Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

SAYA TIDAK BERSIMPATIK DENGAN DEMOSTRASI MAHASISWA

Expand Messages
  • hendrasipayung
    Tulisan ini saya dapat dari http://www.moanbb.blogspot.com/ MAAF SAYA TIDAK BERSIMPATIK DENGAN DEMONSTRASI MAHASISWA Mahasiswa kembali bentrok dengan aparat.
    Message 1 of 1 , Jul 1, 2008
      Tulisan ini saya dapat dari http://www.moanbb.blogspot.com/


      MAAF SAYA TIDAK BERSIMPATIK DENGAN DEMONSTRASI MAHASISWA



      Mahasiswa kembali bentrok dengan aparat. Aksi ribuan massa dari
      elemen mahasiswa dan masyarakat di depan Gedung DPR/MPR Jalan Gatot
      Subroto, Jakarta Pusat dan kampus Atmajaya, Selasa (24/6) berakhir
      ricuh. Massa berhasil merobohkan satu ruas pagar gedung dewan. Massa
      juga memblokir jalan, membakar ban sehingga menyebabkan kemacetan
      memanjang. Polisi membubarkan pengunjuk rasa dengan menyemprotkan air
      dari mobil water cannon sementara massa melempari barisan polisi
      dengan batu (Kompas.com, 24 Juni 2008).



      Walaupun tidak dapat disamakan dengan aksi mahasiswa pada tahun 2008
      namun menurut saya aksi ini sungguh luar biasa. Karena menimbulkan
      efek kaostik yang besar dan setidaknya mengugah respon dari para
      petinggi-petinggi di negeri.



      Bahkan pada aksi demostrasi sebelumnya sampai harus memakan korban
      jiwa. Maftuh Fauzy (22) mahasiswa Unas korban penyerangan polisi ke
      kampus, meninggal dunia, setelah sebelumnya sempat ditahan oleh
      polisi. Meskipun penyebab kematian yang masih simpang siur. Peristiwa
      di atas semakin meningkatkan heroisme mahasiswa saat berdemonstrasi
      di depan gendung MPR/DPR dan Universitas Atmadjaya.



      Demonstrasi ini merupakan buntut dari ketidakpuasaan mahasiswa
      terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Menurut mahasiswa
      tidak tepat pemerintah menerapkan kebijakan tersebut ketika
      masyarakat masih berada dalam tekanan ekonomi. Sehingga mahasiswa
      menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk ketidakberpihakan
      pemerintah terhadap rakyat, wajar jika mereka melakukan aksi.



      Seperti ditegaskan seorang aktivitas pada wawancana di sebuah
      televisi swasta, "Mahasiswa akan tetap melakukan demonstrasi turun ke
      jalan selama ada ketidakadilan". Artinya aksi reaktif mahasiswa, atau
      banyak kalangan menyebutnya anarkis, akan tetap ada selama pemerintah
      berlaku tidak adil atau sepanjang ada rakyat yang tertidas.

      Ketidakadilan vs Kondisi Alami


      Namun pernyataan di atas menimbulkan pertanyaan bagi saya. Adakah
      pemerintahan di muka bumi ini yang sepenuhnya bebas dari
      ketidakadilan atau ketertindasan. Bahkan di negara maju sekalipun
      selalu saja kelompok masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil
      oleh negara.



      Karena ketidakadilan tidak mungkin dihapuskan maka wajar jika
      mahasiswa tidak akan berhenti berdemostrasi dengan kekerasan atau
      anarkisme. Seperti membakar ban di jalanan, mencoret mobil plat merah
      atau merusak pagar pembatas jalan tol, tanpa memperdulikan banyak
      anggota masyarakat yang turut dirugikan oleh aksi mereka.

      Dan apakah benar, jika demostrasi adalah jalan terbaik menanggapi
      persoalan ketidakadilan? Signifikankah aksi demostrasi mahasiswa
      terhadap perubahan kebijakan pemerintah secara dramatis sehingga
      kemudian masyarakat tertolong?



