Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

menyedihkan kalo paradigmanya seperti ini & jangan salahkan pihak asing? bodohnya kita [APWKomitel] Sikap peneliti kita!

Expand Messages
  • rrusdiah@yahoo.com
    Pak mitro, pak Ardi, pak Iwan, pak paulus.ysh: ... kenapa tidak di forward aja ke pak Kadiman Menristek dan pak koswara... biar dapat feedback. masalah seperti
    Message 1 of 4 , Nov 1, 2008
    • 0 Attachment
      Pak mitro, pak Ardi, pak Iwan, pak paulus.ysh:

      ... kenapa tidak di forward aja ke pak Kadiman Menristek dan pak koswara... biar dapat feedback.

      masalah seperti ini memang klasik... seperti di Depkominfo... Kementerian ristek juga masih belum memikirkan atau paradigmanya asas manfaat.

      jadi yang penting ada proyek... ada kegiatan... bisa memanfaatkan anggaran APBN... yah wis... selesai... karena mudah utk pertanggung jawabkan...

      padahal yang penting bagi bangsa ini adalah apa manfaatnya bagi masyarakat ?
      apa manfaatnya bagi masa depan bangsa ini...???

      kita males mikir kalau sudah seperti ini... maunya mencari gampangnya... sehingga akhirnya kalau seandainya kita dikendalikan oleh asing

      kalau kita dimanfaatkan oleh asing... jangan menyalahkan orang asing...

      mereka menjalankan strategi mereka... kita yang bodoh tidak mempunyai strategi , visi dan misi...dan memang maunya enaknya saja kok...

      terima jadinya...
      sangat menyedihkan... karena kita tidak akan keluar dari krisis selama penyelenggara negara masih paradigmanya seperti ini.
      dan mohon maaf jika ada yang tersungging... bicara apa adanya saja
      salam, rr - apwkomitel


       
      ---
      ref: http://www.micronics.info http://www.java-cafe.net http://www.apwkomitel.org
      ---


      From: S Roestam <sumitror@...>

      Pak Hikmat, Pak Taufik, Pak Ardi, Pak Onno dan Kawan2 Yth,

      Saran saya, agar Lembaga2 Peneltian Pemerintah bekerjasama dengan anak-
      anak bangsa yang kreatif dan innovatif, dengan dana yang terbatas, maka
      akan masih mampu untuk membuat terobosan-terobosan penting dalam dunia
      ilmu pengetahuan dan aplikasi-aplikasi bisnis yang akan sangat
      bermanfaat untuk memajukan negeri ini, dari pada membeli software-
      software proprietary yang mahal dan harus bayar tiap tahun, namun
      manfaatnya sangat minim bagi kemajuna bangsa dan negara.

      Perlu ada keberanian Pimpinan Lembaga2 ini untuk membuat terobosan,
      agar dana penelitian yg terbatas ini lebih memberikan NILAI TAMBAH bagi
      segenap unsur bangsa Indonesia.

      Sebenarnya sudah ada contoh, seperti baru-baru ini, Baku Sekolah
      Elektronik (BSE) tentang pengajaran Open Source yang disusun oleh pak
      Onno DKK yang dibuat dengan biaya dari DEPKOMINFO dan Kementrian RISTEK
      dan kemudian diserahkan ke DIKNAS untuk disebarkan keseluruh Indonesia.

      Juga beberapa waktu yg lalu Tim Pak Frans telah menyusun Platform Open
      Source untuk aplikasi busnis yang dibiayai oleh Depkominfo.

      Masih banyak Lembaga2 Penelitian Pemerintah yang dapat melakukan
      kerjasama dengan anak-anak bangsa untuk menghasilkan karya2 yang
      kreatif, innovatif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Misalnya,
      Brown Energy untuk menghemat pemakaian BBM, Nano Technology untuk
      menghasilkan tanaman yang unggul, Energi Angin, Energi Ombak, Mesin
      Bioetanol, Software eGov berbasis Open Source untuk dijadikan standar
      diseluruh Indonesia, dll. Tidak diperlukan dana yg berlebih, dengan
      anggaran yang ada, cukup untuk membuat terobosan2 yang bermanfaat bagi
      kemajuan bangsa dan negara.

      Semoga mendapat perhatian para Pimpinan Lembaga2 Penelitian Pemerintah
      untuk segera merubah Visi, Misi, Strategi dan Program2 mereka,
      disesuaikan dengan keterbatasan anggaran, namun memberikan hasil yang
      maksimal.

      Wassalam,
      S Roestam
      http://masif. wordpress. com
      http://ristek- id.com
      ------------ --------- --------- -----

      ----Original Message----
      From: hemat_d_nuryanto@ yahoo.co. id
      Date: 30/10/2008 8:37
      To: <APWKomitel@yahoogro ups.com>
      Subj: Re: [APWKomitel] Sikap peneliti kita!

      rekan2,
      coba simak sambutan pemimpin muda jabar di crayonpedia terkait lembaga
      pendididikan dan rasanya cocok juga untuk disimak oleh sebuah lembaga
      penelitian :

      " ... lembaga pendidikan mestinya mengembangkan sikap yang memandang
      sains dan teknologi sebagai bahan yang tidak sekedar untuk dipelajari
      tetapi untuk di inovasi dan gencar diproduksi sehingga mendatangkan
      kemajuan dan nilai tambah yang berlipat ganda. Proses pendidikan harus
      membentuk masyarakat bersikap rasional dan menjunjung tinggi pendekatan
      ilmiah. Nilai-nilai budaya lokal yang adaptif terhadap semangat jaman
      harus diartikulasikan dalam proses pendidikan. Nilai budaya yang telah
      menjadi artifak yang tersimpan di lumbung kultural warisan leluhur kita
      seperti misalnya ajaran untuk bageur ( patuh, taat dan
      ikhlas), singer  (banyak ide, kreatif, dan inovatif dalam sains dan
      teknologi), dan pinter (cerdas dalam penyelesaian masalah) sebaiknya
      diadaptasi dan diapresiasi sesuai kemajuan jaman ..."

