Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

P#32: Pengawas Pekerjaan Anda

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    P#32: Pengawas Pekerjaan Anda   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   “Percumalah, kerja bagus juga. Nggak ada bedanya dengan orang lain yang kerjanya asal
    Message 1 of 2 , Nov 18, 2012
    • 0 Attachment
      P#32: Pengawas Pekerjaan Anda
       
      Hore!
      Hari Baru, Teman-teman.
       
      “Percumalah, kerja bagus juga. Nggak ada bedanya
      dengan orang lain yang kerjanya asal saja.” Begitu biasanya kita mendengar
      gerutuan di kantor. Maka banyak orang bukannya belomba kerja bagus-bagusan,
      melainkan berlomba untuk kerja asal selesai saja. Kenapa mereka bersikap
      begitu? Antara lain karena mereka merasa bahwa pekerjaan bagus yang mereka
      lakukan tidak memberi perbedaan apapun dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja.
      Jadi, ya biasa sajalah. Tidak usah bagus-bagus amat. Nggak ada untungnya, kan.
      Lho, bukannya ada atasan yang bertugas mengawasi, menilai dan memberi rewardnya?
      Ada sih. Tapi,  fungsi atasan itu
      menunjukkan rasa senang kalau pekerjaan selesai. Atau marah, jika pekerjaan
      tidak sesuai keinginannya. Lain dari itu? Hmmh….
       
      SD kami, kekurangan guru. Makanya, seorang guru
      harus merangkap kelas. Beliau memberi soal untuk kami kerjakan. Kemudian pindah
      ke kelas lain, untuk kembali lagi nanti. Bolak-balik saja seperti setrikaan. Seharusnya
      kami belajar dan menyelesaikan tugas itu. Tapi yang kami lakukan adalah;
      bermain, dan membuat keributan. Biar aman, kami menugaskan satu orang – anak
      bawang – untuk berjaga-jaga. Dia langsung memberi isyarat jika sang guru
      kembali. Maka kami pun segera berpura-pura belajar lagi. Sekolah Anda tidak
      begitu? Bagus. Bagaimana dengan kantor Anda? Memangnya ada hubungan apa antara
      sekolah dan kantor?  
       
      Ada. Begini, kami hanya belajar dengan rajin ketika
      guru kami mengawasi. Kalau guru sedang mengajar di kelas lain, ya kami main
      lagi. Sedangkan di kantor-kantor, para karyawan bekerja dengan giat hanya
      ketika atasannya mengawasi. Sedangkan kalau atasannya sedang keluar kantor.
      Atau meleng sedikit saja, maka mereka kembali sibuk dengan hal-hal lain yang
      tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Mungkin Anda dan kebanyakan orang
      lebih beruntung dari kami, karena bersekolah di tempat yang jumlah gurunya
      memadai. Tapi setelah dewasa, saya sering menemukan karyawan yang berperilaku seperti
      kami ketika masih SD dulu.
       
      Kalau dipikir-pikir, kerja asal-asalan juga tidak
      apa-apa kan sebenarnya. Toh selama ini juga banyak orang yang begitu tapi tetap
      digaji. Jadi kenapa pula mesti bersusah payah? Emangnya ada karyawan yang di
      PHK gara-gara kerja kurang rajin? Mungkin ada, tapi jumlah sangat sedikit
      sekali dibandingkan dengan mereka yang tetap ‘selamat’. Ditempat kerja Anda
      situasinya ‘kira-kira’ seperti itu atau tidak? Saya sih mengamati yang seperti
      itu dibanyak tempat. Jadi? Tidak soal kan karena mayoritas tetap aman-aman
      saja. Betul. Aman. Dan tidak ada yang mengusik. Apalagi jika atasannya lebih
      junior. Beres deh pokoknya. Jika atasannya juga berperilaku sama, lebih aman
      lagi. Kompakan deh.
       
      Anak buah saya dulu, kira-kira juga begitu.
      Misalnya, ada yang di jam seharusnya bekerja, malah main game melulu. Saya
      menegurnya. Lalu dia berkata;”Orang lain juga banyak yang main game Pak.
      Manager juga ada. Tapi kenapa kok cuman saya yang ditegur?”
       
