Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

S#14: Hutang Yang Dibawa Pulang

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    S#14: Hutang Yang Dibawa Pulang   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   Take home pay. Uang hasil bekerja yang bisa kita bawa pulang. Nah, itu sedap sekali
    Message 1 of 1 , Jan 3, 2013
    View Source
    • 0 Attachment
      S#14: Hutang Yang Dibawa Pulang
       
      Hore!
      Hari
      Baru, Teman-teman.
       
      Take home pay. Uang hasil bekerja yang bisa kita bawa
      pulang. Nah, itu sedap sekali rasanya. Setelah bekerja, kita pulang dengan sejumlah
      uang. Bagaimana seandainya yang kita bawa pulang itu adalah hutang? Dijamin. Kepala
      bakal pusing tujuh keliling. Mumet bin rungsing. Jangan salah lho, makna pulang
      itu bisa pulang ke rumah milik keluarga kita. Bisa juga pulang ke rumah milik
      Sang Pencipta. Masa sih nyonya rumah tidak cemberut jika kita pulang hanya
      membawa hutang. Terus, apakah Sang Pemilik Rumah Keabadian akan menyambut
      dengan senyuman jika kita pulang menghadap kepadaNya dengan setumpuk hutang?
       
      Apa yang dikatakan oleh juru bicara keluarga ketika
      seseorang dimakamkan? Hampir bisa dipastikan jika juru bicara keluarga itu akan
      mengatakan begini;”Jika ada diantara hadirin yang masih mempunyai urusan hutang
      piutang dengan almarhum, dipersilakan untuk menghubungi kami. Keluarga akan
      menyelesaikan urusan hutang piutang itu dengan sebaik-baiknya…..”
       
      Tapi kemudian, bagaimana realitasnya?
      Jika yang meninggal itu adalah orang yang miskin, maka
      keluarganya tidak memiliki kesanggupan untuk membayar hutang almarhum. Boro-boro
      membayarkan hutang orang yang sudah meninggal. Untuk membiayai keluarganya yang
      masih hidup saja sudah kembang kempis. Walhasil, urusan hutang yang sudah dikatakan
      di pemakaman sederhana itu hanya tinggal santapan angin saja.
       
      Bagaimana jika yang meninggal itu adalah orang yang kaya
      raya?
      Kenyataannya, kebanyakan keluarga yang ditinggalkan dengan
      harta melimpah ruah pada sibuk dengan urusan pembagian harta peninggalan itu
      hingga lupa a.k.a pura-pura tidak ingat untuk membayar hutang almarhum. Boro-boro
      membayarkan hutang orang yang sudah meninggal. Untuk menjaga agar proses
      pembagian warisan itu agar berjalan damai saja butuh orang luar untuk
      menengahinya. Walhasil, urusan hutang yang sudah dipidatokan di pemakaman megah
      itu hanya tinggal kenangan masa lalu saja.
       
      Terus bagaimana dong? Apakah kita tidak boleh berhutang?
      Saya tidak pernah menemukan adanya larangan untuk berhutang.
      Namun, guru kehidupan saya pernah menyampaikan bahwa setiap selesai sholat, Rasulullah
      selalu memohon perlindungan kepada Allah dari hutang. Lantas seorang sahabat
      bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau sedemikian seringnya berlindung
      kepada Allah terhadap hutang?”
       
      Rasulullah pun menjawab; “Sungguh seseorang itu,” demikiansabda
      beliau“… kalau terlilit hutang, maka ketika berbicara dia berbohong. Dan ketika
      berjanji, dia kemudian mengingkarinya…..”
       
      Sahabat itu pun memahami, mengapa beliau menghindari
      hutang. Dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar tidak terjerat
      hutang. Karena hutang itu bisa menjadi benih dari berbagai macam konsekuensi
      dan tindak tanduk serta perilaku tak patut lainnya. Terlebih lagi, hutang mesti
      dipertanggungjawabkan sekalipun kita sudah meninggal dunia.
       
      Jadi, kita tidak boleh berhutang nih?
      Tidak ada yang melarang untuk berhutang. Yang ada adalah
      tuntunan Ilahi terntang berhutang. Tuhan tidak ingin seorang hamba pulang ke
      rumahNya dengan membawa hutang. Maka tantangannya adalah; bagaimana caranya
      kita bisa melunasi seluruh hutang itu. Mungkin ada yang berhutang kepada bank.
      Berhutang kepada lembaga pembiayaan. Berhutang kepada kartu kredit. Berhutang
      kepada seseorang atau beberapa orang. Seperti dalam doa yang diajarkan
      Rasulullah; “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari hutang….”
       