      see : www.crayonpedia. org   dan/atau www.crayonpedia. org/blog

      mestinya BPPT dan LIPI bukan mempromosikan produk asing ... namun
      mesti pintar berinovasi dan berkretifitas. Rasanya tidak pas bila telah
      membuat sebuah distro linux (igos nusantara) dan tidak direspons publik
      lantas mengeluh. Dengan anggaran negara (mendapat gaji dari negara)
      mereka mestinya dapat melihat tantangan dan peluang masa depan lebih
      baik dibanding pengembang software dalam negri lainnya yang harus
      berjibaku siang malam mengejar dan menyelesaikan pekerjaan demi mencari
      nafkah hidup esok hari  (atau bulan depan) yang memiliki kesempatan
      sedikit untuk menatap jauh ke masa depan.

      salam hangat,
      hdn  
      http://hdn.zamrudte chnology. com
      www.zamrudtechnolog y.com
      www.crayonpedia. org
      www.igoscenter. org

      --- On Thu, 10/30/08, iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com> wrote:
      From: iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com>
      Subject: Re: [APWKomitel] Sikap peneliti kita!
      To: APWKomitel@yahoogro ups.com
      Date: Thursday, October 30, 2008, 8:08 AM

      Weleh-weleh. ...... tak kuat nulis kata lain ............
      ......... ......... ......... ......... ......... ......... .........
      ......... ......... ....

      "Ardi Sutedja K." <asutedjak@yahoo. com>
      wrote: teman-teman di sidang milist APW
      Komitel, berikut saya ikut sharing komentar saya
      tentang berita di detik.com yang kebetulan juga bertepatan dengan
      adanya sebuah jajak pendapat di milist QB.

      Salam,
      Ardi

      teman-teman sidang milist QB yang terhormat,

      Menyambung jajak pendapat tentang Peneliti Indonesia kemarin di milist
      ini, berikut saya lampirkan sebuah berita di detik.com pagi ini yang
      bagi saya cukup mengejutkan! Apakah sekarang pada berlomba-lomba cari,
      "Personal Safety Net" atau justru gairah meneliti sudah tidak ada? Ada
      yang meneliti tentang pil untuk membangkitkan gairah untuk meneliti?

      Salam,
      Ardi

      LIPI dan BPPT Promosikan Vendor Anti-Spam Asing

      Achmad Rouzni Noor II - detikinet

      Ilustrasi (Ist.) Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
      (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), bukannya
      mengembangkan perangkat sendiri tapi justru mempromosikan kehebatan
      BoxSentry, vendor asing yang punya solusi memblokir email sampah
      (spam).

      "Fokus kerja kami hanya riset saja," sergah Direktur Ipteknet BPPT
      Hamam Riza, di sela acara BoxSentry, di Hotel Ritz Carlton, Pacific
      Place, Jakarta, Rabu (29/10/2008) .

      Ipteknet BPPT merupakan departemen yang bernaung di bawah Kementerian
      Negara Riset dan Teknologi (Ristek). Ipteknet menggunakan solusi
      BoxSentry untuk memblokir spam di 2000 akun email BPPT yang dikelola
      jaringan intranetnya.

      "Ipteknet ini seperti ISP (penyelenggara jasa internet) saja. Kami
      ingin cari solusi anti-spam yang efektif dengan anggaran yang kecil, Rp
      150 juta," sambung Hamam lagi.

      Lain lagi dengan LIPI. Meski mengaku tak menggunakan solusi BoxSentry,
      namun di acara ini LIPI juga gencar mempromosikan solusi vendor anti-
      spam asing itu untuk mengeliminir ancaman spam yang membahayakan bisnis
      di Indonesia.

      "Policy kami di LIPI menggunakan Open Source. Namun kami tak menutup
      mata kalau ada solusi yang lebih baik seperti ini," ujar Ika Atman
      Satya, peneliti dari LIPI.

      Menurutnya, LIPI menganggarkan Rp 3-4 miliar tiap tahunnya untuk
      belanja TI dan keperluan bandwidth internet. "Bukannya kami tidak mau
      mengembangkan produk sendiri, namun lihat saja IGOS Nusantara buatan
      kami, sekarang siapa yang pakai?" keluhnya.



       

    • paulus BW
      Pak Rudy, Sebenarnya pada instansi tau, bahwa banyak kemampuan anak2 bangsa. Tapi mereka lebih memilih untuk bekerja sama dengan asing, karena ada alasan
      Message 2 of 4 , Nov 1, 2008
      • 0 Attachment
        Pak Rudy,
        Sebenarnya pada instansi tau, bahwa banyak kemampuan anak2 bangsa.
        Tapi mereka lebih memilih untuk bekerja sama dengan asing, karena ada alasan tertentu.
        Saya punya temen Dr.Ing. ahli satelit lulusan TU-Berlin cum laude, di Indonesia dia tidak dimanfaatkan untuk project atau seminar2 bahkan mengajar.
        Instansi kita lebih senang mengundang pakar dari LN, walaupun kompetensinya kurang.
        Alasannya......tau sediri deh.....
        Temen saya itu, sekarang kerjanya malah bikin dan jual obat gosok.
        Apa negara tidak rugi...punya pakar yang terlantar......
        Salam,
        pb

        2008/11/1 <rrusdiah@...>

        Pak mitro, pak Ardi, pak Iwan, pak paulus.ysh:

        ... kenapa tidak di forward aja ke pak Kadiman Menristek dan pak koswara... biar dapat feedback.

