Artikel ini adalah kelanjutan dari Zakat Maut & Manusia Berkepala Dua dimana tertulis dengan jelas cuplikan artikel tsb :
.... Hikmah besar bila kejadian itu adalah perulangan
dan kejadian tsb terjadi di bulan suci ramadhan, hingga tidak
berlebihan jika zakat maut itu adalah gambaran pemberi zakat sebagai
sosok penguasa sedangakan penerima zakat adalah rakyat jelata
Penguasa (pemberi zakat) tidak sadar dengan kebijakan bagi-bagi
zakat (semacam BLT) justru menjerumuskan penerima zakat (rakyat)
sekiranya pemberian itu tidak meningkatkan taraf hidup masyarakat
kecuali hanya untuk konsumtif saja.
Ketidaksadaran penguasa tercermin dari ketidaksadaran H. syaikon
bahwa jumlah peserta zakat semakin banyak dibanding tahun sebelumnya,
padahal dana yang di bagikan tetap rp. 50-70 juta. Sama halnya
pemerintah saat ini tiada sadar bahwa jumlah penduduk semakin besar dan
beban semakin banyak, justru penguasa mengklaim keberhasilan
pengentasan kemiskinan.
Sadar atau tidak, dengan jumlah penduduk yang semakin besar, namun
sumber daya semakin tipis/berkurang menunjukkan betapa rentannya
struktur masyarakat Indonesia, saat sumber daya habis, maka tibalah
rebutan antar rakyat agar hidup ...
Dengan jelas tersirat "Penguasa (pemberi zakat) tidak sadar dengan kebijakan bagi-bagi zakat (semacam BLT) justru
menjerumuskan penerima zakat (rakyat) sekiranya pemberian itu tidak
meningkatkan taraf hidup masyarakat kecuali hanya untuk konsumtif saja."
Baru saja tulisan tsb di posting Sep 17, 2008 8:05 am, maka hari berikutnya muncul berita tentang BLT Peluru Nyasar, Kok Jadi Begini Apa Salahmu Nak
Menurut Kades Sugihwaras, Tamudiono, yang menjemput
jenazah Yuni di rumah sakit, Suli mencari tambahan penghasilan dengan
mencari kayu rencek di hutan. Kayu rencek adalah ranting-ranting kecil
yang biasanya digunakan untuk kayu bakar. "Bagaimana tidak susah,
kalau mereka belum punya rumah sediri dan tergolong keluarga yang
menerima BLT (bantuan langsung tunai)," kata Tamudiono.
....
Oleh karena itu, setelah menerima BLT sebesar Rp 400.000,
Supatmi memutuskan berangkat menuju LP. ”Supatmi ingin menjenguk
suaminya yang tidak bisa menjalankan puasa bersama keluarga,” kata
salah satu tetangga Suli.
Peristiwa mengenaskan tsb yang mengubah headline news dari zakat maut, menjadi berita peluru nyasar
Saat Besuk Ayah di Lapas Bojonegoro
BOJONEGORO - Acara besuk tahanan di Lapas Bojonegoro kemarin
berubah jadi malapetaka. Akibat muntahan peluru senjata petugas yang
menyalak secara tidak sengaja, seorang bocah tewas dan dua lainnya
terluka. Bripda Suprianto, pemilik senjata yang juga anggota samapta
polres setempat, saat ini ditahan untuk menjalani pemeriksaan.
Korban tewas adalah Sri Wahyuni, 6. Korban luka tembak adalah
Supatmi, 30, ibu kandung Sri Wahyuni; serta Aziz Sulaiman, 26, napi
yang pagi itu dapat tugas dari pimpinan lapas menjadi juru parkir di
halaman lapas.
Menurut keterangan beberapa saksi, peristiwa terjadi sekitar pukul
10.30, saat lembaga pemasyaratan kelas II di Jalan Diponegoro membuka
jam besuk (gelombang pertama pukul 09.00-12.00). Saat itu, Supatmi baru
turun dari becak dan menggandeng sang anak, Sri Wahyuni, di pintu
gerbang penjara. Mereka akan membesuk Suli, bapak sang anak, yang
ditahan di sana.
Tiba-tiba, dari balik pintu gerbang, terdengar suara dor yang keras.