      Saya pribadi pun termasuk takut membawa hutang-hutang saya
      pulang. Oleh karenanya,  setiap kali
      menandatangai struk transaksi dengan kartu kredit saya memanjatkan doa ini;”Ya
      Allah, aku memohon perlindungan kepada Engkau dari hutang yang tidak bisa
      kubayar…..” Lalu saya tandatangani struk itu dengan terlebih dahulu membaca bismillah.
      Berniat penuh saya, untuk membayarnya hingga lunas. Semoga Allah berkenan
      mengabulkannya.
       
      Untuk menguatkan contoh bagi para sahabatnya, Rasulullah
      memilih untuk tinggal di rumah sederhana saja. Meskipun beliau terkenal sebagai
      seorang saudagar yang handal. Kita? Sering bersikap sebaliknya. Malu rasanya
      jika teman-teman kuliah berkunjung ke rumah kita, karena rumah mereka lebih
      besar dari rumah kita. Malu rasanya untuk datang ke acara reuni karena mobil
      kita kalah baru dibandingkan mobil kolega-kolega kita. Dan, kita pun diam-diam suka
      meremehkan orang yang kurang glamor. Misalnya, dalam hati kita mengatakan; “Oh,
      merek mobilnya cuman yang itu……” Tidak peduli jika semua keglamoran yang kita
      dapatkan itu sebenarnya sebuah beban bernama hutang. Kita pun saling berlomba
      untuk berhutang atas hal-hal yang tidak benar-benar perlu.
       
      Banyak contoh buruk lainnya yang kita saksikan dalam hidup.
      Misalnya contoh dari orang-orang yang melarikan diri dari hutang. Bahkan
      sengaja berhutang untuk kemudian mengemplang. Oh, betapa ruginya jika kita
      meniru sifat seperti itu. Rugi di dunia karena sepeninggal kita, boleh jadi
      kelak bank akan menyita rumah kita. Melelang mobil kita. Mengambil alih tanah
      kita. Sehingga anak dan istri kita yang terbiasa hidup serba berkecukupan itu
      hanya bisa gigit jari saja. Karena ternyata, harta dan kepemilikan kita itu
      semu belaka. Nama baik kita? Tidak mungkin lagi bisa terjaga jika dipagar rumah
      yang kita tinggalkan itu terpampang sebuah plang. Di plang itu tertulis begini “Rumah
      Ini Dalam Sengketa Karena Mantan Pemiliknya Mengemplang Hutang!”
       
      Kita pun mengenal nama-nama pesohor kaya raya yang menjadi
      buruan Interpol gara-gara mereka melarikan diri dari kewajiban membayar hutang,
      bukan? Jika kita meniru sifat mereka, maka di akhirat kita akan lebih rugi
      lagi. Kenapa? Karena setiap hutang didunia yang tidak kita bayar itu pada
      akhirnya akan kita bawa pulang. Bagaimana Anda bisa begitu yakinnya pintu rumah
      Tuhan mau terbuka jika kita pulang dengan setumpuk hutang yang sengaja kita
      kemplang? Anda tidak akan nyaman menerima seseorang yang terkenal punya banyak
      hutang ketika dia bertamu ke rumah Anda kan? Jangan-jangan, Tuhan pun malu
      menerima kita sebagai tamu di rumahNya.
       
      Bukan tidak boleh berhutang. Namun, kita mesti punya niat
      yang kuat. Dan usaha yang sungguh-sungguh. Untuk membayarnya. Sehingga hutang
      itu tidak kita bawa pulang. Karena tanpa niat untuk membayarnya, maka
      hutang-hutang kita itu sudah pasti tidak akan terbayarkan. Orang mungkin bisa melarikan
      diri. Atau bisa menyamar. Hanya karena tidak mau membayar hutangnya. Itu urusan
      orang lain. Kita? Harus betekad dan berupaya agar semua hutang kita terbayar.
      Supaya ketika kita pulang ke rumah Allah, kita boleh mengatakan;”Terimakasih
      Tuhan, telah Engkau cukupkan rezekiku. Hingga aku tidak meninggalkan sepeserpun
      hutang dibelakangku…..” Semoga. Kita bisa berkata demikian.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 4 Januari
      2013
      Leadership, Career and
      People Develompent Trainer
      Call 0812 19899 737 or PIN BB DeKa : 2A495F1D
       
      Catatan Kaki:
      Setiap hutang yang kita kemplang akan menjadi pengurang
      pahala-pahala yang kita bawa pulang.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman “S(=Spiritualism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
       
      Silakan di-share jika naskah ini Anda
      nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu.
      Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda
      tidak berkurang karenanya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Dare to invite Dadang to speak for your company? 
      Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.