Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Potret Gerakan Mahasiswa

Expand Messages
  • ajsusmana
    Potret Gerakan Mahasiswa Minggu, 25/02/2007 DALAM sebuah film karya Pramedya Ananta Toer berjudul Kado buat Rakyat Indonesia,Golkar Penguasa Orde Baru
    Message 1 of 1 , Feb 26, 2007
      Potret Gerakan Mahasiswa
      Minggu, 25/02/2007

      DALAM sebuah film karya Pramedya Ananta Toer berjudul Kado buat
      Rakyat Indonesia,Golkar Penguasa Orde Baru memperlihatkan adanya
      peran penting yang dilakukan gerakan mahasiswa.

      Namun, peran tersebut ternyata tidak selalu seiring dengan
      kepentingan menegakkan demokrasi dan kesejahteraan rakyat.Hal itu
      dapat terlihat pada tahun 1965,ketika mahasiswa bergandengan dengan
      tentara menggulingkan Soekarno.

      Gerakan mahasiswa saat itu membantu berdirinya sebuah rezim fasis
      yang berkuasa selama 32 tahun dan berlaku represif terhadap rakyatnya
      dan secara tidak langsung turut memperlancar pembantaian terhadap
      kurang lebih tiga juta orang pada masa 1965–1969. Jatuhnya kekuasaan
      Soekarno merupakan awal berdirinya rezim Soeharto yang penulis
      sebut "rezim fasis".

      Pada masa ini,nasib bangsa Indonesia mulai jatuh ke tangan imperialis
      sehingga membuat sumber daya alam yang melimpah menjadi harta
      rampasan perang yang dibagi- bagikan kepada negaranegaraimperialis.
      Tragisnya,pembagian harta tersebut bukan tanpa restu dari
      pemerintah,namun sebaliknya.

      Hal ini dapat dilihat pada pertemuan yang disebut sebagai konferensi
      untuk membantu pembangunan ulang bangsa (To Aid in the Rebuilding of
      Nation),sumber daya alam Indonesia dibagi-bagikan kepada para
      kapitalis internasional. Bukan hanya kapitalis internasional saja
      yang memperoleh "hadiah"dari naiknya Soeharto menjadi presiden.

      Berbagai kalangan mahasiswa yang konon berjuang tanpa pamrih juga
      mendapatkannya. Merekaduduk di dalam kursi kekuasaan,mendapatkan
      jabatan sebagai kaum birokrat, menjadi anggota Golkar, dan memasuki
      parlemen. Pergantian kekuasaan ini berimplikasi pada gerakan
      mahasiswa. Pada awal era 70-an, gerakan mahasiswa bangkit kembali
      sebagai kelompok yang melakukan kritik terhadap kebijakan Soeharto
      tanpa menganalisis sistem kekuasaannya yang komprehensif.

      Akibatnya, rezim Soeharto secara tidak langsung dengan mudah
      membangun sistem fasis untuk melindungi kekuasaannya, yakni sebuah
      sistem yang menempatkan militer, Golkar, dan birokrasi sebagai tiang
      penyangga kekuasaannya. Pada 1978, mahasiswa kembali bergerak. Kali
      ini dengan tuntutan yang lebih maju,yakni menolak pencalonan Soeharto
      sebagai presiden.

      Gebrakan mereka kali ini mendapat tanggapan yang cukup keras.
      Soeharto mengambil langkah untuk mensterilkan kampus dari semua
      kegiatan politik dengan jalan Dewan Mahasiswa dibubarkan, tidak boleh
      ada politik praktis di dalam kampus, pembredelan pers mahasiswa,
      pencekalan tokoh-tokoh yang kuat, dan pelarangan buku-buku.
      Pendeknya, bisa dikatakan mahasiswa saat itu dijadikan robot
      pemerintahan yang diprogram untuk selalu tunduk dan taat.

      Krisis ekonomi tahun 1997 menjadi momentum kebangkitan kembali
      gerakan mahasiswa. Mereka kembali melakukan konsolidasi dengan
      taktik "gerilya" membentuk komitekomite di dalam maupun di luar
      kampus. Bergerak sembari bermarkas di kantor-kantor pers mahasiswa.
      Dengan jalan perjuangan yang cukup terjal itu, mereka akhirnya
      berhasil menumbangkan rezim fasis Soeharto, tepatnya pada Mei 1998.

      Sayangnya,mereka hanya mampu mengganti pucuk kepemimpinan, tanpa
      mampu mengubah sistem ekonomi-politik yang akhirnya mengantarkan
      kembali rakyat Indonesia ke dalam jeratan imperialisme. Memasuki 2007
      sekarang ini, gerakan mahasiswa dihadapkan pada sebuah ancaman yang
      sangat berbahaya, tantangan besar dan prospek untuk perubahan
      radikal. Persatuan dengan rakyat menjadi sebuah keharusan bagi mereka.

      Dari persatuan antara gerakan mahasiswa dengan rakyat ini akan muncul
      alat alternatif untuk menghancurkan ketidakadilan dan kapitalisme.
      Masa sekarang ini adalah masayangmembingungkanbagi gerakan mahasiswa.
      Kondisi sekarang ini harus diolah dengan taktik-taktik yang lebih
      bervariasi, bahkan yang moderat sekalipun.

      Meski demikian, jangan dilupakan bahwa perspektif
      politikyangideologistetapharus disuntikkan ke dalam kesadaran
      mahasiswa dan rakyat. Buku ini merupakan pengembangan dari skripsi
      yang berjudul "Represivitas Rezim Megawati terhadap Gerakan
      Mahasiswa; Studi Kasus Penahanan Ign Mahendra K,Ketua LMND Yogyakarta
      pada 2003".

      Penulis buku ini mengambil tema tersebut karena melihat adanya
      kondisi yang kontradiktif dalam kehidupan berdemokrasi di negeri ini.
      Reformasi yang telah mengorbankan nyawa mahasiswa, ternyata
      dikhianati oleh rezim diktator.

      Akhirnya, buku ini diharapkan mampu menjawab banyak pertanyaan
      seputar gerakan mahasiswa, terutama bagaimana seharusnya gerakan
      mahasiswa kini di tengah buasnya perang anatarimperialis dan
      neoliberalisme yang semakin menyerang rakyat. Belajar dari sejarah
      gerakan mahasiswa merupakan hal paling penting untuk menyusun agenda
      perjuangan ke depan dalam membela rakyat yang tertindas.(*)

      Mustain
      KoordinatorTaman Baca Mhat Phelor Yogyakarta

      http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/resensi-buku/potret-
      gerakan-mahasiswa-3.html
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.