Peluru itu muntah secara tak sengaja dari senjata laras panjang (jenis
SS1-V2) yang dipegang Bripda Suprianto. Bersama Bripda Aris Wahyu, pagi
itu Suprianto mendapatkan tugas mengawal tahanan yang akan diajukan ke
kursi sidang pengadilan.
Sambil menunggu para tahanan dipersiapkan menuju mobil, Suprianto
dan temannya duduk di ruang piket lapas. Senjata buatan Pindad,
Bandung, itu dipegangi Suprianto dengan tangan kiri di pangkuannya.
Tangan kanannya asyik memainkan HP untuk kirim SMS. Peluru yang muntah
dari senjata kaliber 5,7 milimeter itu melesat dan menembus pintu lapas
yang terbuat dari kayu.
Timah panas itu menembus paha kanan Aziz Sulaiman, warga Desa
Tinawun, Kecamatan Malo, yang sedang mengatur kendaraan di halaman
lapas. Setelah itu, peluru yang sama memangsa korban kedua, Sri
Wahyuni. Dada kanan hingga ketiak serta bahu kiri bocah ini tertembus
peluru.
Saat Azis dan Sri Wahyuni terhuyung ke tanah, peluru terus meluncur
dan melesak ke tubuh ibu Sri Wahyuni, Supatmi. Baru setelah itu pelor
berhenti dan bersarang di panggul kanan ibu dua anak tersebut.
"Saya kaget mendengar suara ledakan. Ketika saya lihat, Supadmi dan
Sri (Wahyuni) sudah tergeletak dan berlumuran darah,'' kata Sumirah,
50, tetangga Supatmi, kepada Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group) yang ikut bersama rombongan membesuk Suli.
Setelah kejadian itu, seluruh korban dibawa ke RSUD dr R Sosodoro
Djatikoesoema yang tak jauh dari lokasi lapas. TKP segera dipasangi police line oleh petugas polres setempat.
Akibat lukanya yang parah, Sri Wahyuni tidak tertolong. Kemarin
jenazah korban langsung dimakamkan di desanya, Ngraho, Bojonegoro.
Sedangkan Supatmi segera dioperasi. Operasi ini untuk mengeluarkan
proyektil peluru yang bersarang di panggulnya.
''Untung, lukanya tidak terlalu dalam, sehingga tidak menembus
tulang panggul dan organ kewanitaannya,'' kata Humas RSUD dr R Sosodoro
Djatimoesoema Bojonegoro drg Thomas Djaja.
Kapolres Menyesal
Kapolres Bojonegoro AKBP Agus S. Hidayat setelah memimpin olah
tempat kejadian perkara (TKP) menyatakan menyesal atas kejadian yang
mengakibatkan seorang korban tewas. Dia mengakui, peluru itu keluar
dari senjata serbu standar Polri yang dibawa Bripda Suprianto, anggota
Samapta Polres Bojonegoro.
''Tidak ada rekoset (pantulan). Hanya tembus pintu dan kena tiga orang. Apalagi, jaraknya kan cukup dekat,'' jelasnya.
Atas kejadian itu, Bripda Suprianto langsung diamanakan dan dimintai
keterangan. Agus meyakinkan akan memproses kejadian tersebut sampai
tuntas. ''Atas kelalaiannya, dia (Suprianto, Red) memang harus
bertanggung jawab,'' katanya.
Kepada para korban dan keluarganya, Kapolres menyatakan ikut
berbelasungkawa. Dia kemarin juga datang ke rumah keluarga korban.
''Untuk santunan masih kami usahakan, yang jelas ada,'' ujarnya.
Tragedi muntahan peluru petugas pengawal tahanan di Lembaga
Pemasyarakatan (Lapas) Bojonegoro berimbas kepada jadwal sidang di
pengadilan negeri (PN) setempat. Lebih dari 10 sidang perkara pidana
yang sedianya digelar kemarin terpaksa ditunda.
''Kami sangat prihatin atas tragedi itu. Karena itu, kami memutuskan
bahwa semua jadwal sidang perkara pidana hari ini ditunda,'' kata Humas
PN Bojonegoro T. Marbun.
Secara terpisah, Kanwil Depkum HAM Jatim menyatakan
bahwa petugas Lapas Bojongoro tidak bersalah. Sebab, yang melakukan
kealpaan itu bukan petugas lapas. Menurut Kasubag Humas Kanwil Depkum
HAM Jatim Noor Prapto, yang bertanggung jawab adalah Bripda Suprianto.