        masalah seperti ini memang klasik... seperti di Depkominfo... Kementerian ristek juga masih belum memikirkan atau paradigmanya asas manfaat.

        jadi yang penting ada proyek... ada kegiatan... bisa memanfaatkan anggaran APBN... yah wis... selesai... karena mudah utk pertanggung jawabkan...

        padahal yang penting bagi bangsa ini adalah apa manfaatnya bagi masyarakat ?
        apa manfaatnya bagi masa depan bangsa ini...???

        kita males mikir kalau sudah seperti ini... maunya mencari gampangnya... sehingga akhirnya kalau seandainya kita dikendalikan oleh asing

        kalau kita dimanfaatkan oleh asing... jangan menyalahkan orang asing...

        mereka menjalankan strategi mereka... kita yang bodoh tidak mempunyai strategi , visi dan misi...dan memang maunya enaknya saja kok...

        terima jadinya...
        sangat menyedihkan... karena kita tidak akan keluar dari krisis selama penyelenggara negara masih paradigmanya seperti ini.
        dan mohon maaf jika ada yang tersungging... bicara apa adanya saja
        salam, rr - apwkomitel


         
        ---
        ref: http://www.micronics.info http://www.java-cafe.net http://www.apwkomitel.org
        ---


        From: S Roestam <sumitror@...>

        Pak Hikmat, Pak Taufik, Pak Ardi, Pak Onno dan Kawan2 Yth,

        Saran saya, agar Lembaga2 Peneltian Pemerintah bekerjasama dengan anak-
        anak bangsa yang kreatif dan innovatif, dengan dana yang terbatas, maka
        akan masih mampu untuk membuat terobosan-terobosan penting dalam dunia
        ilmu pengetahuan dan aplikasi-aplikasi bisnis yang akan sangat
        bermanfaat untuk memajukan negeri ini, dari pada membeli software-
        software proprietary yang mahal dan harus bayar tiap tahun, namun
        manfaatnya sangat minim bagi kemajuna bangsa dan negara.

        Perlu ada keberanian Pimpinan Lembaga2 ini untuk membuat terobosan,
        agar dana penelitian yg terbatas ini lebih memberikan NILAI TAMBAH bagi
        segenap unsur bangsa Indonesia.

        Sebenarnya sudah ada contoh, seperti baru-baru ini, Baku Sekolah
        Elektronik (BSE) tentang pengajaran Open Source yang disusun oleh pak
        Onno DKK yang dibuat dengan biaya dari DEPKOMINFO dan Kementrian RISTEK
        dan kemudian diserahkan ke DIKNAS untuk disebarkan keseluruh Indonesia.

        Juga beberapa waktu yg lalu Tim Pak Frans telah menyusun Platform Open
        Source untuk aplikasi busnis yang dibiayai oleh Depkominfo.

        Masih banyak Lembaga2 Penelitian Pemerintah yang dapat melakukan
        kerjasama dengan anak-anak bangsa untuk menghasilkan karya2 yang
        kreatif, innovatif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Misalnya,
        Brown Energy untuk menghemat pemakaian BBM, Nano Technology untuk
        menghasilkan tanaman yang unggul, Energi Angin, Energi Ombak, Mesin
        Bioetanol, Software eGov berbasis Open Source untuk dijadikan standar
        diseluruh Indonesia, dll. Tidak diperlukan dana yg berlebih, dengan
        anggaran yang ada, cukup untuk membuat terobosan2 yang bermanfaat bagi
        kemajuan bangsa dan negara.

        Semoga mendapat perhatian para Pimpinan Lembaga2 Penelitian Pemerintah
        untuk segera merubah Visi, Misi, Strategi dan Program2 mereka,
        disesuaikan dengan keterbatasan anggaran, namun memberikan hasil yang
        maksimal.

        Wassalam,
        S Roestam
        http://masif. wordpress. com
        http://ristek- id.com
        ------------ --------- --------- -----

        ----Original Message----
        From: hemat_d_nuryanto@ yahoo.co. id
        Date: 30/10/2008 8:37
        To: <APWKomitel@yahoogro ups.com>
        Subj: Re: [APWKomitel] Sikap peneliti kita!

        rekan2,
        coba simak sambutan pemimpin muda jabar di crayonpedia terkait lembaga
        pendididikan dan rasanya cocok juga untuk disimak oleh sebuah lembaga
        penelitian :

        " ... lembaga pendidikan mestinya mengembangkan sikap yang memandang
        sains dan teknologi sebagai bahan yang tidak sekedar untuk dipelajari
        tetapi untuk di inovasi dan gencar diproduksi sehingga mendatangkan
        kemajuan dan nilai tambah yang berlipat ganda. Proses pendidikan harus
        membentuk masyarakat bersikap rasional dan menjunjung tinggi pendekatan
        ilmiah. Nilai-nilai budaya lokal yang adaptif terhadap semangat jaman
        harus diartikulasikan dalam proses pendidikan. Nilai budaya yang telah
        menjadi artifak yang tersimpan di lumbung kultural warisan leluhur kita
        seperti misalnya ajaran untuk bageur ( patuh, taat dan
        ikhlas), singer  (banyak ide, kreatif, dan inovatif dalam sains dan
        teknologi), dan pinter (cerdas dalam penyelesaian masalah) sebaiknya
        diadaptasi dan diapresiasi sesuai kemajuan jaman ..."

