Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

"Selamatkan Bangsa Papua Dari Kepunahan !!"

Expand Messages
  • Dumapi
    SOLIDARITAS KEMANUSIAAN UNTUK TANAH PAPUA (S K T P - SE D.I.Y) Sekretariat : Jl. Kusumanegara No 119 Asrama Kamasan I Yogyakarta Phone 0274 540855 Stop
    Message 1 of 1 , Oct 7, 2007
    • 0 Attachment
       
      SOLIDARITAS  KEMANUSIAAN  UNTUK  TANAH  PAPUA
      (S K T P - SE D.I.Y)
      Sekretariat : Jl. Kusumanegara No 119 Asrama Kamasan I Yogyakarta Phone 0274 540855
       
      Stop Genoside !
      “Selamatkan Orang Papua Dari Kepunahan!”
       
      Bahwa sesungguhnya kemanusiaan sangatlah layak dan pantas untuk dijunjung tinggi oleh semua bangsa di dunia. Namun nyatanya, Genosida di Papua Barat, bukan lagi dugaan semata seperti yang selama ini di tepis oleh Pemerintah RI yang adalah aktor utama dari kejahatan pelanggaran HAM besar ini. Berbagai praktek-praktek kekerasan terus dilakukan oleh kapitalis dan negara. Akibatnya orang Papua sudah diambang kepunahan. Setelah Belanda Penjajah Papua selanjutnya ingtegrasi Papua kedalam Indonesia sekarang wabah HIV/AIDS semakin meningkat, kekerasan Aparat dan korban berjatuhan dari operasi-operasi militer Indonesia mulai dari penerapan Daerah Operasi Militer (DOM). Di era Otonomi Daerah sekarang juga semakin meniadakan peran penduduk asli justeru dominasi kaum migran dari luar Pulau Papua. Kematian misterius menghantui di seantero Papua. Teror dan penculikan merajalela di Papua setiap malam dan siang hari. Situasi Papua kian darurat, tidak ada darurat operasi militer tetapi korban berjatuhan akibat keracunan, penculikan, terror dan pembantaian dilakukan seolah-olah Papua dalam keadaan genting.
       
      Wajah Genoside di Papua
      Ingatan koloektif pengalaman buruk bersama militer Indonesia di Papua tidak pernah terlupakan oleh orang Papua, bahwa dalam seluruh pengalaman buruk dan pahit oleh militer Indonesia, orang Papua diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan hanya sebagai objek, yaitu objek operasi militer. (Benny Giyai 2000., Hlm. 8--9.). Dalam  operasi militer di tahun 1977-1978 adalah operasi militer paling buruk dan menyakitkan bagi orang Papua. Dalam setiap operasi militer masyarakat di bunuh dan dibantai. Di daerah selatan Jayapura yang berdekatan diterjunkan 10.000 orang tentara setelah membombardir dari udara oleh dua pesawat Bronco. Dalam penyerangan ini, diperkirakan 1.605 di wilayah itu tewas.( Robin Osborne, 2001, him. 134-135). Namun, negara tidak pernah mau bertanggungjawab atas sejumlah pelanggaran HAM di Papua. Begitupen dengan di Aceh, Tanjung Priok., pembunuhan terhadap Theys Hiyo Eluai diera Megawati Sukarno Putri. Bahkan Pengasutan Kematian Aktivis HAM Munir lamban dituntaskan akibat ketidak seriusan aparat terkait”BIN” dalam membuka masalah ini.
       
      Akibat kekerasan oleh negara melalui militer, Dr. K. Larseberg melaporkan  mengenia Nama, Tempat, Tanggal, Mereka yang Dibunuh Oleh Orang Indonesia
      Ø      Sebuah Contoh Perang di antara Masyarakat Bersuku di Negara Modern
       
      1.       Kasus Papua Barat- Pelanggaran Hak Asasi Manusia
      Semenjak Indonesia masuk ke tanah Papua, hamper tiap hari terjadi pelanggaran HAM. Papua telah dijadikan laddang pencarian pencarian kekayaan alam seperti emas, tembaga, minyak ddan lain-lain. Selain itu di sana juga ada hasil hutan dan lahan kosong yang segera dipadati oleh orang luar. Akibatnya orang Papua sendiri disingkirkan dengan berbagai akal busuk.
      Banyak tahanan politik diperlakukan secara tidak manusiawi oleh polisi dan militer khususnya selam masa penahanan. Pihak militer Indonesia pu harus bertanggung jawab atas eksekusi ekstrayudisial dan penghilangan nyawa aktivis OPM maupun para simpatisan Papua Barat dan Papua New Guinea.
       
