Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Keledai.. Pelakunya Diduga Sama: Korupsi Dana Pendidikan di Barito Kuala Kalimantan Selatan & Kredit Fiktif Bank Jatim 50 Milyar

Expand Messages
  • Nanang Heriyanto
    Keledai saja tidak jatuh pada lobang yang sama untuk ke dua kali para pejabat bisa jatuh pada lobang yang sama berkali2 karena keserakahan keserakahan menyeret
    Message 1 of 2 , Nov 9, 2012
    • 0 Attachment
      Keledai saja tidak jatuh pada lobang yang sama untuk ke dua kali
      para pejabat bisa jatuh pada lobang yang sama berkali2 karena keserakahan
      keserakahan menyeret manusia pada keadaan yang lebih rendah dari hewan
      ---------------------------------------------------
      Fri, 11/2/12, B Ariwibowo  mengirim:
      http://jurnal-korupsi.blogspot.com/2012/11/mafia-rampok-uang-rakyat-dengan-modus_1.html
      Analisis GETAR - Gerakan Tampar Koruptor
      Studi Kasus Kredit Fiktif Bank Jatim 50 Milyar & Berkuasanya Para Mafia Perusak Negeri (Kasus Korupsi Dana Pendidikan di Barito Kuala, Kalimantan
      Selatan)

      Baca koran yang sama yakni Jawa Pos edisi 27 Oktober 2012, ternyata pelaku pembobolan bank Jatim ini, diberitakan bahwa yang bersangkutan juga terjerat kasus
      korupsi dana DAK pendidikan di Kalimantan Selatan pada tahun lalu (tahun 2010 & 2011), tepatnya di Kabupaten Barito Kuala.
      Tapi yang aneh sekarang ini (tahun 2012), sebagaimana berita kedua
      dibawah ini, 
      tindakan dugaan korupsi rupanya diulangi oleh komplotan mafia yang
      sama di tempat yang sama yakni  kabupaten Barito Kuala dan pada bidang
      yang sama
      yakni korupsi dana DAK pendidikan.

      Padahal upaya korupsi
      bisa terjadi karena ada kerjasama dengan pejabat setempat. Dengan para
      mafia itu bisa dengan leluasa mengulangi lagi tindakannya di kabupaten
      Barito Kuala, ini
      mengindikasikan bahwa ada 3 kemungkinan.
      yang pertama: pejabat kabupaten Barito Kuala tidak jeli & tidak waspada
      yang kedua: memang ada dugaan kuat terjadi korupsi berjamaah antara komplotan mafia & pejabat di kabupaten Barito Kuala
      yang
      ketiga: karena aparat hukum setempat terkesan ogah2an menindak para
      koruptor, maka koruptor bersikap arogan, seolah menjadi majikan dari
      aparat hukum setempat

      Hipotesa: Apakah ini merupakan cermin pengelolaan masyarakat, bangsa & negara di seluruh Indonesia saat ini???
      ------------------------------------------------
      Berita Pertama
      http://jurnal-korupsi.blogspot.com/2012/10/mafia-rampok-uang-rakyat-dengan-modus.html
      Mafia Pendidikan Rampok Uang Rakyat Dengan Modus Kredit Fiktif Bank Jatim 50
      Milyar

      Harian milik Dahlan Iskan, Terbitan jawa Timur, yakni Jawa Pos 3 hari berturut2 (24,25, 26 Oktober 2012) memberitakan
      kasus kredit fiktif yang menguras dana masyarakat di Bank Plat Merah/ Bank milik Pemerintah, yakni Bank Jatim sebesar
      Rp.50 Milyar. Dalam berita tersebut diberitakan bahwa Polisi dalam hal
      ini Polda Jatim telah menetapkan 13 tersangka, yakni 6 orang pegawai
      bank jatim & 7 orang & perusahaan pengaju kredit fiktif.

      Dalam
      berita tersebut disebutkan otak dari kredit fiktif ini adalah Yudi
      Setiawan dengan memakai perusahaan PT. Cipta Inti Parmindo. Sedangkan
      perusahaan2 lain adalah perusahaan2 milik Yudi juga, dimana yang
      dijadikan pimpinan adalah anak, sopir, pembantu, pegawai dari Yudi. Dan
      diketahui semua kredit yang diterima dari bank jatim  pada perusahaan2
      itu semua dananya akhirnya mengalir ke Yudi atau PT Cipta Inti Parmindo.

