Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Dia Tidak Pernah Tersesat

Expand Messages
  • ajsusmana
    Dia Tidak Pernah Tersesat Kompas, Minggu, 1 Juni 2008 | 03:00 WIB BRE REDANA Di antara gegap-gempita pameran seni rupa yang berlangsung belakangan berikut
    Message 1 of 1 , Jun 1, 2008
      Dia Tidak Pernah Tersesat

      Kompas, Minggu, 1 Juni 2008 | 03:00 WIB

      BRE REDANA

      Di antara gegap-gempita pameran seni rupa yang berlangsung belakangan
      berikut bungkus-bungkus slogan, kredo, dan alasan penjadiannya,
      rasanya hanya ada satu yang benar-benar menyentuh hati: pameran
      "Mengenang Semsar".

      Cemara 6 Galeri, Jakarta, tanggal 22 Mei-15 Juni ini memajang
      karya-karya Semsar Siahaan (lahir di Medan, 1952, wafat di Tabanan,
      Bali, 2005), perupa yang benar-benar menjalani perjuangan dalam laku
      hidup asketis, bukan kenes, apalagi akal-akalan untuk memperoleh
      justifikasi pasar. Sungguh, bukan itu Semsar. Hidupnya diwarnai
      totalitas, menjadikan diri sebagai sebuah inti dari seluruh krida
      kesenian dari kredo yang dia ucapkan: "seniku 'seni pembebasan'".

      Gambaran perjuangan pembebasan itu tergores jelas lewat karya-karya
      hitam-putihnya dengan bahan tinta di atas kertas, dengan
      goresan-goresan yang sangat kuat. Itulah Semsar. Ratusan karya itu
      adalah gambaran kegigihan hidup kaum proletar, terungkap kompak dalam
      strategi perupaan menyangkut dari garis, arsiran, sosok manusia,
      atmosfer, dan lain-lain. Dari begitu banyaknya karya peninggalan
      Semsar itu, sekaligus juga terlihat sebuah konsistensi bahwa hidup
      Semsar begitu elok, dia tak pernah tergadai oleh gemerlap zaman.

      Lukisan-lukisannya yang menggunakan cat minyak mengungkapkan warna
      yang memiliki jati diri, yakni jati diri kerakyatan. Apakah ini
      disebabkan ilusi karena kami cukup mengenal Semsar semasa hidupnya,
      rasanya juga tidak.

      Sebaliknya, pengenalan pribadi terhadap sosok itu justru makin
      memperjelas tandangnya sebagai manusia yang tak tertundukkan, bahkan
      dalam kondisi seperti ia ungkapkan ketika diwawancarai Kompas pada
      pertengahan tahun 1990-an, "... gue miskin sekali."

      Betapa hati tersentuh melihat karya-karya Semsar seperti dipamerkan di
      Cemara 6 Galeri, yang dibuat dari bahan karton bekas, termasuk karton
      bekas bungkus sepatu. Karton itu dijembreng dan Semsar menjadikan
      jembrengan karton itu sebagai "kanvas" karyanya.

      Dengan bahan karton sisa-sisa itu pula kemudian lahir karya "G-8
      Pizza". Karya, yang dibuat semasa yang bersangkutan menjalani
      residensi di Kanada, 1999-2004, ini menggambarkan ketajaman visinya
      berkaitan dengan ketimpangan ekonomi global. Karton bekas itu dibuat
      seperti pizza diiris delapan. Manusia-manusia dalam irisan pizza itu
      adalah kita-kita ini, makhluk negara terbelakang yang terseok-seok
      dalam ekonomi global dengan pemain-pemain utama Tuan-tuan dari negeri
      G-8. Coba, pada Semsar, materi-visi-strategi pengungkapan, menyatu
      dalam karya.

      Belum tandangnya yang lain, yang terekam dalam video yang diputar
      selama pameran. Tahun 1994 dia membikin galian tanah raksasa di TIM
      dalam Bienniale Seni Rupa IX. Teringat betapa waktu itu Semsar sendiri
      sampai tengah malam, seperti penggali kubur berlepotan tanah di
      proyeknya. Ketika bentuk-bentuk manusia yang terkapar di dasar galian
      sudah tercipta, eh hujan turun mengguyur. Tanpa putus asa, seusai itu
      ia ciptakan lagi bentuk-bentuk manusia dari tanah di dasar galian.

      Dengan api

      Semsar lahir di Medan, 11 Juni 1952. Setelah melewati masa remaja di
      Yugoslavia—ayahnya bertugas di sana sebagai atase militer—Semsar
      kembali ke Indonesia, termasuk kuliah di Departemen Seni Rupa ITB.
      Dalam sikapnya untuk membela karya-karya tradisional yang menurut
      pandangannya telah dieksploitasi kaum terdidik, para seniman
      akademikus, dia membakar patung dosennya yang ditinggal di kampus.

      "Kalau ada pemerataan, tak bisa ada eksploatasi seperti itu. Makanya,
      saya juga melakukan eksploatasi terhadap karya seniman terdidik, karya
      dosen saya. Eksploatasi saya dengan api, saya bakar karya itu...,"
      kata Semsar mengenang peristiwa pada awal tahun 1980-an itu ketika
      bercakap dengan Kompas.

      Bagi Semsar, hidup adalah perbuatan bukan slogan. Ia ikut
      berdemonstrasi ketika Tempo, Editor, Detik, dibreidel. Penumpasan kaum
      demonstran secara bengis di negeri ini telah menyebabkan kaki kirinya
      patah dihajar petugas keamanan. Setelah itu ia hidup dengan beberapa
      pen besi, bekas jahitan memanjang, dan jalannya pincang.

      Ada satu periode di mana ilustrasi-ilustrasi cerpen di Harian Kompas
      selalu dibuat oleh Semsar. Kenangan atas Semsar adalah kenangan atas
      figur perupa yang tidak pernah tersesat atau menyesatkan diri dalam
      arus zaman.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.