Gara-gara kecerobohannya, tragedi itu terjadi. ''Jadi, pihak lapas
tidak bisa disalahkan,'' kata Noor. (ade/dim/may/el)
Begitulah kisah peluru nyasar yang erat kaitannya dengan artikel Zakat Maut & Manusia Berkepala Dua
dimana dengan jelas "Penguasa (pemberi zakat) tidak sadar dengan
kebijakan bagi-bagi zakat (semacam BLT) justru menjerumuskan penerima
zakat (rakyat) sekiranya pemberian itu tidak meningkatkan taraf hidup
masyarakat kecuali hanya untuk konsumtif saja."
Setelah menerima BLT, maka Supatmi; Besuk Suami, Malah Kehilangan Putri Tercinta lihat lagi bahwa BLT tidak menghentikan suami ny supatmi untuk mencuri kayu hutan
SULI seperti tak ikhlas melepas anak bungsunya, Sri
Wahyuni, yang tewas dirobek peluru nyasar polisi, saat hendak
menjenguknya di penjara. Pria berusia 34 tahun itu terus meratapi
anaknya yang terbujur kaku di atas amben bambu beralas tikar cokelat.
"Nak, kenapa jadi begini. Apa salahmu?" ratap Suli di samping jasad
anaknya yang membiru itu.
Suli sangat terpukul dengan kematian anak bungsunya itu.
Di lingkungan rumah dan sekitarnya, Suli dikenal sangat dekat dengan
Yuni. Ia tidak bisa menerima sang anak tidak bisa bersama-sama lagi.
Saat ini Suli berstatus tahanan titipan polisi dan mendekam di
Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIa Bojonegoro karena, bersama
sejumlah tetangga sedesanya, dituduh mencuri kayu di hutan.
Namun atas kematian Yuni, panggilan Sri Wahyuni, penahanannya
ditangguhkan dan diantar polisi pulang sekitar pukul 16.30 di rumahnya
di Sugihwaras, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (18/9).
BLT tidak mengubah seseorang menjadi nyaman dalam kehidupannya, BLT
tidak mengubah taraf hidup masyarakat, justru BLT menjerumuskan
kehidupan lewat konsumerisme sebagaimana Bpk Suli yang tidak mampu
menghentikan kegiatan mencuri kayu di hutan dengan alasan ekonomi
Seperti sebagian penduduk desa itu, kehidupan keluarga
Suli boleh dibilang sangat kurang secara ekonomi. Suli dan Supatmi
belum punya rumah, sehingga sampai sekarang keluarga itu masih nunut di
rumah orangtua Supatmi, Mak Yuk.
Sehari-hari ia menjadi buruh tani yang menggarap lahan orang lain
dengan upah yang amat pas-pasan. Itupun hanya bisa dilakukan tiap kali
musim taman. Perkerjaan lain yang dilakoni Suli dan Supatmi adalah
menjadi perajin keranjang dari bambu.
Menurut Kades Sugihwaras, Tamudiono, yang menjemput jenazah Yuni di
rumah sakit, Suli mencari tambahan penghasilan dengan mencari kayu
rencek di hutan. Kayu rencek adalah ranting-ranting kecil yang biasanya
digunakan untuk kayu bakar. "Bagaimana tidak susah, kalau mereka belum
punya rumah sediri dan tergolong keluarga yang menerima BLT (bantuan
langsung tunai)," kata Tamudiono.
Namun aktivitasnya di hutan itulah yang membuatnya ditahan oleh
polisi hutan Kamis (11/9) lalu dengan tuduhan mencuri kayu jati. Suli
tidak sendiri, ia diciduk bersama empat tetangganya yang lain. Dia
resmi ditahan pada 12 September dan sehari kemudian dititipkan LP
Bojonegoro. Ada dugaan, kemiskinan itulah yang mendorong Suli ikut
teman-temannya, tidak sekadar mencari rencek, tetapi mencuri kayu jati.
Sekiranya BLT itu di lakukan sebagai proyek padat karya, maka
energi, tenaga Bpk Suli akan terserap sehingga melupakan niat untuk
mencuri kayu di hutan karena saking sibuk & terkuras tenaga beliau,
namun justru karena BLT adalah langsung tunai, maka masih tersedia
ruang niat untuk melakukan pencurian kayu tsb.
