Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [Diskusi-Pembebasan] Lydia kawanku yang hilang..... (6)

Expand Messages
  • dyah bintarini
    Cerita yang bagus untuk dibaca san dihayati, dan di foward ke teman-teman, makasih aku masih menunggu bacaan lain, karena sedikit banyak membuat ku nyaman
    Message 1 of 2 , Oct 25, 2006
      Cerita yang bagus untuk dibaca san dihayati, dan di foward ke teman-teman,  makasih  aku masih menunggu bacaan lain,  karena sedikit banyak  membuat ku nyaman hati dan pokoran..
      eling_stupa

      Mira Wijaya Kusuma <la_luta@...> wrote:
      Lydia kawanku yang hilang..... (6)
       
      Keesokan pagi harinya aku berangkat dari rumah menuju kesekolah. Sesampainya aku di pintu gerbang sekolah aku belum melihat tanda-tanda kehadiran temanku berdiri di mulut pintu masuk sekolah. Padahal biasanya kami selalu bertemu di tempat tersebut. Lantas aku menghampiri bapak penjaga pintu gerbang sekolah dan berdiri disampingnya maksudnya untuk menunggu kedatangan Lydia.
      “Nak, kemarin saya ditegur suster kepala sekolahmu karena membiarkan kau dan temanmu itu pergi meninggalkan sekolah sebelum waktu pelajaran dimulai.”
      “Wah...lantas Bapak bilang apa?”
      “Saya bilang kalian begitu cepatnya berlari keluar sebelum pintunya tertutup rapat. Sudah sekarang kau masuk saja kedalam.”
      “Ya...nantilah karena aku mau tunggu temanku dulu...”
      “Nak...pelajaran sekolah hampir di mulai, lebih baik kau tunggu didalam saja...”
      Lantas aku menoleh kearah pintu Gereja yang selalu kulihat terbuka lebar itu, lalu aku berjalan menuju arah gereja dengan harapan aku bisa menunggu temanku di Gereja. Sembari aku berjalan perlahan-lahan menelusuri arah Gereja, sekali-kali aku menoleh kebelakang. Namun yang kulihat bukan Lydia melainkan mobil mercedes berwarna putih memasuki pintu gerbang meluncur masuk kompleks sekolah, yang maksudnya ingin menuju kearah depan pintu masuk kelas. Memang sudah menjadi tradisi, yang setiap harinya mobil tesebut di ijinkan memasuki kompleks sekolah. Padahal setahuku mayoritas anak-anak lainnya di sekolah selalu diantar pula dengan mobil tapi mobil-mobilnya tak pernah di perbolehkan memasuki pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba mobil tersebut meluncur perlahan dan kemudian mulai berhenti persis disebelahku yang sedang melangkah pelan-pelan menuju gereja. Jendela pintu mobil belakang terlihat terbuka dan didalam mobilnya ternyata ada teman sekelasku bernama Debi, yang disampingnya duduk sahabat karibnya. Aku tahu persis bahwa mobil mercedes itu kepunyaan sahabat karibnya.
      “Tih, buruan masuk mobil biar cepet nyampe ke depan kelas...”
      “Aaah... engga usah, duluan saja! “ jawabku singkat sambil tetap melangkahkan jejakku ke arah Gereja. 
       
