Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Pernyataan Sikap EN LMND Atas Kekerasan di Kendari

Expand Messages
  • Rudy hartono
    Baca juga di http://www.lmnd-online.org/id/index.php?option=com_content&task=view&id=61&Itemid=9 EKSEKUTIF NASIONAL LIGA MAHASISWA NASIONAL untuk DEMOKRASI EN
    Message 1 of 1 , Mar 30, 2008
      Baca juga di
      http://www.lmnd-online.org/id/index.php?option=com_content&task=view&id=61&Itemid=9

      EKSEKUTIF NASIONAL
      LIGA MAHASISWA NASIONAL untuk DEMOKRASI
      EN LMND
      Kantor: Jl. Tebet Dalam II.G No.1, Tebet, Jakarta Selatan,
      Telp.021-8354513, E-mail: elemende@..., Website:www.lmnd-online.org

      No : 013/B/EN-LMND/Maret/2008
      Hal : Pernyataan Sikap
      Lamp : Kronologi

      USUT TUNTAS KASUS KENDARI, COPOT PEJABAT YANG TERLIBAT

      Tindak kekerasan oleh Kepolisian kembali terulang. Pada Kamis, 27
      Maret 2008, aparat kepolisian menyerbu dan menduduki disertai tindak
      penganiayaan terhadap anggota civitas academica Universitas Haluoelo
      (Unhalu) Kendari. Penyerbuan ini terkait bentrokan sehari sebelumnya
      antara massa Aliansi Rakyat Tolak Penggusuran Kendari yang menolak
      kebijakan Walikota Kendari Asrun dengan massa preman dan PNS yang
      mendukung kebijakan Sang Wali Kota.

      Kekerasan di Kendari semakin menambah daftar hitam perilaku buruk
      kepolisian kita. Pada Oktober 2007 misalnya, seorang mahasiswa menjadi
      korban penembakan anggota Polri di Yogyakarta, kemudian penembakan
      terhadap Tri Joko Kuncoro, Sekretaris DPD II Partai Persatuan
      Pembebasan Nasional (Papernas) Madiun (17 Januari 2008) serta
      penganiayaan hingga tewas Tubagus Noviarwan, mahasiswa Universitas
      Indoglobal Mandiri, Palembang (12 Februari 2008).

      Memang kasus kekerasan oleh aparat keamanan terhadap rakyat sudah
      begitu umum terjadi di Indonesia. Menurut Komnas HAM, pada tahun
      2007-2008 terjadi 180 kasus kekerasan aparat keamanan, dimana polisi
      berada di urutan pertama. Urutan kedua, dilakukan oleh aparat TNI
      sebanyak 18 kasus. Rinciannya, 4 kasus oleh AL, 12 kasus dilakukan
      aparat AD, dan 2 kasus dilakukan aparat AU.

      Berbagai tindak kekerasan tersebut menunjukkan bahwa aparat kepolisian
      telah melupakan tugas pokoknya yaitu to protect and to serve
      (melindungi dan melayani) rakyat. Hal ini sungguh berbahaya bagi
      rakyat, terutama dalam kaitannya dengan jaminan atas keamanannya.
      Menindaklanjuti situasi tersebut dan menanggapi kekerasan yang terjadi
      di Kendari, kami, Eksekutif Nasional-Liga Mahasiswa Nasional untuk
      Demokrasi (Eknas-LMND) menyatakan:
      1. Menuntut Kapolri agar mencopot jabatan Kapolda Sulawesi Tenggara
      dan dan Kapolresta Kendari sebagai bentuk pertanggungjawaban atas
      tindak kekerasan dan ketidakprofesionalan aparat kepolisian dalam
      penanganan hak kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat secara
      bebas yang terjadi di Kendari
      2. Menuntut Komnas HAM agar segera melakukan penyelidikan atas tindak
      pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh aparat Polresta
      Kendari yang didukung pula anggota Polda Sultra.
      3. Menolak intervensi aparat keamanan di sekolah-sekolah dan kampus
      yang notabene adalah tempat tempat mengasah ilmu dan kritisisme
      pelajar/mahasiswa.
      4. Menuntut agar institusi Polri secara konsisten menerapkan Hak Asasi
      Manusia (HAM) sejak dari perekrutan, pendidikan hingga tugas
      sehari-harinya.
      5. Menyerukan kepada DPR dan Pemerintah agar mengesahkan aturan dimana
      prajurit memiliki hak demokratik menolak perintah atasan atau pimpinan
      yang melanggar konstitusi atau aturan hukum yang berlaku.
      6. Menuntut agar Walikota Kendari mundur dari jabatannya sebagai
      bentuk pertanggungjawaban atas tindak provokasi yang dilakukan preman
      pendukungnya dan pegawai Pemkot Kendari.
      Demikian pernyataan sikap ini kami buat.
      Jakarta, 28 Maret 2008