      Bagaimana jika ternyata ketidakadilan ini sesungguhnya tidak
      bersumber dari pemerintah, namun sebuah perubahan global yang tidak
      dapat dihindari. Bahwa harga BBM akan terus merangkak naik seiring
      berkurangnya pasokan minyak dunia. Mungkin beberapa tahun ke depan
      harga pangan akan membumbung tinggi, seiring dengan terbatasnya
      ketersediaan pangan secara global. Sehingga rakyat miskin tidak lagi
      mampu membeli bahan makanan secara mencukupi.



      Apakah dalam konteks tersebut mahasiswa akan terus berdemonstrasi
      dengan tujuan membela masyarakat yang tertindas oleh situasi global?
      Artinya pemerintah harus membebaskan masyarakat dari ketidaknyamanan
      hidup dalam kondisi apapun. Tidak bisa tidak.



      Intelektual Muda, Kreativitas dan Solusi
      Tentu saya sebagaimana masyarakat pada umumnya berhadap banyak pada
      para mahasiswa sebagai calon intektual muda yang tengah membekali
      dirinya dengan ilmu pengetahuan. Label kemahasiswaan itu seharusnya
      identik dengan jiwa muda yang cerdas dan inovatif. Dan menurut Helmy
      Yahya pribadi yang kreatif sentiasa bertanya, "Apakah ada cara yang
      lebih baik?", ketika menghadapi tantangan.



      Inovasi seringkali muncul pada saat krisis. Faraday bekerja selama
      hidupnya untuk menghubungkan listik dengan magnetik, sebab masalah
      itu adalah masalah yang mencolok pada masa hidupnya (Bronowski,
      1982). Atau Luis Pasteur yang mencoba menemukan vaksin anti rabies
      untuk mengatasi penyakit yang hampir menjadi wabah di desa Arbois
      tempat Pasteur tinggal (Tempo, 6 Juli 2002).Inovasi lahir dari
      pribadi yang kreatif dalam menciptakan ide dan gagasan dan tidak mau
      kalah terhadap situasi atau tekanan yang ada.



      Oleh sebab itu, dapatkan krisis yang tengah dihadapi Indonesia dapat
      menjadi stimulasi bagi mahasiswa menciptakan sebuah inovasi. Mampukah
      para intelektual muda tersebut menciptakan sebuah ide-ide segar yang
      mendorong perubahan dalam masyarakat. Seperti halnya Bill Gate dengan
      ide Microsoftnya yang ia hasilkan pada umur kurang dari 20-tahun,
      turut merubah wajah dunia dan berperan dalam menciptakan masyarakat
      komputerisasi di abad ke-21. (Andreas, Harefa).



      Atau seperti sekelompok pemuda Banjarnegara yang bergabung dalam
      Komunitas Pemuda Kreatif (Kompak)yang memberi contoh tentang
      bagaimana bersikap dan bertindak kreatif. Krisis energi yang terjadi
      akhir-akhir ini dijadikan sebagai tantangan untuk menemukan
      alternatif yang bisa membantu meringankan masalah yang dihadapi
      masyarakat. Mereka berpikir dan berupaya mencari terobosan agar
      memeroleh sumber energi yang murah dan mudah diterapkan. Dari
      berbagai informasi akhirnya diputuskan mencoba eceng gondok sebagai
      bahan baku biogas. Kebetulan desanya berdekatan dengan Waduk Mrica
      yang dipenuhi tanaman itu. Hasil fermentasi yang mereka lakukan
      menghasilkan suksesgas metana (CH4) serta gas Hidrogen Sulfida (H2S).



      Demikian halnya dalam bidang politik. Mampukah mahasiswa menunjukkan
      citra intelektualitasnya dalam eksistensinya pada dunia politik
      praktis,. Seperti halnya Bung Karno yang mampu menarik perhatian kaum
      kolonial dan meneguhkan keberadaannya sebagai pemimpin bangsa tidak
      dengan aktivitas anarkisnya melainkan tulisan-tulisannya yang lugas
      dan mendalam. Ia membangun perkumpulan pemuda yang tidak bertujuan
      mendorong tindakan kekerasan melainkan menanamkan kesadaran
      nasionalisme melalui penyebaran pemikiran menggunakan tulisan atau
      pertemuan kaum muda.