      Entah sudah berapa lama aku menunggu Lydia di dalam gereja namun temanku itu masihlah tak kunjung tiba. Aku tetap duduk bersimpuh sambil memikirkan kekhawatiranku terhadap temanku ini. Tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut yang menghusap-husap belakang punggungku, lalu aku menoleh kebelakang dan kulihat Suster kepala sekolahku dengan senyum ramahnya sambil membungkuk dan menganggukan kepalanya yang ditujukan ke aku. Aku mencoba tersenyum tapi kurasakan bibirku terasa kaku dan susah untuk menyambut senyuman Suster itu. Seketika ku rasakan sesak nafasku yang sepertinya aku merasa tak berdaya lagi. Lantas aku beranjak dari kursi bersimpuhku dan langsung berdiri menghadap Suster tersebut kemudian kupeluknya Suster itu erat-erat. Tanpa bisa kutahan lagi lalu aku menangis tersengguk-sengguk, serasa isak tangisku ini tak bisa lagi kuhentikan. Sekali lagi aku merasakan husapan tangannya yang lembut di kepalaku. Ternyata semakin aku merasakan sentuhan kelembutannya, semakin keras pula suara tangisku. Aku semakin merasa tak berdaya menghadapi belaian kasih sayangnya yang kurasakan begitu tulus ikhlas. Sepertinya Suster tersebut mampu menggantikan belaian kasih sayang Ibuku yang selama ini selalu kudambakan. Menurutku peristiwa drama ini merupakan pengalaman pertamaku, yang sebelumnya tak pernah kualami setelah perpisahan lama ku dengan orangtuaku.
      “Suster, maáfkan aku yang nakal ini...” Namun aku tidak mendengar sepatah katapun ucapan dari Susternya. Tak lama kemudian Suster mengangkat mukaku dengan kedua tangannya yang lembut itu serta menghadapkan wajahnya ke arah wajahku. Dengan pancaran matanya yang tajam tapi penuh arti yang sepertinya mengerti dan memahami  rasa kesedihanku itu. Tapi aku tak tahu apakah Suster itu sudah mengetahui kebutuhanku akan belaian kasih sayangnya. Lalu kuperhatikan raut wajahnya yang ternyata masih memancarkan kecerahan pada wajahnya, juga bibirnya yang selalu tersenyum ria masihlah mencerminkan sikapnya sebagai Ibu yang bijaksana. Tanpa kusangka lantas pipiku di ciumnya dengan lembut sambil beliau mengambil saputangan warna putihnya dari saku pakaian biarawatinya. Kemudian saputangannya itu dihusapnya ke wajahku secara perlahan. Seakan-akan beliau telah mengetahuinya bahwa aku disetiap harinya memang selalu terserang penyakit sakit kepala yang nyeri. Dan, untuk kesekian kalinya aku digandengnya untuk berjalan menuju kelasku. Kali ini Suster mengantarku sampai ke dalam kelas. Semua anak-anak sekelasku memperhatikan kehadiranku yang diantar oleh Suster Kepala Sekolah sampai ke tempat duduk. Secara kebetulan aku di tempatkan untuk duduk disebelah Debi.
      “Kau habis dimarahin Suster yah?” tanya Debi yang membisikan ke telingaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil tetap diam merunduk karena merasa malu yang wajahku kelihatan habis menangis. Memang sudah lama sekali aku tidak menangis. Padahal sejak kecil aku dikenal sebagai anak cengeng tapi  sejak aku duduk di kelas 4 sekolah dasar aku tidak pernah lagi menangis. Dan, di usiaku 9 tahun itulah aku di perbolehkan pula oleh Mbah Putriku untuk melakukan sendiri sembahyang lima waktu karena aku dianggap sudah bisa melakukan sholat wajib tanpa pendampingan Mbah Putriku. Dan setiap aku melakukan sholat Isya dan sholat Tahajud sekaligus kupakai pula waktunya itu buat aku bermeditasi. Sejak saát itu aku tak pernah lagi memikirkan untuk menangis. Karena dalam menjalankan sholat wajib dan sholat tahajud itulah aku merasakan adanya ketenangan dalam bathinku. Dalam ketenangan bathin itulah aku selalu mendapatkan kesempatan waktu, yang kuanggap pula sebagai tempat priveku dalam kesendirianku itu, yang kupakai buat berkomunikasi pada diriku sendiri.
       
      Bersambung....
       
      MiRa
      Amsterdam, 23 Oktober 2006


      Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65click: http://www.progind.net/  
      http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/

      Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.


      How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.