Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

P#45: Sibuk Hingga Ke Ubun-Ubun

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    P#45: Sibuk Hingga Ke Ubun-Ubun   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   Kali ini, sibuk beneran. Bukan sibuk dari Hong Kong. Sudah berusaha disiplin soal waktu.
    Message 1 of 1 , Jan 13, 2013
      P#45: Sibuk
      Hingga Ke Ubun-Ubun
       
      Hore!
      Hari Baru, Teman-teman.
       
      Kali ini, sibuk beneran. Bukan
      sibuk dari Hong Kong. Sudah berusaha disiplin soal waktu. Sudah berusaha
      bekerja seefisien mungkin. Dan, sudah berusaha untuk fokus kepada tugas-tugas
      yang mesti diselesaikan tepat waktu. Tapi, memang pekerjaannya sangat banyak.
      Jadi, bagaimana pun gigihnya bekerja, tetap saja hari-hari kerja kita selalu
      dikejar-kejar oleh tugas demi tugas yang mengalir terus tanpa henti. Kita,
      benar-benar sibuk. Tidak dibuat-buat. Tidak berpura-pura. Dan tidak ada waktu
      yang disia-siakan. Bagaimana bisa menjaga perasaan tetap positif jika demikian?
       
      Dalam salah satu periode karir
      prosefesional saya, ada masa dimana saya memegang 3 jabatan berbeda. Bukan
      sementara waktu karena – misalnya – orang yang mestinya bertugas sedang cuti
      hamil 3 bulan. Bukan karena sedang merekrut professional, dan bukan juga
      sekedar sebuah test. Hampir setiap pagi saya tiba di kantor sebelum jam 7.
      Tidak berat sih kalo soal itu. Karena saya termasuk ‘orang pagi’. Terbiasa
      bangun subuh dan beraktivitas seawal mungkin. Jadi, soal itu tidak jadi
      masalah. Tapi kadang saya harus bekerja sampai larut malam. Bahkan, makan siang
      pun di pantry kantor. Saya tahu jika orang lain pun sangat sibuk di kantor
      kami. Tapi, mungkin orang lain tidak sesibuk itu. Pada awalnya, saya juga
      khawatir tidak bisa menjalaninya dengan baik. Namun ternyata, hal itu sangat
      mengasyikan. Tahukah Anda darimana saya mendapatkan energy dan semangat
      setinggi itu? Begini.
       
      Setiap kali pulang atau pergi dari
      kantor, saya melintasi sebuah jembatan layang. Jembatan itu melintasi jalan
      toll yang berada dibawahnya. Dikedua sisinya, jembatan itu dilengkapi dengan
      pembatas terbuat dari lempengan logam yang dianyam. Semacam jaring untuk
      menjaga keamanan para pelintasnya. Selain dinding jarring yang kokoh, jembatan
      itu dilengkapi dengan semacam trotoar. Meskipun jarang sekali ada orang yang menyeberang
      dengan berjalan kaki disitu. Sekalipun demikian, jembatan itu selalu ramai
      dengan sejumlah orang. Saya kira, tidak berlebihan jika saya mengatakan
      ‘selalu’. Karena, tidak peduli jam berapapun Anda melintas dijalan itu. Anda
      akan selalu menemukan sejumlah orang disitu. Termasuk, jika Anda pulang dari
      kantor jam satu pagi. Orang itu pun masih berasa disitu. Siapakah gerangan
      orang-orang itu?
       
      Daripada mencari identitas mereka,
      saya lebih tertarik dengan ‘apa yang mereka lakukan’ disitu. Rupanya, mereka menantikan
      ‘siapa tahu’ ada pekerjaan ‘melintas’ kesana. Ya. Mereka menantikan pekerjaan
      mendatangi mereka. Kadang-kadang, truk pasir berhenti disana jam sebelas malam.
      Lalu mengijinkan dua atau tiga orang naik, untuk kemudian menuju ke tempat
      pasir diangkut. Sementara orang-orang yang tidak kebagian pekerjaan itu, mesti
      menunggu truk lainnya datang. Itu pun, jika masih ada truk lainnya itu.
      Kadang-kadang. Mobil pribadi pun berhenti. Untuk memberikan pekerjaan
      membersihkan selokan didepan rumah. Atau pekerjaan apa saja yang bisa mereka
      lakukan dengan cangkul dan sekop.
       
      “Ini Jakarta lho…” begitulah saya
      membatin.
      Orang rela standby selama 24 jam
      dengan hanya duduk atau berbaring beralaskan kardus untuk menantikan pekerjaan
      melintas disana. Meski Jakarta panas, tapi kalau malam hari ya tetap dingin
      juga. Belum lagi dengan hembusan angin hasil terpaan mobil-mobil besar yang
      melintasi jalan tol dibawahnya. Mereka hanya menutupi tubuhnya dengan kain
      sarung. Jangan tanya lagi seperti apa keadaannya jika musim hujan seperti
      sekarang ini. Demi menantikan pekerjaan melintas disana, mereka rela melakukan
      apa pun yang tidak akan sanggup dilakukan oleh orang kantoran seperti kita.
       
      Orang kantoran, eh?
      Kursi empuk. Ruang ber-AC. Gaji
      bulanan yang sudah pasti. Pekerjaan yang sudah jelas. Namun. Masih mengeluhkan
      betapa pekerjaan ini tidak selesai-selesai sih!
       
      Saya tidak tahu apakah pekerjaan
      Anda sebanyak pekerjaan yang mesti saya selesaikan. Jam 12 malam, kadang saya
      masih berada di conference room untuk melakukan video conference dengan boss
      atau kolega yang berjarak 12 jam di belahan dunia lain. Atau, jam 11 malam boss
      saya kembali ke kantor untuk menanyakan ‘how is the progress?’ karena dia pun
      sedang ditunggu boss besarnya di New York. Hari sabtu tengah malam telepon saya
      berbunyi lalu suara diseberang terdengar ‘Dadang, could you give me a favor,
      please….?’ Saya tidak tahu apakah kesibukan Anda sampai seperti itu. Atau
      mungkin lebih dari itu. 
       