        see : www.crayonpedia. org   dan/atau www.crayonpedia. org/blog

        mestinya BPPT dan LIPI bukan mempromosikan produk asing ... namun
        mesti pintar berinovasi dan berkretifitas. Rasanya tidak pas bila telah
        membuat sebuah distro linux (igos nusantara) dan tidak direspons publik
        lantas mengeluh. Dengan anggaran negara (mendapat gaji dari negara)
        mereka mestinya dapat melihat tantangan dan peluang masa depan lebih
        baik dibanding pengembang software dalam negri lainnya yang harus
        berjibaku siang malam mengejar dan menyelesaikan pekerjaan demi mencari
        nafkah hidup esok hari  (atau bulan depan) yang memiliki kesempatan
        sedikit untuk menatap jauh ke masa depan.

        salam hangat,
        hdn  
        http://hdn.zamrudte chnology. com
        www.zamrudtechnolog y.com
        www.crayonpedia. org
        www.igoscenter. org

        --- On Thu, 10/30/08, iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com> wrote:
        From: iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com>
        Subject: Re: [APWKomitel] Sikap peneliti kita!
        To: APWKomitel@yahoogro ups.com
        Date: Thursday, October 30, 2008, 8:08 AM

        Weleh-weleh. ...... tak kuat nulis kata lain ............
        ......... ......... ......... ......... ......... ......... .........
        ......... ......... ....

        "Ardi Sutedja K." <asutedjak@yahoo. com>
        wrote: teman-teman di sidang milist APW
        Komitel, berikut saya ikut sharing komentar saya
        tentang berita di detik.com yang kebetulan juga bertepatan dengan
        adanya sebuah jajak pendapat di milist QB.

        Salam,
        Ardi

        teman-teman sidang milist QB yang terhormat,

        Menyambung jajak pendapat tentang Peneliti Indonesia kemarin di milist
        ini, berikut saya lampirkan sebuah berita di detik.com pagi ini yang
        bagi saya cukup mengejutkan! Apakah sekarang pada berlomba-lomba cari,
        "Personal Safety Net" atau justru gairah meneliti sudah tidak ada? Ada
        yang meneliti tentang pil untuk membangkitkan gairah untuk meneliti?

        Salam,
        Ardi

        LIPI dan BPPT Promosikan Vendor Anti-Spam Asing

        Achmad Rouzni Noor II - detikinet

        Ilustrasi (Ist.) Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
        (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), bukannya
        mengembangkan perangkat sendiri tapi justru mempromosikan kehebatan
        BoxSentry, vendor asing yang punya solusi memblokir email sampah
        (spam).

        "Fokus kerja kami hanya riset saja," sergah Direktur Ipteknet BPPT
        Hamam Riza, di sela acara BoxSentry, di Hotel Ritz Carlton, Pacific
        Place, Jakarta, Rabu (29/10/2008) .

        Ipteknet BPPT merupakan departemen yang bernaung di bawah Kementerian
        Negara Riset dan Teknologi (Ristek). Ipteknet menggunakan solusi
        BoxSentry untuk memblokir spam di 2000 akun email BPPT yang dikelola
        jaringan intranetnya.

        "Ipteknet ini seperti ISP (penyelenggara jasa internet) saja. Kami
        ingin cari solusi anti-spam yang efektif dengan anggaran yang kecil, Rp
        150 juta," sambung Hamam lagi.

        Lain lagi dengan LIPI. Meski mengaku tak menggunakan solusi BoxSentry,
        namun di acara ini LIPI juga gencar mempromosikan solusi vendor anti-
        spam asing itu untuk mengeliminir ancaman spam yang membahayakan bisnis
        di Indonesia.

        "Policy kami di LIPI menggunakan Open Source. Namun kami tak menutup
        mata kalau ada solusi yang lebih baik seperti ini," ujar Ika Atman
        Satya, peneliti dari LIPI.

        Menurutnya, LIPI menganggarkan Rp 3-4 miliar tiap tahunnya untuk
        belanja TI dan keperluan bandwidth internet. "Bukannya kami tidak mau
        mengembangkan produk sendiri, namun lihat saja IGOS Nusantara buatan
        kami, sekarang siapa yang pakai?" keluhnya.



         


      • -
        Hi, yah soal piring nasi yang tua2 sih pak...kadang juga soal kulit hehe, bloonnya yg make malah asing, banyak kasusnya pak dari anak2 cerdas mulai smp hingga
        Message 3 of 4 , Nov 1, 2008
        • 0 Attachment
          Hi,

          yah soal piring nasi yang tua2 sih pak...kadang juga soal kulit hehe,
          bloonnya yg make malah asing, banyak kasusnya pak dari anak2 cerdas
          mulai smp hingga universitas yg di iming2in beasiswa kemudian
          ditawarin ikatan kerja setelah lulus atau bahkan PR :)