      2.      Pembunuhan Massal, Sebuah Kata Pengantar
      Dr. K. Larseberg melaporkan bahwa (-+) 300.000 penduduk telah hilang tanpa bekas. Sehingga diperkirakan bahwa  dari jumlah penduduknya 700.000 pada tahun 1960 dan (-+) 1.000.000 orang ditahun 1980, 30% jumlah dilangkan secara tak manusiawi. Jumlah ini dapat diperoleh dari rincian sebagai berikut: yang selamat dari bom udara (-+) 80.000 orang, melarikan diri mengungsi (1984-1985) (-+) 13.000, dibunuh (-+) 13.000. Sehingga dapat ditotalkan (-+) 160.000. lalu ke mana yang lainnya pergi? Jika kita memerhatikan tingakat system kesehatan untuk penduduk desa, dapat disimpulkan bahwa oenurunan jumlah penduduk itu begitu cepat, secara langsung mupun tidak langsung, sebagai hasil kebijakan buatan manusia. Diawal tahuin untuk menguasai teritori, kebijakan pemerintah Indonesia untuk melenyapkan kaum elite Papua yang telah menganyam pendidikan. Hal ini disebabkan adanya ketakutan pada kaum ini yang akn menghalangi proses integrasi. Program KB nasional yang menghendaki jumlah keluarga kecil juga merupakan cara licik bagi ras Papua.
      Dalam catatan ini akan dibeberkan berbagai pembunuhan terhadap orang Papua. Meskipun tidak lengkap sama sekali. Berbagai kasus diperoleh dari berbagai simber seperti tulisan yang dipublikasikan (buku, surat kabar, jurnal) laporan tertulis lisan dari para korban maupun para pengamat selama 30 tahun yang lalu.
      Kami mengferifikasi informasi dari sumber-sumber ini. Catatan  pembunuha yang ada meliputi pembunuhan dengan cara bom dan senjata api. Pembunuhan oleh pasukan militer, pembunuhan perorangan dan sejumlah sejumlah kematian dalam tahanan polisi serta penghilangan orang tanpa bisa dilacak.
      Genosida yang lebih mengerikan tapi tidak secara langsung adalah penghabisan pelayanan kesehatan, juga penyakit yang dapat dicegah tapi pasiennya dibiarkan saja hingga meninggal, translokal yangh dipaksakan dari daerah pedalaman ke pesisir pantai yang lebih rawan terhadap ancaman penyakit malaria seperti: orang Amugme disekitar area PT. Freeport. Cara lain adalah merampas tanah yang subur.
       