      Sekilas
      dari
      berita ini tidak ada yang aneh. Tapi jika ditelusuri sebenarnya banyak
      hal yang bisa membuat otak kita berkerut. Hal2 itu adalah:

      1.
      Dalam berita yang ditahan hanyalah pegawai dari Bank Jatim, dengan
      alasan dikuatirkan akan mempersulit penyidikan. Tapi pemilik perusahaan2
      yang menerima uang tidak ditahan. Apa polisi tidak akan kesulitan
      melakukan penyidikan, jika perusahaan2 itu menghilangkan barang bukti
      atau pemiliknya lari keluar negeri? karena sampai sekarang juga  tidak
      ada uang hasil pembobolan yang disita ataupun rekening milik
      orang2/perusahaan2 itu yang diblokir dll. Apakah tidak terpikir untuk
      menyelamatkan uang negara yang dibobol?

      2. Disebut2 pemilik PT.
      Cipta Inti Parmindo adalah otak dari kredit fiktif, tapi kenapa yang
      dinyatakan tersangka adalah hanya Yudi Setiawan? Padahal pengendali
      utama dari perusahaan ini adalah Liauw Inggarwati, yang sering
      disebut sebagai mafia pendidikan dan dalam akta perusahaan merupakan komisaris dari perusahaan
      ini. Apalagi kredit fiktif ini disebut2 dalam berita terkait dengan
      kegiatan dan proyek fiktif dunia pendidikan. seharusnya aparat hukum
      juga menyelidiki aliran uang yang mengalir ke Liauw Inggarwati, dan
      menyelidiki keterlibatannya, karena Yudi Setiawan (keponakan Liauw Inggarwati) hanyalah pelaksana
      yang dipasang sebagai Direktur perusahaan ini, dan yang bisa mengatur
      kemulusan kredit2 fiktif  dari bank plat merah ini adalah Liauw
      Inggarwati.

      3. Melihat begitu gampangnya uang bank sedemikian
      besar diberikan secara cuma2 atau dipersilahkan dengan mudah untuk
      dikuras/dirampok, bisa diduga
      ini adalah pekerjaan para mafia. Dan para pejabat seperti dalam berita
      kasus ini diduga mendapatkan sedikit upah dan imbalan dari para mafia

      4.
      Yang memprihatinkan kredit2 fiktif ini diambilkan dari dana KUR (Kredit
      Usaha Rakyat), yang seharusnya digunakan untuk memajukan ekonomi
      rakyat. Tapi malah diberikan untuk dihabiskan oleh para mafia.

      5.
      Untuk itu patut diselidiki apakah KUR diseluruh bank pemerintah yang
      dalam pernyataan menteri keuangan senilai puluhan trilyun benar2
      digunakan untuk memajukan ekonomi rakyat, atau sekarang menjadi kredit
      macet, karena uangnya sebenarnya tidak dipakai untuk memajukan ekonomi
      masyarakat, tapi malah dinikmati oleh para mafia dan dibawa lari, entah
      dibawa lari di dalam negeri atau keluar negri. Sedangkan di jawa Timur
      sendiri kredit KUR sudah berjumlah trilyunan, dan patut diduga
      berpotensi menjadi kredit macet, karena tidak tepat sasaran dan
      dijadikan bancakan oleh para mafia itu.

      6. Yang harus diwaspadai pula, Liauw Inggarwati dengan operatornya Rony Nasrullah dari PT. Dharmabakti,
      juga sering diberitakan sebagai mafia pendidikan yang diduga
      bekerjasama dengan para pejabat didaerah dalam korupsi proyek2
      peningkatan mutu pendidikan, dengan modus mengurangi jumlah dan kualitas
      dari barang peningkatan mutu pendidikan, dan hal ini berdampak luas
      bagi kualitas pendidikan nasional. Kenapa hal ini bisa mulus terjadi,
      karena diduga sebelum proyek itu dilakukan para pejabat didaerah sudah
      mendapat insentif (uang sogok) dari Liauw Inggarwati, sehingga para
      pejabat itu menurut saja padanya. Dan meski pernah diperiksa dugaan
      korupsinya oleh para aparat hukum, tapi dengan mudahnya kasus itu
      lenyap, karena diduga para aparat hukum sudah disuap. Patut diduga uang
      suap pada para pejabat didaerah dan pada aparat hukum tersebut juga
      berasal dari kredit2 fiktif yang didapatnya dari bank pemerintah itu.

