Search the web
Sign In
New User? Sign Up
wisatasurabaya · Komunitas Wisata Surabaya
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Review Acara "Mlaku-Mlaku Surabaya Lawas"   Message List  
Reply | Forward Message #115 of 1981 |
Berikut review versi saya. Untuk "diary"-nya mungkin Tita bisa ngasi review
yang lebih akurat.

Soerabaia Lama

Prinsip saya untuk mengakrabi sebuah kota adalah: kenali sejarahnya! Dengan
tahu sejarah kota, maka ikatan memorial antara kita dengan kota akan mampu
menembus ruang waktu. Maka dari itu, ketika ada ajakan untuk menjelajahi
kota tua Surabaya dari komunitas "Wisata Surabaya" Minggu, 9 September lalu,
saya sangat antusias. Sejak lama, saya dan istri saya mengagumi sisa-sisa
tata kota kolonial di bilangan Surabaya Utara yang masih megah berdiri.
Meninggalkan sosok kota bawah (beneden stad) yang dibangun pemerintah VOC
sebagai port penting yang menghubungkan Nusantara.

Acara dari "Wisata Surabaya <http://groups.yahoo.com/group/wisatasurabaya>"
adalah ide mendadak yang digulirkan beberapa orang di awal September.
Konsepnya sederhana, yaitu mengenali bentuk kota tua Surabaya dengan
kekayaan budaya aslinya, termasuk wacana kuliner, pasar tradisional dan
tentu saja sejarah di dalamnya dengan berjalan kaki menyusuri rekam jejak
masa lalu kota yang berusia 700 tahun lebih ini.

Kota Eropa
Rute dimulai dari kantor pos besar yang terletak di jalan Kebonrojo (
Regentstraat) yang berada di daerah alun-alun (sekarang Tugu Pahlawan). Jika
mengamati daerah alun-alun ini, beberapa bangunan sisa peninggalan era
kolonial masih tegak berdiri karena dialihfungsikan dan digunakan sampai
sekarang. Jika kita melihat kantor Bappeda, Bank Mandiri dan kantor Gubernur
Surabaya maka bayangkanlah bangunan serupa pernah menjadi bioskop
Rialto, Lindeteves
Stokvis dan Governours Kantoor di masa lampau. Beberapa sudah hancur meski
menyisakan puing yang bisa kita lihat di Tugu Pahlawan, yang dulunya
merupakan gedung Raad van Justitie.

Wilayah alun-alun atau taman kota (stadstuin) adalah pengembangan kedua dari
lingkar kota Surabaya yang dibangun VOC. Inisialnya, Surabaya dibangun di
daerah yang kini dikenal dengan daerah Jembatan Merah dan Kembang Jepun. VOC
membagi blok benteng kota berdasar tepi alami berupa sungai (Kalimas) yang
membelah kota menjadi dua. Pemisahan ini dikenal dengan keluarnya
undang-undang Wijkenstelsel pada 1843. Sebelah barat sungai adalah daerah
permukiman orang Eropa. Sementara sisanya adalah untuk orang Timur Asing
(orang Arab dan etnis Cina).

Segregasi ini dimaksudkan pada awal perkembangan kota, namun lama kelamaan
menjadi sebuah teritori spasial yang diwujudkan dengan pola pemukiman
berciri. Daerah untuk orang Eropa dipenuhi dengan banyak karya arsitektur
yang bergaya Eropa. Beberapa yang menjadi landmark, di antaranya deret
bangunan di jalan Jembatan Merah, yang menghadap ke Kalimas (identik dengan
pola di Belanda, di mana bangunan menghadap sungai). Bangunan-bangunan di
sepanjang jalan ini membawa khasanah arsitektur kolonial awal dengan trademark
pengunaan atap dan menara yang menyatu dengan bangunan dilengkap dengan dormer
(jendela di atap).

Ciri ini bisa diamati di antaranya melalui bangunan yang kini menjadi kantor
BII [link <http://i9.photobucket.com/albums/a87/hilman_taofani/BII.jpg>],
bekas PT. Aperdi di jalan Jembatan Merah
[link<http://i9.photobucket.com/albums/a87/hilman_taofani/JEMBATANMERAH.jpg>],
atau Gedung Cerutu
[link<http://i9.photobucket.com/albums/a87/hilman_taofani/GEDUNGCERUTU.jpg>]
dan De Javasche Bank (sekarang BNI) di jalan Rajawali (heerenstraat).
Bangunan-bangunan tersebut kebanyakan dibangun di akhir abad 19 atau awal
abad 20 di mana pakem arsitektur yang berkembang masih melanggengkan
pengaruh neo-klasik di Eropa.

Bangunan-bangunan neo-klasik yang lebih puritan bahkan masih bisa diamati
pada bangunan yang sekarang menjadi kantor Polwiltabes Surabaya dan gedung
PTPN XI [link<http://i9.photobucket.com/albums/a87/hilman_taofani/PTPNXI.jpg>].
Penggunaan tiang-tiang klasik yang bergaya Yunani dan fasad simetris yang
kaku masih nampak pada bangunan-bangunan tersebut.