      3.      Pemboman Udara
      Yang diarahkan ke daerah/distrik yang paddat penduduknya seperti Lembah Baliem, mengakibatkan kematian, Paniai, distrik Wissel, pegunungan Arfak dan distrik danau Ayamaru. Pengeboman ini mengakibatkan kematian, luka dan derita yang berkepanjangan. Akibatnya adalah musnahnya persediaan bahan makanan dan perkebunan warga sehingga menikbulkan kelaparan, malnutrisi, dan juga infeksi berbagai penyakit. Dampak lain juga adalah kematian para orang tua yang menjadi tumpuan anak-anak dalam keluarga. 
                  Jumlah cara Indonesia menciptakan percekcokan/penderitaan. Dilai pihak orang Papua mengecam tentara Indonesia yang menghancurkan hidup mereka, memperkosa para wanita dan anak perempuan.
      3.1.  April 1969, pemboman di distrik danau Wissel daerah Paniai dan Enarotali daerah yang di bombardier ini menjadiawal “purapura Act”. Dalam peristiwa pemboman ini diperkirakan 14.000 orang papua mengungsi ke hutan/semak-semak.
      3.2.  Revold 2 Paniai; Ini merupak hasil ddari cara licik pihak Indonesia mempengaruhi orang dalam memilih wakil “purapura Act”. Hasilnya bahwa orang tel;ah memilih wakil yang tak “beres”(dan ukuran orang Indonesia). Dengan hal ini, mengakibatkan retaliasi/pembalasan dendam oleh militer/TNI dengan mengahncurkan desa tersebut. Korban yang telah terbunuh tak diketahi tapi yang pasti ada orang yang meninggal dalam peristiwa itu.
      3.3.  Pegunungan Arfak : 1966-1967
      3.4.  Daerah Ayamaru dan Teminabuan :17 Januari -29 Maret 1967
      3.5.  Area pertambangan Freeport/Agimuga:1977
      3.6.  Lembah Baliem; 1977-1978
      3.7.  Desa Nagasawa/Dimo kecil
      Diawal bulan Juli 1984, daerah ini dibendung secara membabi buta  dari arah laut dan udara. Tak ada masyarakat satupun yang lolls karena rute pelarian mereka telah dihadang oleh kapal meriam ganas. Ada 200 orang laki-laki mati dan anak-anak serta para wanita digorok seperti binatang. Dua (2) orang perempuan yang menyaksikan tragedy ini dari jarak jauh hanya diam ketakutan, kemudian melarika diri ke Vanimo-Papua New Guinea untuk menceriterakan kisah tragis ini.
      3.8.Desa Taronta,. Takar dan Masi-Masi
                  Warga di semua pantai timur Sarmi juga dikepung dari arah laut. Kematian tragis akibat bom itu tidak diketahui, namun wilayah Taronta ada takar yang dibom itu lumayan luas. Selama periode Belanda tahun 1959, Taronta berpenduduk 1.500 orang sedangkan takar berpenduduk 2.000 orang. Mreka yang selamat melarikan diri ke Jayapura dan tidak ada alasan yang jelas dalam pemboman keji itu.
      4.      Pembunuhan Massal
      4.1.Henk de Yeri melaporkan bahwa ada 55 laki-laki dari 2 desa  Biak Utara diangkat ke area kosong, disuruh menggali lubang kuburan sendiri. Nama desa dari korban tidak disebutkan laporan ini diperoleh dari Henk de Yeri yang mengunjungi daerah tersebut dan mempublikasikan harian Belanda De Telegraf pada tanggal 11,12,19 Oktober 1974.
      4.2.Biak Utara: Yeri 1970
      Pada waktu itu terjadi pembunuhan terhadap- para wanita dan anak-anak. Salah seorang perempuan bernama Maria Bonasapia, dietembak  mati bersama jenin yang dikandungnya. Pembunuhan ini dilakukan oleh ABRI Devisi Udayana yang tidak moralitas.
      4.3.Distrik Lereh: Barat Daya Airport Internasional Sentani
      Pembunuhan missal 500 warga dan jenasahnya dibuarkan membusuk dihutan belantara. Ada tanggal dan nama para korban.
      4.4.Biak Utara, Bus Dori, Kris Dori, dan desa Ampombukor-1974.
      Ada 45 korban pembunuhan antara lain Eduard Mambenar, 20 tahun dan kawan-kawannya  (Rumbia, 2003 130-131)
      4.5.Desa Arwam dan Rumbin (1975)
                                    Korban pembunuhan berjumlah 41 orang….nama dan umur ada dalam buku (hal 131)
      4.6.Distrik Dosai, Jayapura: 4 april 1978
                                    Ada 6 orang korban yang dibunuh secara kejam dan sajis.
      4.7.Distri Tiom, Jayawijaya-Mei 1978
      125 orang dibunuh dengan senjata api karena bekerja sama dengan OPM. Nama-nama korban tidak disebutkan. 5 orang pemimpin yang rela menyelamatkan warga disengat dengan batang besi panas. Mereka adalah Labang Wenda, Kaleb Wenda, We Wanibo, Wenengen Wanibo, Piranggen Wakerkwa. Operasi biadap ini dilakukan oleh ABRI unit 792-753 dan kodim Wamena.
                              4.8. Biak Utara
      12 orang ditemukan tewas dan hanya tulang belulang serta bau busuk tubuh para korban. Mereka ditemukan oleh pemburu setekah mencium bau busuk ini. mereka telah diberondong dengan senjata api oleh patroli Indonesia.
                              4.9. Operasi Tumpas (Ayamaru, Teminabuan, Inanuatan)
      Operasi dilakukan 1967 ini menyebabkan (-+) 1500 orang mati dan mengalami berbagai penderitaan. 
                            4.10. Daerah Jayapura
                                    Pada tanggal 16 Juni 1978 ditemikan 14 mayat korban pembunuhan dengan penembakan.
                            4.11. Desa Kebuma, distrik Kelila Jayapura
