Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Bukan Rakyat Biasa

Expand Messages
  • ajsusmana
    kompas Rabu, 13 Agustus 2008 | 01:02 WIB Tidak ada demokrasi tanpa pemi- lu. Juga tidak ada pemilu tanpa partai politik. Pemilu dan partai politik selalu
    Message 1 of 1 , Aug 13, 2008
    • 0 Attachment
      kompas Rabu, 13 Agustus 2008 | 01:02 WIB



      Tidak ada demokrasi tanpa pemi- lu. Juga tidak ada pemilu tanpa partai
      politik. Pemilu dan partai politik selalu menciptakan suasa- na gaduh,
      tegang, dan konflik.

      Meskipun demikian, pemilu dan partai politik juga menyimpan harapan
      bagi kemajuan serta perbaikan sebuah negara dan bangsa. Pendek kata,
      pemilu ibarat jembatan emas, tetapi bukan jembatan emas yang rata,
      mulus, dan lurus, melainkan jembatan emas yang licin dan menyimpan
      banyak jebakan dan lubang.

      Pemilu memang masih tahun depan. Namun, hiruk-pikuk persiapan pemilu,
      sejak kampanye secara resmi dimulai 12 Juli lalu, sudah terasa.
      Partai-partai politik mulai menyusun daftar calon wakil rakyat.
      Berbagai kalangan, mulai dari ilmuwan, tokoh muda, pengusaha, penggiat
      LSM, sampai artis, ramai-ramai menyerbu partai politik untuk menjadi
      calon anggota legislatif.

      Apa yang terjadi saat ini seakan mengulang pemilu sebelumnya. Pemilu
      2004 ditandai gejala politik selebriti. Banyak selebriti di negeri ini
      meramaikan kampanye. Mereka tidak sekadar nampang, tampil di panggung,
      melainkan juga menjadi calon anggota legislatif.

      Apa yang mendorong mereka ingin menjadi anggota legislatif? Apakah ini
      merupakan bentuk dari kesadaran mereka berpolitik, bernegara, atau ini
      merupakan bentuk kesadaran mereka berdemokrasi yang mereka wujudkan
      dalam partisipasi politik dengan menjadi calon anggota legislatif?
      Partisipasi masyarakat merupakan jantung demokrasi. Sulit dibayangkan
      demokrasi tanpa adanya partisipasi masyarakat secara bebas

      Kalau hal itu yang terjadi, sungguh suatu kemajuan. Sekadar melihat
      perjalanan politik di Indonesia. Keterlibatan para selebriti—menjadi
      calon anggota legislatif— merupakan bentuk perkembangan lanjutan
      gejala serupa dalam sejarah politik kita. Pada masa Orde Baru (Orba),
      mereka hanya dijadikan penarik massa kampanye dan vote getter. Setelah
      itu mereka menjadi penggembira dan akhirnya, di tahun-tahun akhir
      Orba, mereka diangkat menjadi anggota MPR Utusan Golongan yang lalu
      digabungkan dengan Fraksi Karya Pembangunan. Kini mereka lebih maju,
      menjadi calon anggota legislatif.

      Apa pun alasan mereka—entah menyodorkan alasan klise, "ingin mengabdi
      kepada bangsa dan negara secara riil", atau "ingin menjadi wakil
      rakyat, melayani rakyat, dan memperjuangkan kepentingan rakyat"—mereka
      harus ingat bahwa rakyat pernah memilih sekian ratus wakilnya, tetapi
      belakangan merasa tidak diwakili kepentingan dan nasibnya. Dengan
      demikian, pada akhirnya, sulit bagi rakyat untuk menilai bagaimanakah
      yang disebut sebagai wakil rakyat itu, mewakili kepentingan dan
      memperjuangkan nurani rakyat.

      Padahal, sebagai wakil rakyat, mereka jelas bukan rakyat biasa. Gaji
      mereka di atas rata-rata. Menjadi anggota parlemen adalah menjadi
      elite bangsa: di atas kelas menengah rakyat Indonesia. Bahkan, jika
      rakyat biasa kapan pun bisa diperiksa di pengadilan, mereka perlu izin
      presiden untuk diperiksa kejahatannya.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.