          salam,
          Budiman


          2008/11/1 paulus BW <paulusbw@...>:
          > Pak Rudy,
          > Sebenarnya pada instansi tau, bahwa banyak kemampuan anak2 bangsa.
          > Tapi mereka lebih memilih untuk bekerja sama dengan asing, karena ada alasan
          > tertentu.
          > Saya punya temen Dr.Ing. ahli satelit lulusan TU-Berlin cum laude, di
          > Indonesia dia tidak dimanfaatkan untuk project atau seminar2 bahkan
          > mengajar.
          > Instansi kita lebih senang mengundang pakar dari LN, walaupun kompetensinya
          > kurang.
          > Alasannya......tau sediri deh.....
          > Temen saya itu, sekarang kerjanya malah bikin dan jual obat gosok.
          > Apa negara tidak rugi...punya pakar yang terlantar......
          > Salam,
          > pb
          >
          > 2008/11/1 <rrusdiah@...>
          >>
          >> Pak mitro, pak Ardi, pak Iwan, pak paulus.ysh:
          >>
          >> ... kenapa tidak di forward aja ke pak Kadiman Menristek dan pak
          >> koswara... biar dapat feedback.
          >>
          >> masalah seperti ini memang klasik... seperti di Depkominfo... Kementerian
          >> ristek juga masih belum memikirkan atau paradigmanya asas manfaat.
          >>
          >> jadi yang penting ada proyek... ada kegiatan... bisa memanfaatkan anggaran
          >> APBN... yah wis... selesai... karena mudah utk pertanggung jawabkan...
          >>
          >> padahal yang penting bagi bangsa ini adalah apa manfaatnya bagi masyarakat
          >> ?
          >> apa manfaatnya bagi masa depan bangsa ini...???
          >>
          >> kita males mikir kalau sudah seperti ini... maunya mencari gampangnya...
          >> sehingga akhirnya kalau seandainya kita dikendalikan oleh asing
          >>
          >> kalau kita dimanfaatkan oleh asing... jangan menyalahkan orang asing...
          >>
          >> mereka menjalankan strategi mereka... kita yang bodoh tidak mempunyai
          >> strategi , visi dan misi...dan memang maunya enaknya saja kok...
          >>
          >> terima jadinya...
          >> sangat menyedihkan... karena kita tidak akan keluar dari krisis selama
          >> penyelenggara negara masih paradigmanya seperti ini.
          >> dan mohon maaf jika ada yang tersungging... bicara apa adanya saja
          >> salam, rr - apwkomitel
          >>
          >>
          >>
          >> ---
          >> ref: http://www.micronics.info http://www.java-cafe.net
          >> http://www.apwkomitel.org
          >> ---
          >> ________________________________
          >> From: S Roestam <sumitror@...>
          >>
          >> Pak Hikmat, Pak Taufik, Pak Ardi, Pak Onno dan Kawan2 Yth,
          >>
          >> Saran saya, agar Lembaga2 Peneltian Pemerintah bekerjasama dengan anak-
          >> anak bangsa yang kreatif dan innovatif, dengan dana yang terbatas, maka
          >> akan masih mampu untuk membuat terobosan-terobosan penting dalam dunia
          >> ilmu pengetahuan dan aplikasi-aplikasi bisnis yang akan sangat
          >> bermanfaat untuk memajukan negeri ini, dari pada membeli software-
          >> software proprietary yang mahal dan harus bayar tiap tahun, namun
          >> manfaatnya sangat minim bagi kemajuna bangsa dan negara.
          >>
          >> Perlu ada keberanian Pimpinan Lembaga2 ini untuk membuat terobosan,
          >> agar dana penelitian yg terbatas ini lebih memberikan NILAI TAMBAH bagi
          >> segenap unsur bangsa Indonesia.
          >>
          >> Sebenarnya sudah ada contoh, seperti baru-baru ini, Baku Sekolah
          >> Elektronik (BSE) tentang pengajaran Open Source yang disusun oleh pak
          >> Onno DKK yang dibuat dengan biaya dari DEPKOMINFO dan Kementrian RISTEK
          >> dan kemudian diserahkan ke DIKNAS untuk disebarkan keseluruh Indonesia.
          >>
          >> Juga beberapa waktu yg lalu Tim Pak Frans telah menyusun Platform Open
          >> Source untuk aplikasi busnis yang dibiayai oleh Depkominfo.
          >>
          >> Masih banyak Lembaga2 Penelitian Pemerintah yang dapat melakukan
          >> kerjasama dengan anak-anak bangsa untuk menghasilkan karya2 yang
          >> kreatif, innovatif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Misalnya,
          >> Brown Energy untuk menghemat pemakaian BBM, Nano Technology untuk
          >> menghasilkan tanaman yang unggul, Energi Angin, Energi Ombak, Mesin
          >> Bioetanol, Software eGov berbasis Open Source untuk dijadikan standar
          >> diseluruh Indonesia, dll. Tidak diperlukan dana yg berlebih, dengan
          >> anggaran yang ada, cukup untuk membuat terobosan2 yang bermanfaat bagi
          >> kemajuan bangsa dan negara.
          >>
          >> Semoga mendapat perhatian para Pimpinan Lembaga2 Penelitian Pemerintah
          >> untuk segera merubah Visi, Misi, Strategi dan Program2 mereka,
          >> disesuaikan dengan keterbatasan anggaran, namun memberikan hasil yang
          >> maksimal.
          >>
          >> Wassalam,
          >> S Roestam
          >> http://masif. wordpress. com
          >> http://ristek- id.com
          >> ------------ --------- --------- -----
          >>
          >> ----Original Message----
          >> From: hemat_d_nuryanto@ yahoo.co. id
          >> Date: 30/10/2008 8:37
          >> To: <APWKomitel@yahoogro ups.com>
          >> Subj: Re: [APWKomitel] Sikap peneliti kita!
          >>
          >> rekan2,
          >> coba simak sambutan pemimpin muda jabar di crayonpedia terkait lembaga
          >> pendididikan dan rasanya cocok juga untuk disimak oleh sebuah lembaga
          >> penelitian :
          >>
          >> " ... lembaga pendidikan mestinya mengembangkan sikap yang memandang
