Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

“PENJAHAT” BERSENJATA ITU… ( I )

Expand Messages
  • LEONOWENS SP
    PENJAHAT BERSENJATA ITU… ( I ) (Bermetaforanya Para Penjahat Menjadi Tentara) …karena sejak Orba berkuasa, ide tersebut telah dilacurkan untuk
    Message 1 of 1 , Jun 20, 2006
    • 0 Attachment
      "PENJAHAT" BERSENJATA ITU… ( I )
      (Bermetaforanya Para "Penjahat" Menjadi Tentara)


      "…karena sejak Orba berkuasa, ide tersebut telah dilacurkan untuk
      kepentingan modal dan kuasa".

      Beberapa hari lalu saya menerima surat elektronik yang dikirim oleh
      seorang rekan. Surat tersebut berisikan pemberitaan beberapa media
      lokal, tentang pernyataan pejabat militer Kodam I/Bukit Barisan
      (Provinsi Sumatera Utara), tentang adanya basis komunis yang
      dideteksi perkembangannya oleh intelijen militer. Pangdam I/Bukit
      Barisan, Mayjen Liliek AS Sumaryo; memberi suatu tuduhan reaksioner,
      atraktif, dan manipulatif tentang rapat (Sidang Nasional I Komite
      Aksi Korban Pelanggaran HAM Tragedi 1965) di Sibolangit, adalah rapat
      untuk menghidupkan lagi ideologi komunis. Pernyataan ironis pada
      suatu ruang politik, ketika komunitas Tentara Nasional Indonesia
      berpraksis kembali membangun opini publik dengan mendistorsi suatu
      kebenaran paparan realita.

      Hal ini dapat dikatakan, bahwasannya komunitas "para penjahat" itu
      semakin mengeksploitasi legalitasnya—bukan hanya sekedar untuk
      memasuki ruang berpolitik praktis—tetapi untuk mereposisi
      kepentingannya pada ruang yang lebih bebas: kelas sipil dan
      perekonomian! Suatu ruang yang tengah berpolemik dalam sejarah
      hubungan antar kelas masyarakat. Yang mana militer Indonesia dengan
      realitasnya, adalah "mesin" negara dan opresifitas untuk kepentingan
      kekuasaan. Karena paradigma militer Indonesia adalah suatu paradigma
      yang mereposisi dirinya sebagai bagian ekslusivitas antar kelas,
      dibandingkan dengan hakikat dasar tentang militer itu sendiri.

      Mungkin kata "penjahat" sebagai substitusi ungkapan tentang tentara
      (TNI), merupakan suatu ungkapan sinis-sarkastik yang saya tulis dalam
      ruang kebebasan alam berpikir ini. Walaupun sentimen itu memiliki
      kesejarahan obyektifnya tentang praksis TNI yang cenderung tampil
      sebagai realita golongan masyarakat yang aktif untuk berpraksis
      represif, hingga dalam ruang demokrasi borjuistik ini. Ketimbang
      praksis pembebasannya untuk mayoritas masyarakat yang dicerabut hak-
      haknya. Secara institusi, TNI telah gagal untuk merekonstruksi idenya
      dalam relasi masyarakat-negara; karena sejak Orba berkuasa, ide
      tersebut telah dilacurkan untuk kepentingan modal dan kuasa.

      Realita yang melandasi terbangunnya ruang opini dari memori publik,
      bagi catatan sejarah tentang kejahatan riil TNI, yang merupakan
      sejarah kejahatan paling kronis dalam relasi masyarakat-negara di
      Indonesia. Kejahatan kemanusiaan, merupakan praksis kejahatan pada
      awal berdiri dan berlangsungnya Orba. Walaupun ada bentuk kejahatan
      paling dasar dalam praksis TNI: ide! TNI dengan praksis ide fasis-
      kanannya, memanipulasi Pancasila sebagai ideologi negara, tanpa
      memahami paparan rasional tentang ideologi dan teoritisnya. Walaupun
      nama ABRI telah digantikan menjadi TNI sejak eforia reformasi
      digulirkan, tetapi hal itu tidak pernah merubah karakter dasar dari
      institusi tersebut: komersialisme, fasisme dan liar! Ya, karakter
      dasar itulah yang menjadi komplikasi relasi antar kelas masyarakat.

      Berbicara tentang stigma progresif: "komunis, atheis, teroris" dan
      stigma irasionalitas-reaksioner lainnya; yang berpraksis dan
      ditanamkan melalui kebijakan resmi, indoktrinasi, pernyataan pejabat
      militer, ataupun propaganda intelijen militer. Maka, ketika mereka
      (kaum tentara-TNI) memiliki kewenangan untuk mempraksiskan itu sesuai
      dengan keliarannya, tentunya kalangan sipil juga memiliki hak untuk
      memberi kontra-stigma kepada kaum tentara-TNI sesuai dengan kebebasan
      alam berpikirnya. Dan saya tuliskan secara sinis, obyektif, dan bukan
      suatu psiko-misantropik; bahwasannya mereka-pun merupakan penjahat
      legal-bersenjata, yang kini bukan hanya dalam bentuk karakter
      abstraksi-teoritis, tetapi dalam visualisasinya yang "sering luput"
      oleh pemberitaan resmi. (bersambung)

      Juni 2006, Leonowens SP
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.