Akhirnya karena BLT itulah anak Ny. supatmi tewas sehingga tidak berlebihan jika BLT adalah Bantuan Langsung Tewas "Oleh
karena itu, setelah menerima BLT sebesar Rp 400.000, Supatmi memutuskan
berangkat menuju LP. ”Supatmi ingin menjenguk suaminya yang tidak bisa
menjalankan puasa bersama keluarga,” kata salah satu tetangga Suli."
Hikmah lain adalah kejadian di Bojonegoro tsb membangkitkan memori
saat selasa pada hari selasa lalu atau 3 hari sebelum kejadian peluru
nyasar, team the untold stories pergi ke bojonegoro pula untuk
mengerjakan proyek software, hingga itulah jawaban atas lanjutan
artikel Zakat Maut & Manusia Berkepala Dua tentang kisah di -ikuti maut
... Dengan demikian setelah minuman keras membawa maut,
maka giliran ustad atau kyai menjadi berita maut tsb sebagaimana
perulangan tsb. Lihat artikel Meretas takdir : Di-ikuti maut yang dengan jelas memuat kota pasuruan sebagai kota alim dengan maut yang menjemput ...
Seakan menjadi penegasan bahwa urutan peristiwa-peristiwa itu sudah
cocok & benar ... tinggalah penentuan akan peringatan itu, saat
semua orang menjadi tidak percaya akan penantian atas peringatan itu ...
Aneh & Ajaib tentang penegasan itu, maka tibalah peristiwa langka ini yang menyangkut CINA yakni
Sabtu, 20/09/2008 16:28 WIB China Airlines Alami Turbulensi Korban Luka-luka 11 Orang, 6 Dilarikan ke RS Ken Yunita - detikNews
Jakarta - China Airlines mendarat di Bandara Ngurah Rai,
Denpasar, Bali setelah mengalami turbulensi. Akibatnya, 11 orang
terluka. 6 Orang luka parah sehingga harus dilarikan ke RS Sanglah.
"Mereka kebanyakan luka dan mengalami patah tulang," kata Kepala
Pusat Pengendalian Krisis Departemen Kesehatan Rustam S Pakaya kepada
detikcom, Sabtu (20/9/2008) pukul 16.15 WIB.
Rustam mengatakan, pesawat naas itu mengalami turbulensi (masuk ke
awan) pada pukul 14.00 WIB. "Untung bisa mendarat meski tak stabil,"
katanya.
Kini petugas kesehatan masih berada di Bandara Ngurah Rai untuk
memberi pertolongan penumpang. 29 Ambulans juga tersedia di bandara.
Sebelumnya diberitakan, pesawat CI 687 itu mengalami turbulens di
atas wilayah Indonesia, pesawat itu mengalami goncangan, sehingga 7
penumpangnya terluka. Pesawat ini mendarat mulus di Bandara I Gusti
Ngurah Rai sekitar pukul 14.05 Wita, Sabtu (20/9/2008).
Pesawat China Airlines Boeing 747 ini memiliki rute Taipei- Bali.
Saat kecelakaan terjadi, pesawat ini memang sedang terbang menuju Bali.
Informasi dari humas Bandara Ngurah Rai, pesawat ini mengalami
turbulensi saat terbang di atas udara Sulawesi, akibat gangguan cuaca. (ken/djo)
Cina & BLT yang termuat di artikel Zakat Maut & Manusia Berkepala Dua
, maka kejadian kedua-duanya adalah perulangan untuk mengingatkan akan
sesuatu penantian atas speringatan itu, sebagaimana polisi 'ngawur'
nembak, maka perulangan tsb merupakan sebulan sebelumnya. Dan itulah
polisi yang kembali di-ingatkan akan kasus Ryian dengan 11 korbannya Ryan Penjagal Jombang: Killings Free)
|
Senin, 11 Agustus 2008 23:43 WIB
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Wayan Buarsah terkena peluru nyasar di bagian kaki<!--
()--> |
Metrotvnews.com, Tangerang: Seorang warga Komplek Puri Megah,
Kecamatan Cipondoh, Tangerang, Banten, Senin (11/8), terkena peluru
nyasar polisi. Saat itu aparat mengamankan tiga pencuri dari amukan
massa. Korban Wayan Buarsah, 29 tahun, terluka tembak di kaki kanan.
Dia dilarikan ke Rumah Sakit Usada Insani.
