Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

P#34: Kaya Beneran

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    P#34: Kaya Beneran   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   “Siapa yang ingin kaya, angkat tangan!?!” Misalkan saja seseorang berteriak seperti itu di sebuah
    Message 1 of 3 , Nov 27, 2012
    • 0 Attachment
      P#34: Kaya Beneran
       
      Hore!
      Hari Baru, Teman-teman.
       
      “Siapa yang ingin kaya, angkat tangan!?!” Misalkan
      saja seseorang berteriak seperti itu di sebuah forum yang Anda ikuti, apakah
      Anda akan ikut angkat tangan? Mungkin ya. Mungkin juga tidak. Jika Anda tidak
      ikutan mengangkat tangan, apakah itu artinya Anda tidak ingin kaya? Saya yakin,
      Anda – seperti halnya saya – ingin kaya; sekalipun Anda tidak ikut-ikutan mengangkat
      tangan. Kenapa saya yakin? Karena saya pun belum tentu mau mengangkat tangan
      jika seseorang memerintahkan itu kepada saya. Walaupun saya mendapatkan ‘imbalan’
      berupa pernyataan ini;”Gimana mau kaya, ngangkat tangan saja tidak mau!”.  Sekarang saya semakin sadar, bahwa bagi
      beberapa orang; urusan menjadi kaya ini merupakan urusan pribadi. Dan saya
      sendiri bukan sekedar ingin menjadi orang kaya, melainkan menjadi orang ‘kaya
      beneran’. Lho, memangnya ada orang yang kaya abal-abal?
       
      Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke rumah orang
      tua saya dikampung. Dengan Ayah, biasanya saya ngobrol soal politik dan tanaman
      sayuran di kebun Ayah. Dengan Ibu, biasanya saya bicara soal ‘gosip’ yang
      sedang menghangat di kampung kami seperti proses pemilihan lurah, atau
      pendataan lansia, atau soal Pendidikan Anak Usia Dini dimana Ibu saya ikut
      mengelolanya. Namanya gossip, seru banget. Salah satunya soal penggebukkan
      seorang warga pendatang di kampung kami. Barbar? Tidak usah buru-buru memvonis
      dulu. Peristiwa itu terjadi bukan tanpa sebab. Konon lelaki perlente itu
      menikahi salah seorang gadis di kampung kami. Jadi sekarang dia sudah menjadi
      bagian dari warga kami. Yang menjadi masalah adalah; ‘ternyata keadaan sebenarnya
      orang itu tidak seperti yang diperlihatkannya ketika sebelum menikah’.
       
      Setiap kali berkunjung ke rumah pacarnya, lelaki
      itu selalu mengendarai mobil mewah. Bukan sekedar mewah. Bahkan berganti-ganti.
      Orangnya royal. Dan pakaiannya menjadikan dirinya sebagai lelaki yang ‘charming’.
      Begitu menikah, tiba-tiba saja semuanya berubah. Mobil dan semua kemewahan itu
      tidak pernah lagi menemani kehadirannya. Maka ketika keluarga dan kerabat gadis
      itu menyadari telah dibohongi, terjadilah peristiwa itu.
       
      Gosip itu hanya contoh kecil, betapa kita mudah
      terpesona oleh penampilan dan tongkrongan seseorang. Kalau soal ganti-ganti
      gadget sih, sudah tidak terlalu wah lagi kali ya. Pembantu saya juga gadgetnya
      lebih bagus dari milik saya. Kita, selalu terpesona pada kekayaan yang massif. Misalnya,
      kepada seseorang yang rumahnya besar, megah dan mewah; maka kita menyebutnya
      orang kaya. Bila orang itu punya berbagai macam mobil keren lengkap dengan plat
      nomor khusus 3 huruf sesuai inisial namanya; maka kita pun menyebutnya orang
      kaya sekali. Kalau orang itu juga mengenakan gelang atau kalung emas segede tali
      tambang galangan kapal, kita langsung terkesima sembari berkata dalam hati; “Gile,
      gelangnya gede banget…….” Dia orang yang kaya Bang-Gets!
       