      Oleh sebab itu ketika masyarakat Indonesia mengalami kesengsaraan
      oleh berbagai krisis apakah dalam hal ini mahasiswa mampu menawarkan
      solusi efektif. Atau ketika pemerintah tidak berjalan baik dapatkah
      mahasiswa melalui cara-cara yang cerdas menyampaikan kritik yang
      membangun. Atau membangunkan kesadaran masyarakat luas untuk
      menciptakan sebuah sikap politik serta kontrol sosial melalui upaya
      yang bersifat massif.



      Idealisme vs Ketidakmatangan Mental
      Namun ada ungkap yang cukup menarik dari Arnold Lazarus dalam bukunya
      yang berjudul Staying Sane in the Crazy World (terj., 2005) Bahwa
      tindakan lebih lantang dari pada kata-kata. Tindakan akan lebih
      gamblang memgambarkan siapa diri kita. Sehingga semangat nasionalisme
      dan niat membela rakyat yang ditunjukkan oleh yang mahasiswa
      berdemonstrasi melalui tulisan, slogan dan tindakan kekerasannya
      idealnya konsisten dengan totalitas tindakan pada kehidupan
      keseharian.



      Bahwa bela bangsa adalah prinsip hidup yang tengah dipegang oleh para
      mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi. Sehingga demonstrasi
      adalah sisi lain dari perjuangan mahasiswa membela masyarakat luas
      yang tertindas oleh kenaikan harga BBM. Karena sebelumnya mahasiswa
      Unas telah menjalankan sebuah pembedayaan masyarakat gelandangan di
      daerah sekitar pasar minggu. Atau mengembangkan konsep peningkatan
      UKM. Atau mahasiswa Atmajaya atau UKI telah melakukan pendidikan
      gratis anak-anak gelandangan atau pengembangan bisnis jasa pengamen
      jalanan.Artiya sebelum melakukan demostrasi sudah banyak tindakan
      bagi masyarakat yang telah dilakukan oleh para mahasiswa. Bahkan ada
      ratusan bahkan ribuan konsep konkret yang akan diterapkan untuk
      membantu masyarakat miskin.



      Tentunya yang menjadi pertanyaan apakah hal demikian yang terjadi?



      Membela masyarakat membutuhkan karakter altruitik dalam jiwa mereka
      yang melakukannya karena memerlukan banyak pengorbanan. Dan kemampuan
      altruistik menuntut perkembangan kejiwaan dan mental yang sehat.
      Bagaimana seseorang dapat menolong masyarakat luas jika ia tidak
      mampu menolong dan memelihara dirinya sendiri atau menolong orang-
      orang nyata disekelilingnya. Mungkinkan seseorang dapat mencintai
      orang lain jika ia sendiri tidak mengenal apa itu cinta. Atau
      memberikan cinta pada dirinya sendiri? Jadi aneh rasanya jika
      seseorang mengklaim dirinya sebagai pembela masyarakat namun tidak
      perduli dengan keberadaan orang-orang gembel yang setiap hari lalu
      lalang di depan matanya.



      Oleh sebab mahasiswa yang gemar berdemonstrasi untuk tujuan altrustik
      adalah pribadi yang juga mampu menghargai dan mencintai kehidupannya
      serta memiliki tujuan hidup yang jelas. Mustahil orang-orang yang
      suka melakukan hal-hal buruk bagi hidupnya seperti menggunakan hal-
      hal yang tidak baik bagi tubuh semacam narkoba, minum-minuman keras,
      dsb untuk bertindak altruistik.