Sementara bangunan yang lebih baru lebih dinafasi oleh semangat "kekinian"
(modernitas) yang mewabahi Belanda di medio dekade 1920-an. Beberapa
bangunan, di antaranya hasil karya FJL Ghijsels dan Nedam yang sangat
dipengaruhi konsep De Stijl, dengan pola garis-garis dan asimetrisitas yang
memang "in" pada masa tersebut. Ghijsels merancang hotel Internatio yang
terletak di pertigaan Hereenstrat dan Willemsplein (sekarang Jl.
Jayengrono), tempat di mana pada 1945 Mallaby terbunuh. Sementara Nedam
adalah perancang kantor Gubernur Jawa Timur di daerah Tugu Pahlawan. Karya
modern lain adalah PTPN XII karya CPW Shoemaker di Jl. Jembatan Merah dan
Hotel Ibis di Jl. Rajawali yang mengusung spirit art deco (dominasi
pengulangan unsur dekoratif) (yang jamak di Bandung).

Vreemde Oosterlingen Kamp
Sementara itu, tur yang diikuti oleh 9 peserta ini berlanjut menuju ke
seberang sungai, di mana dulunya adalah wilayah untuk Vreemde Oosterlingen,
atau orang Timur Asing - sebutan orang asing Asia non pribumi. Di batas
terdekat dengan kawasan Eropa adalah kawasan Pecinan yang kini menjadi
daerah Kembang Jepun dan jalan Panggung. Sementara di sisi utara terdapat
kawasan Arab yang mengitari wilayah Ampel di mana terdapat makam Sunan
Ampel. Rute yang ditempuh tur adalah menyusuri Jalan Panggung menuju Arabische
Kamp. Fenomena menarik yang bisa diamati adalah perbedaan pola permukiman,
di mana jika kawasan Eropa mengadopsi view ke arah sungai dari kota-kota di
benua biru, maka sepanjang Jalan Panggung, yang dulunya pecinan, permukiman
justu membelakangi sungai. Fenomena ini mirip dengan kawasan pecinan di
daerah Pasar Gede Solo. Etnis Arab dan Cina berbaur di daerah transisi ini,
sehingga tidak heran jika sekarang beberapa etnis Arab menghuni wilayah ini
yang notabene arsitekturnya justru didomiasi bentukan rumah etnis Cina di
era kolonial.

Jalan Panggung bermuara dengan gerbang kawasan Ampel yang merupakan "kampung
Arab" pada masa lalu. Pola permukiman di kawasan ini adalah organis, seperti
halnya kawasan Pecinan. Bedanya, jika permukiman etnis Cina berkembang
mengikuti jejalur kota (paths), maka kampung Arab lebih bersifat sirkular
dengan pusatnya berupa masjid dan makam Sunan Ampel, yang masih mengangkat
langgam tradisional asimiliatif antara Majapahit dan Cina (seperti pada
menara Kudus). Beberapa peninggalan masa lalu bisa dijumpai di kawasan ini,
seperti Hotel Kemadjoean yang dibangun pada 1928. Sayangnya, kepadatan
penduduk di wilayah ini menumpulkan sense kawasan yang memisahkan nostalgia
masa lampau dengan kenyataan pada masa sekarang. Padahal keturunan Arab
masih mendominasi demografi kawasan ini di mana mereka mempertahankan
karakter ekonomi lama dengan berjualan kitab, makanan tradisional dan
parfum.

Merekam Masa Lalu
Setelah mencicipi makanan khas Timur Tengah di kedai Yaman, rute perjalanan
dilanjutkan ke House of Sampoerna yang berada di utara kawasan. House of
Sampoerna tadinya merupakan rumah tinggal pendiri pabrik rokok Sampoerna,
Liem Siong Te yang kemudian menyatukannya dengan pabrik rokok. Lokasi rumah
yang kini menjadi museum ini berdekatan dengan penjara warisan kolonial,
Kalisosok sebelum kemudian pindah ke Jl. Bubutan. Rute sempat melewati
Jembatan Petekan yang merupakan jembatan angkat, pada masa lalu untuk
memudahkan rute kapal yang melewati Kalimas menuju pedalaman. Sisa dari
jembatan angkat termasuk rerodanya masih ada di lokasi. Hal ini membuktikan
bahwa Surabaya lampau dibangun dengan jejalur utama Kalimas, dengan moda
kapal-kapal yang menyusuri. Oleh karena itu, tidak heran jika Bovenstad (Kota
Atas) yang notabene pengembangan wilayah baru kota bergerak mengikuti rute
Kalimas di situs yang sekarang menjadi Balaikota dan wilayah Darmokali.