      Sudah kayakah orang yang kita lihat itu? Jelas.
      Mereka kaya sekali. Jika mereka tidak kaya, bagaimana mungkin bisa hidup dalam
      gelimang kemewahan seperti itu, kan? Coba sekarang bandingkan dengan diri kita
      sendiri. Halah, rasanya kok seperti jarak antara langit dan bumi. Rumah biasa
      saja. Masih kreditan pula. Boro-boro renovasi. Membayar cicilan bulannya saja
      masih sering sambil mengurut dada segala. Mobil satu-satunya pun sudah lumayan
      berumur. Kalau baru juga tidak termasuk mewah. Meskipun masih bau dealer, tapi
      juga masih agak minder kalau pas reuni dengan teman-teman kuliahan. Mereknya,
      nggak benafid banget. Jangan lupa juga, itu pun statusnya fasilitas kantor. Jelas
      jika kita kalah kaya dibandingkan teman-teman yang berumah besar, bermobil
      banyak, dan berpenampilan necis itu. Tetapi, apakah mereka benar-benar kaya?
      Nah, kalau soal ini; kita tidak tahu persis.
       
      Sungguh, saya masih sering merindukan untuk menjadi
      orang kaya. Anda juga kan? Sebaiknya begitu, kecuali Anda sudah menjadi orang
      kaya. Kaya beneran itu tadi. Dan setiap kali saya melintasi rumah megah yang
      besarnya minta ampun, saya selalu berbisik dalam hati;”orang ini kerjanya apa
      sih kok bisa punya rumah segede gini…?”
       
      Setiap kali mobil kelas menengah saya ini disalip
      oleh mobil sport mewah yang berpelat khusus saya bertanya-tanya;”Gimana sih
      cara orang itu menghasilkan uang sampai bisa punya mobil sebagus itu?” Cemburu
      saya. Sambil sesekali gigit jari karena baru bisa bermimpi.
       
      Namun gossip bersama Ibu saya itu menyadarkan saya
      kembali, bahwa menjadi kaya; itu bukan tujuan saya. Karena tujuan saya – yang sampai
      sekarang masih belum terwujud –  adalah;
      menjadi orang yang kaya beneran. Seperti apa sih yang kaya beneran itu?
       
      Mungkin Anda bisa memberikan definisi dan
      penjelasan masing-masing. Kalau saya, hanya akan bisa menunjukkan beberapa
      fenomena berikut ini. Pertama, di televisi kita sering melihat selebriti yang
      kaya sekali dengan kehidupannya yang glamor. Beberapa bulan kemudian, selebriti
      itu muncul di headline berita tentang penipuan miliaran rupiah yang
      dilakukannya. Orang glamor seperti itu, mungkin kaya. Tapi bukan kaya beneran.
       
      Kedua, ada lelaki flamboyant yang perlente.
      Mengendarai mobil eropa yang langka. Gemar mentraktir disana-sini – khususnya
      bagi para perempuan cantik. Tentu, sambil meletakkan kunci mobil diatas meja
      makan. Melalui smart phone canggihnya dia rajin mengirimkan kata-kata mutiara
      yang indah seperti ‘kamu cantik’, ‘sedang apa sayang,’ ‘aku kengen,’ dan lantunan
      buaian indah ala pujangga lainnya. Tidak peduli, jika perempuan-perempuan itu
      sudah pada punya suami. Para lelaki lain yang tidak sanggup menyaingi
      keflamboyanannya hanya bisa ngiri dari kejauhan. Tetapi, ada satu lelaki
      ditempat tinggalnya yang tidak iri kepada orang itu. Dia adalah Pak Ketua RT.
      Tahu kenapa? Karena Pak Ketua RT itulah yang memberi keterangan ketika para
      debt kolektor bank hendak melakukan penagihan atas hutang-hutangnya yang
      dikemplang. Apakah sang cassanova itu orang kaya? Mungkin. Tapi kaya beneran? Hmmh…
       
      Ketiga. Ada begitu banyak berita dan fenomena nyata
      yang sampai kehadapan kita tentang orang-orang yang kehidupan dunianya serba
      wah dan mewah. Bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Dijadikan acuan
      dan panutan oleh para pemimpi yang baru bisa ngiler seperti kita. Namun ketika
      orang-orang itu meninggal, mendadak saja; mobilnya disita bank. Rumahnya
      disegel orang. Rekening banknya dibekukan. Mereka kaya? Benar. Mereka kaya. Dan
      telah menikmati hidup sebagai orang kaya. Namun apakah mereka kaya beneran?
       
