Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

P#33: Kelebihan Seorang Pemula

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    P#33: Kelebihan Seorang Pemula   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   Sudah berapa lama Anda bekerja? Tentu Anda sudah menjadi ahli dalam profesi yang Anda
    Message 1 of 1 , Nov 25, 2012
    View Source
    • 0 Attachment
      P#33: Kelebihan Seorang Pemula
       
      Hore!
      Hari Baru, Teman-teman.
       
      Sudah berapa lama Anda bekerja? Tentu Anda sudah
      menjadi ahli dalam profesi yang Anda jalani. Tidak diragukan lagi jika keahlian
      Anda itu menjadi kelebihan, sekaligus faktor keunggulan Anda. Wajar. Jika semakin
      lama kita bekerja, semakin meningkat keahlian, keterampilan, maupun pengalaman
      kita. Wajar juga, jika dengan semua kelbihan itu kita bisa mendapatkan bayaran
      yang lebih tinggi. Namun, ada kelemahan kronis yang sering dimiliki oleh para profesional
      berpengalaman seperti kita. Apakah itu? Antusiasme. Untuk soal yang satu ini,
      kita sering kalah jauh dibandingkan dengan para pemula. Makanya, dengan
      segudang pengalaman itu; kita sering cepat loyo. Cepat mengeluh. Dan cepat
      melemah. Setiap kali menghadapi situasi yang kurang menyenangkan di tempat
      kerja; kita, menjelma menjadi professional handal yang lembek. Tidak seperti
      para pemula yang selalu menggelora itu. Ataukah Anda masih antusias seperti
      mereka?
       
      Ijinkan saya menceritakan sebuah kisah nyata.
      Tentang seorang karyawan yang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan
      besar. Perusahaannya yang besar. Kalau gajinya sih, pas saja. Maksudnya;
      pas-pasan saja. Pas untuk membayar kontrakan, pas untuk makan sehari-hari. Pas
      untuk membayar ongkos naik bis. Tidak ada lagi yang bersisa. Memang hanya itu
      yang bisa dijangkaunya dengan gaji bulanan yang diterimanya. Tetapi dalam
      keserba ‘pas’-an itu sang karyawan baru seneng saja menjalani pekerjaannya.
      Setiap hari, dia bangun pagi-pagi sekali. Bergegas mandi, lalu segera pergi
      menaiki  metro mini yang sejalur dengan
      arah kantornya. Bukan hanya berusaha supaya bisa datang di kantor sebelum jam
      delapan, dia bahkan menjadi orang yang datang paling pagi. Anda boleh
      memberinya nama Mr. A.
       
      Selain Mr. A ada juga Mr. B. Beliau ini sudah punya
      pengalaman kerja yang banyak. Bahkan sekarang gajinya hampir 10 kali lipat Mr. A.
      Tentu sudah tidak termasuk pas-pasan lagi. Sudah lebih dari cukup untuk
      menjalani hidup. Adapun soal keluhan-keluhannya mengenai gaji yang tidak pernah
      cukup, itu disebabkan karena dia sendiri yang gemar bergonta ganti gadget.
      Setiap kali ada yang baru, dia menukarnya meskipun sebenarnya gadget yang dia
      punya juga masih tergolong baru. Tak ragu dia menggunakan kartu kreditnya untuk
      mencicil ini dan itu. Jadi, tidak bisa menyalahkan perusahaan jika gajinya
      tidak kunjung bersisa. Toh perusahaan sudah membayarnya dengan harga yang
      pantas. Anehnya, dengan bayaran yang tinggi itu dia masih suka mengomelkan pekerjaannya.
      Setiap hari, dia bangun santai saja. Lalu, menyalahkan kemacetan di jalanan
      sebagai biang keladi keterlambatannya tiba di kantor.
      Mr. A sekarang sudah mencicil motor. Mr. B sekarang
      sudah mendaptkan mobil dari kantor. Dengan sepeda motor cicilannya Mr. A bisa
      menghemat pengeluaran karena naik angkutan umum bisa menghabiskan biaya tiga
      kali lipat dibandingkan membeli bensin satu tengki untuk 3 hari. Dan dia
      semakin bersemangat saja pergi ke kantor, karena sekarang dia bisa punya sisa
      dari gaji. Sekaligus bisa mengefektifkan waktu perjalanan sehingga sekarang,
      dia tiba dikantor lebih pagi lagi. Sedangkan Mr. B semakin sering terjebak
      kemacetan. Sehingga semakin sering lagi terlambat datang ke kantor. Mr. A,
      tidak pernah terlambat karena dia sadar bahwa sebagai seorang pegawai kecil;
      dia harus menunjukkan kesungguhan. Dan dia bersyukur, perusahaan mau
      menerimanya bekerja disana. Sedangkan Mr B, tahu betul kalau dirinya adalah
      orang yang penting bagi perusahaan. Sehingga saking pentingnya, perusahaan
      tidak akan bisa menegurnya. Dia menganggap bahwa perusahaan beruntung punya
      karyawan seperti dirinya.
       
      Dibulan Desember, Mr A dan Mr. B menjalani
      performance appraisal dengan atasannya masing-masing. Mr. A sadar jika penilaian
      atasan merupakan masukan penting bagi dirinya agar bisa menjadi karyawan yang
      lebih baik lagi. Sedangkan Mr. B sadar benar jika perusahaan mesti lebih banyak
      lagi mendengarkan dirinya sehingga dia menang mutlak saat beradu argument dengan
      atasannya tentang penilaian itu. Walhasil, di bulan April; Mr A dan Mr B
      mendapatkan surat kenaikan gaji. Masing-masing, mendapatkan kenaikan gaji 10%. Meskipun
      persentasenya sama, tapi absoultnya berbeda karena basis angkanya berbeda. Kenaikan
      10% dari gaji 10 juta kan menghasilkan tambahan 1 juta. Sedangkan 10% dari gaji
      satu setengah juta ya hanya seratus lima puluh ribuh rupiah saja. Meskipun
      begitu, Mr. A berujud sambil berurai air mata bisa mendapatkan kenaikan gaji
      double digit. Sedang Mr. B mempertanyakan, kenapa sih kenaikan gaji kok cuman
      10% saja?!!!
       