      Pada tanggal 28 Juni 1978 ditemukan 6 wanita yang telah diperkosa secara kejam dan ditembak ditempat. Mereka dituduh bersekongkol dengan OPM pembunuhan ini dilakuka oleh ABRI dan kesatuan Kodim Wamena dibawah kepemimpinan Kolonel Albert Dieg
                            4.12. Merauke
      Tanggal 20 Juli 1978, 122 warga (116 laki-laki dan 6 wanita) mengungsi ke hutan karena ditakuti dan para Abri menangkap semua, dimasukan kedalam kantong/karung besar, diikat lalu dibuang kelaut seperti tikus-tikus. Para kenalan tak berani menyebutkan nama karena diancam oleh ABRI.
                            4.13. Ampas Waris, Daerah Jayapura,1981
      Operasi “Sapu Bersih” dilakukan pada bulan 6-8 1981, desa Ampas Waris dan Batle-Arso. Warga diberodong dan ditembak mati dan dibiarkan begitu saja hingga mayatnya busuk.
                            4.14. Daerah Paniai, 1981
                                    Sebanyak 68 warga dibunuh dan 58 warga lainnya hilang tanpa jejak.
                            4.15. Kudai dan Kedapai Baliem
      Beberapa suka yang kehilangan anggotanya karena dibunuh oleh ABRI. Sebanyak 27 warga meninggal-membusuk diantara semak belukar. 30 warga lainnya tidak ditemukan.
                            4.16. Pegunungan Tengah (Sebtember-Desember)1981
      Diperkirakan 13 warga dibunuh didaerah pegunungan tengah dan tujuan utamanya ialah pengungsian warga asli ke pegunungan sehingga lahan kosong dapat ditempati oleh para transmigaran dari Indonesia. Slogan kecil yang digunakan pada waktu itu ialah “Biar tikus lairi ke hutan, asal ayam piara dikandang”
      4.17.Distrik Danau Wissel Paniai: Pertengahan 1985
      2.500 warga Papua dibunuh di daerah ini-dengan perincian sebagai berikut: desa Juandoga dan Kugapa 115 orang, yang dibunuh tanggal 20 Juni 1985. Desa Epomani 10 orang pada tanggal 2 Juli 1985. Militer menghancurkan juga desa tersebut, ladang, persediaan makanan dan lain-lain. Desa Ikopo 15 orang dan menghancurkan  semua yang ada disana pada tanggal 6 Juli 1985. Distrik Moanemani 517 orang, 12 desa dibumihanguskan.
                            4.18. Daerah Jayapura
      Desa Sre-Sre 500 orang mati, desa Lere 346 orang, di Ganjem, Abepura, Waris, Sentani ada 155 orang mati dibunuh.
      4.19. Catatan menurut Tabloid (No.46 November 1981)
                                    Diperkirakan bahwa dari tahun 1963-1969, 30.000 warga Papua telah dibunuh
      4.20.Distrik Danau Wissel/Paniai (1986-1987)
      Dalam kurun waktu ini, di daerah ini terdapat 34 orang yang ditembak mati. (nama-nama mereka ada dalam buku, hal. 133)
      4.21. Pertambangan Freeport (Juni-Juli 1994-1995)
      Pada bula Juni 1994 terjadi perselihan tanah antara para tuan tanah, ABRI dan Personel keamanan pertambangan tersebut. Menurut ACFOA (Badan Bantuan Autralia) bahwa yang menjadi penyebab adalah keluhan warga atas paksaan tempat tinggal dan intimidasi oleh aparat keamanan, pemrintah yang memihak pada pertambangan. Mereka menuduh bahwa hal itu dihalangi oleh para OPM dengan pemimpin Kelik Kwalik. Dilaporkan bahwa 16 orang dibunuh dan 6 lainnya hilang tanpa bekas. ABRI mempersalahkan OPM “menanamkan rasa anti Indonesia pada warga Papua dan ABRI menjaga jangan sampai ini terjadi”. Pada bulan November 5 warga dari suku Kelik Kwalik disuruh dan dibunuh , mayatnya tak pernah ditemukan.
      4.22. Kematian dalam Tahanan
      Setelah satu korban adalah Soleman Nukobay adari Sentani, yang meninggal dalam tahanan tapi tak dilaporkan kepada pihak keluarganya.
      4.23. Paniai
      1.      David Pekey-Wakil Jubir  DPRD Kab. Paniai
      2.      Senin Mote- Sersan Pilosi Senior yang memimpin distrik Moanemani bekas batalyon Papaua selama Perang Dunia II.
      4.24. 1981-1984 (Kematian akibat penyiksaan)
      Jumlah tahanan yang meninggal sebanyak 68 orang diantaranya adalah Isak Bunai yang disiksa dengan tusukan jarum hingga mati, Robby Yogi digantung dengan kepala di bawah dan diiris badannya dengan silet tajam hingga mati, Julius Bunai, Yance Yogi, Yonas Yogi dibunuh dengan cara menusuk batang besi panas lewat lubang pantat, telinga dan hidung.
      4.25. Penyiksaan hingga mati
      Para korban antara lain Thobias Degei, Yunus Dgei, Yohanes Nawipa, Yan Gobai, yang disiksa dengan silet di paniai distrik Danau Wissel 1984-1985). Mereka menderita hingga ajal menghantar pergi. 20 korban lainnya tak pernah ditemukan.
      4.26. Kematian Aser Demokotay di genjem Jayapura
      Dia meninggal dalam tahanan akibat siksaan kejam. Anaknya juga meninggal di Jakarta pada tanggal 22 September 1983 akibat diracun. Masih ada korban lain yang termasuk dalam bagian ini.
      4.27. Kematian ayng tidak masuk wajar
      Ada banyak korban yang meninggal tidak wajar. Nama dan keterangan lainnya ada dalam buku  ini(baca: Rumbiak, 2003. 135-136)
      4.28. Eksekusi Tanah dan  Pembunuhan Berencana:
      Terdapat 54 kasus pembunuhan dengan modus pembunuhan berencana oleh piha-pihak tertentu dan keterangannya ada dalam buku (Rumbiak Arwam, 2003 136-140)  
       
