Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

766Re: [Diskusi-Pembebasan] Jusuf Kalla , Si Pengkhianat Ingin Jadi Pemimpin

Expand Messages
  • akbar
    Jul 5, 2004
      kawan...

      ingin rasanya waktu ini kembali berputar. angan-angan
      membayangkan, sepertinya lebih baik tidak perlu ada
      reformasi di negara ini. darah yang ditumpahkan para
      mahasiswa dan sebagian anak bangsa ini, ternyata tidak
      ada lagi gunanya. semuanya hanya sia-sia. bahkan hanya
      menjadi cerita dan sejarah yang mengesalkan jika harus
      kembali mengenang.

      aku, memang kesal. kesal...bukan karena tidak bisa
      menghadapi kenyataan. tetapi, kekesalan itu muncul
      akibat masih 'BODOH'nya masyarakat di negara yang
      dinilai telah terbelakang secara pendidikan (versi
      UNDP). kami tak tahu lagi mana yang baik, dan mana
      yang buruk. semuanya sudah tertutup dengan 'belas
      kasih' semu dan bayang-bayang dari pendiri negara ini
      yang ternyata seorang diktator.

      aku masih ingat bagaimana pekik mahasiswa yang hanya
      mengandalkan kepalan tangan untuk meminta perubahan di
      negara ini harus disambut dengan berondongan
      peluru-peluru tajam yang dimuntahkan para serdadu.
      saat itu, aku melihat dan merasakan, betapa takutnya
      kami semua kepada para serdadu yang terlihat bangga
      dengan seragam lorengnya. ganas dan bengis. tetapi aku
      ingat, mereka itu hanyalah pion-pion yang
      diinstruksikan para pimpinannya.

      dan aku juga ingat-- suatu sore di bawah jembatan
      slipi sehari sebelum tragedi semanggi-- bagaimana
      seorang serdadu tak kuasa menarik pelatuk senapan ke
      arah kami. ia terlihat 'iba' saat dirinya harus saling
      berhadapan dengan saudara-saudara dan anak-anak mereka
      sendiri. mereka--para serdadu itu--askhirnya hanya
      bisa diam dan menutup mata hati demi sebuah
      'kesenangan' para jenderal dan penguasa ketika itu.

      ironis memang menjadi orang-orang suruhan. tetapi
      menjadi lebih ironis lagi tat kala melihat sepak
      terjang bangsa ini pasca reformasi. iming-iming
      perubahan yang akan dilakukan para pemimpin terpilih
      pasca reformasi, ternyata hanya menjadi sebuah ilusi.
      kemelut negeri ini pun tak kunjung terselesaikan.

      bahkan, mereka yang mengaku kaum reformis kesiangan
      itu, terlihat begitu menikmati dengan kondisi bangsa
      yang memang sedang limbung. mereka bisa nilep uang
      kami dengan sesuka hati, tanpa harus malu-malu. mereka
      juga tahu kalau polisi, penegak hukum, dan kita semua
      memang bisa di beli dan disumpal oleh
      lembaran-lemarban rupiah. naif dan menggelikan.

      tetapi ketika pintu perubahan itu mulai terbuka
      melalui proses pemilihan presiden secara langsung yang
      di gelar 5 juli, ternyata kita semua tanpa menyadari
      telah menutupnya kembali secara rapoat-rapat. ya, kita
      semua telah menutupnya kembali dan membenamkan
      harapan-harapan kami punya di waktu lampau.

      sekali lagi aku kesal. mengapa orang-orang yang
      memiliki dosa-dosa di masa lampau dan terbukti tidak
      mampu membawa bangsa ini keluar dari masalah, ternyata
      kembali mendapat kepercayaan dari kami semua. kami
      semua!

      sungguh, aku tak bisa membayangkannya. bagaimana
      bodohnya kita semua ini. aku pun merasa tak yakin,
      apabila pemimpin yang terpilih melalui proses paling
      demokratis ini bakal mampu membawa perubahan seperti
      yang kita inginkan.

      memang, para capres itu tak lagi mengenakan seragam
      militer. tetapi, kami sebagai warga sipil bertanya
      apakah mereka mampu mengusut kami punya kasus di
      semanggi 4 tahun silam? ataukah juga mereka akan mampu
      membuka tabir kelam 27 juli yang memang telah
      melibatkan institusi mereka

      selanjutnya juga, meski bukan dari kalangan militer,
      apakah bayang-bayang pendiri bangsa ini mampu
      mengilhami salah seroang calon pemimpin bangsa ini
      membawa kami keluar dari krsisis yang tak kunjung
      usai. ataukah juga, dengan bekal nama besar sang ayah,
      hanya cukup menjadi modal 'berdagang' guna mencari
      keuntungan besar dengan cara membodohi kami!

      aku tidak rela, sungguh...tidak rela!


      akbar

      maaf, ini hanya sekedar ekspresi setelah saya melihat
      hasil penghitungan sementara pilpres hingga senin
      malam pukul 22.00 WIB. sekali lagi, saya tidak ingin
      menyingung perasaan teman-teman semua, tetapi inilah
      kenyataan yang akan kita hadapi lima tahun mendtang!!






