganti » sedang  - setapak demi setapak - dalam proses perealisasian.

       

      Perkembangan ini dapat sama-sama kita lihat, terutama sekali, sejak munculnya  kasus skandal raksasa Bank Century, kasus Anggodo dan kriminalisasi KPK, kasus Prita Mulyasari. Bolehlah kiranya dikatakan bahwa setiap hari suratkabar dan televisi di Indonesia menyiarkan adanya berbagai demonstrasi atau macam-macam aksi dari banyak kalangan, terutama dari kalangan muda dan mahasiswa, yang mencerminkan kegigihan mereka untuk melawan korupsi dan mafia hukum dan peradilan, dan melawan segala ketidakadilan dan kejahatan  terhadap kepentingan rakyat.

       

      Adalah menarik untuk kita perhatikan bahwa perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini  telah mempertinggi kesedaran politik berbagai golongan, terutama dari kalangan muda. Dari berita-berita yang disiarkan media massa dan televisi di Indonesia kita bisa mengetahui bahwa Suharto beserta Orde Barunya  sudah makin dibenci oleh sebagian besar opini publik. Sebaliknya, nama Bung Karno sering muncul dalam berbagai kesempatan. Kata-kata revolusi sudah sering sekali terdengar di berbagai kalangan, terutama kalangan generasi muda. Bahkan, dalam suatu rapat yang diselenggarakan oleh kalangan mahasiswa di Purwokerto telah dinyanyikan terang-terangan lagu Internasionale.

       

      Ini semua menunjukkan bahwa optimisme Bung Tjipto yang dituangkannya dalam pepatah « Patah Tumbuh Hilang Berganti » sekarang mulai kelihatan dibenarkan oleh perkembangan situasi. Artinya, yang patah dalam tahun-tahun 65 dan 66 sekarang mulai tumbuh kembali, walaupun lambat atau setapak-tapak, dan bahwa yang telah hilang juga sedang berganti, dengan macam-macam bentuk dan cara atau jalan, oleh berbagai kalangan dan golongan.

       

      Seperti halnya yang diungkapkan oleh Bung Tjipto tahun yang lalu, kita semua sedih sekali kalau mengenang ribuan  kawan yang telah gugur oleh kebiadaban rejim militer Orde Baru. Sebab, kita semua tahu bahwa mereka telah memberikan pengorbanan yang luar biasa dalam perjuangan bersama membela kepentingan rakyat Indonesia untuk  menciptakan masyarakat adil dan makmur.

       

      Pada kesempatan ini sudah sepantasnyalah bahwa kita mengingat kembali segala hal yang baik, yang telah diperjuangkan oleh Bung Tjipto selama hidupnya, dan meneruskan tugas revolusioner yang telah diembannya sejak lama bersama seluruh kawan-kawan seperjuangan kita semua.

       

      Selamat jalan Bung Tjipto. Kita semua akan meneruskan perjuanganmu !

       

      * *  * 

       

      Sedangkan teks Ibrahim Isa yang diberi judul : « A.S. Munandar. Ya Kawan, Ya Sesepuh ! » adalah sebagai berikut :      

      Ytc Keluarga Ami dan Nicon, Yanti dan Hari, Wiwit dan Nono, Endro dan Nita, Widio dan Andri, serta Zus Artin Darma,

      Kawan-kawan dan hadirin yb,

      Hukum alam dan kodrat Ilahi menentukan bahwa pada suatu ketika umur manusia, sebagaimana makhluk hidup lainnya, mencapai akhirnya. *Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Rajiun!

      Saat seperti ini merupakan detik-detik teramat sedih dan berat. Ini terutama bagi anak-cucu, menantu dan sanak keluarga A.S. Munandar. Perasaan berat itu sulit dituangkan dalam kata-kata. Kepergian A.S. Munandar -- yang sehari-harinya disapa Pak Cipto atau Bung Cip, -- adalah saat-saat ketika kita merasakan betapa beratnya ditinggalkan olehnya. Kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan, tercurah rasa belasungkawa kita sedalam-dalamnya. Semoga mereka tabah menghadapi kedukaan ini.

