Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Pramoedya Ananta Toer

Expand Messages
  • ajsusmana
    Pramoedya Ananta Toer Ditulis Oleh: Max Lane Senin, 07 Agustus 2006 Sejumlah aktivis dan penulis muda, bersama-sama dengan keluarganya, hadir di pemakaman.
    Message 1 of 1 , Aug 8, 2006
    • 0 Attachment
      Pramoedya Ananta Toer

      Ditulis Oleh: Max Lane

      Senin, 07 Agustus 2006

      Sejumlah aktivis dan penulis muda, bersama-sama dengan keluarganya,
      hadir di pemakaman. Banyak diantaranya yang menangis, menitikkan air
      mata. Maka mereka meluapkan emosinya dengan menyanyikan lagu-lagu
      perjuangan untuk melepas laki-laki yang baru saja disemayamkan untuk
      selamanya: Pramoedya Ananta Toer. Mereka mengumandangkan lagu
      Internasionale dan lagu-lagu yang sering dikumandangkan semasa
      pergerakan melawan kediktatoran: Darah Juang.

      Pramoedya meninggal pagi itu setelah terserang penyakit seminggu dan
      kesehatannya menurun drastis. Ia telah diinapkan di Rumah Sakit Umum
      daerah Jakarta (RSCM) dan kemudian dipindahkan ke ICU. Pada akhirnya
      ia minta dipulangkan ke rumah, untuk istirahat di rumah keluarga di
      daerah Utan Kayu, Jakarta Timur. Pada hari ketiga di rumah, setelah
      melepaskan tabung dan peralatan yang ada ia meminta rokok sigaret
      kesayangannya. Ia meninggal pukul 09.15 pagi itu. Tradisi Indonesia
      menyaratkan pemakaman untuk segera dilakukan secepat mungkin, hingga
      ia dimakamkan di pemakaman umum siang itu juga. Bagi mereka yang
      menerima kabar lewat SMS dan punya waktu segera melayat.

      Di Indonesia, telah ada berbagai rencana dikalangan aktifis untuk
      memperingati laki-laki ini. Di sini, kami yang ada di Australia,
      majalah INSIDE INDONESIA sedang merencanakan mengeluarkan edisi
      khusus seputar Pramoedya.

      Kebanyakan orang Australia awal mula mengenal Pramoedya lewat
      novelnya Bumi Manusia yang aku terjemahkan pada tahun 1980. Hingga
      saat ini, masih banyak orang megirimkan surat menyatakan betapa
      mereka sangat menikmati novel ini atau bagaimana hidup mereka bisa
      berubah karenanya. Mereka itulah yang tertarik dan terus membaca
      sequelnya: Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Bumi
      Manusia saat ini tengah mengalami cetak ulang yang kelimabelas di
      Amerika. Novel-novelmya telah disadur ke dalam berbagai bahasa sastra
      dunia di universitas Amerika.

      Di Indonesia sendiri, semua buku Pramoedya secara formal masih
      dilarang, meskipun negara kelihatannya membutakan diri terhadap
      kenyataan bahwa buku-bukunya masih dipublikasikan dan dengan mudah
      akan kita dapatkan di toko-toko buku besar. Dan tentu saja buku-buku
      semacam itu tidak diajarkan dalam kurikulum wacana, tentu saja dalam
      sistem sekolah negeri.

      Pramoedya berusia 81 tahun ketika ia meninggal. Ia merupakan seorang
      sastrawan dan tokoh politik yang muncul dalam politik dan budaya
      Indonesia lebih dari 40 tahun belakangan ini. Semasa muda ia
      memanggul senjata melawan kolonialis Belanda, pernah ditangkap dan
      dipenjara selama dua tahun. Dalam masa inilah ia menulis beberapa
      cerita pendeknya yang mula awal dikenal dengan berlatar pertengahan
      sejarah perlawanan revolusi. Ketika perlawanan bersenjata dihentikan
      pada tahun 1949 dan Belanda mengakui kemerdekaan indonesia, ia
      menjadi salah satu penulis yang sangat produktif. Ia disadarkan oleh
      kenyataan penyakit kemanusiaan bahwa orang-orang menderita sebagai
      akibat dari keterlibatan mereka dalam revolusi, baik secara langsung
      maupun tidak.


      Orientasinya semakin berkembang jauh manakala negeri melangkah pada
      akhir dekade pertama kemerdekaan. Buku-bukunya mulai semakin banyak
      mengangkat realitas dari kegagalan perubahan sosial, mengenai
      penyakit kemanusiaan yang berasal dari kubangan korupsi dan
      ketidakadilan meskipun negara telah memperoleh kemerdekaan. Bukunya
      dalam koleksi Cerita Dari Jakarta menyuarakan ketidakpuasan dan
      kemanusiaan yang merosot. Dari akhir tahun 1950-an, Pramoedya memulai
      penjelajahan baru. Kenapa ? Mengapa kemerdekaan politik tidak
      memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi orang-orang yang telah
      memberikan hidup mereka pada revolusi. Pramoedya bergabung dengan
      jutaan orang lainnya yang siap menyuarakan: Revolusi belum selesai !
      Ia memposisikan dukungan politiknya pada Soekarno, yang ia dukung
      hingga sekarang, yang memimpin dibelakang layar mobilisasi massa
      untuk menyerukan tuntutan ini. Akhirnya puluhan juta orang bergabung
      dibawah bendera ini, bergabung dengan PKI, Partai Nasionalis atau
      partai-partai lain yang lebih kecil atau bergabung dengan satu dari
      berbagai organisasi massa yang terus menyerukan tuntutan. Pramoedya
      bergabung dengan LEKRA, yang kemudian memiliki ribuan anggota dan
      juga penerbitan Kiri Independen Bintang Timur.

