Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Aktivist mahasiswa sangat yakin pd dirinya..pembrangusan? politik adu domba & kita hrs percaya kpd siapa ?

Expand Messages
  • Naswil Idris
     Pak Rudi, Pak Ardi ,Pak Alamudi, pak Bahruddin di Salatiga.  Puluhan tahun yl saya mengalami juga seperti dialami oleh aktivis mahasiswa
    Message 1 of 2 , May 31, 2008
    • 0 Attachment
       Pak Rudi, Pak Ardi ,Pak Alamudi, pak Bahruddin di Salatiga.
       Puluhan tahun yl saya mengalami juga seperti dialami oleh aktivis mahasiswa sekarang,sebagai Anggota KAMI , mulai thn 66 dan anggota Pers  mahasiswa  Bandung dalam ukuran kecil( walau tak terkenal seperti Pak Cosmas Batubara)setelah demo , diberi nasi bungkus oleh Pak Marzuki Darusman,( mantan jaksa Agung dan angota DPR) pernah ditangkap di  jl Lembong Bandung, dintimidasi, dll,demo ke jakarta....... ikut pertemuan2 penting dgn para orang2 penting di jakarta,diberi minum/makan oleh pak Arsyad Sudiro ( Ketua Pertimbanagn DPR Sekarang)di rumah  Pak Jenderal Sugandhi ..... ada juga "devide et impera".... di marahi.... dimaki.... hampir mati ditembak waktu demo....... akhirnya ..di beri" hadiah "... dikirim sekolah oleh Dept Hankam  liwat DEPPEN ke Eropah...... dan ikut program   Dept of State  of USA( Kementiran Luar Negeri  USA untk aktivist Campus yg berasal dari negera2
      lain ,jalan2 dan plesiran di seluruh  USA selama 2 bulan).
         Sekarang saya sbg aktivis yg "tak terdaftar ",sudah  "tak mau" memberikan tanggapan ttg peranan aktivis mahsiswa di NKRI, akan membuka luka lama.....Tapi prinsipnya SAMA SAJA......
         Saya yakin seyakin2nya aktivis mahasiswa punya pandangan yg luas dan objektif ttg NKRI yg diperjuangkannya. Saya tak percaya ada penunggangan , dll..
         Orang2 atau  tokoh2 dari instansi2  swasta ,pemerintah dll  boleh saja ngomong seenak perutnya , tentang perananan aktivis mahasiswa....
       Naswil Idris.

      ---
      [rr] kalo lihat index prestasi korupsi... kkn... yang mengakibatkan terpuruk negara ini... sepertinya bukan karena mahasiswa tapi justru para pemegang kekuasaan di republik ini.. yang enjoy dengan proyek dan tender tender nya ?
      cmliiw

      salam rr - apwkomitel

      --- On Sat, 5/31/08, rrusdiah <rrusdiah@...> wrote:

      From: rrusdiah <rrusdiah@...>
      Subject: [APWKomitel] pembrangusan? politik adu domba & kita hrs percaya kpd siapa ?
      To: APWKomitel@yahoogroups.com
      Date: Saturday, May 31, 2008, 4:12 PM






      apa yang ditulis di kompas ini menarik : "Pada akhirnya tiap persoalan
      ada solusinya. Dan, maaf, saya lebih memercayai aspirasi rakyat yang
      disalurkan mahasiswa ketimbang aspirasi pejabat, aparat, politisi,
      atau pengadu domba"

      entah apakah freezing identik dengan pemberangusan. .. kita tanyakan
      saja definisinya dari depkominfo ? hav a niz weekend... salam, rr -
      apwkomitel

      Politik Adu Domba Sabtu, 31 Mei 2008 | 03:00 WIB BUDIARTO SHAMBAZY

      http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/05/31/ 00213414/ politik.adu. domba

      Pemberangusan gerakan mahasiswa tak ubahnya penolakan hati nurani
      rakyat jelata. Kata "maha" menunjukkan sebuah posisi yang berdiri di
      atas semua tingkatan siswa.

      Mahasiswa anak panah yang dilepas dari busurnya yang namanya orangtua.
      Penguasa yang menghalangi demonstrasi ibarat orangtua kolot yang
      memaksakan jodoh untuk anaknya.

      Hati nurani bangsa ada pada gerakan mahasiswanya. Seperti kata lagu
      Pemuda karya Chandra Darusman, "Lihatlah ke muka, keinginan luhur 'kan
      terjangkau semua".

      Mahasiswa memelopori revolusi 1956 di Hongaria. Gerakan "New Left"
      tahun 1950-an yang tersohor itu dimulai oleh mahasiswa Kanada.

      Gelombang demo antiperang 1962-1970 di Eropa dan AS memaksa Presiden
      Richard Nixon menarik pasukan dari Vietnam dan Kamboja. Revolusi Iran
      1979 berawal dari demo di kampus-kampus setahun sebelumnya.

      Pengorbanan mahasiswa terbukti dari Tragedi Tiananmen 1988 di China.
      Rezim-rezim militer di Amerika Latin tumbang berkat demo mahasiswa.

