Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

P#31: Menanti Hasil Kerja Kita

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    P#31: Menanti Hasil Kerja Kita   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   “Mau gajian bulan ini? Ya maulah. Mau dapat bonus? Mau. Kerja dong yang bener!”
    Message 1 of 1 , Nov 11, 2012
    • 0 Attachment
      P#31: Menanti Hasil Kerja Kita
       
      Hore!
      Hari Baru, Teman-teman.
       
      “Mau gajian bulan ini? Ya maulah. Mau dapat bonus?
      Mau. Kerja dong yang bener!” Sepertinya tidak cocok ya kalimat itu dikatakan
      kepada orang dewasa seperti kita. Kalau anak kecil ditanya begitu masih wajar.
      Tapi kalau orang dewasa? Kemungkinan orang yang bertanyanya saja yang tidak
      tahu tata karma. Tidak sopan sama sekali. Itu kalau kita memandang ‘ujungnya’.
      Tapi kalau kita memandang ‘pangkalnya’, maka kita akan bisa memahami alasan
      mengapa ada orang yang sampai bertanya seperti itu. Kata orang, zaman sekarang
      ini banyak sekali manusia yang kepingin mendapatkan gaji besar, tapi kerjanya
      asal-asalan. Maunya kerja gampang. Susah sedikit sudah mengeluh ini dan itu. Sulit
      sedikit sudah ribut begitu dan begini. Makanya, sulit mengharapkan mereka bisa
      bekerja dengan standar yang seharusnya hingga tuntas. Apa benar begitu ya?
       
      Sebenarnya, sikap dan perilaku kerja yang kurang
      rajin itu sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Hanya saja, zaman sekarang mungkin
      kita lebih mudah saja mengkomunikasikannya. Makanya orang tua kita sudah sejak
      dulu mengajarkan tentang etika dalam bekerja. Jangan sampai mau enaknya saja,
      katanya. Di tatar Sunda,  pelajaran moral
      seperti itu antara lain dikisahkan dalam dongeng Kabayan. Si Kabayan ini digambarkan
      sebagai tokoh yang malasnya minta ampun. Mau dapat hasilnya, tapi tidak mau
      mengusahakannya. Kalau pada akhirnya mau juga bekerja, tapi kerjanya ya
      asal-asalan saja.
       
      Kalau saya perhatikan, di tatar Sunda itu cukup
      banyak orang yang mau enaknya saja. Ingin terima hasilnya. Tapi jerih payahnya
      ogah. Waktu saya pergi ke daerah lain, ternyata disana juga banyak yang begitu.
      Ketika bertugas di tempat lainnya lagi, saya menemukan juga orang-orang yang
      seperti itu. Saat mengamati perilaku orang didunia kerja, saya lebih banyak
      lagi menemukan orang-orang yang tidak berkomitmen terhadap pekerjaannya, namun
      selalu menuntut untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Semakin modern zaman
      kita, rupanya semakin banyak yang perilaku kerjanya seperti si Kabayan. Tidak
      hanya ditatar Sunda ternyata. Dimana pun selalu bisa kita temui orang-orang
      yang malas bekerja seperti si Kabayan. Jika ada orang yang mengamati keseharian
      kerja saya, mungkin orang itu juga bisa menemukan sifat malas si Kabayan
      didalam diri saya. Siapa tahu, kan? Di dalam diri Anda? Saya tidak berani
      berkata apa-apa.
       
      Sekarang, saya paham. Mengapa zaman dahulu para sepuh
      tatar Sunda tidak bosan-bosannya mengingatkan generasi muda agar tidak meniru
      kemalasan si Kabayan. Misalnya, melalui kisah ketika si Kabayan disuruh memetik
      buah nangka oleh Ibu mertuanya. Boleh ya saya ceritakan kembali? Dengan cara
      saya sendiri, dan menggunakan bahasa Indonesia tentu saja.
       
      Si Kabayan yang gemar memakan buah berasa manis itu
      heran, kenapa mertuanya tidak lagi menyuguhi buah nangka pagi ini. Rasa
      penasaran mendorongnya untuk bertanya. Lalu, tahulah dia alasannya. Persediaan
      buah nangka di rumah mertuanya sudah tidak bersisa. “Kalau mau makan buah
      nangka, kamu harus memetiknya dulu di kebun,” demikian kata mertuanya.
       
      “Kenapa mesti dipetik atuh Ambu, nangka teh?” jawab
      si Kabayan. “Kan biasanya juga sudah ada diatas meja makan….”  Maklum, selama ini dia hanya tinggal terima
      hasilnya saja. Tidak mau kerjanya.
       
      “Iya sekarang giliran kamu yang kerja,” kata Ibu
      mertuanya.”Sana pergi ke kebun.” Perintahnya. “Petik nangka yang besar dan
      sudah tua ya….”
       
      Akhirnya Kabayan pergi juga dengan gerutuan dan
      gayanya yang malas-malasan. Sesampai di kebun, dia mencari-cari nangka yang
      sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh Ibu mertuanya. Besar dan
      sudah tua. Dapat tentu saja. Ada nangka yang besar. Dan sudah tua. Maka si
      Kabayan pun memetiknya.
       
      Bedebum!
      Buah nangka itu pun jatuh dari pohonnya. Dari bunyi
      bedebumnya itu sudah bisa dibayangkan betapa beratnya dia. Kabayan segera turun
      dari pohon lalu dilihatnya nangka besar dan tua itu tergolek di tanah. ‘Euleuh-euleuh
      ini nangka meni segede ujubilah,’ gumam Kabayan. Sambil membayangkan betapa
      berat dan susah payahnya jika mesti memanggulnya sampai ke rumah. Dia pun
      memutar otaknya untuk mendapatkan jalan keluarnya. THING! Lampu di kepalanya
      menyala. Dia sudah menemukan solusinya.
       