          >> sains dan teknologi sebagai bahan yang tidak sekedar untuk dipelajari
          >> tetapi untuk di inovasi dan gencar diproduksi sehingga mendatangkan
          >> kemajuan dan nilai tambah yang berlipat ganda. Proses pendidikan harus
          >> membentuk masyarakat bersikap rasional dan menjunjung tinggi pendekatan
          >> ilmiah. Nilai-nilai budaya lokal yang adaptif terhadap semangat jaman
          >> harus diartikulasikan dalam proses pendidikan. Nilai budaya yang telah
          >> menjadi artifak yang tersimpan di lumbung kultural warisan leluhur kita
          >> seperti misalnya ajaran untuk bageur ( patuh, taat dan
          >> ikhlas), singer (banyak ide, kreatif, dan inovatif dalam sains dan
          >> teknologi), dan pinter (cerdas dalam penyelesaian masalah) sebaiknya
          >> diadaptasi dan diapresiasi sesuai kemajuan jaman ..."
          >>
          >> see : www.crayonpedia. org dan/atau www.crayonpedia. org/blog
          >>
          >> mestinya BPPT dan LIPI bukan mempromosikan produk asing ... namun
          >> mesti pintar berinovasi dan berkretifitas. Rasanya tidak pas bila telah
          >> membuat sebuah distro linux (igos nusantara) dan tidak direspons publik
          >> lantas mengeluh. Dengan anggaran negara (mendapat gaji dari negara)
          >> mereka mestinya dapat melihat tantangan dan peluang masa depan lebih
          >> baik dibanding pengembang software dalam negri lainnya yang harus
          >> berjibaku siang malam mengejar dan menyelesaikan pekerjaan demi mencari
          >> nafkah hidup esok hari (atau bulan depan) yang memiliki kesempatan
          >> sedikit untuk menatap jauh ke masa depan.
          >>
          >> salam hangat,
          >> hdn
          >> http://hdn.zamrudte chnology. com
          >> www.zamrudtechnolog y.com
          >> www.crayonpedia. org
          >> www.igoscenter. org
          >>
          >> --- On Thu, 10/30/08, iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com> wrote:
          >> From: iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com>
          >> Subject: Re: [APWKomitel] Sikap peneliti kita!
          >> To: APWKomitel@yahoogro ups.com
          >> Date: Thursday, October 30, 2008, 8:08 AM
          >>
          >> Weleh-weleh. ...... tak kuat nulis kata lain ............
          >> ......... ......... ......... ......... ......... ......... .........
          >> ......... ......... ....
          >>
          >> "Ardi Sutedja K." <asutedjak@yahoo. com>
          >> wrote: teman-teman di sidang milist APW
          >> Komitel, berikut saya ikut sharing komentar saya
          >> tentang berita di detik.com yang kebetulan juga bertepatan dengan
          >> adanya sebuah jajak pendapat di milist QB.
          >>
          >> Salam,
          >> Ardi
          >>
          >> teman-teman sidang milist QB yang terhormat,
          >>
          >> Menyambung jajak pendapat tentang Peneliti Indonesia kemarin di milist
          >> ini, berikut saya lampirkan sebuah berita di detik.com pagi ini yang
          >> bagi saya cukup mengejutkan! Apakah sekarang pada berlomba-lomba cari,
          >> "Personal Safety Net" atau justru gairah meneliti sudah tidak ada? Ada
          >> yang meneliti tentang pil untuk membangkitkan gairah untuk meneliti?
          >>
          >> Salam,
          >> Ardi
          >>
          >> LIPI dan BPPT Promosikan Vendor Anti-Spam Asing
          >>
          >> Achmad Rouzni Noor II - detikinet
          >>
          >> Ilustrasi (Ist.) Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
          >> (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), bukannya
          >> mengembangkan perangkat sendiri tapi justru mempromosikan kehebatan
          >> BoxSentry, vendor asing yang punya solusi memblokir email sampah
          >> (spam).
          >>
          >> "Fokus kerja kami hanya riset saja," sergah Direktur Ipteknet BPPT
          >> Hamam Riza, di sela acara BoxSentry, di Hotel Ritz Carlton, Pacific
          >> Place, Jakarta, Rabu (29/10/2008) .
          >>
          >> Ipteknet BPPT merupakan departemen yang bernaung di bawah Kementerian
          >> Negara Riset dan Teknologi (Ristek). Ipteknet menggunakan solusi
          >> BoxSentry untuk memblokir spam di 2000 akun email BPPT yang dikelola
          >> jaringan intranetnya.
          >>
          >> "Ipteknet ini seperti ISP (penyelenggara jasa internet) saja. Kami
          >> ingin cari solusi anti-spam yang efektif dengan anggaran yang kecil, Rp
          >> 150 juta," sambung Hamam lagi.
          >>
          >> Lain lagi dengan LIPI. Meski mengaku tak menggunakan solusi BoxSentry,
          >> namun di acara ini LIPI juga gencar mempromosikan solusi vendor anti-
          >> spam asing itu untuk mengeliminir ancaman spam yang membahayakan bisnis
          >> di Indonesia.
          >>
          >> "Policy kami di LIPI menggunakan Open Source. Namun kami tak menutup
          >> mata kalau ada solusi yang lebih baik seperti ini," ujar Ika Atman
          >> Satya, peneliti dari LIPI.
          >>
          >> Menurutnya, LIPI menganggarkan Rp 3-4 miliar tiap tahunnya untuk
          >> belanja TI dan keperluan bandwidth internet. "Bukannya kami tidak mau
          >> mengembangkan produk sendiri, namun lihat saja IGOS Nusantara buatan
          >> kami, sekarang siapa yang pakai?" keluhnya.
          >>
          >>
          >>
          >>
          >>
          >
          >
        • Ardi Sutedja K.
          Pak Paulus dan teman2, Kalau sudah begini, apa lagi yang mau dikomentarin, wong masing2 tetap pada pendiriannya walaupun mungkin nggak patriotik dan selalu
          Message 4 of 4 , Nov 1, 2008
          • 0 Attachment
            Pak Paulus dan teman2,

