Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

E-Book Serial Kuliah Umum Filsafat dan Kota : Harta, Kata, Alam, Budaya

Expand Messages
  • andre andreas
    Kota dan Harta - B Herry Priyono, Kota dan Kata - F Budi Hardiman, Kota dan Alam - Karlina Supelli, Kota dan Budaya - Muji Sutrisno Lebih jauh memahami kota
    Message 1 of 2 , Oct 25, 2009
    • 0 Attachment

      Kota dan Harta - B Herry Priyono, Kota dan Kata - F Budi Hardiman, Kota dan Alam - Karlina Supelli, Kota dan Budaya - Muji Sutrisno

      Lebih jauh memahami kota kita sampai ke akarnya, lebih jauh memikirkan perubahan sosial kearah kota yang lebih manusiawi dan beradab.

      Rangkaian Studium Generale "Philosophy in the City" ini, adalah kerjasama Goethe-Institut Jakarta dan STF Driyarkara Jakarta

       

      Silah kunjung disini

      http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/10/e-book-seri-kuliah-umum-filsafat-dan.html

       

       


    • Gigih Nusantara
      Kembalikan Kejayaan Golkar Tulisan itu bisa kita lihat di kaos para pendukung Paloh saat Munas lalu. Meski bukan kalimat yang sama, aku kita, semangat dan tema
      Message 2 of 2 , Oct 27, 2009
      • 0 Attachment
        Kembalikan Kejayaan Golkar
        Tulisan itu bisa kita lihat di kaos para pendukung Paloh saat Munas lalu. Meski bukan kalimat yang sama, aku kita, semangat dan tema itulah yang membuncah di dada semua kader partai ini saat itu. Mereka merinduka kemenangan partai ini di setiap pemilu, seperti jaman dulu. Bukan partai yang tunggang-langgang dilabarak puting beliung saat pemilu 2009 lalu, yang dipermalukan tak cuma di pilleh, tetapi juga di pilpres!
        Jika yang dijadikan pangkal tolak usaha mengembalikan kebesaran partai di 2014 nanti, berdasarkan capaian mereka di pemilu 2009, maka sebenarnya bukan cuma Golkar saja, tetapi juga partai lainnya. Siapa nyana PDI Perjuangan harus pula bertekuk-lutut terhadap partai bau kencur barnama Partai Demokrat. Bahkan jagoannya, ketua umumnya, cuma cukup jadi penggembira saat Pilpres? Lalu ada PBB, yang tak bisa mempertomtonkan lag wajah seorangpun di parlemen, termasuk si Mohtar Ngabalin yang paling terlihat gagah berani itu?
        Hampir pasti aku berani memberaniklan diri, bahwa hasil pemilu 2009 sudah merupalam babak-babak akhir dari seberapa nian KURS MASSA POLITIK masing-masing partai tersebut adanya. Jika Golkar pernah merajai kancah perpolitikan masa lalu, dengan menangguk jumlah mayoritas, jangan pernah lagi bermimpi mengembalikan keadaan itu lagi. Bahkan hanya separuhnya sekalipun. Kebesaran yang terjadi saat iru adalah semu, hasil DOPPING POLITIK dari rezim Orde Baru. Selewat induk semang yang menjadi baby sitter tak ada, maka jumlah kursi 2009 itulah NILAI NOMINAL partai ini adanya. Tahun 1999 dan 2004 masih belum stabil.
        Demikian Golkar, demikian juga PDI Perjuangan. Nominal partai ini tak pernah beranjak dari jumlah yang cuma sebegitu-gitu saja. Itu pun sebenarnya adalah tinggalan dari masa lalu mereka, yaitu para Soekarnois dan Soehartois, yang makin lama pasti makin berkurang, karena uzur dan umur. Jika masih banyak anak muda yang terlihat cukup militan, bukanlah para ideolog sejati. Asal ingin terlihat beda dan oposan asal-asalan semata.
        Dengan modal konstituen yang cuma sebesar itu, maka nyaris sebuah impian kosong jika partai-partai tersebut mengharapkan menang pemilu, dan duduk di istana kepresidenan. Kecuali satu hal, jika mereka berhasil membuat prestasi yang nyata bermanfaat kepada rakyat secara signifikan. Kalau cuma terlihat rewel di parlemen, seolah-olah memihak 'wong cilik' tanpa ada prestasi fisik yang nyata, maka yang akan terbangun lagi-lagi cuma mimpi, sekedar istana di atas pasir, yang akan hapis ketika disandingkan dengan apa-apa yang lebih nyata dan realistis saat kampanye tiba.
        Menjadi oposan, melawan pemerintah, memerlukan energi yang sangat besar, juga biaya. Sebab, pemerintah memiliki keleluasaan membangun, mereposisi, merekonstruksi, bahkan memoles hal-hal yang diincar oleh kelompok oposan sambil menjalankan APBN, sehingga membuat tak ada ruang yang cukup bagi oposan untuk menonjolkan diri.
        Prestasi kalangan oposisi sangat terasa manfaatnya, dan bisa berharap memenangkan pemilu, ketika dihadapkan pada rezim (pemerintah) yang SAMA SEKALI JELEK BUKAN MAIN. Ada beda bumi dan langit! Tetapi jika pemerintah berjalan, meski tak bagus-bagus sekali, namun bisa diterima, maka menjadi oposan adalah sia-sia. Malah berbuntut menjadi spiral ke bawah, makin kecil kurs politiknya! Contoh gamblang adalah nasib Golkar dan PDI Perjuangan pada pemlu 2009!
        Jadi?
        Sebenarnya tawaran SBY agar PDI Perjuangan ikut dalam rekonsiliasi melalui kabinet, adalah kesempatan baik unruk mendapat tiket berbuat sesuatu yang nyata bagi rakyat. Sayang, si embak tak mampu melihat peluang tersebut, untuk lebih membuat partainya bisa punya catatan prestasi nyata, bukan omong doang. Si embak lebih tertarik pada pujian para pengamat, mengenai KETEGUHAN HATI MENJADI OPOSAN, yang dikaitkan dengan militansi konstituennya. Padahal, tinggal berapa sih konstituen yang benar-benar militan? Cukupkah untuk memenangkan pemilu? I don't think so! Percuma, lah, mbaaakkkk....!
        Tapi, ya, sudahlah. Embak sudah menuliskan nasib politiknya sendiri! Ya nasibmu, PDI Perjuangan!
        Salamku.

      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.