      Semua fenomena itu seolah sengaja dipampangkan
      dihadapan mata kita, supaya kita tidak lagi sekedar bercita-cita untuk menjadi
      orang kaya. Banyak cara untuk menjadi kaya. Mau pilih yang mana? Bahkan
      seminarnya pun ada. Dan selalu dihadiri oleh  peminat yang membludak. Kita, bisa dengan
      mudah mendapatkan nasihat dari banyak pakar untuk mendapatkan kekayaan. Begini.
      Begitu. Begono. Tapi masih sangat sedikit sekali nasihat untuk menjadi orang
      kaya beneran. Karenanya, untuk sementara ini kita mesti rajin-rajin
      mengingatkan diri sendiri mengenai koridor dan rambu-rambunya.
       
      Meskipun sedikit. Dan jarang diutarakan
      diruang-ruang seminar maupun kantor-kantor konsultan perburuan kekayaan. Namun
      ada sebuah nasihat yang sangat berharga sekali untuk dipahami dan dipegang
      teguh oleh para perindu kekayaan seperti kita ini. Nasihat itu berbunyi begini;” “…tentang
      hartanya – seorang hamba akan ditanya – darimana dia mendapatkannya, dan untuk
      apakah dia menggunakannya….” Nasihat ini, datangnya bukan dari
      konsultan kekayaan, melainkan dari Rasulullah solallahu ‘alihi wasallam.
       
      “Halah, itu kan soal akhirat. Masih jauuuuuh!”
      mungkin kita berpendapat demikian. Keliru. Lihatlah. Hukum manusia pun zaman
      sekarang sudah mensyaratkan laporan kekayaan untuk orang-orang yang ingin menduduki
      jabatan tertentu. Akhirat, mungkin masih jauh. Tapi tanda-tanda kebenarannya
      sudah semakin kelihatan didunia yang kita huni ini. Maka dari itu sahabatku,
      mari kita bercita-cita untuk menjadi orang kaya yang beneran.
       
      Yaitu, orang kaya yang tidak malu dan tidak perlu
      menyembunyikan jawaban ketika ditanya; “Dari manakah harta yang engkau miliki itu
      didapatkan……?” Kita, bisa menjawabnya dengan hati tenteram. Jika untuk mendapatkan
      setiap rupiah yang kita miliki ini, kita hanya melakukan cara-cara dan metoda-metoda
      yang Tuhan sukai.  
       
      Yaitu, orang kaya yang tidak malu dan tidak perlu
      menyembunyikan jawaban ketika ditanya; “Untuk apakah harta yang engkau miliki itu
      digunakan……?” Kita, bisa menjawabnya dengan jiwa yang lapang. Jika setiap
      rupiah yang kita miliki ini, digunakan hanya untuk membeli dan membiayai hal-hal
      yang Tuhan ridoi.  Jadi, masihkah Anda
      ingin menjadi orang kaya? Atau sekarang, Anda sudah ingin menjadi orang kaya
      beneran? Semoga Allah, menunjukkan jalannya. Dan menguatkan kita untuk
      meraihnya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 28 November
      2012
      Leadership and Personnel Development
      Trainer
      0812 19899 737 or Ms. Vivi
      at 0812 1040 3327
       
      Catatan
      Kaki:
      Tidak usah silau dengan kekayaan orang lain. Karena kita,
      tidak pernah tahu siapa sesungguhnya sang pemilik kekayaan itu.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
       
      Silakan di-share jika naskah ini Anda
      nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu.
      Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda
      tidak berkurang karenanya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Wanna get in touch with Dadang? 
      Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    • vicktor sk (mistervicks)
      tks pak dadang ... -- salam banyak teman banyak rejeki VICKS always on the right track www.mistervicks.com (kedai kopi online) www.mistervicks.co.cc
      Message 2 of 3 , Nov 27, 2012
      • 0 Attachment
        tks pak dadang