      “Elo, kalau tidak mau ditegur main game di jam
      kerja silakan pindah ke departemen lain yang tidak ada tegur-teguran.” Begitu
      saya bilang. “Tapi kalau elo masih mau bekerja di team gue, elo tidak main game
      dijam kerja.” Saya tahu teman saya itu tidak menyukai keputusan saya.
       
      “Tapi kan pekerjaan saya bisa selesai Pak…” mungkin
      begitu gerutu didalam hatinya.
      Benar. Dia terampil sekali dalam bekerja. Orang
      yang hebat. Justru karena saya tahu jika dia itu orang yang hebat saya menjadi
      lebih kasihan kepadanya. Dia. Telah menyia-nyiakan kehebatan yang semestinya
      bisa dijadikan sebagai nilai tambah dan pembentuk keunggulan. Dengan segala
      kehebatan itu karirnya biasa-biasa saja? Oh. Sungguh sangat menyedihkan.
      Kasihan sekali. Bahkan dia bisa melakukan banyak hal yang saya sendiri tidak
      dapat melakukannya. Tapi, pencapaiannya tetap tidak seberapa. Jika orang itu
      mau mengerahkan seluruh kemampuan dirinya, mungkin saat itu dia sudah menjadi
      atasan saya. Bukan malah sebaliknya.
       
      Di sekolah kampung itu, kami tidak memiliki banyak
      pilihan. Merengek pun tidak menyebabkan jumlah guru kami bertambah. Tapi
      diantara sekitar 30 siswa yang gemar bermain itu ada beberapa orang yang
      menyelesaikan tugas dari gurunya dengan sebaik-baiknya. Usahanya itu berbanding
      lurus dengan hasilnya. Kami berhasil masuk ke perguruan tinggi terbaik di
      negeri ini. Dari kampung, kami masuk ke perguruan tinggi favorit yang
      diperebutkan orang dari seluruh penjuru negeri. Di kantor saya juga begitu. Ada
      orang-orang yang rajin. Meski saya tidak mesti selalu memelototi. Mereka adalah
      staff dengan tingkatan struktural tak seberapa. Gajinya, saya tahu berapa.
      Namun ketika saya mengundurkan diri, beberapa diantara mereka yang biasa
      bekerja bukan karena ada saya itu sudah menduduki posisi officer, bahkan manager.
      Seperti kami yang dari SD kampung ini masuk ke perguruan tinggi keren; dari
      posisi rendah, mereka yang bekerja bukan karena atasannya melejit ke posisi yang
      tinggi.
       
      “Tapi kan tidak semua atasan bisa mengawasi semua
      anak buahnya dengan baik. Dan tidak semua atasan memberi reward yang
      sepantasnya kepada anak buah yang berkinerja baik.” Mungkin begitu alasan kita.
      Sehingga, tetap memilih untuk bekerja alakadarnya.
       
      Mungkin memang demikian. Jika kita mengira bahwa
      yang mengawasi itu hanyalah atasan kita sendiri saja. Tapi hasilnya akan
      berbeda jika kita sadar bahwa ada ‘orang lain’ yang mengawasi kita. Misalnya
      saja. Ada seorang staff kerja kontrak di kantor kami. Saya perhatikan dia. Dan
      saya menyadari jika orang itu beda dengan kebanyakan pekerja kontrak lainnya.
      Lalu saya menariknya untuk menjadi team member saya. Tentu dengan level
      pekerjaan yang sama tidak seberapanya. Ketika saya berhenti bekerja, orang ini
      sudah menjadi karyawan permanen di perusahaan kami. Dan, sudah menduduki suatu
      jabatan yang lebih tinggi dari kebanyakan temannya. Beberapa hari lalu, saya
      mendapatkan invitation di linkedin dari sahabat saya itu. Dan saya lihat di
      profile-nya, dia sudah mempunyai karir yang lebih baik di perusahaan lainnya.
      Meskipun atasan Anda tidak melakukannya, tetapi ada orang lain yang memperhatikan
      Anda. Contohnya sahabat saya ini.
       
      “Tapi kan tidak semua orang seberuntung itu.
      Kebanyakan karyawan tidak punya atasan yang cukup peduli. Dan tidak mendapatkan
      orang dari luar yang memberi perhatian seperti itu.” Barangkali begitu argumen
      Anda berikutnya.
       