Peristiwa bermula saat petugas akan mengamankan tiga pencuri
tersebut ke dalam mobil. Namun warga berupaya menghakimi pelaku dengan
mendorong polisi. Alhasil senjata milik Brigadir Polisi Kepala Asmad,
anggota tim III Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Cipondoh meletus.
Peluru mengenai Wayan dan jari telunjuk kiri Asmad.(**)
|
|
Polisi yang salah nembak, mirip dengan polisi yang salah
idetifikasi, akhirnya teringatk akan kasus si ryan itu, awal muasal
terjadi 11-juli-2008 lalu ...
Lalu tanggal berapa korban terakhir Ryan sehingga aibnya terbongkar ? baca artikel Pesawat Qantas Berlubang : Sublimasi Amrozi yang memuat hal tsb
Ada apakah hubungannga 11-juli-2008 dimana secara
berjamaah terbakarnya KA di Surabaya dan Bus di Jakarta sesuai tulisan
di atas dengan amrozi dan bahkan kasus penjagal dari jombang (Ryian) ?
"Semua akan di eksekusi mati, karena membunuh berantai sebagaimana si
Ryian.
Lihat kebetulan ini yang sangat luar biasa, ketika tgl
11-juli-2008 di surabaya KA cantik terbakar, di Jakarta Bus PPD
terbakar, maka jagal jombang si ryan beraksi dan dari aksi terakhir
itulah dia tertangkap
lebih tegas hal itu di ungkap lagi dalam sebutan "Meski memiliki istri dan seorang anak, Heri yang dibunuh dan dimutilasi Ryan pada 11 Juli lalu itu, juga menyukai sesama lelaki."
Sebagaimana berita terungkap kejadian yang lama terpendam, kini
kebenaran terkuak dengan bukti otentik yang menunjukkan bahwa
formalitas kebenaran ada kebenaran yang lebih benar
Keluarga Menolak, Polisi Makamkan Asrori di TPU
JAKARTA - Sikap Pengadilan Negeri Jombang yang tetap
melanjutkan sidang dengan tersangka Maman Sugiyanto alias Sugik, menuai
kritik dari Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan. Bagir mengaku heran
terhadap majelis hakim yang menyidangkan kasus pembunuhan Asrori alias
Aldo tersebut.
Dia menilai majelis hakim PN Jombang keliru saat memutuskan
melanjutkan sidang pembunuhan Mr XX dengan terdakwa Sugik. Secara
eksplisit, kata Bagir, majelis hakim perlu diingatkan. ''Sudah jelas
polisi mengatakan kasus ini (pembunuhan Mr XX, Red) keliru. Saya ndak ngerti mengapa sidang dilanjutkan,'' ujarnya di Gedung MA kemarin.
Dia juga yakin hakim mengadili orang yang tidak bersalah. Karena
itu, Bagir meminta hakim menghentikan sidang. ''Penghentian harus
dilakukan,'' tegas pria yang bakal pensiun pada November mendatang
tersebut.
Pernyataan Bagir itu merespons Mabes Polri yang menyatakan keliru
mengidentifikasi korban pembunuhan Mr XX di kebun tebu di Jombang, Jawa
Timur.
Dalam sejarah peradilan di Indonesia, ungkap Bagir, kasus salah
tangkap pembunuhan itu pernah terjadi dalam kasus Sengkon dan kasus di
Kalimantan Tengah pada periode 1930-an. Terdakwa harus mendekam di
hotel prodeo selama 18 tahun sebelum akhirnya dinyatakan tidak
bersalah. ''Ini bukan peristiwa pertama. Tapi, yang jelas, kejadian ini
murni kekeliruan penegak hukum,'' katanya.
Dia juga menyarankan agar dua terpidana yang saat ini masih
menjalani hukuman, Devid dan Kemat, secepatnya mengajukan permohonan
peninjauan kembali. ''Proses PK harus dilalui agar mereka bisa bebas.
Jaksa juga harus membebaskan mereka dari lembaga pemasyarakatan,''
tegasnya
Sementara itu, adanya fakta baru tentang identitas Mr X dan Mr XX
berdasar hasil tes DNA mulai direspons Kejaksaan Agung. Kemarin (19/9),
Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum) Abdul Hakim Ritonga memanggil
Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jatim Zulkarnain untuk membahas
perkembangan terbaru sidang kasus pembunuhan Asrori alias Aldo di
Jombang.
