Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Keindahan Maaf .. Jaya Suprana

Expand Messages
  • ajsusmana
    Keindahan Maaf Kompas, Sabtu, 1 Maret 2008 | 00:27 WIB Jaya Suprana Pertengahan Februari 2008 pada sidang pleno parlemen, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd
    Message 1 of 1 , Feb 29, 2008
    • 0 Attachment
      Keindahan Maaf
      Kompas, Sabtu, 1 Maret 2008 | 00:27 WIB

      Jaya Suprana

      Pertengahan Februari 2008 pada sidang pleno parlemen, Perdana Menteri
      Australia Kevin Rudd resmi menyampaikan pidato permohonan maaf atas
      perlakuan buruk terhadap kaum Aborigin pada masa lalu.

      Khusus bagi anak-anak Aborigin yang "dicuri", dipaksa berpisah dari
      keluarga mereka yang kemudian disebut The Stolen Generations
      (Generasi-generasi Tercuri ), Kevin Rudd yang belum lama terpilih
      sebagai PM Australia menggantikan John Howard menyatakan, "To the
      mothers and fathers, to the brothers and sisters we say sorry. And for
      the indignity and degradation on a proud people and proud culture we
      say sorry." (Kepada para ibu dan ayah, para saudara Anda semua, kami
      memohon maaf. Dan atas pelecehan dan pelanggaran hak asasi masyarakat
      sebuah kebudayaan terhormat, kami memohon maaf)

      "The stolen generations"

      Sejak awal abad XX dan baru berakhir tahun 1970, sebagai manifestasi
      politik diskriminasi-ras, Pemerintah Australia "mencuri" (secara
      legal) anak-anak mixed- race Aborigin dari keluarganya untuk
      "diamankan" di asrama-asrama eksklusif disertai alasan demi melindungi
      mereka dari mara bahaya entah apa.

      Sebagai dampak politik diskriminasi rasial itu, anak-anak yang dipaksa
      berpisah dari keluarganya kehilangan kontak dengan keluarga dan
      kebudayaannya, menerima pendidikan mutu-rendah, hidup di kondisi
      minim, kerap menjadi korban pelecehan, penganiayaan, dan pemerkosaan.
      Maka, yang harus menyusul permohonan maaf adalah rekonsiliasi nasional
      menghapus kesenjangan sosial antara masyarakat non-Aborigin dan
      masyarakat Aborigin yang notabene lebih dulu bermukim di Australia.

      Simbolise maaf dijanjikan segera disusul langkah-langkah nyata,
      misalnya membantu The Stolen Generations untuk bisa berjumpa dan
      berkumpul dengan keluarga mereka kembali, meningkatkan mutu kesehatan
      kaum Aborigin yang kini berharapan-hidup 17 tahun di bawah rata-rata
      masyarakat Australia dan meningkatkan mutu pendidikan kaum Aborigin.

      Dalam pidato apologikalnya, PM Australia mengingatkan, kebudayaan
      Aborigin merupakan salah satu kebudayaan tertua yang masih ada hingga
      kini, maka sungguh tidak layak jika diperlakukan sedemikian keji.

      Indah

      Permohonan maaf terhadap kaum Aborigin dijanjikan Kevin Rudd pada masa
      kampanye pemilu tahun 2007. Tak heran, ulah PM Australia masa kini itu
      tidak didukung PM Australia masa lalu. Sinisme juga menghambur dari
      mereka yang berseberangan faham dengan Kevin Rudd, seperti komentator
      politik konservatif Piers Akerman yang propolitik antidiskriminasi
      dengan yakin menyatakan, Australia selama beberapa generasi mendatang
      pasti akan menyesali permohonan maaf yang gegabah itu. Bermunculan
      pula cemooh, permohonan maaf sekadar sandiwara politik sebagai
      kosmetik citra kemanusiaan Kevin Rudd belaka .

      Namun, terlepas pro dan kontra, peristiwa PM Australia memohon maaf
      atas perlakuan buruk Pemerintah Australia masa lalu terhadap The
      Stolen Generations itu mengharukan lubuk sanubari saya. Saya merasakan
      suatu sentuhan perikemanusiaan dan kasih-sayang yang membenarkan
      anggapan, kebesaran suatu bangsa dapat diukur melalui bagaimana
      mayoritas memperlakukan minoritas. Terkesan betapa agung, mulia,
      bahkan indah suatu keberanian dan ketulusan untuk memohon maaf,
      apalagi yang disampaikan seorang kepala negara atas nama pemerintah
      negara dan bangsa.

      "The lost generation"

      Setelah terharu, mendadak muncul fenomena flash-back tragedi di Tanah
      Air sendiri. Di benak saya terbayang kembali adegan perusakan dan
      pembakaran rumah, gedung, dan sekolah yang dianggap sarang komunisme
      (termasuk sekolah saya, padahal pada masa remaja, saya dicemooh
      teman-teman akibat tidak mau bergabung di organisasi remaja PKI). Juga
      penculikan mereka yang dicurigai pemerhati atau anggota PKI (termasuk
      ayah kandung saya yang bukan simpatisan apalagi anggota PKI, tetapi
      kebetulan beretnis keturunan China). Atau penahanan tanpa pengadilan
      bagi mereka yang dicap komunis, lalu dibuang ke berbagai lokasi
      pengasingan. Mayat-mayat bergelimpangan di tepi jalan atau dipendam di
      kuburan massal darurat tanpa bekas, belum lagi jerit-tangis mereka
      yang kehilangan sanak keluarga tanpa tahu bagaimana sebenarnya nasib
      mereka (ibu kandung saya sampai kini tidak tahu bagaimana nasib
      suaminya yang hilang-lenyap setelah diculik pada malam hari buta).

      Andaikata para terculik naas itu dibunuh pun tidak diketahui di mana
      jenazah dikubur atau diapakan. Kecamuk adegan tragis empat dasawarsa
      silam kembali tampil menghantui benak, sanubari, dan nurani saya.

      Jika Australia punya The Stolen Generations, Indonesia punya jutaan
      korban malapetaka pasca- G30S yang layak disebut The Lost Generation
      (Generasi yang Hilang, dalam makna bukan sekadar kiasan).

      Namun, saya sungguh tidak tahu apakah keindahan peristiwa pemerintah
      resmi memohon maaf atas dosa masa lalu di bumi Australia itu juga bisa
      terjadi di bumi Indonesia tercinta ini. Karena, lain padang lain belalang.

      Jaya Suprana Budayawan
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.