      Mungkin Anda benar. Tapi ada satu hal lagi yang
      saya ingin Anda merenungkannya. Bahwa kerja keras dan kinerja baik Anda itu
      tidak akan pernah sia-sia. Tetap ada nilainya yang bermakna. Apakah saya sedang
      mengumbar jargon motivasi? Tidak. Saya berbicara berdasarkan ilmu. Yaitu ilmu
      yang berasal dari kalam Ilahi seperti disampaikan dalam firmanNya melalui Nabi
      suci: “Bekerjalah. Maka Allah akan melihat pekerjaanmu. Begitu juga rasulnya,
      dan orang-orang mukmin.” Saya mengundang Anda untuk mendalami firman
      dalam surah 9 (At-Taubah) ayat 105 itu. Agar Anda semakin bergairah, untuk
      melakukan pekerjaan Anda dengan sebaik-baiknya. Sekalipun atasan Anda tidak
      mengawasi. Meskipun Anda, tidak selalu mendapatkan pujian atau imbalan langsung
      dari usaha terbaik yang Anda dedikasikan itu. Karena Tuhan, melihat dan
      menyediakan imbalan yang sepadan. Terhadap apa yang kita kerjakan.
       

       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 19 November
      2012
      Leadership and Personnel Development
      Trainer
      0812 19899 737 or Ms. Vivi
      at 0812 1040 3327
       
      Catatan
      Kaki:
      Anda bisa kecewa jika bekerja hanya demi menyenangkan
      atasan Anda. Bekerjalah demi diri Anda sendiri, agar Anda mendapatkan 100%
      hasil dan manfaatnya bagi diri sendiri.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman artikel “P
      (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
       
      Ingin
      bergabung dengan “Natin Community Via
      BB?” Invite PIN BB 2A495F1D untuk mendapatkan
      pesan-pesan inspiratif dari DeKa Natin.
       Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai
      bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi
      tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak
      berkurang karenanya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Wanna get in touch with Dadang? 
      Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    • hadi ismanto
      ok, thanks Pak... Regards, Hadi Ismanto ________________________________ From: Dadang Kadarusman To: dkadarusman@yahoo.com
      Message 2 of 2 , Nov 18, 2012
      • 0 Attachment
        ok, thanks Pak...

        Regards,

        Hadi Ismanto



        ________________________________
        From: Dadang Kadarusman <dkadarusman@...>
        To: "dkadarusman@..." <dkadarusman@...>
        Sent: Monday, November 19, 2012 9:47 AM
        Subject: #FrenBC @ P#32: Pengawas Pekerjaan Anda


         


        P#32: Pengawas Pekerjaan Anda
         
        Hore!
        Hari Baru, Teman-teman.
         
        “Percumalah, kerja bagus juga. Nggak ada bedanya
        dengan orang lain yang kerjanya asal saja.” Begitu biasanya kita mendengar
        gerutuan di kantor. Maka banyak orang bukannya belomba kerja bagus-bagusan,
        melainkan berlomba untuk kerja asal selesai saja. Kenapa mereka bersikap
        begitu? Antara lain karena mereka merasa bahwa pekerjaan bagus yang mereka
        lakukan tidak memberi perbedaan apapun dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja.
        Jadi, ya biasa sajalah. Tidak usah bagus-bagus amat. Nggak ada untungnya, kan.
        Lho, bukannya ada atasan yang bertugas mengawasi, menilai dan memberi rewardnya?
        Ada sih. Tapi,  fungsi atasan itu
        menunjukkan rasa senang kalau pekerjaan selesai. Atau marah, jika pekerjaan
        tidak sesuai keinginannya. Lain dari itu? Hmmh….
         
        SD kami, kekurangan guru. Makanya, seorang guru
        harus merangkap kelas. Beliau memberi soal untuk kami kerjakan. Kemudian pindah
        ke kelas lain, untuk kembali lagi nanti. Bolak-balik saja seperti setrikaan. Seharusnya
        kami belajar dan menyelesaikan tugas itu. Tapi yang kami lakukan adalah;
        bermain, dan membuat keributan. Biar aman, kami menugaskan satu orang – anak
        bawang – untuk berjaga-jaga. Dia langsung memberi isyarat jika sang guru
        kembali. Maka kami pun segera berpura-pura belajar lagi. Sekolah Anda tidak
        begitu? Bagus. Bagaimana dengan kantor Anda? Memangnya ada hubungan apa antara
        sekolah dan kantor?  
         