      Maka si Kabayan pun menyeret nangka itu ke pinggir
      sungai untuk dihanyutkan. Kepadanya, si Kabayan berpesan; “Kamu pulang saja duluan
      ke rumah Ambu,” katanya. “Ingat ya, jangan mampir-mampir dulu. Ambu sudah
      nungguin kamu!” Maka buah nangka itu pun memulai perjalanan pulangnya.
       
      Setelah itu, si Kabayan pun bergegas pulang ke
      rumahnya. Sesampainya di rumah, Ibu Mertuanya bertanya; “Mana buah nangkanya,
      Kabayan?” katanya. “Bukankah seharian ini kamu pergi ke kebun untuk memetik
      nangka?”
       
      “Loh, belum sampai kerumah nangkanya Ambu?” si
      Kabayan malah balik bertanya.
      “Bagaimana mau sampai, kalau kamunya sendiri baru
      sampai?” balas Ibu Mertuanya. “Kamu itu sebenarnya jadi memetik buah nangka apa
      tidak?”
       
      “Ooooh, tentu saja Ambu. Saya kan menantu yang giat
      bekerja.” Jawabnya.
      “Ya terus mana nangkanya?” Tanya mertuanya.
       
      “Itulah Ambu, saya juga bingung.” Balasnya sambil
      garuk-garuk kepala. “Kenapa jam segini eta si nangka teh belum juga sampai ke
      rumah….”
       
      “Lah, kebanyakan alesan.” Jawab ibu mertuanya. “Dasar
      kamu itu hanya mau enaknya saja!” tambahnya.
       
      Tentu saja Kabayan protes. “Bener Ambu, saya tadi
      ke kebun memetik nangka besar dan sudah tua…” katanya.
      “Iya tapi mana nangkanya?” ibu mertuanya tidak juga
      percaya.
      “Tadi teh sama Kabayan dihanyutkan di sungai…”
      jawab Kabayan.
       
      “Kabayaaaan, Kabayan…” kata ibu mertuanya. “Mana
      bisa nangka itu sampai di rumah kalau kamu hanyutkan di sungai?”
       
      “Ya bisa atuh Ambu,” jawab si Kabayan. “Kan nangkanya
      sudah tua. Masa sih tidak tahu caranya sampai ke rumah Ambu….”
       
      Seperti cerita rakyat dari daerah lainnya, sebagai
      tokoh utama, si Kabayan itu adalah tokoh rekaan. Sebuah cara cerdas para sepuh
      menasihati generasi mudanya. Dibalik kisah-kisah jenakanya yang terkesan absurd
      itu tersimpan pesan moral yang mampu menembus batas-batas zaman, dan melintasi rintangan-rintangan
      zona wilayah. Kisahnya ketika memetik buah nangka ini misalnya. Sangat relevan untuk
      menjadi bahan renungan kita. Pesannya jelas sekali, jika ingin mendapatkan
      hasil seperti yang kita inginkan; maka kita harus mau menyelesaikan pekerjaan
      kita hingga tuntas.  Semakin banyak hasil
      yang kita inginkan, mesti semakin rajin, dan semakin gigih kita dalam
      menuntaskan setiap penugasan. Hal ini sejalan dengan firman Tuhan dalam surah 94
      (Alam Nasyrah) ayat 7 ; “Maka jika Engkau sudah menuntaskan suatu
      pekerjaan, tetaplah bekerja untuk menuntaskan pekerjaan yang lainnya”.
       
      Memang, ada kalanya sudah gigih pun hasilnya belum
      juga sesuai harapan. Namun kegigihan kita, memberi peluang yang lebih besar
      untuk mencapainya. “Dan hanya kepada Tuhanmu, hendaknya Engkau menggantungkan harapan….” Demikian
      kelanjutan firman itu dalam ayat selanjutnya. Maka ketika kita giat bekerja. Gigih
      menutaskan setiap pekerjaan, kelak Allah akan melunakan hati para pengambil keputusan
      untuk memberi kita imbalan yang sepadan. Kenyataannya kan demikian. Kepada orang-orang
      yang berkinerja tinggi, biasanya para pemilik usaha atau pengambil keputusan
      itu sayang sekali. Tuhan telah melunakkan hati mereka.
       
      Tapi jika mereka tetap saja tidak mau berbaik hati?
      Tenang saja, Tuhan punya banyak cara untuk menghargai setiap pribadi yang
      berkualitas tinggi. Jika kita benar-benar tangguh dan bersungguh-sunguh, pada
      saatnya kelak Tuhan akan membukakan jalan yang lebih baik. Dan lebih tepat
      untuk kita tempuh. Namun sebelum itu, ayo kita membiasakan diri untuk bekerja
      hingga tuntas terlebih dahulu. Setelah itu, kita serahkan dampaknya, kepada Sang
      Maha Bijak. Insya Allah, hasil yang kita nanti-nantikan itu pada akhirnya akan
      datang juga.  
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 12 November
      2012
      Leadership and Personnel Development
      Trainer
      0812 19899 737 or Ms. Vivi
      at 0812 1040 3327
       
      Catatan
      Kaki:
      Peluang mendatangi semua orang. Namun, dia lebih mudah
      ditangkap oleh orang-orang yang terbiasa bekerja dengan baik dan berdedikasi
      tinggi.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman artikel “P
      (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
       
      Silakan di-share jika naskah ini Anda
      nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu.
      Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda
      tidak berkurang karenanya.
       

      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Wanna get in touch with Dadang? 
      Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.