Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Tanpa Pamrih dan Imun Korupsi

Expand Messages
  • ajsusmana
    Tanpa Pamrih dan Imun Korupsi Judul: Zhou Enlai, Potret Seorang Intelektual Revolusioner Penulis: Han Suyin Pengantar: Joesoef Isak Penerbit: Hasta Mitra
    Message 1 of 1 , May 3, 2008
      Tanpa Pamrih dan Imun Korupsi

      Judul: Zhou Enlai, Potret Seorang

      Intelektual Revolusioner

      Penulis: Han Suyin

      Pengantar: Joesoef Isak

      Penerbit: Hasta Mitra

      Tebal: 523 halaman

      Tahun: 2008

      Bagi rakyat Tiongkok, terutama generasi tua dan kaum intelektual yang
      mengerti sejarah, Zhou Enlai adalah pemimpin kebanggaan, disayang dan
      dihormati, cerdas, ramah, rendah hati, politikus yang selalu
      mementingkan rakyat lebih dahulu, serta nyaris tidak berbuat salah.
      Kalaupun berbuat salah, rakyat memaklumi dan memaafkannya karena apa
      yang dia amalkan bagi kepentingan orang banyak sepanjang usianya
      membuat semua kesalahan kecil dan besar menjadi tenggelam tidak ada arti.

      Juga, cukup banyak penulis Barat menggambarkan pribadi Zhou Enlai yang
      mereka kagumi sebagai seorang komunis yang mengemban paradoks. Dari
      tokoh revolusioner ini mereka lihat kepribadian kembar, berpendidikan
      barat dan timur, produk intelektual yang menyerap rasionalitas
      renaisance, gagasan pencerahan dari Prancis sekaligus bergelimang
      dalam tradisi falsafah konfusiusisme yang sarat wisdom, dan kearifan
      oriental. Banyak yang menilai Zhou Enlai tokoh kontroversial.

      Bagi rakyat Indonesia, menyebut nama Zhou Enlai pastilah ingat juga
      akan mantan Presiden Bung Karno. Menderetkan dua nama ini, termasuk
      Mao Dzedong, Hatta, Sjahrir, dan Soebadio, merupakan contoh
      tokoh-tokoh sumber pembelajaran bagaimana mereka telah memperjuangkan
      kemerdekaan, selanjutnya memelihara kemandirian bangsanya.

      Sikap itu bertolak belakang dengan tokoh Orde Baru Soeharto berikut
      segerbong pengikutnya yang all out menyeret Indonesia ke dalam
      ketergantungan.

      Zhou Enlai dengan tegas menolak bantuan asing, seperti ketika Kruschov
      pada pertengahan 1958 berkunjung ke Beijing, membujuk untuk membangun
      Pakta Pertahanan Bersama. Dalam masa perang dingin antara AS-Uni
      Soviet itu, Mao dan Zhou ditawarkan para ahli Uni Soviet guna memasang
      instalasi nuklir di Tiongkok.

      Mao dan Zhou menolak tawaran yang sangat menarik itu. Beberapa tahun
      kemudian keluar kata-kata yang pedas dari kedua tokoh Tiongkok itu,
      "Walaupun harus pakai celana kolor, Tiongkok mandiri akan membangun
      instalasi nuklirnya sendiri, dan oleh ahli-ahli dari Tiongkok
      sendiri." Ucapan ini mengingatkan kita akan kata-kata Bung Karno, "Go
      to hell with your aid!". Sementara Kruschov membalas Mao, "Ah, petani
      Tiongkok celana kolor pun tak punya."

      Joesoef Isak, yang menulis kata pengantar dalam buku ini, yang
      sekaligus membawa pembaca untuk memahami kedekatan antara Zhou Enlai
      dengan pemimpin Indonesia ketika itu, mengatakan, bagi pembaca yang
      antikomunis, apalagi anti-Tiongkok, dan mata hati pun tertutup rapat,
      buku yang ditulis oleh Han Suyin ini jangan dibaca. "Malah kalau bisa
      kepingin rasanya dihidupkan kembali Kopkamtib agar buku ini dilarang
      beredar," katanya.

      Pembelajaran

      Namun, bagi pembaca yang juga keras antikomunis, tetapi mata hati
      terbuka, masih open minded, begitu pun pembaca yang nonkomunis, tapi
      berlapang dada, buku tentang tokoh revolusioner dari Negeri Rakyat
      Tiongkok ini, patut dibaca. "Ini bukan saja buku bacaan mengasyikkan,
      melainkan juga sekaligus buku pembelajaran, dengan catatan,
      pembelajaran bukan untuk dijiplak, tetapi untuk dikaji, didalami,
      dengan sikap mandiri, dan kritis," tambahnya lagi.

      Buku ini mengisahkan riwayat hidup apa adanya, pemikiran, perilaku,
      semangat, emosi, aktivitas karier sepanjang hidup Zhou Enlai. Han
      Suyin menguraikan Zhou sebagai tokoh politik mashyur, kaliber dunia.
      Bukan saja kecerdasan Zhou yang melebihi orang lain, kaya daya
      pemikat, memesona, dan mengesankan, juga keberaniannya yang luar
      biasa. Dan, yang selalu di- agungkan adalah Zhou tidak pernah
      mementingkan diri sendiri, mempersembahkan semua yang dia miliki untuk
      nusa dan bangsa. Bahkan, kuburan ayahnya pun dia berikan untuk ladang
      rakyat. Tokoh semacam ini susah ditemukan dalam dunia politik masa
      kini. Buku ini dalam edisi Tionghoa dicetak pertama tahun 1992, dalam
      bahasa Inggris 1994, dan di Indonesia 2008 sekaligus sebagai
      penghormatan dan peringatan 110 tahun ulang tahun Zhou yang lahir 5
      Maret 1898.

      Pengalaman Tiongkok, khususnya peranan Zhou Enlai, tinggi manfaatnya
      untuk dipelajari, termasuk bagi generasi muda, untuk membandingkan
      gaya kepemimpinan zaman baheula dengan masa kini. Yang dapat dilakukan
      melalui historis kepemimpinan Zhou adalah menarik esensi nilai-nilai
      universal terbaik dari watak dan gaya kepemimpinannya. Sikap mandiri
      revolusioner Zhou, yang bekerja bagi kepentingan rakyat tanpa pamrih,
      cerdas kreatif, berilmu, beradab, dan imun korupsi adalah nilai-nilai
      universal yang di mana pun sangat berguna bukan saja untuk rakyat
      Tiongkok, melainkan juga untuk rakyat Indonesia. [SP/Rina Ginting]

      Last modified: 2/5/08, suara pembaruan
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.