Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Ketika Niat dan Tindakan tanpa disertai Ilmu dan Hakikat

Expand Messages
  • Icas Jakarta
    Suatu ketika, seekor monyet yang sedang kehausan pergi ke sebuah kolam untuk minum agar dahaganya hilang. Ketika dia hendak minum, tiba-tiba perhatiannya
    Message 1 of 1 , Mar 28, 2009
    • 0 Attachment

      Suatu ketika, seekor monyet yang sedang kehausan pergi ke sebuah kolam untuk minum agar dahaganya hilang.. Ketika dia hendak minum, tiba-tiba perhatiannya terpusat pada seekor ikan mas koki yang berada di kolam tersebut. Dia perhatikan dengan seksama ikan tersebut. Lalu pikirannya berkata, "Kasihan sekali ikan tersebut, dia pasti butuh pertolongan."

       

      Lalu monyet tersebut segera menghampiri ikan tersebut, mengangkat dan meletakkannya di darat. Dan monyet itu kemudian berkata, "Sekarang pasti kamu merasa lebih baik." Tak lama kemudian, ikan tersebut mati. Sang monyet bingung terhadap hal ini. "Bukankah aku telah menolongmu, bukankah kamu sekarang telah berada di tempat yang lebih baik, lalu mengapa engkau mati?", tanya sang monyet kepada dirinya sendiri dalam hati.

       

      Di tengah-tengah kita, banyak orang yang bertindak seperti monyet tersebut, yang menganggap tindakannya mengangkat ikan tersebut ke darat sebagai tindakan menolong dikarenakan dia melihat dari kacamatanya sendiri yang tidak dapat berenang. Kondisi sang ikan yang megap-megap semakin menegaskan dirinya bahwa sang ikan pasti butuh pertolongan, karena dia mengira ikan tersebut pasti sedang kesulitan untuk bernafas.

       

      Lalu pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan sang monyet adalah salah? Bukankah niatnya adalah baik, yaitu ingin menolong sang ikan? Jika salah, di manakah letak salahnya?

       

      Niat sang monyet memang baik, namun itu tidaklah cukup untuk memperoleh hasil yang baik. Yang salah dari monyet tersebut adalah dia tidak memiliki ilmu untuk memahami hakikat bahwa ikan hidup di dalam air. Ini jugalah yang mungkin terjadipada para pengambil kebijakan di negeri kita.

       

      Ada beberapa hal mengapa mereka tidak dapat melihat hakikat peristiwa. Yang pertama adalah kebodohannya. Yang kedua adalah keegoannya. Untuk yang pertama dapat diatasi dengan belajar. Namun sering kali, kekeliruan pengambilan kebijakan tersebut disebabkan karena keegoannya, melihat peristiwa/persoalan tersebut dari sudut pandangnya. Bahkan yang lebih celaka lagi, segala kebijakan yang diambil dalam rangka untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Jika ini yang terjadi berarti orang tersebut lebih buruk daripada monyet tersebut.

       

      Jadi, niat baik saja tidaklah cukup, pahamilah hakikat peristiwa. Untuk itu, kita harus memperbanyak informasi dan pengetahuan, menghilangkan terlebih dahulu asumsi-asumsi. Orang bijak pernah berkata, "Memahami hakikat persoalan sama saja telah menyelesaikan separuh persoalan tersebut."

       

      Untuk memahami hakikat persoalan haruslah memiliki atau menguasai ilmunya, yaitu filsafat dan tasawuf. Sehubungan dengan itu, Islamic College Jakarta membuka penerimaan mahasiswa baru jurusan Islamic Studies untuk tingkat S1 dan jurusan Islamic Philosophy dan Islamic Mysticism untuk tingkat S2.

       

      Pendaftaran dapat dilakukan mulai awal April 2009.

       

      Untuk informasi lengkapnya dapat mengunjungi :

       

      www.icas-indonesia.org

       

      atau kunjungi :

       

      Kampus Islamic College Jakarta

      Plaza Pondok Indah III, Blok F5, Jln. T.B. Simatupang, Jakarta Selatan

       

      atau hubungi :

       

      Kampus Islamic College Jakarta

      Telp. :  (021) 765 1534  u.p.  Mr. Max,  Ms. Rintis,  Ms. Erliyanimanik

      Contact Person :  (021) 99174815,  32959478,  081385446785

       

      atau kirimkan via e-mail :

       

      icas.jakarta@...,  info@...

       

       

       

      Bergabung jugalah ke dalam facebook group FALSAFATUNA !!!

       


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.