      Bukan hanya dengan satu cara Pramoedya memberikan dukungan terhadap
      gerakan ini. Kegiatan utamanya adalah dalam bidang budaya, terutama
      ia membenamkan dirinya dalam kerja-kerja penggalian sejarah, kerja
      untuk menemukan asal muasal persoalan budaya Indonesia: tiadanya
      karakter elite yang sangat teguh; yang hanya mementingkan dirinya
      sendiri; sebagai penjilat dihadapan penguasa tetapi sekaligus juga
      sebagai sumber dinamisme budaya Indonesia baru, sumber energi
      revolusi yang meletus pada tahun 1960an ketika segala jenis seni dan
      budaya mulai berkembang. Darimana itu semua datangnya ?

      Persoalan lain yang mempengaruhi Pramoedya, tulisan Maxim Gorky
      Manusia Harus Tahu Sejarah Mereka menginspirasi dia. Dari akhir tahun
      1950an ia menjadi sejarawan yang pertama kali sepenuhnya belajar
      sendiri. Tak ada sumber sejarah yang bisa dijadikan rujukan: dokumen
      pemerintah, harian, apa yang bisa diharapkan diketahui oleh orang
      tentang tokohnya jika tak ada sumber, koran, cerita detektif. Bahkan
      Pramoedya merupakan sejarawan Indonesia yang pertamakali memanfaatkan
      tape rekorder untuk menyusun sejarah oral, membawa tape rekorder –
      yang dalam perkembangannya tape tersebut menjadi peralatan yang
      janggal –yang didapat dari rekanan bisnis kecilnya.

      Ia kemudian menjadi penulis produktif dalam koran Bintang Timur,
      menulis ratusan tulisan mengenai sejarah dan politik. Pada tahun 1960
      ia ditahan oleh Penguasa Hukum Darurat Militer akibat sejumlah
      tulisannya yang menyerang kebijakan pemerintah memaksa pengusaha
      kecil Cina untuk tidak tinggal di kota-kota kecil dan desa-desa.
      Kebijakan itu diikuti dengan sejumlah black-propaganda Anti-China dan
      memperoleh dukungan baik oleh pengusaha besar Non-China maupun
      Tentara, yang menginginkan untuk menghancurkan kerjasama antara
      Indonesia dan RRC. Pramoedya ditahan setahun tanpa pengadilan.

      Setelah dibebaskan ia melanjutkan kerja-kerja sejarahwannya. Ia lebih
      banyak menggali periode pergantian abad 20, sebuah periode kolonial
      yang banyak mempengaruhi masyarakat, dimana bahasa Melayu mulai
      dipakai sebagai tulisan dan membuat koran populer. Orang China, Indo
      dan masyarakat asli lainnya kepulauan itu mulai menggunakannya untuk
      menuturkan pada dunia tentang pangalamannya, mengubah bahasa Melayu
      dari bahsa pasar, tradisi dan feudalisme menjadi bahasa kehidupan
      modern. Ia menulis karakter Raden Mas Tirto Adhisuryo, seorang figur
      yang tak pernah ditulis oleh sejarawan Belanda dan Barat lainnya dan
      sejarwan Indonesia yang dididik dalam sudut pandang Belanda. Jurnalis
      pribumi pertama yang menerbitkan surat kabarnya sendiri, menerbitkan
      selebaran, yang kemudian sering mendapat serangan seputar korupsi dan
      pelanggaran hukum dalam sistem kolonial Belanda. Serangan-serangan
      itu dimuat dalam majalah dibawah tulisan: "Voice of the governed".
      Adhisuryo juga membantu menerbitkan majalah pertama bagi perempuan.
      Tak terhitung berapa kali ia dihadapkan pada pengadilan dan dibuang.

      Pramoedya juga memecahkan pandangan masyarakat bahwa ia merupakan
      tokoh yang melihat masyarakat terbagi kedalam mereka yang hidupnya
      tergantung pada gaji Belanda dan mereka `free men" yang memperoleh
      penghidupannya secara independen. Orang-orang "independen" inilah
      konstituen yang coba ia kumpulkan ketika ia membantu mendirikan SDI.
      Bagi dia "dagang" artinya sederhana yaitu mencari penghasilan untuk
      hidup independen. Pendirian organisasi ini dapat dikatakan sebagai
      awal revolusi nasional Indonesia. Pencapaian terbesar anggotanya
      sekitar dua juta orang diseluruh kepulauan. Lebih jauh ini merupakan
      awal PKI.