        On 11/28/12, Dadang Kadarusman <dkadarusman@...> wrote:
        >
        >
        > P#34: Kaya Beneran
        >
        > Hore!
        > Hari Baru, Teman-teman.
        >
        > “Siapa yang ingin kaya, angkat tangan!?!” Misalkan
        > saja seseorang berteriak seperti itu di sebuah forum yang Anda ikuti,
        > apakah
        > Anda akan ikut angkat tangan? Mungkin ya. Mungkin juga tidak. Jika Anda
        > tidak
        > ikutan mengangkat tangan, apakah itu artinya Anda tidak ingin kaya? Saya
        > yakin,
        > Anda – seperti halnya saya – ingin kaya; sekalipun Anda tidak ikut-ikutan
        > mengangkat
        > tangan. Kenapa saya yakin? Karena saya pun belum tentu mau mengangkat
        > tangan
        > jika seseorang memerintahkan itu kepada saya. Walaupun saya mendapatkan
        > ‘imbalan’
        > berupa pernyataan ini;”Gimana mau kaya, ngangkat tangan saja tidak mau!”.
        >  Sekarang saya semakin sadar, bahwa bagi
        > beberapa orang; urusan menjadi kaya ini merupakan urusan pribadi. Dan saya
        > sendiri bukan sekedar ingin menjadi orang kaya, melainkan menjadi orang
        > ‘kaya
        > beneran’. Lho, memangnya ada orang yang kaya abal-abal?
        >
        > Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke rumah orang
        > tua saya dikampung. Dengan Ayah, biasanya saya ngobrol soal politik dan
        > tanaman
        > sayuran di kebun Ayah. Dengan Ibu, biasanya saya bicara soal ‘gosip’ yang
        > sedang menghangat di kampung kami seperti proses pemilihan lurah, atau
        > pendataan lansia, atau soal Pendidikan Anak Usia Dini dimana Ibu saya ikut
        > mengelolanya. Namanya gossip, seru banget. Salah satunya soal penggebukkan
        > seorang warga pendatang di kampung kami. Barbar? Tidak usah buru-buru
        > memvonis
        > dulu. Peristiwa itu terjadi bukan tanpa sebab. Konon lelaki perlente itu
        > menikahi salah seorang gadis di kampung kami. Jadi sekarang dia sudah
        > menjadi
        > bagian dari warga kami. Yang menjadi masalah adalah; ‘ternyata keadaan
        > sebenarnya
        > orang itu tidak seperti yang diperlihatkannya ketika sebelum menikah’.
        >
        > Setiap kali berkunjung ke rumah pacarnya, lelaki
        > itu selalu mengendarai mobil mewah. Bukan sekedar mewah. Bahkan
        > berganti-ganti.
        > Orangnya royal. Dan pakaiannya menjadikan dirinya sebagai lelaki yang
        > ‘charming’.
        > Begitu menikah, tiba-tiba saja semuanya berubah. Mobil dan semua kemewahan
        > itu
        > tidak pernah lagi menemani kehadirannya. Maka ketika keluarga dan kerabat
        > gadis
        > itu menyadari telah dibohongi, terjadilah peristiwa itu.
        >
        > Gosip itu hanya contoh kecil, betapa kita mudah
        > terpesona oleh penampilan dan tongkrongan seseorang. Kalau soal ganti-ganti
        > gadget sih, sudah tidak terlalu wah lagi kali ya. Pembantu saya juga
        > gadgetnya
        > lebih bagus dari milik saya. Kita, selalu terpesona pada kekayaan yang
        > massif. Misalnya,
        > kepada seseorang yang rumahnya besar, megah dan mewah; maka kita
        > menyebutnya
        > orang kaya. Bila orang itu punya berbagai macam mobil keren lengkap dengan
        > plat
        > nomor khusus 3 huruf sesuai inisial namanya; maka kita pun menyebutnya
        > orang
        > kaya sekali. Kalau orang itu juga mengenakan gelang atau kalung emas segede
        > tali
        > tambang galangan kapal, kita langsung terkesima sembari berkata dalam hati;
        > “Gile,
        > gelangnya gede banget…….” Dia orang yang kaya Bang-Gets!
        >
        > Sudah kayakah orang yang kita lihat itu? Jelas.
        > Mereka kaya sekali. Jika mereka tidak kaya, bagaimana mungkin bisa hidup
        > dalam
        > gelimang kemewahan seperti itu, kan? Coba sekarang bandingkan dengan diri
        > kita
        > sendiri. Halah, rasanya kok seperti jarak antara langit dan bumi. Rumah
        > biasa
        > saja. Masih kreditan pula. Boro-boro renovasi. Membayar cicilan bulannya
        > saja
        > masih sering sambil mengurut dada segala. Mobil satu-satunya pun sudah
        > lumayan