      7.
      yang harus khawatir sebenarnya adalah para pejabat baik itu dari bank
      pemerintah pemberi kredit fiktif, maupun pejabat2 daerah seperti Lamongan, Tuban, Mojokerto, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Mojokerto, Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, Magetan
      dll, karena dalam berita dinyatakan bahwa kredit fiktif itu berkaitan
      dengan proyek2 pendidikan didaerah2 tersebut. Karena dengan fakta yang
      ditahan sekarang adalah hanya para pejabat bank jatim, sedangkan para
      mafia bebas. jadi siap2 saja para pejabat didaerah yang masuk penjara
      sedangkan para mafia bebas. Sebagai Ilustrasi dalam korupsi pembangunan
      GOR Magetan yang sudah ada putusan kasasi dari mahkamah agung, para
      pejabat harus mendekam ditahanan, sedangkan Liauw Inggarwati meski sudah
      dinyatakan tersangka, tapi tidak pernah diperiksa, apalagi masuk
      penjara, tahu2 namanya lenyap. Demikian juga dalam kasus korupsi laptop
      di Jember sebesar Rp. 19 Milyar, meski sudah dinyatakan tersangka sejak
      tahun 2009, tapi tidak pernah diperiksa, sedangkan pejabat dan guru2
      sibuk berhadapan dengan aparat hukum. Mungkin Liauw Inggarwati baru akan
      diperiksa setelah masa kedaluwarsa, dan kasus ditutup karena
      kedaluwarsa.

      8. Jadi para mafia itu sangat dimanjakan, karena
      dengan beri suap sedikit (dalam berita, diduga oknum Bank jatim terima
      Rp. 20 juta), mafia mengeruk dana rakyat Rp. 50 Milyar. Dengan uang itu
      para pejabat didaerah dan aparat hukum disuap sedikit, lalu Liauw
      Inggarwati & Rony Nasrullah mengeruk lagi dana rakyat/ dana
      pendidikan sebesar ratusan milyar. Dan dijamin kebal hukum, sedangkan
      akibatnya kemungkinan besar hanya para pejabat itu yang dipenjara,
      sedangkan para mafia bebas dan bisa meneruskan aksinya ditempat lain.
      Yang paling menderita adalah rakyat.

      Kita
      prihatin, berkali2 terulang lagi bahwa para pejabat pemerintah lebih
      suka jika uang negara/ uang rakyat diberikan secara cuma2 (mafia
      dipersilahkan merampok dengan bebas), daripada digunakan untuk membangun
      masyarakat bangsa & negara. Maka patut dipertanyakan apakah para
      pejabat itu masih merasa sebagai warga negara Indonesia atau mereka juga
      sudah punya kewarganegaraan negara lain. Sehingga kalau negara RI sudah
      hancur dirampok, mereka akan pindah ke negara lain itu.

      Note Tim Pesisir:
      Untuk informasi yang seimbang bisa meminta informasi ke:
      Liauw Inggarwat ; HP: 081333300888 ; 082143555553
      Rony Nasrullah ; HP: 08111116089
      --------------------------------------------------------------------------
      Berita Kedua
      http://www.majalah-gempur.com/2012/10/dana-dak-dinpendik-14-milyar-barito.html
      Dana DAK Dispendik senilai 1.4 Milyar Di Barito Kuala Kalimantan Selatan, Rawan Dikorupsi

      Kalimantan, MAJALAH-GEMPUR. Com. Pengadaan TIK (komputer, hardware
      software)
      sebesar Rp. 1,4 Milyar yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK)
      Dinas Pendidikan sebagaimana dalam LPSE Barito Kuala, rawan Dikorupsi.