''Kami mau mendiskusikan keadaan di daerah sebenarnya seperti apa.
Kami mau tukar pikiran dulu,'' ujar Ritonga ditemui usai salat Jumat di
Masjid Baitul Adli, Kejagung.
Dia tidak menampik jika nanti memberikan tuntutan bebas kepada Maman
Sugianto alias Sugik yang sedang menjalani sidang di PN Jombang.
''Kalau dengan alat-alat bukti yang baru, diperiksa oleh sidang
pengadilan dan diterima kebenarannya, kenapa tidak?'' ujarnya.
Lantas, bagaimana dengan Imam Chambali alias Kemat dan Devid Eko
Priyanto yang telah divonis masing-masing 17 tahun dan 12 tahun?
Ritonga menyatakan, melalui peninjauan kembali (PK), keduanya bisa saja
bebas. ''Bergantung tes DNA yang kami terima, apakah sudah valid dan
diterima kebenarannya oleh semua pihak,'' jelas mantan kepala Kejaksaan
Tinggi (Kajati) Sulsel itu.
Kejaksaan, kata dia, prinsipnya tidak berkeberatan atas bukti baru
yang ditemukan polisi. Namun, dia mengaku hingga kini pihaknya belum
menerima hasil tes DNA yang menyatakan bahwa Mr X adalah Asrori alias
Aldo dan Mr XX adalah Fauzin Suyanto.
''Saya mau bilang ke Kajati, hasil tes DNA jangan diumbar-umbar ke
umum dulu karena kejaksaan dan pengadilan belum diberi tahu,'' ujarnya.
Dia lantas menyatakan selalu melaporkan perkembangan kasus Jombang
kepada jaksa agung.
Di bagian lain, Mabes Polri mengaku, hasil tes DNA yang menyatakan
Mr X adalah Asrori alias Aldo dan Mr XX adalah Fauzin Suyanto memang
belum diberikan kepada pihak jaksa. ''Jadi, ya memang wajar
jika jaksa masih meneruskan penuntutan terhadap Sugik. Untuk itu, kami
segera berikan bahan hasil DNA,'' ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Pol R.
Abubakar Nataprawira di Mabes Polri kemarin.
Jenazah Fauzin Diserahkan
Dua jenazah tersebut disimpan di RS Bhayangkara Polda Jatim selama
proses identifikasi terkait kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idham
Henyansyah alias Ryan. Mabes Polri akhirnya menyatakan mayat di kebun
tebu Bandar Kedungmulyo, Jombang, adalah Fauzin. Sedangkan jenazah di
belakang rumah Ryan di Tembelang, Jombang, adalah Asrori.
Nah, sejak awal, keluarga Asrori yakin bahwa mayat di kebun
tebu adalah Asrori. Karena itu, mereka menolak menerima jenazah meski
proses identifikasi melalui tes DNA (deoxyribonucleic acid) selesai dilakukan.
''Kami yakin, mayat di kebun tebu adalah Asrori. Apalagi, saat itu
diperkuat visum dari RSUD Jombang,'' kata Baharudin, salah seorang
kerabat Asrori, di Mapolda Jatim, kemarin.
Baharudin kemarin datang ke mapolda bersama tiga kerabat Asrori yang
lain. Mereka memang diundang polisi untuk mengambil jenazah yang digali
dari belakang rumah Ryan. Namun, mereka menolak. ''DNA itu kan berdasarkan hukum. Kalau keyakinan keluarga, jenazah Asrori ya di kebun tebu,'' tegasnya.
Sikap keluarga Asrori yang ngotot itu direspons Kapolda Jatim Irjen
Pol Herman S. Sumawiredja. Penolakan pengambilan jenazah membuat polda
mengambil langkah lain untuk menyikapi kasus tersebut.
''Kami tidak bisa terus-menerus menyimpan jenazah. Kami segera
menguburkan (jenazah Asrori) di pemakamam umum. Secepatnya akan
dilakukan,'' ucap Kapolda.
Langkah itu diambil karena polisi yakin bahwa Asrori adalah korban
pembunuhan Ryan, bukan dilakukan Kemat cs. Namun, Kapolda tak
menyebutkan pemakaman yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir
jenazah Asrori.
Lokasi sepenuhnya diserahkan kepada Direktur Reserse Kriminal Polda
Jatim Kombespol Edi Supriyadi. ''Bila tidak hari ini (kemarin), ya
besok (hari ini),'' tegas Kapolda.