      Pendidikan Gratis, Ilmiah dan Demokratis
      Bangun Dewan Mahasiswa Rebut Demokrasi Sejati!


      Eksekutif Nasional-Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi
      (Eknas-LMND)


      Lalu Hilman Afriandi Agus Priyanto
      -------------------------
      ---------------------
      Ketua Umum
      Pjs. Sekretaris Jenderal


      Lampiran:
      Kronologi
      Penyerangan Terhadap Peserta Deklarasi dan Konferensi
      Wilayah Ormas Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sulawesi
      Tenggara di Kota Kendari

      Aliansi Rakyat Tolak Penggusuran Kendari

      Hari I:
      Rabu, 26/3/2008
      Jam 09.00-09.45
      Sekitar 800 orang massa aksi peserta Deklarasi dan Konfrensi Wilayah I
      Sarekat Hijau Indonesia (SHI) berkumpul di lapangan Eks MTQ Kendari di
      Jalan Balaikota (depan kantor Walikota Kendari dan DPRD Propinsi
      Sultra). Massa berasal dari berbagai kabupaten/kota se-Sulawesi
      Tenggara, di antaranya; Kota Kendari, Kab. Konawe, Kab. Konawe
      Selatan, Kab. Konawe Utara, Kab. Muna, dan Kab. Bombana. Terdiri dari
      komunitas dan serikat-serikat rakyat dari elemen gerakan perempuan,
      buruh, petani, kaum miskin perkotaan, pedagang kaki lima (PKL),
      mahasiswa serta LSM. Selain itu, undangan Deklarasi dari organisasi
      nasional seperti: WALHI, KPA dan Pengurus Pusat SHI (PP SHI) hadir
      bergabung dengan massa aksi.

      09.45 – 10.00
      Panitia memandu jalannya acara Deklarasi dengan menjelaskan maksud dan
      tujuan diadakannya kegiatan Deklarasi Ormas SHI Sultra.

      10.00-12.00
      Dipandu oleh MC, pimpinan-pimpinan organisasi nasional menyampaikan
      orasi dan pesan solidaritas terkait dengan kegiatan Deklarasi. Orasi
      pertama disampaikan oleh Usep Setiawan (Sekjend Konsorsium Pembaruan
      Agraria). Orasi kedua oleh Charilsyah (Ketua Majelis Perwakilan SHI).
      Selanjutnya, Andreas Iswinarto (Sekjend Pimpinan Pusat SHI). Dan yang
      terakhir orasi politik oleh Chalid Muhammad (Direktur Eksekutif
      Nasional WALHI).

      12.00-12.05
      Panitia menyampaikan kepada massa aksi bahwa kegiatan Deklarasi akan
      diakhiri dengan reli menuju kantor Wlikota Kendari. Tujuannya untuk
      menyampaikan solidaritas kepada para PKL korban penggusuran oleh
      Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari. Sebagai informasi, sudah sekitar 2
      minggu sebelum acara Deklarasi, Komite Persiapan SHI (KP SHI) Sultra
      secara rutin menggelar aksi-aksi massa bersama aliansi PKL dan gerakan
      mahasiswa menentang penggusuran PKL di Kota Kendari. Aksi ditujukan di
      kantor DPRD Kota Kendari maupun
      kantor Walikota. Jarak lokasi dengan kantor Walikota sekitar 500 meter.

      12.05-12.20
      Massa bersiap-siap mengatur barisan aksi reli. Sementara mobil komando
      dan sound system disiapkan.

      12.20-12.25
      Massa star dari lokasi Deklarasi menuju jalan raya Balai Kota.