        Ada. Begini, kami hanya belajar dengan rajin ketika
        guru kami mengawasi. Kalau guru sedang mengajar di kelas lain, ya kami main
        lagi. Sedangkan di kantor-kantor, para karyawan bekerja dengan giat hanya
        ketika atasannya mengawasi. Sedangkan kalau atasannya sedang keluar kantor.
        Atau meleng sedikit saja, maka mereka kembali sibuk dengan hal-hal lain yang
        tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Mungkin Anda dan kebanyakan orang
        lebih beruntung dari kami, karena bersekolah di tempat yang jumlah gurunya
        memadai. Tapi setelah dewasa, saya sering menemukan karyawan yang berperilaku seperti
        kami ketika masih SD dulu.
         
        Kalau dipikir-pikir, kerja asal-asalan juga tidak
        apa-apa kan sebenarnya. Toh selama ini juga banyak orang yang begitu tapi tetap
        digaji. Jadi kenapa pula mesti bersusah payah? Emangnya ada karyawan yang di
        PHK gara-gara kerja kurang rajin? Mungkin ada, tapi jumlah sangat sedikit
        sekali dibandingkan dengan mereka yang tetap ‘selamat’. Ditempat kerja Anda
        situasinya ‘kira-kira’ seperti itu atau tidak? Saya sih mengamati yang seperti
        itu dibanyak tempat. Jadi? Tidak soal kan karena mayoritas tetap aman-aman
        saja. Betul. Aman. Dan tidak ada yang mengusik. Apalagi jika atasannya lebih
        junior. Beres deh pokoknya. Jika atasannya juga berperilaku sama, lebih aman
        lagi. Kompakan deh.
         
        Anak buah saya dulu, kira-kira juga begitu.
        Misalnya, ada yang di jam seharusnya bekerja, malah main game melulu. Saya
        menegurnya. Lalu dia berkata;”Orang lain juga banyak yang main game Pak.
        Manager juga ada. Tapi kenapa kok cuman saya yang ditegur?”
         
        “Elo, kalau tidak mau ditegur main game di jam
        kerja silakan pindah ke departemen lain yang tidak ada tegur-teguran.” Begitu
        saya bilang. “Tapi kalau elo masih mau bekerja di team gue, elo tidak main game
        dijam kerja.” Saya tahu teman saya itu tidak menyukai keputusan saya.
         
        “Tapi kan pekerjaan saya bisa selesai Pak…” mungkin
        begitu gerutu didalam hatinya.
        Benar. Dia terampil sekali dalam bekerja. Orang
        yang hebat. Justru karena saya tahu jika dia itu orang yang hebat saya menjadi
        lebih kasihan kepadanya. Dia. Telah menyia-nyiakan kehebatan yang semestinya
        bisa dijadikan sebagai nilai tambah dan pembentuk keunggulan. Dengan segala
        kehebatan itu karirnya biasa-biasa saja? Oh. Sungguh sangat menyedihkan.
        Kasihan sekali. Bahkan dia bisa melakukan banyak hal yang saya sendiri tidak
        dapat melakukannya. Tapi, pencapaiannya tetap tidak seberapa. Jika orang itu
        mau mengerahkan seluruh kemampuan dirinya, mungkin saat itu dia sudah menjadi
        atasan saya. Bukan malah sebaliknya.
         
        Di sekolah kampung itu, kami tidak memiliki banyak
        pilihan. Merengek pun tidak menyebabkan jumlah guru kami bertambah. Tapi
        diantara sekitar 30 siswa yang gemar bermain itu ada beberapa orang yang
        menyelesaikan tugas dari gurunya dengan sebaik-baiknya. Usahanya itu berbanding
        lurus dengan hasilnya. Kami berhasil masuk ke perguruan tinggi terbaik di
        negeri ini. Dari kampung, kami masuk ke perguruan tinggi favorit yang
        diperebutkan orang dari seluruh penjuru negeri. Di kantor saya juga begitu. Ada
        orang-orang yang rajin. Meski saya tidak mesti selalu memelototi. Mereka adalah
        staff dengan tingkatan struktural tak seberapa. Gajinya, saya tahu berapa.
        Namun ketika saya mengundurkan diri, beberapa diantara mereka yang biasa
        bekerja bukan karena ada saya itu sudah menduduki posisi officer, bahkan manager.
        Seperti kami yang dari SD kampung ini masuk ke perguruan tinggi keren; dari
        posisi rendah, mereka yang bekerja bukan karena atasannya melejit ke posisi yang
        tinggi.
         