      Tapi. Saya menemukan di jembatan
      layang itu. Orang-orang yang merindukan pekerjaan sedemikian kangennya sehingga
      mereka rela menanti. Truk demi truk dengan penuh harap. Menatap langsung ke
      mata setiap pengemudi mobil pribadi; siapa tahu orang kaya yang melintas disitu
      punya masalah dengan selokan depan rumahnya yang mampet. Atau, sedang terganggu
      kenyamanan hidupnya dengan tumpukan sisa bongkaran rumah yang baru direnovasi.
      Apa saja deh. Yang penting ada pekerjaan. Karena setiap pekerjaan, berarti
      sesuap nasi.
       
      Saya?
      Punya begitu banyak pekerjaan.
      Mereka. Punya begitu banyak
      kerinduan terhadap pekerjaan.
      Menangis mereka dalam ketiadaan
      pekerjaan setiap hari yang mesti mereka alami.
      Kita? Bagaimana pun juga. Hidup
      kita dengan tumpukan pekerjaan yang saat ini tengah kita keluhkan itu
      jauuuuuuuuuh…. lebih baik dari pada kehidupan orang-orang yang mencari-cari
      pekerjaan.
       
      Itulah yang membuat energy saya
      ketika bekerja itu nyaris tidak pernah ada habis-habisnya. Kepada istri saya
      mengatakan;’izinkan saya untuk menguji sampai dimana batas tertinggi kemampuan
      saya dalam bekerja.’ Saya meminta izin kepadanya untuk mengeksplorasi, hingga
      dibatas mana kita bisa bekerja. Dan sungguh. Saya tidak menemukan batas itu.
      Sehingga hanya kesadaran bahwa tubuh kita punya hak sendiri untuk beristirahat.
      Sama seperti keluarga kita berhak untuk mendapatkan perhatian kita. Itulah yang
      menyebabkan saya pulang ke rumah. Untuk berangkat lagi dikeesokan paginya.
       
      Ini bukan tentang saya. Ini adalah
      tentang kita. Tentang orang-orang yang sudah memutuskan untuk memilih menjadi pekerja
      professional. Tentang sebuah penemuan bahwa; ketika kita menyadari betapa
      berharganya pekerjaan kita, maka kita tidak akan tega mengeluhkannya. Ketika
      kita menemukan betapa bernilainya pekerjaan kita, maka semakin banyak dia
      semakin bahagia kita. Maka jika Anda masih mengeluh tentang pekerjaan kita,
      barangkali; Anda perlu sesekali melintasi jembatan layang itu. Perhatikanlah.
      Dan renungkanlah. Sampai Anda temukan bahwa; diantara anugerah tertinggi yang
      Anda dapatkan dalam hidup adalah; pekerjaan yang saat ini Anda miliki.
       
      Jika dari perenungan itu saya
      menemukan tambahan energy yang tinggi untuk terus mengeksplorasi diri. Maka
      saya yakin Anda pun akan menemukan hal yang sama. Namun jika Anda belum
      menemukannya juga, izinkan saya menyampaikan sebuah resep rahasia lainnya.
      Resep itu adalah sebuah kalimat sederhana yang bunyinya begini; “….
      Setiap waktu, Dia dalam keadaan sibuk….” Demikianlah Tuhan
      menggambarkan dirinya sendiri dalam surah 55 (Ar-Rahman) ayat 29. Tuhan pun
      sibuk sekali. Lalu didalam ayat 30 berikutnya, Dia mengatakan “Maka
      nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak engkau ingkari?”
       
      Sahabatku. Saya paham benar jika
      Anda sangat sibuk. Sebab saya pernah berada dalam kesibukan seperti yang
      sekarang Anda alami. Orang lain pun. Mungkin ada yang tidak kalah sibuknya,
      atau bahkan lebih sibuk daripada kita. Melelahkan memang. Mengesalkan kadang.
      Menjengkelkan mungkin. Namun jika kita menyimak orang lain yang tidak punya
      pekerjaan itu. Dan jika kita merenungkan firman Tuhan itu. Maka kita akan
      menemukan bahwa kesibukan kita, merupakan salah satu nikmat tak ternilai.
      Karena dengan kesibukan itu. Kita. Bisa menjalani kesibukan bersama Tuhan.
      Bayangkan. Tuhan itu maha sibuk. Maka beruntunglah orang-orang yang sibuk.
      Karena orang sibuk yang hatinya dipenuhi cahaya Ilahi, tahu bahwa dia; berkerja
      bersama Tuhannya.  Jadi, meskipun sibuk
      hingga ke ubun-ubun; hatinya tetap saja bersih. Dan hari-harinya, tetap saja
      indah. Insya Allah ya. Cobain deh.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 14 Januari
      2013
      Leadership and Personnel Development
      Trainer
      0812 19899 737 or Ms. Vivi
      at 0812 1040 3327
      PIN BB DeKa : 2A495F1D
       
      Catatan
      Kaki:
      Kita mengeluhkan pekerjaan yang terlalu banyak hanya
      ketika kita tidak benar-benar menyadari betapa berharganya pekerjaan ini.
      Bagaimana pun juga, jauh lebih baik sibuk sekali daripada tidak memiliki
      pekerjaan.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman artikel “P
      (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
       
      Silakan di-share jika naskah ini Anda
      nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu.
      Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda
      tidak berkurang karenanya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Dare to invite Dadang to speak for your company? 
      Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.