      Untuk itu panitia pengadaan, PPK (pejabat pembuat komitmen) dan para
      pejabat di kabupaten Barito Kuala untuk waspada, agar para pejabat
      Barito Kuala tidak terjerat hukuman korupsi. Demikian himbauan yang
      disampaikan Koordinator LSM Bumi Seribu Sungai: Rony NP dalam suratmua
      yang disampaikan Bupati Barito Kuala, Kalimantan Selatan dan instansi
      terkait dan diterima MAJALAH-GEMPUR. Com Jum’at (26/10). Informasi
      pemenang lelang: http://222.124.183.58/eproc/lelang/pemenang/71270


      Menurut Rony, Kewaspadaan diperlukan, agar dalam penerimaan barang
      tidak tertipu, sehingga tidak terkena tindak pidana korupsi. Untuk itu
      barang yang dikirim kesekolah-sekolah, jangan terburu-terburu bahwa
      barang sudah diterima dinyatakan lengkap, sudah sesuai spesifikasi yang
      diatur dalam permendiknas tentang DAK Pendidikan maupun spesifikasi
      dalam dokumen pengadaan serta bisa berfungsi.

      Untuk itu sebelum
      barang dinyatakan lengkap, sudah sesuai spesifikasi yang ditentukan dan
      bisa berfungsi, maka perlu diperiksa dengan teliti. karena ada indikasi
      bahwa jumlah dan spesifikasi barang tidak sesuai dengan jumlah dan
      spesifikasi yang ditentukan.

      Jika tidak diteliti dengan seksama
      tentunya, jika sudah terlanjur dibayar memakai uang negara, sedangkan
      barang yang dikirim ternyata tidak sesuai dalam jumlah dan kualitasnya,
      bisa ada tuduhan bahwa para pejabat di Barito Kuala melakukan korupsi
      berjamaah. Dan jika penyedia barang setelah dibayar tentunya akan sulit
      dimintai pertanggung-jawaban.

      Hal yang perlu diperiksa Menurut
      Rony NP sesuai surat yang diterima MAJALAH-GEMPUR. Com adalah: Apakah
      hardware (komputer, laptop, printer dll) memang benar-benar sudah sesuai
      dengan jumlah dan spesifikasi yang ditentukan.

      Sebagai
      ilustrasi, saat ini diberitakan berbagai media bahwa beredar printer HP
      type 1000s yang antara isi dan kemasan tidak sama spesifikasinya. Apakah
      software baik itu software dari microsof memang benar-bemar asli dan
      sesuai ketentuan.

      Demikian juga software pembelajaran perlu
      diperiksa dan di-uji coba, apakah sudah sesuai jumlah dan
      spesifikasinya. Dan apakah memang bisa berfungsi. Karena saat ini ada
      indikasi beredar software pembelajaran yang ternyata banyak isinya yang
      tidak sesuai spesifikasi yang ditentukan

      Pengadaan alat peraga
      siswa sebesar Rp. 2,37 Milyar yang dibiayai oleh DAK Pendidikan
      sebagaimana dalam LPSE Barito Kuala juga patut dicurigai. Dimana
      penyedia barang adalah CV Andalanku, yang beralamat di Jl. Jemur sari
      No.203 Blok B No. 15, Surabaya, Jawa Timur.

      Karena ada indikasi
      barang yang dikirim tidak sesuai dalam jumlah dan spesifikasi yang
      ditentukan. Apalagi terlihat dalam proses pengadaan, dimana peserta lain
      dinyatakan tidak layak dijadikan sebagai penyedia barang, dengan alasan
      tidak mempunyai syarat- syarat tertentu. Padahal CV andalanku juga
      tidak mempunyai syarat- syarat tertentu tersebut.

      Dan
      kualitasnya perlu diperiksa dan perlu diuji coba, apakah berfungsi atau
      tidak. Sebagai Ilustrasi, dalam peraga pendidikan untuk siswa, misalnya
      untuk cermin banyak yang bukan diberi cermin, tapi hanya potongan
      triplek yang ditempeli kertas mengkilat seolah seperti cermin. Dan dalam
      alat peraga yang berbentuk cerminparabola untuk fungsi memanaskan air,
      ternyata hanya bentuknya saja parabola pemanas air, tapi tidak
      berfungsi, karena memang dibuat dari bahan dan secara asal-asalan


      Kewaspadaan ini menurunya perlu diterapkan, karena sebenarnya
      perusahaan CV Andalanku dan CV Cahaya Anugerah, meski berbeda alamat
      adalah milik orang-orang yang sama. Mereka adalah anak buah dari mafia
      pendidikan Liauw Inggarwati.