      Sumbangan khusus Pram dalam membantu menyelesaikan revolusi
      ternterupsi pada Oktober 1965 ketika ia ditahan bersamaan dengan
      ratusan hingga ribuan tahanan lainnya. Sayap kanan Militer, dibawah
      komando Jenderal Soeharto, mengambilalih kekuasaan, mematahkan usaha
      kudeta yang dilakukan oleh perwira sayap kiri untuk menguasai
      Militer. Artinya, revolusi Indonesia itu sendiri terinterupsi. Lebih
      dari sejuta buruh, petani, dan aktifis terbunuh. Puluhan ribu
      dipenjarakan selama 1-2 tahun dan 20.000 lainnya termasuk Pram
      dipenjarakan selama 14 tahun –tanpa tuduhan dan pengadilan.

      14.000 tahanan dikirim ke wilayah yang jarang penghuninya dan pulau
      gersang di Indonesia timur dimana mereka dipaksa untuk membangun
      barak mereka sendiri, membabat tanah liar dengan tangan mereka
      sendiri dan mulai menanam pertanian mereka. Pada masa-masa awal
      mereka datang, banyak diantaranya yang meninggal. Pada tahun-tahun
      demoralisasi inilah Pramoedya mulai menuangkan ingatannya lewat
      karyanya untuk menceritakan sejarah gadis Jawa berusia 14 tahun,
      Sanikem, yang dijual oleh ayahnya yang pekerja pada pemilik pertanian
      Belanda sebagai seorang gundik dan bagaimana gadis muda ini mengubah
      dirinya menjadi seorang perempuan yang kuat dan berkapasitas, Nyai
      Ontosoroh, jauh lebih kuat daripada tuannya dan bagaimana ia mendidik
      salah satu generasi pemula revolusioneri Indonesia. Sejara itu
      menginspirasikan tahanan dan membantu merestorasi moral.

      Baru kemudian ketika ia mencoba memperoleh mesin ketik dan
      diberikesempatan untuk menulis, Pramoedya menyelesaikan delapan novel
      dan sebuah drama serta sejumlah tulisan ketika di Pulau Buru. Ketika
      dibebaskan pada tahun 1979 tulisannya tidak boleh diterbitkan.
      Aktifias-aktifitas tertentu dilarang dilakukan oleh tahanan-tahanan
      politik awal. Tetapi ia, dan dua tahanan lainnya, Joesoef Isak dan
      Hasyim Rachman, mengabaikan diktaktor, Soeharto, dan mulai
      menerbitkan novel penjara Pramoedya, dimulai dari Bumi Manusia,
      berdasarkan pada cerita Sanikem dan Nyai Ontosoroh. Kemudian diikuti
      dengan karya sejarah terbesar lainnya, Anak Semua Bangsa, Jejak
      Langkah dan Rumah Kaca. Semua buku itu tersedia dalam edisis buku
      Penguin. Kemudian sampai pada novelnya berlatarbelakang periode
      sebelum keempat karya tersebut, Arok Dedes, sebuah cerita mengenai
      pemberontakan berlatar pada abad ketiga belas dan Arus Balik, sebuah
      epik novel mengenai politik kelautan abad 16.

      Semua buku ini merupakan karya terbesarnya, menjelaskan asal mula
      revolusi Indonesia, disamping lebih dari 40 karyanya, dengan lebih
      dari pada setengahnya diterjemahkan kedalam lebih 50 bahasa. Karya-
      karya sesudahnya selalu mengingatkan bagian dari komitmennya untuk
      menyelesaikan revolusi Indonesi yang terus ia lanjutkan sehari
      setelah dibebaskan dari pejara. Sejak tahun 1979, ia terus selalu
      mengulanginya lagi dalam pidato dan wawancaranya untuk menyerukan
      generasi Indonesia yang lebih muda: revolusi belum selesai. Ia
      bergabung partai kecil radikal PRD untuk mempertegas komitmen politik
      dan bergabung kedalamnya. Ia tak pernah lelah mengatakan
      bahwa `reformasi" tidak cukup. Apa yang dibutuhkan adalah "revolusi
      total'. Dalam interview yang kemudian dipublikasikan, dengan judul
      EXILE, ia secara jelas memposisikan dirinya:



      Kapitalisme dimana saja sama. Tujuannya hanyalah bagaimana
      menghasilkan keuntungan yan sebesar-besarnya dengan menghalalkan
      segala cara. Aku percaya pada hak setiap negeri untuk menentukan
      nasib sendiri, tetapi dalam kenyataannya, hak-ha yang demikian tidak
      pernah dihormati. Segalanya ditentukan oleh pengusaha besar, bahkan
      dalam persoalan nasib bangsa. Bisakah situasi yang demikian ini
      dirubah tanpa revolusi ? Tak mungkin. Harus ada revolusi.


      http://www.prd-online.or.id/id/index.php?
      option=com_content&task=view&id=199&Itemid=40
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.