            Kalau sudah begini, apa lagi yang mau dikomentarin, wong masing2 tetap pada pendiriannya walaupun mungkin "nggak patriotik" dan selalu pasti ada "catch 22" karena "there is absolutely no free lunch"!.

            Sekarang yang jadi pertanyaan besar, masihkah ada hati nurani untuk mencintai dan menyayangi bangsa sendiri?

            Jujur saja, banyak sekali aset2 bangsa ini yang justru dimanfaatkan oleh bangsa dan negara lain, karena kita sendiri melakukan diskriminasi. Bahkan kalau lihat situs departemen imigrasi Australia dan New Zealand, negara2 mereka justru memperlakukan orang asing yang berbakat dengan berbagai fasilitas kehidupan yang lebih layak! Masak sih kita nggak mampu melakukan counter-offer terhadap anak bangsa sendiri!

            Hati2 kita akan segera alami "brain drain"!

            Salam,
            Ardi

            --- On Sat, 1/11/08, paulus BW <paulusbw@...> wrote:
            From: paulus BW <paulusbw@...>
            Subject: Re: menyedihkan kalo paradigmanya seperti ini & jangan salahkan pihak asing? bodohnya kita [APWKomitel] Sikap peneliti kita
            To: APWKomitel@yahoogroups.com
            Date: Saturday, 1 November, 2008, 7:02 PM

            Pak Rudy,
            Sebenarnya pada instansi tau, bahwa banyak kemampuan anak2 bangsa.
            Tapi mereka lebih memilih untuk bekerja sama dengan asing, karena ada alasan tertentu.
            Saya punya temen Dr.Ing. ahli satelit lulusan TU-Berlin cum laude, di Indonesia dia tidak dimanfaatkan untuk project atau seminar2 bahkan mengajar.
            Instansi kita lebih senang mengundang pakar dari LN, walaupun kompetensinya kurang.
            Alasannya... ...tau sediri deh.....
            Temen saya itu, sekarang kerjanya malah bikin dan jual obat gosok.
            Apa negara tidak rugi...punya pakar yang terlantar... ...
            Salam,
            pb

            2008/11/1 <rrusdiah@yahoo. com>

            Pak mitro, pak Ardi, pak Iwan, pak paulus.ysh:

            ... kenapa tidak di forward aja ke pak Kadiman Menristek dan pak koswara... biar dapat feedback.

            masalah seperti ini memang klasik... seperti di Depkominfo.. . Kementerian ristek juga masih belum memikirkan atau paradigmanya asas manfaat.

            jadi yang penting ada proyek... ada kegiatan... bisa memanfaatkan anggaran APBN... yah wis... selesai... karena mudah utk pertanggung jawabkan...

            padahal yang penting bagi bangsa ini adalah apa manfaatnya bagi masyarakat ?
            apa manfaatnya bagi masa depan bangsa ini...???

            kita males mikir kalau sudah seperti ini... maunya mencari gampangnya.. . sehingga akhirnya kalau seandainya kita dikendalikan oleh asing

            kalau kita dimanfaatkan oleh asing... jangan menyalahkan orang asing...

            mereka menjalankan strategi mereka... kita yang bodoh tidak mempunyai strategi , visi dan misi...dan memang maunya enaknya saja kok...

            terima jadinya...
            sangat menyedihkan. .. karena kita tidak akan keluar dari krisis selama penyelenggara negara masih paradigmanya seperti ini.
            dan mohon maaf jika ada yang tersungging. .. bicara apa adanya saja
            salam, rr - apwkomitel


             
            ---
            ref: http://www.micronic s.info http://www.java- cafe.net http://www.apwkomit el.org
            ---


            From: S Roestam <sumitror@grouply. com>

            Pak Hikmat, Pak Taufik, Pak Ardi, Pak Onno dan Kawan2 Yth,

            Saran saya, agar Lembaga2 Peneltian Pemerintah bekerjasama dengan anak-
            anak bangsa yang kreatif dan innovatif, dengan dana yang terbatas, maka
            akan masih mampu untuk membuat terobosan-terobosan penting dalam dunia
            ilmu pengetahuan dan aplikasi-aplikasi bisnis yang akan sangat
            bermanfaat untuk memajukan negeri ini, dari pada membeli software-
            software proprietary yang mahal dan harus bayar tiap tahun, namun
            manfaatnya sangat minim bagi kemajuna bangsa dan negara.

            Perlu ada keberanian Pimpinan Lembaga2 ini untuk membuat terobosan,
            agar dana penelitian yg terbatas ini lebih memberikan NILAI TAMBAH bagi
            segenap unsur bangsa Indonesia.

            Sebenarnya sudah ada contoh, seperti baru-baru ini, Baku Sekolah
            Elektronik (BSE) tentang pengajaran Open Source yang disusun oleh pak
            Onno DKK yang dibuat dengan biaya dari DEPKOMINFO dan Kementrian RISTEK
            dan kemudian diserahkan ke DIKNAS untuk disebarkan keseluruh Indonesia.

            Juga beberapa waktu yg lalu Tim Pak Frans telah menyusun Platform Open
            Source untuk aplikasi busnis yang dibiayai oleh Depkominfo.

            Masih banyak Lembaga2 Penelitian Pemerintah yang dapat melakukan
            kerjasama dengan anak-anak bangsa untuk menghasilkan karya2 yang
            kreatif, innovatif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Misalnya,
            Brown Energy untuk menghemat pemakaian BBM, Nano Technology untuk
            menghasilkan tanaman yang unggul, Energi Angin, Energi Ombak, Mesin
            Bioetanol, Software eGov berbasis Open Source untuk dijadikan standar
            diseluruh Indonesia, dll. Tidak diperlukan dana yg berlebih, dengan
            anggaran yang ada, cukup untuk membuat terobosan2 yang bermanfaat bagi
            kemajuan bangsa dan negara.

            Semoga mendapat perhatian para Pimpinan Lembaga2 Penelitian Pemerintah
            untuk segera merubah Visi, Misi, Strategi dan Program2 mereka,
            disesuaikan dengan keterbatasan anggaran, namun memberikan hasil yang
            maksimal.