        “Tapi kan tidak semua atasan bisa mengawasi semua
        anak buahnya dengan baik. Dan tidak semua atasan memberi reward yang
        sepantasnya kepada anak buah yang berkinerja baik.” Mungkin begitu alasan kita.
        Sehingga, tetap memilih untuk bekerja alakadarnya.
         
        Mungkin memang demikian. Jika kita mengira bahwa
        yang mengawasi itu hanyalah atasan kita sendiri saja. Tapi hasilnya akan
        berbeda jika kita sadar bahwa ada ‘orang lain’ yang mengawasi kita. Misalnya
        saja. Ada seorang staff kerja kontrak di kantor kami. Saya perhatikan dia. Dan
        saya menyadari jika orang itu beda dengan kebanyakan pekerja kontrak lainnya.
        Lalu saya menariknya untuk menjadi team member saya. Tentu dengan level
        pekerjaan yang sama tidak seberapanya. Ketika saya berhenti bekerja, orang ini
        sudah menjadi karyawan permanen di perusahaan kami. Dan, sudah menduduki suatu
        jabatan yang lebih tinggi dari kebanyakan temannya. Beberapa hari lalu, saya
        mendapatkan invitation di linkedin dari sahabat saya itu. Dan saya lihat di
        profile-nya, dia sudah mempunyai karir yang lebih baik di perusahaan lainnya.
        Meskipun atasan Anda tidak melakukannya, tetapi ada orang lain yang memperhatikan
        Anda. Contohnya sahabat saya ini.
         
        “Tapi kan tidak semua orang seberuntung itu.
        Kebanyakan karyawan tidak punya atasan yang cukup peduli. Dan tidak mendapatkan
        orang dari luar yang memberi perhatian seperti itu.” Barangkali begitu argumen
        Anda berikutnya.
         
        Mungkin Anda benar. Tapi ada satu hal lagi yang
        saya ingin Anda merenungkannya. Bahwa kerja keras dan kinerja baik Anda itu
        tidak akan pernah sia-sia. Tetap ada nilainya yang bermakna. Apakah saya sedang
        mengumbar jargon motivasi? Tidak. Saya berbicara berdasarkan ilmu. Yaitu ilmu
        yang berasal dari kalam Ilahi seperti disampaikan dalam firmanNya melalui Nabi
        suci: “Bekerjalah. Maka Allah akan melihat pekerjaanmu. Begitu juga rasulnya,
        dan orang-orang mukmin.” Saya mengundang Anda untuk mendalami firman
        dalam surah 9 (At-Taubah) ayat 105 itu. Agar Anda semakin bergairah, untuk
        melakukan pekerjaan Anda dengan sebaik-baiknya. Sekalipun atasan Anda tidak
        mengawasi. Meskipun Anda, tidak selalu mendapatkan pujian atau imbalan langsung
        dari usaha terbaik yang Anda dedikasikan itu. Karena Tuhan, melihat dan
        menyediakan imbalan yang sepadan. Terhadap apa yang kita kerjakan.
         

         
        Salam hormat,
        Mari Berbagi
        Semangat!
        DEKA – Dadang
        Kadarusman – 19 November
        2012
        Leadership and Personnel Development
        Trainer
        0812 19899 737 or Ms. Vivi
        at 0812 1040 3327
         
        Catatan
        Kaki:
        Anda bisa kecewa jika bekerja hanya demi menyenangkan
        atasan Anda. Bekerjalah demi diri Anda sendiri, agar Anda mendapatkan 100%
        hasil dan manfaatnya bagi diri sendiri.
         
        Ingin
        mendapatkan kiriman artikel “P
        (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
         
        Ingin
        bergabung dengan “Natin Community Via
        BB?” Invite PIN BB 2A495F1D untuk mendapatkan
        pesan-pesan inspiratif dari DeKa Natin.
         Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai
        bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi
        tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak
        berkurang karenanya.
         
        Salam hormat,
        Mari Berbagi Semangat!
        DEKA - Dadang Kadarusman
        www.dadangkadarusman.com
        Wanna get in touch with Dadang? 
        Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

        [Non-text portions of this message have been removed]




        [Non-text portions of this message have been removed]
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.