Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Sambil Mereguk Emas, Newmont Membuang Tailing ke Laut Tanpa Izin

Expand Messages
  • Pius Ginting
    PT. Newmont belum memenuhi studi ERA, sehingga (KLH) belum mengeluarkan izin kesaksian Sonny Keraf, mantan Menteri LH, di PN Jakarta Selatan 26 Juli 2007.
    Message 1 of 1 , Jul 30, 2007
    • 0 Attachment

       

       

      PT. Newmont belum memenuhi studi ERA, sehingga (KLH) belum mengeluarkan izin”

       

       kesaksian Sonny Keraf, mantan  Menteri LH,  di  PN Jakarta Selatan 26 Juli 2007.

       

       

      Tailing sebanyak 5000 meter kubik per hari, atau setara dengan volume harian muntahan lumpur Lapindo pada periode awal Mei-Juli 2006, dibuang ke teluk Buyat oleh Newmont. Pembuangan tersebut berlangsung selama PT.Newmont Minahasa Raya (NMR) beroperasi (7,5 tahun), dan tanpa izin.

                  PP 19 tahun 1994, pasal 5 menyatakan :”Setiap orang atau badan usaha dilarang membuang limbah bahan berbahaya dan beracun secara langsung ke dalam air, tanah, atau udara”. Newmont yang beroperasi pada tahun 1996 dibawah pemerintahan Orde Baru yang terkenal keras bagi rakyat namun tidak bagi perusahaan seperti  Newmont.

                  Setelah enam tahun beroperasi, barulah PT.Newmont Minahasa Raya melayangkan surat permohonan izin penempatan pembuangan tailing ke dalam laut, yakni pada 17 April 2000.         Sonny Keraf yang menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup/Ketua Bappedal periode Oktober 1999 – Agustus 2001 menjawab permintaan tersebut dengan surat  surat permohonan izin tersebut dengan surat No B-1456/BAPEDAL/07/2000, yang mensyaratkan Newmont Minahasa Raya harus melakukan studi resiko ekologi (Ecological Risk Assesment/ ERA) dalam waktu enam bulan sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan izin. Namun dia tidak memerintahkan penghentian operasi perusahaan tersebut sampai izin dikeluarkan. Menjawab pertanyaan Efran Basuning, hakim anggota dalam sidang gugatan legal standing Walhi terhadap PT.NMR, Dept ESDM serta turut tergugat KLH  di PN Jakarta Selatan (26/7/7), harusnya memiliki izin dulu baru membuang limbah, Sonny Keraf menyatakan dia tidak ingin menimbulkan keguncangan dengan memerintahkan penghentian perusahaan tambang yang telah beroperasi tersebut.      Studi resiko ekologi (ERA) yang dilakukan kemudian tidak memenuhi syarat ketentuan sampai batas waktu enam bulan yang diberikan. Dengan demikian, Newmont Minahasa Raya (NMR) tidak memiliki izin pembuangan tailing selama beroperasi.

                  Saat ini, praktek pembuangan tailing pertambangan ke sungai dan laut hanya  dilakukan oleh dua negara yaitu Indonesia dan Papua New Guinea. Negeri maju seperti  Amerika Serikat menjamin perairan nasionalnya aman dan sehat untuk perikanan dan rekreasi, dengan peraturan Clean Water Act.   

                  Sementara itu, DR Rignolda Jamaluddin,  dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat, Bidang/Minat Hidro-Osenagrafi Pantai, Unsrat Manado yang diajukan sebagai saksi ahli menyatakan, jenis ikan “tandipang” yang dahulunya dilaporkan sering melimpah (musiman) di Teluk Buyat, dengan melakukan beberapa kali sampling hanya berhasil menangkap satu ekor ikan. Hal tersebut mengindikasikan  hilangnya jenis ikan ini di Teluk Buyat. Beberapa ikan yang berhasil ditangkap memiliki tonjolan berisi cairan hitam di badannya, bukan nanah seperti umum ditemukan bila terjadi infeksi.

       

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.