      Untuk dicek kebenaran informasi
      ini, silahkan para pejabat Barito Kuala menghubungi pemilik-pemilik dua
      perusahaan itu: Kus Bachrul ; HP: 08165409271 ; 087839913133. Dwi Enggo
      Tjahjono ; HP: 08121677974 ; 087839913140. Nur Hidayati (istri Kus
      Bachrul) ; HP: 081231610974


      [Non-text portions of this message have been removed]
    • Nanang Heriyanto
      Keledai saja tidak jatuh pada lobang yang sama untuk ke dua kali para pejabat bisa jatuh pada lobang yang sama berkali2 karena keserakahan keserakahan menyeret
      Message 2 of 2 , Nov 10, 2012
      • 0 Attachment
        Keledai saja tidak jatuh pada lobang yang sama untuk ke dua kali
        para pejabat bisa jatuh pada lobang yang sama berkali2 karena keserakahan
        keserakahan menyeret manusia pada keadaan yang lebih rendah dari hewan
        ------------------------------------------
        Fri, 11/2/12, B Ariwibowo  mengirim:
        http://jurnal-korupsi.blogspot.com/2012/11/mafia-rampok-uang-rakyat-dengan-modus_1.html
        Analisis GETAR - Gerakan Tampar Koruptor
        Studi Kasus Kredit Fiktif Bank Jatim 50 Milyar & Berkuasanya Para Mafia Perusak Negeri (Kasus Korupsi Dana Pendidikan di Barito Kuala, Kalimantan
        Selatan)

        Baca koran yang sama yakni Jawa Pos edisi 27 Oktober 2012, ternyata pelaku pembobolan bank Jatim ini, diberitakan bahwa yang bersangkutan juga terjerat kasus
        korupsi dana DAK pendidikan di Kalimantan Selatan pada tahun lalu, tepatnya di Kabupaten Barito Kuala.
        Tapi yang aneh sekarang ini (tahun 2012), sebagaimana berita kedua
        dibawah ini, 
        tindakan dugaan korupsi rupanya diulangi oleh komplotan mafia yang
        sama di tempat yang sama yakni  kabupaten Barito Kuala dan pada bidang
        yang sama
        yakni korupsi dana DAK pendidikan.

        Padahal upaya korupsi
        bisa terjadi karena ada kerjasama dengan pejabat setempat. Dengan para
        mafia itu bisa dengan leluasa mengulangi lagi tindakannya di kabupaten
        Barito Kuala, ini
        mengindikasikan bahwa ada 3 kemungkinan.
        yang pertama: pejabat kabupaten Barito Kuala tidak jeli & tidak waspada
        yang kedua: memang ada dugaan kuat terjadi korupsi berjamaah antara komplotan mafia & pejabat di kabupaten Barito Kuala
        yang
        ketiga: karena aparat hukum setempat terkesan ogah2an menindak para
        koruptor, maka koruptor bersikap arogan, seolah menjadi majikan dari
        aparat hukum setempat

        Hipotesa: Apakah ini merupakan cermin pengelolaan masyarakat, bangsa & negara di seluruh Indonesia saat ini???
        ------------------------------------------------
        Berita Pertama
        http://jurnal-korupsi.blogspot.com/2012/10/mafia-rampok-uang-rakyat-dengan-modus.html
        Mafia Pendidikan Rampok Uang Rakyat Dengan Modus Kredit Fiktif Bank Jatim 50
        Milyar

        Harian milik Dahlan Iskan, Terbitan jawa Timur, yakni Jawa Pos 3 hari berturut2 (24,25, 26 Oktober 2012) memberitakan
        kasus kredit fiktif yang menguras dana masyarakat di Bank Plat Merah/ Bank milik Pemerintah, yakni Bank Jatim sebesar
        Rp.50 Milyar. Dalam berita tersebut diberitakan bahwa Polisi dalam hal
        ini Polda Jatim telah menetapkan 13 tersangka, yakni 6 orang pegawai
        bank jatim & 7 orang & perusahaan pengaju kredit fiktif.

        Dalam
        berita tersebut disebutkan otak dari kredit fiktif ini adalah Yudi
        Setiawan dengan memakai perusahaan PT. Cipta Inti Parmindo. Sedangkan
        perusahaan2 lain adalah perusahaan2 milik Yudi juga, dimana yang
        dijadikan pimpinan adalah anak, sopir, pembantu, pegawai dari Yudi. Dan
        diketahui semua kredit yang diterima dari bank jatim  pada perusahaan2
        itu semua dananya akhirnya mengalir ke Yudi atau PT Cipta Inti Parmindo.