Perwira tinggi kelahiran Bandung itu menjelaskan, selama ini polisi
sudah berupaya meyakinkan keluarga bahwa jenazah di rumah Ryan adalah
Asrori. Karena mereka tetap tidak mau menerima, polda tidak bisa
memaksa keluarga membawa pulang jenazah yang selama proses identifikasi
berada di RS Bhayangkara.
Jika niat polda mengembalikan jenazah Asrori mengalami kendala, hal
itu tidak terjadi kepada mayat Fauzin. Kelurga mereka menerima dan
langsung membawa jenazah pulang untuk dimakamkan.
''Kami akan memakamkan (jenazah Faizin) di pemakaman umum Ploso,
Nganjuk,'' ujar Sudarmanto, salah seorang kerabat Fauzin yang
mendatangi Mapolda Jatim, kemarin. (fal/naz/yun/fid/nw)
Akhirnya tidak berlebihan bahwa BLT = bantuan langsung tewas,
mengingatkan pada polisi yang ceroboh, mengingatkan pada kasus si ryan
dimana polisi salah identifikasi, akhirnya runut pada penantian
eksekusi amrozi ....
Ref berita :

| Friday, 19 September 2008 |
SULI seperti tak ikhlas melepas anak
bungsunya, Sri Wahyuni, yang tewas dirobek peluru nyasar polisi, saat
hendak menjenguknya di penjara. Pria berusia 34 tahun itu terus
meratapi anaknya yang terbujur kaku di atas amben bambu beralas tikar
cokelat. "Nak, kenapa jadi begini. Apa salahmu?" ratap Suli di samping
jasad anaknya yang membiru itu.
Suli sangat terpukul dengan kematian anak bungsunya itu.
Di lingkungan rumah dan sekitarnya, Suli dikenal sangat dekat dengan
Yuni. Ia tidak bisa menerima sang anak tidak bisa bersama-sama lagi.
Saat ini Suli berstatus tahanan titipan polisi dan mendekam di
Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIa Bojonegoro karena, bersama
sejumlah tetangga sedesanya, dituduh mencuri kayu di hutan. Namun atas
kematian Yuni, panggilan Sri Wahyuni, penahanannya ditangguhkan dan
diantar polisi pulang sekitar pukul 16.30 di rumahnya di Sugihwaras,
Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (18/9).
Nyaris tak ada orang yang bisa menahan haru menyaksikan pemandangan
itu, termasuk Kapolres Bojonegoro, AKBP Agus Syariful Hidayat. Banyak
pula yang langsung menangis sedih yang teramat sangat.
Akhirnya, tak berapa lama kemudian, jenazah bocah yang duduk di
bangku taman kanak-kanak itu diberangkatkan ke pemakaman tanpa ditemani
sang ayah. Suli tinggal di rumah karena masih terus menangis. Sedangkan
sang ibu, Supatmi sampai sekarang masih mendapatkan perawatan di RSUD
Dr Sosodoro Djatiekoesoemo karena mengalami luka tembak.
Insiden itu mengubah hidup keluarga Suli yang sebelumnya tenteram
itu. Selama ini, Suli hidup bersama istri dan dua anaknya. Selain Yuni,
Suli dan Supatmi punya anak laki-laki yang berusia 12 tahun.
Seperti sebagian penduduk desa itu, kehidupan keluarga Suli boleh
dibilang sangat kurang secara ekonomi. Suli dan Supatmi belum punya
rumah, sehingga sampai sekarang keluarga itu masih nunut di rumah
orangtua Supatmi, Mak Yuk.
Sehari-hari ia menjadi buruh tani yang menggarap lahan orang lain
dengan upah yang amat pas-pasan. Itupun hanya bisa dilakukan tiap kali
musim taman. Perkerjaan lain yang dilakoni Suli dan Supatmi adalah
menjadi perajin keranjang dari bambu.
Menurut Kades Sugihwaras, Tamudiono, yang menjemput jenazah Yuni di
rumah sakit, Suli mencari tambahan penghasilan dengan mencari kayu
rencek di hutan. Kayu rencek adalah ranting-ranting kecil yang biasanya
digunakan untuk kayu bakar. "Bagaimana tidak susah, kalau mereka belum
punya rumah sediri dan tergolong keluarga yang menerima BLT (bantuan
langsung tunai)," kata Tamudiono.