      "selamatkanindonesia" <selamatkanindonesia@...>
      wrote:
      >
      >
      > Kalau saja Jusuf Kalla (JK) adalah seorang pemain sepak
      >bola,
      >dia mungkin bisa saja sekelas Roberto Carlos. Kecil,
      >lincah, pandai
      >melihat dan memanfaatkan peluang dan tajam. Bagi Roberto
      >Carlos,
      >sifat ini sangat mendukung perannya sebagai pemain
      >gelandang dalam
      >permainan sepak bola.
      > Tapi bagaimana jika karakter dan sifat ini dimiliki oleh
      >seorang calon wakil pemimpin bangsa yang besar seperti
      >Indonesia??
      >Jusuf Kalla (JK), bisa dianggap memiliki karakter ini.
      >Tapi tunggu
      >dulu, tidak serta merta karakter ini mendukung peran JK
      >bagi
      >perbaikan bangsa. Karena kita harus jeli dan kritis dalam
      >melihat
      >setiap langkah dan perilaku calon-calon pemimpin kita.
      > Kita tahu, JK merupakan seorang pengusaha. Sebagai
      >pengusaha,
      >JK senantiasa menggunakan prinsip-prinsip bisnis baik
      >dalam aktifitas
      >sosial, politik maupun kebangsaan. "Pengeluaran
      >sekecil-kecilnya tapi
      >dapet hasil segede-gedenya, peluang harus disikat, kalo
      >tidak ada
      >peluang maka ciptakan peluang". Kalau prinsip ini
      >digunakan dalam
      >sebuah permainan/game maka akan menjadi permainan yang
      >asyik. Tapi
      >kalo prinsip ini digunakan seseorang untuk ngurus negara,
      >bisa hancur
      >negara ini. Karena pasti akan menghilangkan etika,
      >moralitas,
      >persahabatan dan kenegarawanan.
      > Ternyata prinsip bisnis ini yang dipegang oleh JK dalam
      >berpolitiknya, termasuk pencalonannya sebagai wakil
      >presiden. Kita
      >masih ingat betul bahwa ketika kampanye parlemen JK
      >sangat menekankan
      >perlunya komitmen dan kesetiaan terhadap kebijakan DPP
      >Partai Golkar,
      >termasuk dalam hal konvensi Golkar. Artinya siapapun yang
      >terpilih
      >maka harus diperjuangkan oleh segenap kader dan
      >simpatisan Golkar.
      >Pada waktu itu JK masih menjadi kontestan/peserta
      >konvensi Golkar.
      >Karena JK tahu tidak sekuat kandidat lain, akhirnya dia
      >mengundurkan
      >diri dari konvensi. Tapi bukannya kemudian memperkuat
      >barisan untuk
      >mendukung keputusan konvensi, malah menjadi orang pertama
      >yang
      >mengkhianati konvensi Golkar. Hal ini berarti pula
      >mengkhianati
      >kebijakan DPP Golkar. Artinya JK telah menjilat ludah
      >yang telah
      >dibuangnya, tidak konsisten dan tidak bisa dipercaya.
      >Penulis tidak mengajak untuk berempati kepada Golkar, toh
      >itu urusan
      >Golkar sendiri. Hanya kita sebagai anak bangsa perlu
      >melihat dan
      >kritis dalam melihat perilaku calon pemimpin kita. JK
      >selalu
      >mengatakan bahwa ini adalah peluang dia untuk menjadi
      >pemimpin
      >nasional, karena telah dilamar SBY. Ya..memang ini
      >peluang, tapi
      >peluang ini diambil dengan mengkhianati sekian juta
      >pengurus, kader
      >dan konstituen P Golkar. Dan pengkhianatan ini telah
      >mencoreng ide
      >konvensi yang dianggap sebagai hal yang demokratis dan
      >terbuka.
      >Sangat nyata bahwa JK tidak peduli dengan etika dan moral
      >berpolitik.
      >Dalam hal ini, penulis ingin bertanya masih pantaskah
      >seorang yang
      >telah menghianati teman-teman seperjuangannya menjadi
      >pemimpin negeri
      >ini. Bahasa mudahnya, teman aja dipukul apalagi yang
      >bukan teman?
      >Di sisi lain, meski JK selalu mendeklarasikan
      >keberpihakan kepada
      >bangsa, jangan-jangan ketika sudah menjadi pemimpin, jiwa
      >dan prinsip
      >bisnisnya kambuh lagi. Karena peluang akan semakin besar,
      >pengeluaran
      >akan lebih sedikit dan hasil akan berlimpah?Jadi
      >hati-hati dengan
      >asset Anda, keluarga, bangsa dan negara ini. Siapa tau
      >akan
      >diambilnya juga?
      >Amarta
      >Koalisi masyarakat peduli politik rakyat
      >
      >
      ===========================================================================================
      "Gabung INSTANIA, dapatkan XENIA. Daftar di www.telkomnetinstan.com, langsung dapat akses Internet Gratis..
      Dan ..ikuti "Instan Smile" berhadiah Xenia,Tour S'pore, Komputer,dll, info hub : TELKOM Jatim 0-800-1-467826 "
      ===========================================================================================
    • Show all 2 messages in this topic