        Sekilas
        dari
        berita ini tidak ada yang aneh. Tapi jika ditelusuri sebenarnya banyak
        hal yang bisa membuat otak kita berkerut. Hal2 itu adalah:

        1.
        Dalam berita yang ditahan hanyalah pegawai dari Bank Jatim, dengan
        alasan dikuatirkan akan mempersulit penyidikan. Tapi pemilik perusahaan2
        yang menerima uang tidak ditahan. Apa polisi tidak akan kesulitan
        melakukan penyidikan, jika perusahaan2 itu menghilangkan barang bukti
        atau pemiliknya lari keluar negeri? karena sampai sekarang juga  tidak
        ada uang hasil pembobolan yang disita ataupun rekening milik
        orang2/perusahaan2 itu yang diblokir dll. Apakah tidak terpikir untuk
        menyelamatkan uang negara yang dibobol?

        2. Disebut2 pemilik PT.
        Cipta Inti Parmindo adalah otak dari kredit fiktif, tapi kenapa yang
        dinyatakan tersangka adalah hanya Yudi Setiawan? Padahal pengendali
        utama dari perusahaan ini adalah Liauw Inggarwati, yang sering
        disebut sebagai mafia pendidikan dan dalam akta perusahaan merupakan komisaris dari perusahaan
        ini. Apalagi kredit fiktif ini disebut2 dalam berita terkait dengan
        kegiatan dan proyek fiktif dunia pendidikan. seharusnya aparat hukum
        juga menyelidiki aliran uang yang mengalir ke Liauw Inggarwati, dan
        menyelidiki keterlibatannya, karena Yudi Setiawan (keponakan Liauw Inggarwati) hanyalah pelaksana
        yang dipasang sebagai Direktur perusahaan ini, dan yang bisa mengatur
        kemulusan kredit2 fiktif  dari bank plat merah ini adalah Liauw
        Inggarwati.

        3. Melihat begitu gampangnya uang bank sedemikian
        besar diberikan secara cuma2 atau dipersilahkan dengan mudah untuk
        dikuras/dirampok, bisa diduga
        ini adalah pekerjaan para mafia. Dan para pejabat seperti dalam berita
        kasus ini diduga mendapatkan sedikit upah dan imbalan dari para mafia

        4.
        Yang memprihatinkan kredit2 fiktif ini diambilkan dari dana KUR (Kredit
        Usaha Rakyat), yang seharusnya digunakan untuk memajukan ekonomi
        rakyat. Tapi malah diberikan untuk dihabiskan oleh para mafia.

        5.
        Untuk itu patut diselidiki apakah KUR diseluruh bank pemerintah yang
        dalam pernyataan menteri keuangan senilai puluhan trilyun benar2
        digunakan untuk memajukan ekonomi rakyat, atau sekarang menjadi kredit
        macet, karena uangnya sebenarnya tidak dipakai untuk memajukan ekonomi
        masyarakat, tapi malah dinikmati oleh para mafia dan dibawa lari, entah
        dibawa lari di dalam negeri atau keluar negri. Sedangkan di jawa Timur
        sendiri kredit KUR sudah berjumlah trilyunan, dan patut diduga
        berpotensi menjadi kredit macet, karena tidak tepat sasaran dan
        dijadikan bancakan oleh para mafia itu.

        6. Yang harus diwaspadai pula, Liauw Inggarwati dengan operatornya Rony Nasrullah dari PT. Dharmabakti,
        juga sering diberitakan sebagai mafia pendidikan yang diduga
        bekerjasama dengan para pejabat didaerah dalam korupsi proyek2
        peningkatan mutu pendidikan, dengan modus mengurangi jumlah dan kualitas
        dari barang peningkatan mutu pendidikan, dan hal ini berdampak luas
        bagi kualitas pendidikan nasional. Kenapa hal ini bisa mulus terjadi,
        karena diduga sebelum proyek itu dilakukan para pejabat didaerah sudah
        mendapat insentif (uang sogok) dari Liauw Inggarwati, sehingga para
        pejabat itu menurut saja padanya. Dan meski pernah diperiksa dugaan
        korupsinya oleh para aparat hukum, tapi dengan mudahnya kasus itu
        lenyap, karena diduga para aparat hukum sudah disuap. Patut diduga uang
        suap pada para pejabat didaerah dan pada aparat hukum tersebut juga
        berasal dari kredit2 fiktif yang didapatnya dari bank pemerintah itu.

