Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Agenda Krusial dalam Gerakan: Riset! (Bagian 1)

Expand Messages
  • Rumah Kiri
    Agenda Krusial dalam Gerakan: Riset! (Bagian 1) Oleh Putri Wulandari Gardono Riset sebagai salah satu penopang gerakan politik belum mendapat tempat dalam
    Message 1 of 1 , Jan 31, 2008
      Agenda Krusial dalam Gerakan: Riset! (Bagian 1)

      Oleh Putri Wulandari Gardono

      Riset sebagai salah satu penopang gerakan politik belum mendapat
      tempat dalam kerja-kerja kaum kiri Indonesia—paling tidak saat ini.
      Riset yang saya maksud adalah riset sosial yang didalamnya mencakup
      tiga hal, yakni riset teknis, riset praktis dan riset
      kritis/politis.[*] Tulisan ini akan membahas secara singkat ketiga
      jenis riset tersebut. Namun demikian, apa yang akan saya kemukakan ini
      masih ide awal yang membutuhkan banyak kritik dan penyempurnaan.

      ***

      Seluruh uraian dalam tulisan ini didasari pemikiran bahwa perubahan
      apapun yang dikehendaki selayaknya berangkat dari kenyataan, bukan
      dari asumsi dan perhitungan-perhitungan spekulatif. Jika ditarik pada
      konteks gerakan, maka konsekuensinya keputusan dan strategi gerakan
      senantiasa berpijak pada kenyataan empiris. Itu artinya, usaha untuk
      mendorong perubahan harus selalu: pertama, didasari pengetahuan
      tentang kenyataan yang ada di masyarakat (aspek penjelasan); kedua,
      berangkat dari pemahaman terhadap kenyataan tersebut; dan ketiga,
      menghasilkan rumusan perubahan yang benar-benar berdasarkan kenyataan
      dan dikerjakan oleh dan untuk massa rakyat.

      Buku dan sumber referensi yang bertebaran seperti sekarang memang
      menyediakan banyak pengetahuan yang mencakup ketiga hal tersebut. Itu
      tentu saja berguna, tetapi harus diingat belum tentu cocok dengan
      kondisi objektif masyarakat kita. Catatan keberhasilan maupun
      kegagalan sebuah gerakan di tempat lain memang patut diperhatikan dan
      dipelajari, tetapi tidak selalu bisa dijadikan rujukan dalam
      kerja-kerja nyata perubahan. Karena itu, selain kita harus belajar
      dari pengalaman masyarakat lain, juga—dan terpenting—kita memahami
      masyarakat kita sendiri. Pada titik itulah kita harus melakukan riset.

      ***

      Seperti sudah disebut di awal, ada tiga jenis riset—demikian saya
      membahasakannya (jika kurang tepat silahkan dikritik)—yaitu riset
      teknis, riset praktis, dan riset kritis. Ketiga jenis riset itu tidak
      bisa dipisahkan sekaligus tidak bisa dicampuradukkan. Secara sederhana
      riset teknis adalah riset-riset konvensional dengan tujuan untuk
      memperoleh informasi tentang sesuatu. Contoh, riset untuk mengetahui
      prosentase jumlah penduduk yang berpendidikan dasar. Atau riset
      tentang berapa banyak orang yang memiliki tanah di atas 10 hektar dan
      di bawah itu. Dengan kalimat lain, misi utama riset ini hanya untuk
      memberikan gambaran kenyataan yang bersifat informatif. Dalam riset
      semacam ini belum ada penjelasan mengapa misalnya pendidikan
      masyarakat di daerah pedesaan lebih rendah dibanding masyarakat di
      perkotaan.

      Berbeda dengan riset teknis, riset praktis tidak ditujukan untuk
      memperoleh gambaran di lapangan tentang suatu keadaan. Riset praktis
      diarahkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan, misalnya mengapa kaum
      buruh cenderung pasrah menghadapi perlakuan yang tidak adil dari pihak
      majikan. Itu artinya dalam penelitian praktis kita sudah memasukkan
      variabel teoretis tentang suatu gejala. Namun, usaha kita tidak
      berhenti sampai di situ, karena dalam riset praktis harus juga
      ditelisik bagaimana misalnya buruh menempatkan dirinya dalam hubungan
      produksi dengan majikan. Lebih jauh dari itu, bagaimana kaum buruh
      melihat diri dan lingkungan sosialnya. Riset semacam ini berusaha
      menggali bagaimana realitas dilihat dari kacamata si subyek riset,
      yaitu buruh. Peran peneliti dalam riset praktis adalah memahami
      kenyataan berdasarkan cara pandang si subyek penelitian.

      Jenis riset ketiga adalah riset kritis/politis. Melampaui kedua jenis
      penelitian di atas, riset kritis ditujukan untuk merumusakan tindakan
      dan langkah-langkah konkret perubahan. Dalam riset kritis pertanyaan
      kunci yang hendak dijawab adalah apa yang realistis untuk dilakukan
      setelah kita (1) memperoleh informasi tentang kondisi sosial tertentu
      (hasil riset teknis); dan (2) memahami bagaimana subjek-subjek yang
      ada didalamnya memandang kenyataan tersebut (hasil riset praktis).

      ***

      Catatan:
      [*] Tiga tataran penelitian yang saya kemukakan diadopsi dari konsep
      Jurgen Habermas tentang tiga kepentingan yang melekat dalam ilmu sosial.

      (Bersambung)

      Tulisan ini dimuat di www.rumahkiri.net
      Link:
      http://rumahkiri.net/index.php?option=com_content&task=view&id=1642&Itemid=367

      dan di www.putriwulandari.blogspot.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.