                  Indonesia sudah merdeka? Tunjukan kemandirian bangsa dalam melindungi rakyat. Begitu juga tunjukan ketidaksetujuan Indonesia terhadap Bangsa Papua. Daripada ketidaksetujuan itu hanya ada dalam irama pembantaian dan pemusnahan RAS (Genosida). Sekarang pembunuhan itu semakin diperhalus melalu Biomiliterisme. Kematian dan menurunnya produktifitas karena kekerasan akibatnya penduduk asli Papua tidak bertambah banyak, saat ini berjumblahnya 1,2 juta jiwa, penduduk pendatang 1,3 juta jiwa ini yang terdata. Tidak termasuk penduduk luar yang setiap minggu datang melalui kapal putih dan belum terdata. Sedangkan jumlah militer di tanah Papua menurut Pangdam XVII Trikora yang terdata sekitar 700.000 jiwa (Wartawan Suara Perempuan). Jelas sudah orang Papua menuju kepunahan! Bahwa sekarang di era otonomi ini, pembunuhan terhadap orang Papua lebih diperhalus melalui Bio-militerisme. Aksi Bio-militerisme dilakukan melalui makanan, minuman, rokok yang di jual di warung dan kios-kios di Papua. Membuat masyarakat Papua sangat resah. Sampai sekarang ini berdasarkan laporan dari Militer Kavileri di Papua, ada 42 jenis minuman mengandung zat beracun yang diperkirakan di Papua. Kejadian keracunan di debeberap wilayah Papua, telah memakan korban jiwa, untuk daerah Jayapura ada sekitar 66 kasus kematian, selain itu  di Wamena hingga  tangal 24 September telah berjumblah korban 20 ini baru data kasar yang kami dapatkan belum termasuk di daerah lain.
       