      Kawan-kawannya yang senasib dan seperjuangan, benar-benar merasakan kehilangan seorang terdekat. Amat merasakan kesepian ditinggalkan olehnya. Kami-kami ini adalah sahabat karib dan kawan beliau. Lebih dari itu -- bagi kami A.S. Munandar -- Ya kawan, Ya Sesepuh. Beliau adalah teladan bagaimana langgam hidup sederhana. Bagaimana selalu sabar! Dan akomodatif terhadap fikiran lain. Lebih-lebih lagi beliau teladan bagaimana seharusnya berfikir panjang dan bertindak hati-hati, yang sulit ditemukan samanya.

      Beruntung dan berbahagialah kami-kami ini yang sempat diwarisi sesuatu yang tak ternilai artinya, berupa buku beliau: "KUMPULAN TULISAN" -- Pendapat dan Pandangan -- (1990-2009). Hendak mengenal pendapat dan pandangan A.S. Munandar, hendak mengenal siapa beliau: -- Membaca bukunya tsb akan sangat membantu.

      Kiranya tak perlu saya ulangi apa yang telah saya tulis beberapa hari y.l mengenai A.S. Munandar. Dalam kesempatan ini, ingin saya meneruskan pendapat dan kesan mereka-mereka yang tergolong generasi baru di Indonesia, pemuda dan pemudi zaman kini. Dan dari seorang sahabat Belanda.

      Baiklah saya teruskan dulu perasaan seorang yang pernah kenal Bung Cipto, ketika ia mendengar beliau telah tiada. Teman itu adalah seorang sarjana dari Indonesia. Tahun 2007 ia berhasil meraih gelar PhD-nya di Universitas Leiden. Dalam kesempatan itu teman tsb, -- S. Margana, dari Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, -- beruntung bisa berkenalan, mengadakan pembicaraan dan beberapa kali mendengar ceramah ataupun uraian A.S. Munandar bersangkutan dengan keadaan tanah air kita.

      Tulis S. Margana dalam e-mailnya kepada saya, sbb:

      "Saya mengucapkan belasungkawa dan duka yang mendalam atas berpulangnya Pak Munandar (Bung Cip).

      "*Sungguh beliau orang yang sangat hangat, cerdas dan tajam dalam menganalisis persoalan. Sebagai orang muda saya banyak belajar dari beliau baik dari ceramah-ceramahnya maupun obrolan2nya terutama di Korenbloemlaan 59 (Leiden).*

      "*Saya turut mendoakan semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisiNya sesuai dengan amal dan kebaikan yang telah beliau berikan pada sesama, bangsa dan tanah air.*

      Selanjutnya kesan mendalam yang disampaikan oleh salah seorang keluarga besar A.S.Munandar sendiri. Ditulisnya dalam bahasa Inggris sbb:

      "He who has sacrificed himself and even his family for the better life of the unlucky, has passed away. Until the end of his life, he always was an inspiration for his friends . . . . .

      "We believe what you have fought for, has meaning even just a tiny. Our love goes with you. May you rest in peace."

      < Dalam bahasa kita: "Beliau yang telah mengorbankan dirinya sendiri dan bahkan keluarganya demi kehidupan yang lebih baik bagi yang malang, telah meninggal dunia. Sampai akhir hidupnya, ia selalu merupakan inspirasi bagi kawan-kawannya . . . .

      "Kami yakin bahwa yang kau perjuangkan itu, punya makna meskipun itu kecil adanya. Cinta kami bersama kau. Istirahatlah dalam kedamaian".