      Jika sudah terkontaminasi dengan hal-hal tersebut bagaimana kita
      dapat menyakini bahwa tindakan mereka berdemonstrasi didasarkan pada
      motivasi yang benar. Dan bukannya tandensi kekerasan oleh karena
      kerusakan mental akibat racun atau kerusakan tubuh dan pikiran yang
      ia akibatkan sendiri.



      Apalagi menurut hasil survey nasional penyalahgunaan dan penggunaan
      Gelam Narkoba pada yang dilaksanakan pada tahun 2006 di 33 propinsi
      menunjukkan hasil yang cukup memprihatinkan. Ternyata dari 100
      pelajar dan mahasiswa rata-rata 8 orang pernah pakai dan 5 dalam
      setahun terakhir pakai narkoba. Parahnya lagi empat di antara 10
      pelajar / mahasiswa penyalah-guna mulai memakai Narkoba saat umur 11
      tahun atau lebih muda. Ganja merupakan jenis Narkoba yang paling
      banyak dipakai pertama kali.



      Ironisnya sebagaimana hasil pemeriksaan polisi terhadap mahasiswa
      UNAS yang ditangkap pada kasus terlibat demostrasi di kampus UNAS,
      ada 55 mahasiswa yang urinnya mengandung narkoba. Dari jumlah itu,
      tiga orang diantaranya ditetapkan sebagai tersangka pengedar Narkoba.
      Sebanyak 13 mahasiswa lainnya ditetapkan sebagai tersangka
      pengrusakan dan melawan petugas. Jadi, dari 55 mahasiswa tadi,
      tinggal 39 orang yang murni pengguna narkoba.



      Namun temuan ini oleh banyak kalangan adalah upaya kepolisian
      mengalihkan perhatian dari pelanggaran HAM kepada kasus narkoba.
      Walaupun anehnya, Rektor UNAS menanggapi hal tersebut dengan serius
      dengan mengancam akan memecat tiga mahasiswa tersangka pengedar
      Narkoba, bila nanti terbukti di pengadilan (Detikcom, 2008).

      Tentunya sangat tidak diharapkan demonstrasi dengan dalih membela
      rakyat



      sesungguhnya hanya bentuk lain pembebasan dorongan-dorongan agresif
      yang tertanan dalam diri mahasiswa. Kebutuhan mencari indentitas
      diri, membangun individualitas serta kebutuhan mendapat atensi,
      sebagai salah satu kebutuhan di usia menjelang kedewasaan,
      diekspresikan dengan jalan kekerasan. Atau aktivitas demonstrasi
      merupakan saluran melampiaskan rasa fustrasi baik karena tekanan
      ekonomi atau sosial akibat wajah perkotaan yang menciptakan manusia
      yang anonim.



      Wajar hal ini dipertanyakan mengingat sering juga terjadi tawuran di
      antara mahasiswa yang kadang sama tidak rasionalnya dengan aksi para
      polisi saat menangkap mahasiswa UNAS yang berdemonstrasi, dengan
      saling menghancurkan fasilitas kampus masing-masing. Misanya saja dua
      kelompok mahasiswa di Universitas Muslim Indonesia, Makassar,
      Sulawesi Selatan, pada bulan Juni kemarin terlibat tawuran. Insiden
      yang terjadi di belakang kantor Rektorat UMI itu merusak sejumlah
      fasilitas perkuliahan. Bahkan dua mahasiswa luka dikabarkan terkena
      tikaman senjata tajam.



      Pada bulan Mei yang lalu mahasiswa UKI juga terlibat tawuran dengan
      Yayasan Administrasi Indonesia (YAI). Yang mengakibatkan sejumlah
      mahasiswa dirawat dari dua perguruan tinggi tersebut dirawat di rumah
      sakit. Dan masih banyak lagi kasus-kasus tawuran antara mahasiswa
      yang terjadi di berbagai daerah.