      12.25-12.40
      Massa aksi tiba di depan pintu gerbang kantor Walikota. Terjadi aksi
      dorong-dorongan dengan aparat egawai Pemkot Kendari yang menghalangi
      massa aksi masuk ke halaman kantor Walikota. Situasi sedikit memanas.
      Korlap aksi menenangkan massa aksi. Terlihat sekitar 50-an orang
      kelompok preman yang selama ini diidentifikasi menjadi massa bayaran
      oleh Walikota Kendari untuk menghadapi aksi-aksi PKL bersama mahasiswa
      dan gerakan sosial lainnya. Kelompok ini bergabung menghalang-halangi
      massa aksi masuk dalam gedung. Setelah negosiasi, akhirnya massa aksi
      dipersilahkan masuk ke halaman kantor Walikota
      Kendari.

      12.40-12.50
      Massa aksi tiba di depan pintu masuk utama kantor Walikota. Korlap dan
      Wakorlap aksi menyampaikan orasi dan pesan solidaritas terkait dengan
      kebijakan Pemkot menggusur PKL Kota Kendari (khususnya di wilayah
      Pasar Andonohu, Pasar Baru Wua-Wua, Pasar Sentral Kota, Pasar Baruga,
      PKL Kadia, serta PKL di emperan-emperan toko di sepanjang jalan utama
      kota)

      12.50-13.00
      Massa aksi meninggalkan halaman kantor Walikota. Korlap aksi
      menyampaikan agar massa aksi tetap berbaris secara damai saat keluar
      dari halaman kantor. Massa mengikuti dengan tertib dan damai sembari
      terus meneriakkan yel-yel: Rakyat Bersatu Tolak Penggusuran;
      Bersama Bersatu Lawan Penindasan; Tanah untuk Rakyat; Bersatu,
      Bersarikat, Berlawan Tolak Kekerasan.

      13.00-13.15
      Massa aksi keluar meninggalkan kantor Walikota dikawal oleh sekitar
      30-an aparat polisi berpakaian dinas maupun anggota Intelkam Polresta
      Kendari. Tiba-tiba salah satu peserta aksi yang berbaris dibagian
      belakang, Sdr. Mastri Susilo Direktur Eksekutif LePMIL Sultra (33)
      dipukul dan dikeroyok oleh sekitar 5 orang dari kelompok preman.
      Selain itu, mereka juga mengeroyok Sdr. Andreas Iswinarto, Sekjend PP
      SHI (42) yang berada di depan Sdr. Mastri Susilo. Andreas dipukul
      karena mencoba melerai dan menolong Sdr. Mastri. Andreas dan Mastri
      mengalami luka-luka berupa memar dan lebam dibagian wajah dan tubuh
      akibat ditendang dan dipukul. Korban lainnya, Sari (13) masyarakat
      petani dari kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Murhum Kota Kendari,
      luka dibagian kepala terkena lemparan batu. Akibat lemparan kepala
      korban mengalami pendarahan.

      13.15-13.35
      Melihat Mastri dan Andreas dikeroyok, massa aksi spontan berbalik arah
      dan membantu keduanya. Sementara, sekitar seratusan pegawai dan preman
      bayaran berhamburan keluar kantor Walikota. Mereka membantu menyerang
      massa aksi dengan melempar batu ke arah massa aksi. Batu ini diduga
      telah disiapkan sebelumnya. Sebab, di lokasi tak ada batu seperti yang
      digunakan para penyerang. Lalu para penyerang mengejar massa aksi
      dengan menghunus senjata tajam (sajam) berupa parang dan pisau
      (badik). Ada sekitar 15 orang yang terlihat memegang senjata tajam.
      Karena dilempar batu dan dikejar dengan menggunakan sajam, massa aksi
      berlarian menuju lapangan Eks MTQ. Para penyerang terus mengejar massa
      aksi. Peserta aksi yang mayoritas ibu-ibu dan mahasiswi banyak yang
      terjatuh dan terinjak-injak para penyerang. Terdengar tembakan yang
      dikeluarkan oleh puluhan anggota polisi di tengah penyerangan. Korban
      lainnya, Sdr. Alimuddin Direktur Eksekutif SWAMI Muna (38) juga
      dikeroyok oleh sekitar 10 orang penyerang. 1 orang yang
      teridentifikasi adalah Kepala Dinas Kebersihan Pemkot Kendari, Sdr.
      Agus Salim. Alimuddin dianiaya hingga terjatuh di
      aspal. Penyerang terus mengejar massa aksi hingga di lapangan Eks MTQ.