      *


      Kiranya kurang lengkap jika tidak saya sampaikan di sini apa yang diharapkan oleh sahabat kita dari Jogyakarta tsb. S. Margana tidak lupa menanyakan:

      "*Kalau boleh tahu bagaimana saya bisa mendapatkan buku pak Munandar itu?*

      Ketika mengetahui tentang meninggalnya A.S. Munandar, yang juga dikenal adalah Ketua Harian Stichting Azië Studies, Informatie en Documentatie, sahabatku orang Belanda itu, -- *dr Coen Holztappel*, ketua Stichting Wertheim, bereaksi spontan sbb: "*WAT EEN VERLIES!!* <Suatu kehilangan besar> Hoi Isa, *kan jij voor een mooi bloemstuk van de Wertheim Stichting zorgen? *<Hoi Isa, dapatkah diatur agar dikirimkan sebuah karangan bunga dari Stichting Wertheim untuk beliau?>

      Kesan dan perasaan mendalam sebagaimana dikutip diatas, sepenuhnya mewakili perasaan dan kesan saya sendiri.
      Adalah suatu kesempatan yang terhormat bagi saya bisa bicara sepatah dua kata untuk teman seperjuangan, kawanku tercinta A.S. Munandar.


      Terimakasih Ami dan Nicon sekeluarga!


      * * *

       

       

      Sebagai pembicara terakhir adalah Sungkono, Pengurus Perhimpunan Persaudaraan Indonesia di Belanda, yang teksnya sebagai berikut

          

       

      Ami sekeluarga yang tercinta, dan  para hadirin sekalian yang kami hormati, 

      Dengan rasa sedih yang mendalam, saat ini kita berkumpul di aula ini untuk bersama-sama memberikan penghormatan terakhir kepada Bapak Ashar Sutjipto Munandar – atau dengan sebutan akrab : Bung Cipto – yang wafat pada tanggal 18 Januari 2010, jam 18.55 Waktu Belanda, dan kemudian kita akan mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

       

      Pada saat-saat seperti ini, berpisah untuk selama-lamanya dengan seseorang yang dikenal akrab, dicintai dan dihormati, adalah saat yang dirasakan sangat berat dan menyedihkan hati.

      Sehubungan dengan ini, dalam kesempatan ini izinkanlah saya atas nama segenap Pengurus dan anggota Perhimpunan Persaudaraan Indonesia di Belanda menyatakan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya kepada Ami dan Nicon sekeluarga, keluarga besar Munandar dan Ibu  Artin Darma; dan mengharapkan seluruh keluarga yang ditinggalkan, baik yang berada di luar negeri maupun yang berada di tanah air, kuat dan tabah menghadapi saat-saat yang berat dan menyedihkan ini, karena kehilangan seseorang yang dihormati dan dicintai.

       

      Tidak sedikit diantara kita yang mengenal dekat dan akrab, mengetahui bahwa sejak muda Bung Cipto telah ikut aktif dalam kegiatan sosial-politik, yang dimulai dengan gerakan mahasiswa di luar negeri (di negeri Belanda ) untuk kemerdekaan penuh bangsa Indonesia. Dan sejak itu seluruh hidup Beliau diabdikan dalam gerakan politik untuk mewujudkan Indonesia yang demokratis, adil dan makmur. Berkaitan dengan semua kegiatan politiknya sejak itu, mudahlah dimengerti, bahwa beliau adalah salah seorang pendukung setia konsepsi Bung Karno. Adalah salah seorang intelektuil revolusioner Indonesia yang berpengetahuan luas dan modern.

