Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

F#1: Menyelesaikan Masalah Rumah Tangga

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    F#1: Menyelesaikan Masalah Rumah Tangga   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   Saya tetap kukuh untuk tidak melayani pertanyaan tentang masalah pernikahan. Alasan
    Message 1 of 1 , Nov 20, 2012
    • 0 Attachment
      F#1: Menyelesaikan Masalah Rumah Tangga
       
      Hore!
      Hari
      Baru, Teman-teman.
       
      Saya tetap kukuh untuk tidak melayani pertanyaan tentang
      masalah pernikahan. Alasan saya sederhana; saya baru menjalani pernikahan ini
      selama sekitar 15 tahun. Sedangkan kita, tidak pernah tahu apa yang akan
      terjadi besok. Bicara soal karir, saya tidak ragu karena sudah menjalaninya
      hingga penuh. Membahas tentang kepemimpinan, pun tidak gentar karena sudah
      menuntaskan tugas yang diemban. Tapi soal perkawinan? Nanti, kalau saya sudah menjalaninya
      hingga akhir….. hayat! Halah. Demikian tekad saya, supaya apa yang saya katakan
      benar-benar merupakan apa yang saya alami sendiri. Namun ternyata,
      pertanyaan-pertanyaan seputar perkawinan dan permasalahannya itu seolah tidak
      kunjung surut. Dan jika semua orang berprinsip seperti saya; maka tidak akan
      pernah ada yang namanya konsultan pernikahan. Lebih tepatnya lagi; tidak ada
      orang yang akan menjadi teman mencari solusi ketika kita sedang menghadapi
      badai dalam samudera pernikahan. Jadi bagaimana dong?
       
      Memang sulit untuk memisahkan urusan keluarga dengan
      urusan pekerjaan. Ketika sedang bermasalah dengan pasangan di rumah, disadari
      atau tidak pun pekerjaan kita di kantor ikut terpengaruh juga. Mungkin tidak
      menyebabkan kualitas kerja menjadi buruk. Tetapi sikap kita. Atau raut wajah
      kita. Atau keceriaan kita di kantor; jauh berbeda dibandingkan ketika kita
      sedang menikmati indahnya hubungan dengan suami atau istri di rumah. Walhasil,
      kehidupan rumah tangga kita langsung maupun tidak langsung erat kaitannya
      dengan kehidupan kerja kita.
       
      Sudah saya bilang kalau saya ini bukan konsultan
      pernikahan. Jadi saya hanya bisa menjelaskan apa yang saya sendiri alami. Saya
      pribadi, merasa senang dan bersemangat sekali dalam bekerja ketika di pagi hari
      sewaktu hendak meninggalkan rumah, istri saya bilang begini; “Ayah, sun dulu!”
       
      Ketika bibir saya menyentuh kedua keningnya, ada energy
      yang marasuk kedalam jiwa saya. Seolah menjadikan diri saya superman yang siap
      terbang keangkasa raya. Saat bibir ini menyentuh pipi kiri dan kanannya, ada
      semangat yang membara untuk melakukan yang terbaik ditempat kerja. Demi nafkah
      yang saya perjuangkan untuk keluarga. Dan, ketika bibir saya menyentuh lembut
      bibirnya? Ada gelora yang membuat saya…. Ingin menunda keberangkatan ke tempat..…
      hahaha. Setiap kali prosesi itu berlangsung, saya tahu bahwa; hari itu, saya
      akan menjadi seorang pekerja yang tidak bisa disaingi oleh siapapun.
       
      Beda sekali jika dibandingkan dengan keadaan ketika istri
      saya sedang bête. Saat saya hendak pergi ke kantor, dia cuwek bebek saja
      sembunyi dikamar mandi. Meskipun tidak kecewa, tapi ada kekosongan akut terasa
      menelusup kedalam jiwa saya. Bibir saya? Mungkin merindukan sesuatu yang malu jika
      diucapkannya. Tapi ya sudahlah, mungkin memang kalau cewek ada masanya sebel
      sama lelakinya. Saya pergi saja. Tapi tetap saja, sesampai dikantor ada
      perasaan tidak lengkap. Apa ya? Tidak tahu. Pokoknya seperti ada yang
      tertinggal di rumah.
       
      Bagaimana kalau dimalam harinya saya baru bertengkar hebat
      dengan istri saya? Ups! Keceplosan. M-maksud saya…., misalnya ya… misalnya saya
      baru bertengkar hebat dengan istri saya. Hanya misalnya. lho. Maka besok pagi
      waktu hendak pergi ke kantor, saya ingin istri saya tidak tampak sama sekali.
      Jangan coba-coba mendekat. Karena saya, akan bersikap seperti seekor singa
      jantan yang tengah terluka. Dan untuk menyembuhkan luka itu, mungkin butuh
      waktu berhari-hari lamanya. Sehingga konsekuensinya; pekerjaan saya – secara
      langsung atau tidak langsung – pun ikut terpengaruh. Salah satu indikasinya
      yang mungkin dirasakan oleh anak buah saya antara lain adalah; saya lebih
      ‘direct’ kepada mereka. Kolega saya mungkin merasakan kalau kali itu saya tidak
      peduli seperti biasanya. Sedangkan atasan saya, mungkin merasakan jika saat itu
      saya menjadi lebih sulit diatur.
       