        > berumur. Kalau baru juga tidak termasuk mewah. Meskipun masih bau dealer,
        > tapi
        > juga masih agak minder kalau pas reuni dengan teman-teman kuliahan.
        > Mereknya,
        > nggak benafid banget. Jangan lupa juga, itu pun statusnya fasilitas kantor.
        > Jelas
        > jika kita kalah kaya dibandingkan teman-teman yang berumah besar, bermobil
        > banyak, dan berpenampilan necis itu. Tetapi, apakah mereka benar-benar
        > kaya?
        > Nah, kalau soal ini; kita tidak tahu persis.
        >
        > Sungguh, saya masih sering merindukan untuk menjadi
        > orang kaya. Anda juga kan? Sebaiknya begitu, kecuali Anda sudah menjadi
        > orang
        > kaya. Kaya beneran itu tadi. Dan setiap kali saya melintasi rumah megah
        > yang
        > besarnya minta ampun, saya selalu berbisik dalam hati;”orang ini kerjanya
        > apa
        > sih kok bisa punya rumah segede gini…?”
        >
        > Setiap kali mobil kelas menengah saya ini disalip
        > oleh mobil sport mewah yang berpelat khusus saya bertanya-tanya;”Gimana sih
        > cara orang itu menghasilkan uang sampai bisa punya mobil sebagus itu?”
        > Cemburu
        > saya. Sambil sesekali gigit jari karena baru bisa bermimpi.
        >
        > Namun gossip bersama Ibu saya itu menyadarkan saya
        > kembali, bahwa menjadi kaya; itu bukan tujuan saya. Karena tujuan saya –
        > yang sampai
        > sekarang masih belum terwujud –  adalah;
        > menjadi orang yang kaya beneran. Seperti apa sih yang kaya beneran itu?
        >
        > Mungkin Anda bisa memberikan definisi dan
        > penjelasan masing-masing. Kalau saya, hanya akan bisa menunjukkan beberapa
        > fenomena berikut ini. Pertama, di televisi kita sering melihat selebriti
        > yang
        > kaya sekali dengan kehidupannya yang glamor. Beberapa bulan kemudian,
        > selebriti
        > itu muncul di headline berita tentang penipuan miliaran rupiah yang
        > dilakukannya. Orang glamor seperti itu, mungkin kaya. Tapi bukan kaya
        > beneran.
        >
        > Kedua, ada lelaki flamboyant yang perlente.
        > Mengendarai mobil eropa yang langka. Gemar mentraktir disana-sini –
        > khususnya
        > bagi para perempuan cantik. Tentu, sambil meletakkan kunci mobil diatas
        > meja
        > makan. Melalui smart phone canggihnya dia rajin mengirimkan kata-kata
        > mutiara
        > yang indah seperti ‘kamu cantik’, ‘sedang apa sayang,’ ‘aku kengen,’ dan
        > lantunan
        > buaian indah ala pujangga lainnya. Tidak peduli, jika perempuan-perempuan
        > itu
        > sudah pada punya suami. Para lelaki lain yang tidak sanggup menyaingi
        > keflamboyanannya hanya bisa ngiri dari kejauhan. Tetapi, ada satu lelaki
        > ditempat tinggalnya yang tidak iri kepada orang itu. Dia adalah Pak Ketua
        > RT.
        > Tahu kenapa? Karena Pak Ketua RT itulah yang memberi keterangan ketika para
        > debt kolektor bank hendak melakukan penagihan atas hutang-hutangnya yang
        > dikemplang. Apakah sang cassanova itu orang kaya? Mungkin. Tapi kaya
        > beneran? Hmmh…
        >
        > Ketiga. Ada begitu banyak berita dan fenomena nyata
        > yang sampai kehadapan kita tentang orang-orang yang kehidupan dunianya
        > serba
        > wah dan mewah. Bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Dijadikan
        > acuan
        > dan panutan oleh para pemimpi yang baru bisa ngiler seperti kita. Namun
        > ketika
        > orang-orang itu meninggal, mendadak saja; mobilnya disita bank. Rumahnya
        > disegel orang. Rekening banknya dibekukan. Mereka kaya? Benar. Mereka kaya.
        > Dan
        > telah menikmati hidup sebagai orang kaya. Namun apakah mereka kaya beneran?
        >
        > Semua fenomena itu seolah sengaja dipampangkan
        > dihadapan mata kita, supaya kita tidak lagi sekedar bercita-cita untuk
        > menjadi
        > orang kaya. Banyak cara untuk menjadi kaya. Mau pilih yang mana? Bahkan
        > seminarnya pun ada. Dan selalu dihadiri oleh  peminat yang membludak. Kita,
        > bisa dengan
        > mudah mendapatkan nasihat dari banyak pakar untuk mendapatkan kekayaan.
        > Begini.
