Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

ANALISIS, Pengantar Buku Das Kapital

Expand Messages
  • ajsusmana
    ANALISIS, Pengantar Buku Das Kapital Senin, 27/08/2007, Koran Sindo BUKU Das Kapital ini adalah karya ilmiah yang besar dari Karl Heinrich Marx. Dalam khazanah
    Message 1 of 1 , Aug 27, 2007
    • 0 Attachment
      ANALISIS, Pengantar Buku Das Kapital
      Senin, 27/08/2007, Koran Sindo

      BUKU Das Kapital ini adalah karya ilmiah yang besar dari Karl Heinrich
      Marx. Dalam khazanah pemikiran kaum komunis, buku ini sejajar dengan
      karya Friedrich Engels yang juga ditulis bersama Marx, Manifesto Komunis.

      Kedua buku itu sejajar dengan karya Vladimir Ilyich Lenin, yaitu
      What's to be Done serta pamflet The Infantile Disease of "Leftism" in
      Communism. Lenin mengemukakan sebuah prinsip yang sangat penting bahwa
      revolusi hanya akan berhasil kalau ada pihak yang merumuskan revolusi
      itu sendiri dengan cara tepat. Ini berarti, harus ada sebuah partai
      komunis yang akan memimpin sebuah revolusi sampai berhasil. Karya
      besar kaum komunis lainnya adalah pidato Mao Zedong. Mao menyatakan
      bahwa dia sendirian saja karena dia bersama- sama rakyat. Dengarlah
      ungkapan terkenal dari Deng Xioping ini, "Tidak peduli kucing itu
      hitam atau putih,yang penting dapat menangkap tikus." Semuanya itu
      hanya dapat dihasilkan oleh analisis ilmiah, seperti yang ada dalam
      Das Kapital Marx.

      Penulis melihat karya Marx ini sebagai "penyimpangan", seperti
      pendapat Prof DR Jan Romein dari Negeri Belanda. Dalam Aera Europa
      yang terbit dalam edisi bahasa Indonesia pada 1950-an, Romein
      menyatakan peradaban Eropa sebagai penyimpangan dari peradaban dunia.
      Pada abad ke-6 sebelum masehi, dunia dihadapkan kepada sebuah
      perkembangan sangat penting, yaitu para moralis besar menemukan
      jawaban atas sebuah masalah yang sudah berabad-abad lamanya
      "menghantam" peradaban dunia secara mutlak. Peradaban sungai-sungai
      besar melahirkan putra terbaik untuk peradaban dunia, seperti Huang Ho
      dan Yang Tse Kiang di Tiongkok melahirkan Konghucu dan Lao Tze. Budha
      Gautama di Sungai Gangga India, Zarathustra di Lembah Mesopotamia, dan
      Akhenaton di Sungai Nil Mesir Mereka semua memperkeras pembentukan
      budaya tradisional di seluruh dunia dalam bentuk Pola Kemanusiaan Umum
      I (PKU I - Eerste Algemeen Menselijk Patroon).

      Pola tersebut merupakan kerangka bagi moralitas umum di seluruh dunia,
      yang dengan pengulangannya di seluruh dunia membuat masyarakat merasa
      "terlindung" oleh sebuah tradisi. Di Indonesia,tradisi tersebut
      dikokohkan oleh Prabu Saka pada abad ke-5 Masehi di Medang Kamulan,
      Jawa Timur. Dengan demikian, dunia kembali pada kemapanan moral yang
      diusahakan para tokoh moralis yang namanya disebutkan di atas. Hanya
      para filosof Yunani Kuno,seperti Thales,Socrates, Plato, dan
      Aristoteles, yang menggunakan kerangka rasional dalam membuat analisis
      mereka. Ini diteruskan oleh kekuasaan hukum Roma (lex Romanum) dan
      persatuan Roma (pax Romanum), merupakan penyimpangan kedua dari PKU I
      yang disebutkan di atas, sebagai "pemisah" antara PKU I dan
      penyimpangan tersebut. Tidak heran jika hal ini mengubah jalannya
      sejarah umat manusia di kala itu.

      Diteruskan dengan "penyimpangan" oleh Gereja Katolik, nyatalah
      penyimpangan yang terjadi atas PKU I, yang akhirnya bergerak dengan
      momentumnya sendiri. Perkembangan selanjutnya, seperti
      pengorganisasian gereja, renaissance, aufklarung (masa pencerahan),
      rasionalisme, dan pembatalan yang dikerjakan Immanuel Kant, revolusi
      industri, dan pemunculan ideologi (seperti sosialisme dan
      kapitalisme), adalah tahap-tahap pertumbuhan dari "penyimpangan" Eropa
      dari PKU I di seluruh dunia. Nah, sekarang ini Eropa telah berhasil
      "menyempurnakan" penyimpangan tersebut.

      Dengan teknologi dan pengorganisasian masyarakat yang berhasil dicapai
      sejauh ini, telah memaksa "peniruan" oleh dunia yang semula mengikuti
      PKU I. Keadaan demikian itu oleh sementara moralis dianggap sebagai
      "kerugian besar" umat manusia. Karena sekarang umat manusia kehilangan
      moralitasnya. Kita boleh berbeda paham tentang rugi atau tidaknya
      dengan perkembangan itu.Tapi, analisis sosial yang digunakan Karl Marx
      dalam Das Kapital itu tetap harus penulis anggap sebagai bagian dari
      "penyimpangan sejarah" dari PKU I, guna mengetahui setepatnya
      kedudukan karya tulis penting tersebut. Kalau tidak dilakukan
      penilaian seperti itu, kita akan terpaksa melihatnya sebagai sesuatu
      yang menentukan segala-galanyanya, atau justru tidak menganggapnya
      penting bagi sejarah.

      Anggapan buku Das Kapital adalah bagian dari penyimpangan yang
      dilakukan oleh para pemikir Eropa, sudah merupakan sebuah penilaian
      yang sangat tinggi akan karya tersebut.Tidak banyak karya tulis yang
      mempunyai kedudukan seperti itu. Karya ini merupakan warisan yang
      sangat berharga bagi upaya kita untuk maju ke depan, dalam
      perkembangan sejarah umat manusia,bukan?

      ABDURRAHMAN WAHID* *) Penulis adalah Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.