            Wassalam,
            S Roestam
            http://masif. wordpress. com
            http://ristek- id.com
            ------------ --------- --------- -----

            ----Original Message----
            From: hemat_d_nuryanto@ yahoo.co. id
            Date: 30/10/2008 8:37
            To: <APWKomitel@yahoogro ups.com>
            Subj: Re: [APWKomitel] Sikap peneliti kita!

            rekan2,
            coba simak sambutan pemimpin muda jabar di crayonpedia terkait lembaga
            pendididikan dan rasanya cocok juga untuk disimak oleh sebuah lembaga
            penelitian :

            " ... lembaga pendidikan mestinya mengembangkan sikap yang memandang
            sains dan teknologi sebagai bahan yang tidak sekedar untuk dipelajari
            tetapi untuk di inovasi dan gencar diproduksi sehingga mendatangkan
            kemajuan dan nilai tambah yang berlipat ganda. Proses pendidikan harus
            membentuk masyarakat bersikap rasional dan menjunjung tinggi pendekatan
            ilmiah. Nilai-nilai budaya lokal yang adaptif terhadap semangat jaman
            harus diartikulasikan dalam proses pendidikan. Nilai budaya yang telah
            menjadi artifak yang tersimpan di lumbung kultural warisan leluhur kita
            seperti misalnya ajaran untuk bageur ( patuh, taat dan
            ikhlas), singer  (banyak ide, kreatif, dan inovatif dalam sains dan
            teknologi), dan pinter (cerdas dalam penyelesaian masalah) sebaiknya
            diadaptasi dan diapresiasi sesuai kemajuan jaman ..."

            see : www.crayonpedia. org   dan/atau www.crayonpedia. org/blog

            mestinya BPPT dan LIPI bukan mempromosikan produk asing ... namun
            mesti pintar berinovasi dan berkretifitas. Rasanya tidak pas bila telah
            membuat sebuah distro linux (igos nusantara) dan tidak direspons publik
            lantas mengeluh. Dengan anggaran negara (mendapat gaji dari negara)
            mereka mestinya dapat melihat tantangan dan peluang masa depan lebih
            baik dibanding pengembang software dalam negri lainnya yang harus
            berjibaku siang malam mengejar dan menyelesaikan pekerjaan demi mencari
            nafkah hidup esok hari  (atau bulan depan) yang memiliki kesempatan
            sedikit untuk menatap jauh ke masa depan.

            salam hangat,
            hdn  
            http://hdn.zamrudte chnology. com
            www.zamrudtechnolog y.com
            www.crayonpedia. org
            www.igoscenter. org

            --- On Thu, 10/30/08, iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com> wrote:
            From: iwan piliang <iwan.piliang@ yahoo.com>
            Subject: Re: [APWKomitel] Sikap peneliti kita!
            To: APWKomitel@yahoogro ups.com
            Date: Thursday, October 30, 2008, 8:08 AM

            Weleh-weleh. ...... tak kuat nulis kata lain ............
            ......... ......... ......... ......... ......... ......... .........
            ......... ......... ....

            "Ardi Sutedja K." <asutedjak@yahoo. com>
            wrote: teman-teman di sidang milist APW
            Komitel, berikut saya ikut sharing komentar saya
            tentang berita di detik.com yang kebetulan juga bertepatan dengan
            adanya sebuah jajak pendapat di milist QB.

            Salam,
            Ardi

            teman-teman sidang milist QB yang terhormat,

            Menyambung jajak pendapat tentang Peneliti Indonesia kemarin di milist
            ini, berikut saya lampirkan sebuah berita di detik.com pagi ini yang
            bagi saya cukup mengejutkan! Apakah sekarang pada berlomba-lomba cari,
            "Personal Safety Net" atau justru gairah meneliti sudah tidak ada? Ada
            yang meneliti tentang pil untuk membangkitkan gairah untuk meneliti?

            Salam,
            Ardi

            LIPI dan BPPT Promosikan Vendor Anti-Spam Asing

            Achmad Rouzni Noor II - detikinet

            Ilustrasi (Ist.) Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
            (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), bukannya
            mengembangkan perangkat sendiri tapi justru mempromosikan kehebatan
            BoxSentry, vendor asing yang punya solusi memblokir email sampah
            (spam).

            "Fokus kerja kami hanya riset saja," sergah Direktur Ipteknet BPPT
            Hamam Riza, di sela acara BoxSentry, di Hotel Ritz Carlton, Pacific
            Place, Jakarta, Rabu (29/10/2008) .

            Ipteknet BPPT merupakan departemen yang bernaung di bawah Kementerian
            Negara Riset dan Teknologi (Ristek). Ipteknet menggunakan solusi
            BoxSentry untuk memblokir spam di 2000 akun email BPPT yang dikelola
            jaringan intranetnya.

            "Ipteknet ini seperti ISP (penyelenggara jasa internet) saja. Kami
            ingin cari solusi anti-spam yang efektif dengan anggaran yang kecil, Rp
            150 juta," sambung Hamam lagi.

            Lain lagi dengan LIPI. Meski mengaku tak menggunakan solusi BoxSentry,
            namun di acara ini LIPI juga gencar mempromosikan solusi vendor anti-
            spam asing itu untuk mengeliminir ancaman spam yang membahayakan bisnis
            di Indonesia.

            "Policy kami di LIPI menggunakan Open Source. Namun kami tak menutup
            mata kalau ada solusi yang lebih baik seperti ini," ujar Ika Atman
            Satya, peneliti dari LIPI.

            Menurutnya, LIPI menganggarkan Rp 3-4 miliar tiap tahunnya untuk
            belanja TI dan keperluan bandwidth internet. "Bukannya kami tidak mau
            mengembangkan produk sendiri, namun lihat saja IGOS Nusantara buatan
            kami, sekarang siapa yang pakai?" keluhnya.



             




            Get your preferred Email name!
            Now you can @... and @....
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.