      13.35-14.00
      Massa aksi kembali merapikan barisan di lapangan Eks MTQ. Tim evakuasi
      aksi membawa para korban yang dikeroyok maupun yang terinjak-injak ke
      Rumah Sakit KOREM Wirabuana Kendari yang berjarak 500 meter dari
      lapangan Eks MTQ.

      14.00-14.20
      Delegasi massa aksi terdiri dari wakil-wakil setiap organ peserta
      Deklarasi yang berjumlah 10 orang kembali mendatangi kantor Walikota
      untuk memprotes tindakan kekerasan, serta menanyakan kawan-kawan
      peserta aksi yang masih terkurung dalam area kantor Walikota. Di
      belakang delegasi, menyusul barisan massa mahasiswa dari Fakultas
      Teknik Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari. Jumlahnya sekitar 50-an
      orang. Massa mahasiswa dan delegasi kembali bersitegang dengan aparat
      polisi, pegawai Pemkot, dan petugas Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kota
      Kendari yang menghadang massa aksi di depan gerbang kantor Walikota.

      Terjadi aksi saling dorong antara massa mahasiswa dan aparat polisi,
      pegawai Pemkot dan Pol PP. Mahasiswa menyampaikan protes keras, sebab
      banyak kawan-kawan mahasiswa dan peserta Deklarasi yang terkena
      lemparan batu dan pukulan hingga masuk Rumah Sakit.

      14.20-14.40
      Pimpinan-pimpinan massa aksi melakukan konfrensi pers bersama
      mengecam keras atas tindakan penyerangan dan penyerbuan. Selain
      menyerukan agar supaya massa tetap solid dan tidak terpengaruh dengan
      aksi penyerangan.

      14.40-15.00
      Massa aksi meninggalkan arena Deklarasi. Peserta dari luar Kota
      Kendari kembali ke daerah masing-masing. Sementara sekitar 200 peserta
      Konfrensi Wilayah I SHI Sultra menuju arena Konfrensi di Gedung LPMP
      Kota Kendari.

      22.00-23.00
      Hasil rapat bersama elemen-elemen gerakan mahasiswa Kendari bersepakat
      untuk menggelar aksi damai pada hari Kamis (27/3) sebagai bentuk
      protes atas tindakan penyerangan.



      Hari II:
      Kamis, 27/3/2008
      09.00-09.30
      Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Haluoelo (Unhalu) berkumpul di
      Kampus Lama Kemaraya Kendari. Jumlahnya sekitar 100 orang. Massa
      menuju lapangan Eks MTQ Kendari.

      09.30-10.00
      Sekitar 400-an mahasiswa dari berbagai Fakultas di Unhalu berkumpul di
      depan Gerbang Kampus Baru Unhalu di Jalan HEA. Mokodompit, Kambu Kota
      Kendari. Mereka lalu longmarch menuju lapangan Eks MTQ di Jalan
      Balaikota. Bergabung dengan massa mahasiswa Fakultas Teknik.

      10.00-10.10
      Mahasiwa melakukan diskusi singkat dan pengarahan terkait rencana
      strategi aksi.

      10.10-10.25
      Massa mahasiswa melakukan longmarch menuju kantor Walikota. Jaraknya
      sekitar 500 meter dari lapangan Eks MTQ Kendari.

      10.25-10.35
      Massa mahasiswa di depan pintu gerbang kantor Walikota saat hendak
      masuk. Massa dihalangi oleh aparat polisi dari Polresta Kendari.
      Jumlah aparat sekitar 30 orang. Terlihat sejumlah aparat polisi dari
      Intelkam Polresta Kendari. Jumlahnya sekitar 15 orang berada di
      sekitar massa mahasiswa.

      10.35-10.45
      Di depan pintu gerbang terjadi negoisasi antara pimpinan-pimpinan
      mahasiswa dengan Kasat Intelkam Polresta, AKP Bambang. Mahasiswa
      meminta dipertemukan untuk dialog dengan Walikota Kendari. Kasat
      Intelkam setuju. Massa mahasiswa mempersiapkan diri.