      Tidak hanya itu, pendidikan tinggi di Indonesia masih menghadapi
      masalah berbagai bentuk kekerasan yang terjadi secara internal.
      Kekerasan yang terjadi STIP sampai menimbulkan korban jiwa yakni
      Agung Bastian Gultom. Dan belum lagi kasus kekerasan yang terjadi di
      STPDN, dimana, Inu Kencana dalam disertasinya menyebutkan bahwa sejak
      1990-an hingga 2005, terdapat 35 praja yang tewas dan hanya 10 di
      antaranya yang terungkap (detik.com, 09/04/2007). Atau juga tawuran
      antarmahasiswa dalam rangkaian ospek di Kampus Universitas
      Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta



      Sehingga bisa saja demonstrasi di depan gedung MPR/DPR dan kampus
      Atmadjaya adalah transformasi kecenderungan kekerasan di kalangan
      mahasiswa. Semacam sublimasi dorongan kebencian atau kemarahan kepada
      objek yang layak dijadikan target. Dalam konteks demikian tentunya
      idealisme mahasiswa dalam membela rakyat patut diragukan.



      Tradisi Kekerasan

      Mengapa mahasiswa memilih jalan kekerasan sebagai media ekspresi
      diri?

      Mungkin saja karena tingkat kemampuan mahasiswa menungkapkan diri
      secara intelek relatif rendah. Mahasiswa saat ini kurang memiliki
      skill dalam menyampaikan pandangan secara diskursif. Mengapa terjadi
      demikian? Apakah ini cerminan penurunan kualitas pendidikan tinggi di
      Indonesia? Bisa jadi demikian, namun saya tidak punya bukti untuk
      itu.

      Atau barangkali perilaku demikian diperoleh dari pembelajaran sosial.
      Karena kekerasan telah menjadi konsumsi publik, seperti pengusuran,
      penertiban atau teror terang-terangan oleh kelompok tertentu yang
      terekspos secara bebas. Termasuk juga perilaku kekerasan dan sikap
      premanisme yang dipertontonkan oleh para elit politik di republik ini
      untuk mempertahankan pandangannya. Seperti yang sering kita saksikan
      pasca pilkada. Artinya generasi muda Indonesia tengah mengalami
      krisis figur.



      Tradisi kekerasan ini dapat juga dipicu perkembangan kepribadian yang
      tidak sehat akibat frustasi berkepanjangan. Hal ini diakibatkan oleh
      tekanan ekonomi, budaya dan sosial. Generasi muda masa kini harus
      dapat menyesuaikan diri dengan dinamika masyarakat yang cepat berubah
      serta kondisi masa depan yang serba tidak pasti.



      Kondisi demikian sering kali menciptakan frustasi bagi kaum muda.
      Pelarian dari rasa fustrasi ini seringkali harus berakhir pada
      pembentukan kelompok yang cenderung melembagakan identitas individu
      imajiner, solidaritas semu serta anarkisme untuk melampiaskan
      ketegangan batin, semacam gang motor yang akhir-akhir ini
      keberadaannya semakin meresahkan. Serta trand penggunaan hal-hal
      aditif yang berdampak pada pengrusak mental atau perkembangan
      perilaku yang terhambat dan agresif, untuk lari dari realitas yang
      penuh dengan tekanan.



      Oleh sebab itu saya secara pribadi merasa tidak bersimpati terhadap
      aksi demonstrasi mahasiswa di depan gedung MPR/DPR. Banyak hal yang
      lebih positif yang dapat dilakukan oleh mahasiswa sebagai kaum
      intelektual muda.



      Meskipun demikian perlu menjadi pemikiran bagi kita semua, mengapa
      para intelektual muda tersebut cenderung memilih cara anarkis, yang
      tidak hanya ditunjukkan ketika berdemo bahkan ketika tawuran.
      Gambaran suram dari calon intelektual muda masa depan tentunya sangat
      memprihatinkan dan siapa yang harusnya bertanggung jawab terhadap
      fenomena tersebut? Dan menurut hemat saya krisis intelektual masa
      depan jauh lebih berbahaya dari krisis energi-pangan yang kita
      hadapi...



      Sumber : http://www.moanbb.blogspot.com/
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.