Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

762Jusuf Kalla , Si Pengkhianat Ingin Jadi Pemimpin

Expand Messages
  • selamatkanindonesia
    Jun 28, 2004
    • 0 Attachment
      Kalau saja Jusuf Kalla (JK) adalah seorang pemain sepak bola,
      dia mungkin bisa saja sekelas Roberto Carlos. Kecil, lincah, pandai
      melihat dan memanfaatkan peluang dan tajam. Bagi Roberto Carlos,
      sifat ini sangat mendukung perannya sebagai pemain gelandang dalam
      permainan sepak bola.
      Tapi bagaimana jika karakter dan sifat ini dimiliki oleh
      seorang calon wakil pemimpin bangsa yang besar seperti Indonesia??
      Jusuf Kalla (JK), bisa dianggap memiliki karakter ini. Tapi tunggu
      dulu, tidak serta merta karakter ini mendukung peran JK bagi
      perbaikan bangsa. Karena kita harus jeli dan kritis dalam melihat
      setiap langkah dan perilaku calon-calon pemimpin kita.
      Kita tahu, JK merupakan seorang pengusaha. Sebagai pengusaha,
      JK senantiasa menggunakan prinsip-prinsip bisnis baik dalam aktifitas
      sosial, politik maupun kebangsaan. "Pengeluaran sekecil-kecilnya tapi
      dapet hasil segede-gedenya, peluang harus disikat, kalo tidak ada
      peluang maka ciptakan peluang". Kalau prinsip ini digunakan dalam
      sebuah permainan/game maka akan menjadi permainan yang asyik. Tapi
      kalo prinsip ini digunakan seseorang untuk ngurus negara, bisa hancur
      negara ini. Karena pasti akan menghilangkan etika, moralitas,
      persahabatan dan kenegarawanan.
      Ternyata prinsip bisnis ini yang dipegang oleh JK dalam
      berpolitiknya, termasuk pencalonannya sebagai wakil presiden. Kita
      masih ingat betul bahwa ketika kampanye parlemen JK sangat menekankan
      perlunya komitmen dan kesetiaan terhadap kebijakan DPP Partai Golkar,
      termasuk dalam hal konvensi Golkar. Artinya siapapun yang terpilih
      maka harus diperjuangkan oleh segenap kader dan simpatisan Golkar.
      Pada waktu itu JK masih menjadi kontestan/peserta konvensi Golkar.
      Karena JK tahu tidak sekuat kandidat lain, akhirnya dia mengundurkan
      diri dari konvensi. Tapi bukannya kemudian memperkuat barisan untuk
      mendukung keputusan konvensi, malah menjadi orang pertama yang
      mengkhianati konvensi Golkar. Hal ini berarti pula mengkhianati
      kebijakan DPP Golkar. Artinya JK telah menjilat ludah yang telah
      dibuangnya, tidak konsisten dan tidak bisa dipercaya.
      Penulis tidak mengajak untuk berempati kepada Golkar, toh itu urusan
      Golkar sendiri. Hanya kita sebagai anak bangsa perlu melihat dan
      kritis dalam melihat perilaku calon pemimpin kita. JK selalu
      mengatakan bahwa ini adalah peluang dia untuk menjadi pemimpin
      nasional, karena telah dilamar SBY. Ya..memang ini peluang, tapi
      peluang ini diambil dengan mengkhianati sekian juta pengurus, kader
      dan konstituen P Golkar. Dan pengkhianatan ini telah mencoreng ide
      konvensi yang dianggap sebagai hal yang demokratis dan terbuka.
      Sangat nyata bahwa JK tidak peduli dengan etika dan moral berpolitik.
      Dalam hal ini, penulis ingin bertanya masih pantaskah seorang yang
      telah menghianati teman-teman seperjuangannya menjadi pemimpin negeri
      ini. Bahasa mudahnya, teman aja dipukul apalagi yang bukan teman…
      Di sisi lain, meski JK selalu mendeklarasikan keberpihakan kepada
      bangsa, jangan-jangan ketika sudah menjadi pemimpin, jiwa dan prinsip
      bisnisnya kambuh lagi. Karena peluang akan semakin besar, pengeluaran
      akan lebih sedikit dan hasil akan berlimpah…Jadi hati-hati dengan
      asset Anda, keluarga, bangsa dan negara ini. Siapa tau akan
      diambilnya juga…
      Amarta
      Koalisi masyarakat peduli politik rakyat
    • Show all 2 messages in this topic