      10.45-10.50
      Saat massa mahasiswa hendak masuk ke dalam halaman kantor Waalikota
      untuk dialog, tiba-tiba ada provokasi terhadap massa aksi berupa
      lemparan batu oleh orang tak kenal kearah aparat polisi yang berjaga
      di depan pintu gerbang. Provokasi ini menyebabkan aparat polisi mulai
      melakukan pemukulan terhadap massa mahasiswa yang berada di baris
      terdepan. Massa mahasiswa mundur dan bertahan dengan alat-alat
      perlengkapan aksi yang dibawa (tiang bendera dan spanduk).

      10.50-12.30
      Aparat polisi mengejar massa mahasiswa dan terus memukul dengan
      menggunakan tongkat. Mahasiswa berlarian mundur sembari tetap
      merapikan barisan aksi di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi
      Sultra yang berjarak sekitar 350 meter dari pintu gerbang kantor
      Walikota. Polisi melepaskan gas air mata serta tembakan ke udara
      berkali-kali untuk membubarkan massa mahasiswa. Polisi terus mengejar
      massa mahasiswa.

      Mahasiswa mundur hingga ke belakang lapangan Eks MTQ. Beberapa
      mahasiswa yang berlarian di sekitar kantor Walikota (terlepas dari
      massa aksi) dipukuli oleh pegawai Pemkot Kendari. 7 orang mahasiswa
      ditangkap dalam pengejaran ini lalu di tahan di Mapolsekta Mandonga.
      Beberapa saat kemudian ketujuh mahasiswa di pindahkan di Mapolresta
      Kendari. Kedelapan mahasiswa tersebut adalah:

      1. Aswan (20) Fakultas Hukum angkatan 2007
      2. Radjab (23) FISIPOL angkatan 2002
      3. Oko (21) Fakultas Teknik angkatan 2007
      4. Irwan (23) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
      angkatan 2004
      5. Larompo Awal (23) FISIPOL angkatan 2004
      6. Lafirman (21) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
      angkatan 2006
      7. Al Abzhar (27) Fakultas Pertanian angkatan 1999
      8. Kubais (24) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
      angkatan 2001

      Rata-rata kedelapan mahasiswa mengalami penganiayaan saat ditangkap.
      Pada bagian wajah lebam dan berdarah. Sementara di bagian dada dan
      punggung terdapat bekas-bekas pukulan dan tendangan. Khusus korban Al
      Abzhar, mengalami bocor di bagian kepala dan memar di sekujur tubuh.
      Dia dirawat di Poliklinik Polresta Kendari.

      12.30-13.00
      Massa mahasiswa yang kocar-kacir dikejar aparat polisidan pegawai
      Pemkot lalu naik menumpang truk dan angkutan umum yang lewat di
      belakang lapangan Eks MTQ, Jalan Supu Yusuf. Di kampus mahasiswa
      melakukan konsolidasi kembali.

      13.00-14.00
      Ratusan mahasiswa melakukan orasi-orasi dan penggalangan solidaritas
      atas aksi represif aparat polisi dan pegawai Pemkot Kendari
      sebelumnya. Aksi dipusatkan di depan gerbang I Kampus Baru Unhalu.

      14.00-14.15
      Sebagian massa mahasiswa masuk ke dalam kampus dan berkumpul di
      halaman gedung Rektorat yang digunakan sebagai Posko informasi bersama.

      14.15-14.30
      Sekitar 20-an anggota Buru Sergap (Buser) Polresta Kendari masuk ke
      dalam kampus dan langsung menyerang mahasiswa yang terkonsentrasi di
      gedung Rektorat. Mereka membawa senjata tajam (sajam) berupa parang
      dan pisau (badik); benda tumpul linggis dan ba lok kayu;
      serta membawa senjata api (senpi) jenis pistol colt. Berkali-kali
      mereka menembak mahasiswa yang membuat banyak mahasiswa kaget dan
      berhamburan menyelamatkan diri. Pasukan BUSER menguasai gedung
      Rektorat. Saat kejadian Rektor Unhalu, Prof. Mahmud Hamundu, MSc
      tidak berada ditempat.