        7.
        yang harus khawatir sebenarnya adalah para pejabat baik itu dari bank
        pemerintah pemberi kredit fiktif, maupun pejabat2 daerah seperti Lamongan, Tuban, Mojokerto, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Mojokerto, Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, Magetan
        dll, karena dalam berita dinyatakan bahwa kredit fiktif itu berkaitan
        dengan proyek2 pendidikan didaerah2 tersebut. Karena dengan fakta yang
        ditahan sekarang adalah hanya para pejabat bank jatim, sedangkan para
        mafia bebas. jadi siap2 saja para pejabat didaerah yang masuk penjara
        sedangkan para mafia bebas. Sebagai Ilustrasi dalam korupsi pembangunan
        GOR Magetan yang sudah ada putusan kasasi dari mahkamah agung, para
        pejabat harus mendekam ditahanan, sedangkan Liauw Inggarwati meski sudah
        dinyatakan tersangka, tapi tidak pernah diperiksa, apalagi masuk
        penjara, tahu2 namanya lenyap. Demikian juga dalam kasus korupsi laptop
        di Jember sebesar Rp. 19 Milyar, meski sudah dinyatakan tersangka sejak
        tahun 2009, tapi tidak pernah diperiksa, sedangkan pejabat dan guru2
        sibuk berhadapan dengan aparat hukum. Mungkin Liauw Inggarwati baru akan
        diperiksa setelah masa kedaluwarsa, dan kasus ditutup karena
        kedaluwarsa.

        8. Jadi para mafia itu sangat dimanjakan, karena
        dengan beri suap sedikit (dalam berita, diduga oknum Bank jatim terima
        Rp. 20 juta), mafia mengeruk dana rakyat Rp. 50 Milyar. Dengan uang itu
        para pejabat didaerah dan aparat hukum disuap sedikit, lalu Liauw
        Inggarwati & Rony Nasrullah mengeruk lagi dana rakyat/ dana
        pendidikan sebesar ratusan milyar. Dan dijamin kebal hukum, sedangkan
        akibatnya kemungkinan besar hanya para pejabat itu yang dipenjara,
        sedangkan para mafia bebas dan bisa meneruskan aksinya ditempat lain.
        Yang paling menderita adalah rakyat.

        Kita
        prihatin, berkali2 terulang lagi bahwa para pejabat pemerintah lebih
        suka jika uang negara/ uang rakyat diberikan secara cuma2 (mafia
        dipersilahkan merampok dengan bebas), daripada digunakan untuk membangun
        masyarakat bangsa & negara. Maka patut dipertanyakan apakah para
        pejabat itu masih merasa sebagai warga negara Indonesia atau mereka juga
        sudah punya kewarganegaraan negara lain. Sehingga kalau negara RI sudah
        hancur dirampok, mereka akan pindah ke negara lain itu.

        Note Tim Pesisir:
        Untuk informasi yang seimbang bisa meminta informasi ke:
        Liauw Inggarwat ; HP: 081333300888 ; 082143555553
        Rony Nasrullah ; HP: 08111116089
        --------------------------------------------------------------------------
        Berita Kedua
        http://www.majalah-gempur.com/2012/10/dana-dak-dinpendik-14-milyar-barito.html
        Dana DAK Dispendik senilai 1.4 Milyar Di Barito Kuala Kalimantan Selatan, Rawan Dikorupsi

        Kalimantan,
        MAJALAH-GEMPUR. Com. Pengadaan TIK (komputer, hardware
        software)
        sebesar Rp. 1,4 Milyar yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK)
        Dinas Pendidikan sebagaimana dalam LPSE Barito Kuala, rawan Dikorupsi.


        Untuk itu panitia pengadaan, PPK (pejabat pembuat komitmen) dan para
        pejabat di kabupaten Barito Kuala untuk waspada, agar para pejabat
        Barito Kuala tidak terjerat hukuman korupsi. Demikian himbauan yang
        disampaikan Koordinator LSM Bumi Seribu Sungai: Rony NP dalam suratmua
        yang disampaikan Bupati Barito Kuala, Kalimantan Selatan dan instansi
        terkait.