      Kornologis Rentetan Kejadian KeracunanMakanan
      Mengenai keracunan di Wamena, ada rentetan korban keracunan yang terjadi sejak tanggal, 18 Sepetember 2007 terhadap Anak Kecil Usia 9 Tahun yang keracunan minum es di pasar Sinakma. Anak tersebut dilarikan ke rumah sakit tapi tidak tertolong. Diwaktu yang sama, di salah satu warung di jalan Irian, ada 4 orang laki-laki makan di tempat tersebut kemudian mereka keluar dari rumah makan menuju ke rumah, sesampai dirumah ke 4 orang ini meninggal.
       
      Keesokan harinya, 19 September, korban keracanunan seorang siswi SMU PGRI meninggal dunia, akibat keracunan kue. Ini di sebabkan Siswi tersebut tidak sarapan pagi, sampai di sekolah siswi tersebut merasa lapar sehingga langsung datang ke tempat jual, kemudian dia membeli kue lalu makan. Sampai di sekolah siswi tersebut sakit kepala dan pusing sampai di rumah menghembuskan nafas terakhir. Sedang di Mulima, kecamatan Kurulum, ada 8 orang keracunan rokok, supermi dan kue. Nama-nama keracunan rokok dan supermi ( Aleks Sorabut 39 Tahun, Albert Sorabut 34 Tahun, Izak Pabika, Milok Kossay 50 Tahun, Kostan Himan 34 Tahun, Juni Himan 29 Tahun, Oktovina Alua 51 Tahun).
       
      Pada waktu yang sama, korban keracun Kue (Herlina Sorabut 16 Tahun). Ke 8 orang yang kena keracunan tersebut, mereka ada acara pesta di kampung rumahnya pa Aleks Sorabut, beliau turun ke kota belanja bahan-bahan konsumsi (minyak, garam, vetsin, beras dan bumbu-bumbu lainnya) termasuk kue dan rokok. Sampai di kampung kuenya di berikan kepada anak Herlina Sorabut dan rokok di hisap oleh ke 7 orang.
       
      Tidak lama kemudian ada gejala-gejala sakit kepala dan rasa pusing. Ketika ada gejala tersebut di larikan kerumah sakit (UGD) namun mereka di berikan obat antaligin namun tidak membuahkan pertolongan, sehingga mereka kembali pulang ke rumah lalu minum susu kental. Dari susu tersebut mereka muntah lalu pulih kembali. Masih dengan motif yang sama, seorang bocah, Mandite Kogoya 7 tahun dan Yulia wea 5 tahun makan kacang di Karijaya Wamena, meninggal dunia. Anak kecil di Pasar Misi umur 6 tahun keracunan makan biskuit sehingga meninggal dunia.
       
      Keesoakan harinya, Jam 02.00 pagi di temukannya mayat misterius di samping UGD Wamena dengan namanya Petrus Huby, A.mpti. Kesakitannya berawal dari kue, dimana almarhum lapar kemudian beli kue di pasar Yibama. Setelah itu beliau rasa keram-keram ditangan dan sakit di Jantung. Kemudian beliau sendiri datang ke UGD, namun tiba-tiba sampai di garasi beliau menghembuskan nafas terakhir. Di waktu yang sama pula, pada pukul 07.00 pagi di Pasar Sinakma 5 orang keracunan karena minum nescafe, namun tertolong di muntahkan racunnya.
       
                  Dengan ini maka kami dari Solidaritas Kemanusiaan untuk Tanah Papua, secara seksama menyerukan kepada dunia dan  Pemerintah Indonesia bahwa:
      1. Mengutuk segala bentuk praktek Genoside di Dunia
      2. Pemerintah Indonesia segera menghentikan peraktek-peraktek pemusnaan Ras (GENOCIDA) terhadap bangsa Papua.
      3. Pemerintah Indonesia segera tarik MILITER Organik dan Non Organi dari Tanah Papua.
      4. Hentikan suplai Minuman, Makanan, dan bahan-bahan lainnya yang terdapat Zat racun kimia membahayakan bagi kelangsungan hidup rakyat Papua.
      5. Segera membentuk Solidaritas Internasional untuk memantau, menyelidiki dan mengungkap kasus Genoside yang sedang terjadi secara langsung maupun sitematis terhadap bangsa Papua.
       
      Demikian pernyataan sikap ini Kami bacakan, semoga ditindak lanjuti demi Kemanusian di Tanah Papua, Indonesia dan di seluruh dunia.
       
                                                                                         &nb

      (Message over 64 KB, truncated)
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.