      14.30-16.15
      Mahasiswa yang hendak menuju gedung Rektorat yang umumnya tidak
      terkait dengan aksi di kantor Walikota, serta yang mau mengurus
      kebutuhan akademik dikejar dan dipukuli oleh BUSER. Banyak yang
      luka-luka. Melihat kondisi itu, puluhan mahasiswa berusaha mengambil
      alih kembali gedung Rektorat. Terjadi aksi saling melempar antara
      BUSER dan mahasiswa. Terdengar berkali-kali suara tembakan yang
      dilepaskan ke atas dan kearah kerumunan mahasiswa. Satu orang
      mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Unhalu (nama belum diketahui) terkena
      tembakan peluru tajam pada bagian paha atas. Korban dilarikan ke RSUD
      Propinsi Sultra oleh mahasiswa. Mengetahui ada mahasiswa tertembak,
      BUSER meninggalkan gedung Rektorat menuju pintu I kampus.

      16.15-16.45
      Mahasiswa berhasil menguasai gedung Rektorat.

      16.45-17.40
      Datang aparat polisi gabungan dari Satuan Pengendali Massa (Dalmas);
      BRIMOB dan BUSER serta Intelkam. Mereka menggunakan 3 unit truk
      Dalmas, 2 unit mobil patroli pickup; 2 unit mobil patroli jenis
      Kijang; 20 unit motor patroli jenis trail; serta 1 unit mobil
      watercanon. Mereka langsung masuk mengepung dan melakukan teror di
      dalam kampus. Di dalam kampus, aparat gabungan ini melakukan tindakan
      kekerasan berupa:
      1. Memukul siapa saja mahasiswa dan staf Rektorat yang
      ditemui berada di sekitar gedung Rektorat.
      2. Menghancurkan kaca-kaca di gedung Rektorat
      3. Merusak kendaraan motor dan mobil mahasiswa maupun
      staf Rektorat yang diparkir di halaman gedung Rektorat
      4. Melepaskan tembakan berkali-kali

      Tindakan di atas membuat mahasiswa yang berada di dalam kampus,
      khususnya yang berada di gedung Rektorat menjadi panik dan berhamburan
      menyelamatkan diri. Setidaknya 30-an mahasiswa mengalami luka serius
      (kepala bocor, wajah bengkak dan lebam), serta luka ringan. Salah satu
      korban yang mengalami luka serius, Zuhdi Mulkian Presiden Mahasiswa
      Unhalu.

      Adapun nama-nama korban yang teridentifikasi hingga hari Jumat (28/3)
      pukul 03.00 Wita yaitu:
      1. Herman (26) Fakulltas Ekonomi angkatan 2000
      2. Muhammad Fahri (22) Fakultas Teknik angkatan 2003
      3. La Sara La Indi (23) Fakultas Teknik angkatan 2006
      4. Wahid (26) Fakultas Ekonomi angkatan 2000
      5. Hairil (19) AMIK Yapennas angkatan 2006
      6. Ali (19) Fakultas Teknik angkatan 2007
      7. M. As'ad (20) Fakultas Teknik angkatan 2007

      Dan lain-lain yang masih tersebar di beberapa Rumah Sakit yang ada di
      Kota Kendari di antaranya RSUD. Propinsi SULTRA, RS. Bhayangkara, RS.
      Korem, dan RS. Prayoga.

      17.40-18.00
      Aparat gabungan bergerak meninggalkan kampus. Di depan kampus mereka
      melakukan sweeping dan pemukulan pada siapa saja mahasiswa yang ditemui.

      18.00-24.00
      Suasana masih sangat mencekam. Aparat melakukan sweeping dan pencarian
      terhadap beberapa pimpinan lembaga kemahasiswaan yang dianggap
      terlibat aksi di depan Kantor Walikota pada siang hari tadi (selesai).

      Nomor Fax Penting:
      1. Gubernur Sultra Nur Alam, SE: 0401-391603
      2. Kapolda Sultra Brigjend Djoko Satrio: 0401-390047
      HP: 0811-401975
      3. Kapolresta Kendari: 0401-396521
      4. Walikota Kendari Ir. Asrun M.Eng: 0401-323593

      Lembaga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tolak
      Penggusuran Kendari:
      WALHI Sultra, FITRA SIJAR Sultra, LEPMIL, HMI
      Perjuangan Cab.Kendari, SULUH Indonesia, UPLINK, KPI,
      ALPEN, LMND, YPSHK, KBM-UNHALU, KOMDES, SRMK, SHI
      SULTRA, JKPPR, FMPR, SUWAKA, Yasinta
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.