      Hampir 100 persen sivitas akademika AS mendukung gerakan antikemapanan
      politik Washington yang ditawarkan Barack Obama. Berhari-hari sudah
      mahasiswa bergolak di kota-kota besar Indonesia.

      Kalau tak ada gerakan mahasiswa 1998, Orde Baru bertahan lebih lama.
      Demonstrasi mereka pada tahun 1966 mengakhiri kekuasaan Orde Lama.

      Mahasiswa ditembaki, diculik, atau disiksa. Juga sudah biasa di negeri
      ini tak ada yang jantan mengaku bertanggung jawab menembaki, menculik,
      atau menyiksa mahasiswa.

      Pada saat butuh, tokoh-tokoh politik mencatut perjuangan mahasiswa.
      Setelah berkuasa, mereka memandang demonstrasi mahasiswa dengan
      sebelah mata.

      Tiap penguasa gusar menghadapi ancaman demo karena tak mustahil itu
      mengakhiri kekuasaannya. Lalu, mereka memainkan "kaset rusak" yang
      diulang- ulang yang menuduh "pihak ketiga".

      Justru gerakan mahasiswa yang bersifat murni itulah yang menjadi
      ancaman paling bahaya bagi tiap penguasa. Idealisme mereka membuat
      mahasiswa bagaikan domba yang siap dimangsa siapa saja.

      Kini "mahasiswa abadi" dituduh memukuli aparat keamanan yang usianya
      sudah tidak muda. Itu berita istimewa karena mahasiswa dikenal bukan
      golongan yang suka menyakiti hati rakyat biasa.

      Kampus dituduh jadi sarang perdagangan dan penggunaan narkoba. Apakah
      Anda percaya?

      Lebih seram lagi di kampus ditemukan sebuah granat nanas, senjata yang
      amat berbahaya. Betulkah dugaan bahwa granat itu milik mahasiswa?

      Acungan jempol untuk langkah penggeledahan Gedung DPR oleh aparat KPK.
      Juga patut dipuji aparat Kejaksaan Agung yang menggerebek dugaan
      penyuapan oleh seorang perempuan pengusaha.

      Namun, benarkah tindakan penyerbuan kampus yang setiap hari menjadi
      tempat pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat oleh
      anak-anak kita? Beginikah moral yang berlaku di republik kita yang
      tercinta?

      Bung Karno memulai perjuangan kemerdekaan sebagai mahasiswa. Untuk
      meredakan ketegangan sebelum pecahnya Tragedi Malari 1974, Pak Harto
      mengundang mahasiswa berdialog panjang di Bina Graha.

      Mereka yang kurang paham gerakan mahasiswa ibarat orang-orang yang tak
      pernah menikmati masa muda. Kehidupan kampus bukan semata-mata urusan
      buku, cinta, dan pesta.

      Cobalah Anda tempatkan diri pada posisi mahasiswa. Bagi mereka, kampus
      seperti pelabuhan yang disinggahi kapal-kapal untuk sementara waktu saja.

      Mereka tidak menuntut kenaikan gaji atau laptop, malah harus membayar
      uang kuliah yang tiap tahun membubung ke angkasa. Mereka tak terlibat
      dana BLBI atau korupsi berjamaah.

      Toh, setelah lulus mereka mati-matian harus cari kerja. Tak heran
      mereka sering resah, baik sebagai generasi muda maupun sebagai warga
      negara.

      Mahasiswa malah bisa jadi cermin untuk melihat penderitaan rakyat
      jelata. Percayalah, pada akhirnya tak satu masyarakat pun yang tidak
      akan membela perjuangan mereka.

      Masih ingat amok rakyat terhadap Pamswakarsa? Sia-sialah mereka yang
      bersekongkol mau membenturkan kelompok-kelompok oportunis untuk
      menghadang gerakan mahasiswa.

      Semua pihak hendaknya belajar dari negara-negara lain menghadapi
      krisis politik akibat kenaikan harga minyak dunia. Di Meksiko, BLT
      sejak dulu jadi obat mujarab untuk meringankan beban rakyat jelata.

      Di Inggris, protes kenaikan harga BBM dilakukan sopir-sopir truk yang
      mogok menyetir kendaraan mereka. Di AS, pemerintah memberlakukan
      windfall tax atas profit perusahaan- perusahaan minyak raksasa.

      Salah satu tugas pemerintah adalah mendengarkan aspirasi rakyat. Tugas
      penting lainnya, seperti yang dilakukan Pemerintah AS dan Jepang,
      memberikan subsidi bukan BBM untuk rakyat.

      Bagaimana dengan pemerintah kita? Ada kesan para pejabat mempraktikkan
      komunikasi satu arah saja.

      Ada baiknya mereka road show menemui mahasiswa. Saat ini yang
      diperlukan duduk perkara tentang data, data, dan data pengelolaan
      migas kita.

      "The devil is in the details," kata pepatah. Bukalah dialog dengan
      mahasiswa agar tak terjebak dalam politik adu domba alias devide et
      impera.

      Pada akhirnya tiap persoalan ada solusinya. Dan, maaf, saya lebih
      memercayai aspirasi rakyat yang disalurkan mahasiswa ketimbang
      aspirasi pejabat, aparat, politisi, atau pengadu domba.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.