       

      Setelah berhasilnya rezim militer fasis Suharto merebut kekuasaan negara dengan menggulingkan Presiden Sukarno, yang didahului dengan pembunuhan massal orang-orang komunis, atau yang dianggap dekat dengan komunis dan kiri serta pendukung Bung Karno, maka keadaan Bung Cipto yang ketika itu sedang bertugas di luar negeri mengalami perubahan yang drastis karena paspornya dicabut oleh aparat rezim Orba di luar negeri. Hal ini jelas terjadi ada kaitannya dengan sikap politik Bung Cipto sebagai orang yang berhaluan kiri dan pendukung konsepsi Bung Karno. Dengan demikian Beliau tidak bisa pulang, dan jadilah salah seorang yang terhalang pulang. Sejak itu tidak bisa lain Bung Cipto terpaksa bermukim di luar negeri dengan memimpin perjuangan masyarakat Indonesia di luar negeri untuk mengekspos dan memblejeti kebiadaban rezim militer fasis Suharto.

       

      Selama berada di luar negeri, Bung Cipto tidak hanya bergaul dan berhubungan dengan masyarakat Indonesia saja, melainkan juga bergaul, berhubungan dan bekerja sama dengan masyarakat Belanda serta masyarakat asing lainnya dalam kaitan dengan masalah-masalah sosial-politik, perdamaian dan HAM di dunia..

       

      Ketika sekelompok orang-orang Indonesia yang terhalang pulang menyampaikan gagasan mendirikan Perkumpulan Paguyuban, yang kemudian berhasil dengan berdirinya Perhimpunan Persaudaraan Indonesia, Bung Cipto menyambut dan mendukungnya sepenuh hati. Beliau adalah salah seorang yang segera menyatakan diri sebagai anggota  ketika organisasi tersebut berdiri.

       

      Dalam kehidupan Organisasi Perhimpunan Persaudaraan, Bung Cipto banyak memberikan perhatian, fikiran dan tenaga dalam mengisi kegiatan-kegiatan temu-wicara, menyampaikan uraian dan ulasan tentang situasi politik Indonesia dan dunia, menjadi pembicara utama dalam berbagai pertemuan luas yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Persaudaraan.

       

      Dengan “perginya” Bung Cipto, Perhimpunan Persaudaraan kehilangan lagi seorang anggota dan sesepuh yang banyak memberikan perhatian dan fikirannya kepada Organisasi. Atas segala perhatian, sumbangan fikiran dan tenaga Bung Cipto sebagai anggota dan sesepuh  Perhimpunan Persaudaraan, kami segenap Pengurus dan anggota Perhimpunan  Persaudaraan menyatakan penghargaan dan hormat serta terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Beliau.

       

      Kami yang ditinggalkan akan tetap mengenang jasa-jasa Beliau dan akan kami jadikan pendorong untuk bekerja lebih baik lagi mengurus dan mengkonsolidasi Perhimpunan Persaudaraan Indonesia sebagai wadah persatuan di kalangan anggota-anggotanya serta alat untuk  mempererat persahabatan dengan masyarakat Indonesia di negeri Belanda.

       

      Sebagai kata akhir dan untuk mengiringi kepergian Bung Cipto, di sini saya akan membacakan sebuah sajak yang saya beri judul: Selamat Jalan.

       

         

       Selamat Jalan

       

         

       Ketika cuaca dingin membeku

          

       Dan  cakrawala Nusatara

          

       Masih kotor dengan debu

          

       Kau pergi tinggalkan kami

          

       Walau itu bukan maumu sendiri

       

         

       Kau telah berlawan, bertahan

          

       Lebih dari dua pekan

          

       Tapi kodrat telah sampai ke batas janji

          

       Tak bisa ditunda lagi

       

         

       Kau tinggalkan semua yang kau punya

          

       Pemikiran dan keyakinan

          

       Juga api yang kau jaga menyala

          

       Serahkan pada generasi muda

          

       Pelanjut angkatan

          

       Meneruskan perjalanan

          

       Menuju harapan….

          

       Selamat jalan Bung Cipto!

       

       Beristirahatlah dengan tenang di alam damai dan abadi!

       

       

      Sekian dan terima kasih atas perhatian para hadirin.

       

      Rotterdam, 26 - 01 - 2010

       

      Sungkono.

       

      * * *

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.