Namun aktivitasnya di hutan itulah yang membuatnya ditahan oleh
polisi hutan Kamis (11/9) lalu dengan tuduhan mencuri kayu jati. Suli
tidak sendiri, ia diciduk bersama empat tetangganya yang lain. Dia
resmi ditahan pada 12 September dan sehari kemudian dititipkan LP
Bojonegoro. Ada dugaan, kemiskinan itulah yang mendorong Suli ikut
teman-temannya, tidak sekadar mencari rencek, tetapi mencuri kayu jati.
"Musibah seperti ini sangat menyedihkan dan kami sebagai perangkat desa ikut prihatin," sambungnya.
Meski bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan, keluarga ini hidup
bahagia. Yuni dikenal dekat dengan Suli. Sehingga tak mengherankan
kalau ia merengek-rengek ingin ikut menjenguk sang ayah di LP kemarin.
Rengekan inilah yang membuat Supatmi tidak tega kalau tidak mengajak
Yuni menjumpai sang ayah yang mendekam di balik jeruji.
Oleh karena itu, setelah menerima BLT sebesar Rp 400.000, Supatmi
memutuskan berangkat menuju LP. ”Supatmi ingin menjenguk suaminya yang
tidak bisa menjalankan puasa bersama keluarga,” kata salah satu
tetangga Suli.
Kayu 10 Cm Bisa Jebol
“SENAPAN laras panjang itu adalah senjata terbaru yang dipakai
anggota kami,” ungkap Kapolres Bojonegoro, AKBP Agus Syariful Hidayat,
Kamis (18/9).
Senapan yang dibicarakan Agus adalah SS1 V2, senapan serbu yang
meletus secara tak sengaja dan menewaskan Sri Wahyuni, bocah tujuh
tahun yang hendak menjenguk ayahnya di LP Kelas IIa Bojonegoro.
Senapan ini merupakan perlengkapan standard yang digunakan TNI dan
Polri dan merupakan varian lain dari SS1 V1, namun dengan laras lebih
pendek. Kedua senapan ini merupakan produksi PT Pindad dengan lisensi
dari perusahaan senjata Belgia, Fabrique Nationale. Versi aslinya
diberi nama FNFNC.
Menurut situs resmi PT Pindad, senapan ini tergolong dalam senapan
serbu (oleh karena itu diberi nama SS) berkaliber 5,56x45 mm yang
mempunyai ketangguhan dan akurasi tinggi. Dengan popornya yang bisa
dilipat, senapan ini sangat cocok untuk segala medan pertempuran. SS1
bisa dilengkapi dengan sejumlah aksesori antara lain peredam, teleskop,
bayonet dan beberapa macam pelontar granat.
Beberapa varian SS1 telah diproduksi PT Pindad, selain V1 dan V2. Di
antaranya, V3 standard dengan popor yang tidak bisa dilipat dan V5 yang
merupakan varian terkecil. Senapan ini dikenal dengan bentuknya yang
mirip M16 buatan Amerika. Selain Indonesia, Swedia juga mendapatkan
lisensi untuk memproduksi senapan ini dengan nama Bofors AK-5.
Mengadopsi teknologi senapan serbu bandel AK-47 produksi Uni Soviet,
SS1 menggunakan gas untuk mendorong peluru, namun dengan sejumlah
modifikasi yang membuat senapan ini menjadi lebih canggih.
Menurut situs persenjataan, www.world-guns.ru, magazin SS1 mampu
menampung 30 butir peluru dengan kecepatan tembak 700 peluru per menit.
Peluru kaliber 5,56x45 mm jenis MU-5TJ yang ditembakkan dari senapan
ini masih bisa mencapai daya penetrasi maksimal dalam jarak 450 meter.
Dalam jarak 100 meter peluru ini dengan mudah menembus baju antipeluru
yang dilengkapi baja setebal 3,5 mm. Peluru ini sudah melalui uji
kualitas yang ditetapkan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara).
”Gampangnya, dalam jarak efektif, peluru ini bisa menembus kayu
setebal 10 cm sekalipun. Sedangkan kalau menghantam tembok akan rekoset
(memantul), tetapi masih bisa mematikan manusia,” kata seorang anggota
Polwiltabes Surabaya yang dimintai komentar tentang keampuhan senapan
ini.sas/mif |
|