        > Begitu. Begono. Tapi masih sangat sedikit sekali nasihat untuk menjadi
        > orang
        > kaya beneran. Karenanya, untuk sementara ini kita mesti rajin-rajin
        > mengingatkan diri sendiri mengenai koridor dan rambu-rambunya.
        >
        > Meskipun sedikit. Dan jarang diutarakan
        > diruang-ruang seminar maupun kantor-kantor konsultan perburuan kekayaan.
        > Namun
        > ada sebuah nasihat yang sangat berharga sekali untuk dipahami dan dipegang
        > teguh oleh para perindu kekayaan seperti kita ini. Nasihat itu berbunyi
        > begini;” “…tentang
        > hartanya – seorang hamba akan ditanya – darimana dia mendapatkannya, dan
        > untuk
        > apakah dia menggunakannya….” Nasihat ini, datangnya bukan dari
        > konsultan kekayaan, melainkan dari Rasulullah solallahu ‘alihi wasallam.
        >
        > “Halah, itu kan soal akhirat. Masih jauuuuuh!”
        > mungkin kita berpendapat demikian. Keliru. Lihatlah. Hukum manusia pun
        > zaman
        > sekarang sudah mensyaratkan laporan kekayaan untuk orang-orang yang ingin
        > menduduki
        > jabatan tertentu. Akhirat, mungkin masih jauh. Tapi tanda-tanda
        > kebenarannya
        > sudah semakin kelihatan didunia yang kita huni ini. Maka dari itu
        > sahabatku,
        > mari kita bercita-cita untuk menjadi orang kaya yang beneran.
        >
        > Yaitu, orang kaya yang tidak malu dan tidak perlu
        > menyembunyikan jawaban ketika ditanya; “Dari manakah harta yang engkau
        > miliki itu
        > didapatkan……?” Kita, bisa menjawabnya dengan hati tenteram. Jika untuk
        > mendapatkan
        > setiap rupiah yang kita miliki ini, kita hanya melakukan cara-cara dan
        > metoda-metoda
        > yang Tuhan sukai.
        >
        > Yaitu, orang kaya yang tidak malu dan tidak perlu
        > menyembunyikan jawaban ketika ditanya; “Untuk apakah harta yang engkau
        > miliki itu
        > digunakan……?” Kita, bisa menjawabnya dengan jiwa yang lapang. Jika setiap
        > rupiah yang kita miliki ini, digunakan hanya untuk membeli dan membiayai
        > hal-hal
        > yang Tuhan ridoi.  Jadi, masihkah Anda
        > ingin menjadi orang kaya? Atau sekarang, Anda sudah ingin menjadi orang
        > kaya
        > beneran? Semoga Allah, menunjukkan jalannya. Dan menguatkan kita untuk
        > meraihnya.
        >
        > Salam hormat,
        > Mari Berbagi
        > Semangat!
        > DEKA – Dadang
        > Kadarusman – 28 November
        > 2012
        > Leadership and Personnel Development
        > Trainer
        > 0812 19899 737 or Ms. Vivi
        > at 0812 1040 3327
        >
        > Catatan
        > Kaki:
        > Tidak usah silau dengan kekayaan orang lain. Karena kita,
        > tidak pernah tahu siapa sesungguhnya sang pemilik kekayaan itu.
        >
        > Ingin
        > mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari
        > Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di
        > http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
        >
        > Silakan di-share jika naskah ini Anda
        > nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu.
        > Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda
        > tidak berkurang karenanya.
        >
        > Salam hormat,
        > Mari Berbagi Semangat!
        > DEKA - Dadang Kadarusman
        > www.dadangkadarusman.com
        > Wanna get in touch with Dadang?
        > Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327
        >
        > [Non-text portions of this message have been removed]
        >
        >


        --
        salam
        banyak teman banyak rejeki
        VICKS
        always on the "right" track

        www.mistervicks.com (kedai kopi online)
        www.mistervicks.co.cc (personal blog)
        www.ratuintan.blogspot.com (wisata pantai)
        www.facebook.com/mistervicks
        www.twitter.com/mistervicks
      • Parlin
        -- -- -- -- -- regards, parlin http://labbahasa.co.id http://mesinantrian.net http://laboratoriumbahasa.co.id http://sistemantrian.com http://rekavisitama.com
        Message 3 of 3 , Dec 3, 2012
        • 0 Attachment
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.