      Mr. A bertekad untuk bekerja lebih baik, karena
      perusahaan sudah baik memberinya kenaikan gaji double digit. Maka kerjanya pun
      semakin giat. Semakin bersemangat. Semakin hebat. Sedangkan Mr. B mengirim
      pesan chating pada temannya di perusahaan lain;”ditempat elo kenaikan gaji
      berapa persen?”. Ketika temannya menjawab “15%” kepalanya langsung puyeng. Lalu
      mengetik pesan ini:”Sialan, ditempat gue cuman 10%. Bego nih perusahaan. Nggak
      menghargai karyawannya.”
       
      Temannya membalas:”Kan setiap perusahaan beda
      policy dan kemampuannya….” Lalu dia pun kembali menimpali dengan ping begini:”Kalau
      gini sih ngapain gue bertahan disini. Ditempat elo ada lowongan nggak…..?”
       
      Mr. A dan Mr. B. Menjalani dua kondisi yang
      berbeda. Yang baru bekerja, dan yang berpengalaman lama. Yang harus mencicil
      motor pribadi, dan yang mendapatkan fasilitas mobil dari perusahaan. Yang gajinya
      UMR pas-pas, dan yang gajinya eksekutif plus-plus. Yang tempat kerjanya
      dikubikal sumpek, dan yang tempat kerjanya ruang kantor tertutup berAC sejuk.
      Yang seragamnya itu-itu saja, dan yang dasi dan jasnya berganti-ganti. Yang
      kenaikan gajinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan yang kenaikan
      gajinya bernilai jutaan.
       
      Jelas sekali kondisi Mr A berbeda jauh dengan
      kondisi Mr. B. Sekarang, siapakah yang paling bisa menikmati hidup. Siapakah
      yang paling baik menjalankan pekerjaannya. Siapakah yang paling mencintai
      pekerjaannya. Dan. Siapakah yang paling menghargai kebaikan-kebaikan
      perusahaannya?
       
      Anda, apakah termasuk Mr.A itu. Ataukah Mr.B?
      Apapun pilihannya, hanya Anda sendirilah yang tahu jawabannya. Tetapi, sebelum
      Anda terlanjur jauh memikirkan jawaban yang paling jujur, izinkan saya untuk
      memberi tahu Anda bahwa Mr. A dan Mr. B mempunyai sebuah persamaan. Tahukah Anda
      apa persamaan diantara mereka? Ketahuilah bahwa Mr. A dan Mr. B itu adalah orang
      yang sama. Kisah ini adalah tentang seorang pribadi, bukan dua. Seorang
      manusia. Seorang saja.  Hanya saja,
      mereka berada pada periode waktu yang berbeda. Mr. A adalah gambaran kehidupan
      kerjanya ketika baru diterima di kantor itu. Sedangkan Mr.B adalah gambaran kehidupan
      kerjanya beberapa tahun kemudian. Dapatkah Anda menemukan orang-orang seperti
      Mr. A dan Mr. B di tempat kerja Anda? Ataukah, mungkin Anda sendiri adalah Mr.A
      dan Mr. B itu? Jawaban terbaiknya, hanya Anda sendiri yang mengetahui.
       
      Sekalipun demikian, ada jenis karyawan lain yang
      setelah menjalani fase masa kerjanya sebagai Mr. A, dia berevolusi menjadi Mr. C.
      Yaitu orang yang antusiasmenya tidak pernah luntur barang sedikitpun.
      Profesional yang meskipun pengalaman, dan masa kerjanya terus bertambah; tetapi
      selalu bisa menjaga komitmennya kepada pekerjaan. Eksukutif yang meskipun sudah
      menapak semakin tinggi dengan beragam fasilitas yang diberikan oleh kantornya;
      dia masih tetap memelihara rasa syukur, kecintaan, dan dedikasinya terhadap
      pekerjaan dan perusahaan.
       
      Setelah melalui fase sebagai Mr A itu; Anda ingin
      menjadi pribadi yang lebih dekat dengan gambaran Mr. B, ataukah Mr. C? Hanya
      Anda sendirilah yang berhak menentukannya. Kenapa? Karena masa depan Anda.
      Kualitas hidup Anda. Dan nilai pribadi Anda. Adalah teritori yang hanya Anda
      sendirilah yang berhak menentukannya. Namun apapun pilihan Anda; hendaknya Anda
      tidak pernah membuang segala kelebihan dan sikap positif yang pernah Anda
      miliki. Sebagai seorang pemula. Karena setiap pemula, mempunya kelebihan yang
      sering tidak dimiliki lagi; ketika dia, sudah tidak menjadi pemula lagi.
       
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 26 November
      2012
      Leadership and Personnel Development
      Trainer
      0812 19899 737 or Ms. Vivi
      at 0812 1040 3327
       
      Catatan
      Kaki:
      Ketika mulai bekerja dulu, kita juga sangat antusias dan
      selalu positif, kok. Hanya saja, kita sering lupa bahwa dulu kita pernah bisa
      bersikap seperti itu.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman artikel “P
      (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
       
      Silakan di-share jika naskah ini Anda
      nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu.
      Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda
      tidak berkurang karenanya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Wanna get in touch with Dadang? 
      Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.