        Menurut Rony, Kewaspadaan diperlukan, agar dalam penerimaan barang
        tidak tertipu, sehingga tidak terkena tindak pidana korupsi. Untuk itu
        barang yang dikirim kesekolah-sekolah, jangan terburu-terburu bahwa
        barang sudah diterima dinyatakan lengkap, sudah sesuai spesifikasi yang
        diatur dalam permendiknas tentang DAK Pendidikan maupun spesifikasi
        dalam dokumen pengadaan serta bisa berfungsi.

        Untuk itu sebelum
        barang dinyatakan lengkap, sudah sesuai spesifikasi yang ditentukan dan
        bisa berfungsi, maka perlu diperiksa dengan teliti. karena ada indikasi
        bahwa jumlah dan spesifikasi barang tidak sesuai dengan jumlah dan
        spesifikasi yang ditentukan.

        Jika tidak diteliti dengan seksama
        tentunya, jika sudah terlanjur dibayar memakai uang negara, sedangkan
        barang yang dikirim ternyata tidak sesuai dalam jumlah dan kualitasnya,
        bisa ada tuduhan bahwa para pejabat di Barito Kuala melakukan korupsi
        berjamaah. Dan jika penyedia barang setelah dibayar tentunya akan sulit
        dimintai pertanggung-jawaban.

        Hal yang perlu diperiksa Menurut
        Rony NP sesuai surat yang diterima MAJALAH-GEMPUR. Com adalah: Apakah
        hardware (komputer, laptop, printer dll) memang benar-benar sudah sesuai
        dengan jumlah dan spesifikasi yang ditentukan.

        Sebagai
        ilustrasi, saat ini diberitakan berbagai media bahwa beredar printer HP
        type 1000s yang antara isi dan kemasan tidak sama spesifikasinya. Apakah
        software baik itu software dari microsof memang benar-bemar asli dan
        sesuai ketentuan.

        Demikian juga software pembelajaran perlu
        diperiksa dan di-uji coba, apakah sudah sesuai jumlah dan
        spesifikasinya. Dan apakah memang bisa berfungsi. Karena saat ini ada
        indikasi beredar software pembelajaran yang ternyata banyak isinya yang
        tidak sesuai spesifikasi yang ditentukan

        Pengadaan alat peraga
        siswa sebesar Rp. 2,37 Milyar yang dibiayai oleh DAK Pendidikan
        sebagaimana dalam LPSE Barito Kuala juga patut dicurigai. Dimana
        penyedia barang adalah CV Andalanku, yang beralamat di Jl. Jemur sari
        No.203 Blok B No. 15, Surabaya, Jawa Timur.

        Karena ada indikasi
        barang yang dikirim tidak sesuai dalam jumlah dan spesifikasi yang
        ditentukan. Apalagi terlihat dalam proses pengadaan, dimana peserta lain
        dinyatakan tidak layak dijadikan sebagai penyedia barang, dengan alasan
        tidak mempunyai syarat- syarat tertentu. Padahal CV andalanku juga
        tidak mempunyai syarat- syarat tertentu tersebut.

        Dan
        kualitasnya perlu diperiksa dan perlu diuji coba, apakah berfungsi atau
        tidak. Sebagai Ilustrasi, dalam peraga pendidikan untuk siswa, misalnya
        untuk cermin banyak yang bukan diberi cermin, tapi hanya potongan
        triplek yang ditempeli kertas mengkilat seolah seperti cermin. Dan dalam
        alat peraga yang berbentuk cerminparabola untuk fungsi memanaskan air,
        ternyata hanya bentuknya saja parabola pemanas air, tapi tidak
        berfungsi, karena memang dibuat dari bahan dan secara asal-asalan


        Kewaspadaan ini menurunya perlu diterapkan, karena sebenarnya
        perusahaan CV Andalanku dan CV Cahaya Anugerah, meski berbeda alamat
        adalah milik orang-orang yang sama. Mereka adalah anak buah dari mafia
        pendidikan Liauw Inggarwati.

        Untuk dicek kebenaran informasi
        ini, silahkan para pejabat Barito Kuala menghubungi pemilik-pemilik dua
        perusahaan itu: Kus Bachrul ; HP: 08165409271 ; 087839913133. Dwi Enggo
        Tjahjono ; HP: 08121677974 ; 087839913140. Nur Hidayati (istri Kus
        Bachrul) ; HP: 081231610974


        [Non-text portions of this message have been removed]
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.