      Tulisan ini memang saya tujukan untuk sabahat saya yang
      sedang mengalami cobaan didalam kehidupan rumah tangganya. Juga bagi mereka
      yang ‘merasa’ dan ‘seolah-olah’ segalanya baik-baik saja. Serta bagi mereka
      yang mengklaim bahwa kehidupan rumah tangganya tidak pernah bermasalah. Terlebih
      lagi, semoga istri saya mau membacanya. Supaya dia tahu, bahwa saya sangat
      mencitainya. Dan saya ingin kehidupan pernikahan kami tetap terjaga sempurna
      dalam ketidaksempurnaannya. Tapi faktanya adalah; dari cerita ini, kita bisa
      melihat bagaimana dampak dari hubungan kita dengan istri atau suami di rumah
      terhadap sikap dan perilaku kerja kita di kantor.
       
      Apakah pekerjaan seorang professional yang tengah
      bermasalah dengan istri atau suaminya otomatis akan menjadi buruk juga
      hasilnya? Dalam kebanyakan kasus yang saya ketahui, YA. Performa kerja mereka
      menurun drastis sekali. Peluang terjadinya sama baik pada karyawan laki-laki
      maupun perempuan. Meskipun laki-laki sering dikira lebih kuat, tetapi
      kenyataannya tidak selalu begitu. Karyawan lelaki yang disakiti istrinya bisa
      jatuh hingga nyaris tidak sanggup bangkit lagi kok.

      Dalam kasus-kasus tertentu, kinerja seseorang yang sedang bermasalah dengan
      suami atau istrinya memang malah menjadi semakin naik. Tidak terlalu aneh jika
      kita memahami mekanismenya. Begini, kekecewaan di rumah membuat seseorang tidak
      betah berada di rumah. Sebagai pelarian, dia tinggal lebih lama di kantor.
      Meskipun belum bisa digeneralisir, tetapi pekerja perempuan cenderung untuk
      mencari penghiburan atas kekecewaan dirinya dengan menarik diri dan mencurahkan
      lebih banyak energy kepada pekerjaannya. Secara tidak langsung itu membuatnya
      bekerja lebih banyak. Maka dia menjadi ‘terlihat’ lebih rajin, dan
      menyelesaikan tugas lebih banyak.
       
      Masalahnya, kita tidak semata-mata mencari kepuasan dalam
      pekerjaan, bukan? Bagaimana pun juga, pekerjaan kita adalah sebuah proyek
      jangka pendek. Sedangkan pernikahan kita merupakan perjalanan sepanjang hayat.
      Sehebat apapun kualitas kerja Anda, pada usia 55 tahun Anda akan pensiun juga.
      Tapi pernikahan kita? Sesuai janji yang kita ucapkan ketika mulai merajut tali
      cinta itu; sampai maut memisahkan kita.
       
      Maka melihat beberapa orang yang karirnya sukses sementara
      pernikahannya bermasalah tentu tidak cocok untuk dijadikan model bagi mereka
      yang mencari kebahagiaan hakiki. Karena sesukses apapun seseorang ditempat
      kerja, hatinya akan tetap hampa jika tidak mempunyai cinta yang utuh dalam
      rumah tangganya. Memangnya setelah pensiun kelak, dia mau kemana lagi, jika
      tidak pulang ke rumahnya sendiri?
       
      Jadi intinya apa? Intinya adalah, jika Anda tengah
      bermasalah dengan suami atau istri di rumah. Maka jangan mencari pelarian yang
      salah. Ketahuilah bahwa masalah dalam rumah tangga itu normal saja. Toh kepala
      dan hati kita berbeda dengan pasangan hidup kita itu. Yang mungkin kita lakukan
      adalah; mencari penyelesaian yang membawa kita kepada akhir yang membahagiakan.
      Iya tapi bagaimana cara ooooooy!!!!!
       
      Tahukah Anda perbedaan antara ring tinju dengan ranjang?
      Sejauh yang saya ketahui; ring tinju itu adalah arena untuk menyelesaikan
      masalah antara dua jagoan. Sedangkan ranjang, adalah tempat terbaik untuk
      menyelesaikan masalah yang tengah kita hadapi dengan suami atau istri kita.
      Tidak percaya? Kalau Anda sedang bermasalah dengan istri atau suami Anda,
      naiklah keatas ranjang. Lalu berbaringlah dengan tenang. Kemudian, bicaralah
      dari hati kehati. Insya Allah, masalah yang tengah kita hadapi; bisa
      diselesaikan dengan solusi terbaik untuk kedua belah pihak.
       

      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 21 November
      2012
      Leadership and Personnel Development
      Trainer
      0812 19899 737 (PIN BB:
      2A495F1D) or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
       
       
      Catatan
      Kaki:
      Tidak ada yang tahu akhir perjalanan perkawinannya. Namun
      setiap langkahnya menjadi ibadah bagi pasangan yang tetap menjaga kesuciannya.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman “F (= Familyarism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
       
      Silakan di-share jika naskah ini Anda
      nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu.
      Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda
      tidak berkurang karenanya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Wanna get in touch with Dadang? 
      Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.