Selepas House of Sampoerna, rute diakhiri di PTPN XI, dimana seperti
dijelaskan di awal bahwa bangunan ini merupakan bangunan dengan langgam
neo-klasik. Fasadnya simetris, dan banyak dihiasi elemen dekoratif mulai
dari kolom sampai detail fasad. Volume bangunan ini sangat besar
[link<http://i9.photobucket.com/albums/a87/hilman_taofani/PTPN.jpg>]
dan mengingatkan saya pada sosok Lawang Sewu di Semarang yang pernah saya
kunjungi dalam rangka ekskursi tahun 2004 lalu. Konsepnya juga sama,
berupa lobby
pada ruang transisi utama, kemudian ruang terbuka di tengahnya, plus dengan
suasana wingit-nya. Bedanya, PTPN XI sangat terawat dan masih digunakan.

PTPN XI menjadi penutup yang sempurna untuk mengakhiri catatan di balik tur
Wisata Surabaya ini. Bahwa untuk melestarikan peninggalan masa lampau, tidak
cukup dengan hanya membuat suatu perintah suaka cagar budaya belaka, namun
menghormatinya dalam bentuk yang paling pantas, yaitu revitalisasi. Sebuah
bangunan akan berfungsi optimal ketika ada interaksi antara objek fisiknya
dengan struktur non fisik berupa kegiatan di dalamnya. Demikian juga dengan
skala yang lebih besarnya, yaitu kota. Diperlukan suatu interaksi yang
positif dalam wujud apresiasi terhadap elemen-elemen kota, termasuk
penghargaan terhadap sejarah dan peninggalan masa lampau kota. Acara semacam
"Mlaku-Mlaku Surabaya Lawas" yang digagas teman-teman "Wisata Surabaya" ini
sangat efektif untuk membentuk suatu kesadaran "meruang" pada diri warga
kota disertai dengan semangat untuk menghargai jejak panjang sebuah kota
yang berumur lebih dari separuh milenium macam Surabaya. Jika tidak, kawasan
eksotis ini akan dengan mudah tergilas laju buldoser modernisme yang makin
meluas.

Visi saya sangat terbuka, meliarkan sebuah vivid dream untuk merekonstruksi
sejarah masa lalu kota sebagai blueprint pengembangan kota Surabaya.
Membayangkan Amsterdam of the East, dengan jejalur utama dari aliran
Kalimas, dan kawasan "pedestrian-friendly" di wilayah benedenstad untuk
membuka cakrawala ruang waktu ke masa lampau. Tetapi hal seperti itu
membutuhkan kesadaran publik yang solid untuk mewujudkannya. Dan melalui
rangkaian kegiatan seperti yang digagas "Wisata Surabaya" inilah
kesadaran-kesadaran itu potensial muncul.

Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih ke siapapun panitia
yang telah mewujudkan acara tersebut. Terlebih ke Bu Erni yang telah membuat
summary berharga tentang objek-objek ekskursi. Plus ke segenap peserta,
istri saya, Gina, pak Rudi (yang menjelaskan detil lukisan Jan Toroop di
gedung PT. Aperdi), bu Muriani Tan dan pak William, Fahmi, Santi dan Tita
yang telah menjelajah bersama melintasi ruang dan waktu sejarah Surabaya.


--
Considerate la vostra semenza: fatti non foste a viver come bruti, ma per
seguir virtute e canoscenza
- Dante Alighieri

---|o|---

Frayed End of Sanity: http://helmantaofani.blogspot.com
My [not so sweet] Blog:
http://hilmantaofani.blogs.friendster.com/whatta_day/


[Non-text portions of this message have been removed]




Mon Sep 10, 2007 6:47 am

taofani@...
Send Email Send Email

Forward
Message #115 of 1981 |
Expand Messages Author Sort by Date

Berikut review versi saya. Untuk "diary"-nya mungkin Tita bisa ngasi review yang lebih akurat. Soerabaia Lama Prinsip saya untuk mengakrabi sebuah kota adalah:...
Mohammad Hilman Taofani
taofani@...
Send Email
Sep 10, 2007
10:16 am

Cak Hilman, Saya suka dengan review anda ini. Lugas dan informatif. Wah mesti berguru utk menulis review pada anda (dan juga teman2 lain) nih :). Btw, tidak...
Jimmy Tanaya
tanaya.geo
Offline Send Email
Sep 10, 2007
11:04 am

Tengkyu mas...untuk yang diary-nya mungkin Tita bakal nulis lagi. Anyway, sedikit foto dari kemaren, bisa diexplore di album Flickr: ...
Mohammad Hilman Taofani
taofani@...
Send Email
Sep 11, 2007
2:46 am

waduh, kayanya tulisan cak hilman uda mewakili semuanya yah, lengkap dan akurat tapi lugas dan easy to understand untuk diary aku pikir uda ga perlu salam, ...
- tee -
punyatita
Offline Send Email
Sep 11, 2007
2:58 am

To Tita... Tetap perlu tuh, kan pasti beda gaya :D ditunggu lho diary-nya Btw, soal panitia, akan lebih baik kalo kita bergantian menyelenggarakannya. ...
Astri Pramarini
nalastri
Offline Send Email
Sep 11, 2007
7:22 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help