Buah kebetulan ini sebagai akibat manusia yang disengaja atau karena tidak disengaja, namun menunjukkan pesan sesuatu. Tergantung kita dalam memandang dalam peristiwa hebat yang terjadi :
(1) Buah kebetulan 11/9 dan 9/11
Banding-kan dengan kematian Dr. Azhari yang merupakan bulan dan tahun di balik 9/11/2005
- Rabu, 09/11/2005 20:36 WIB Penyergapan Azahari di Batu Polisi Dilempari 11 Bom
Artinya ada buah kebetulan antara kejadian serangan WTC 11/9 dengan kematian Dr. Azhari 9/11 diatas
(2) Buah kebetulan 11, 22 dan 15
Lihat lagi berita baru ini yaitu :
- 24/01/2007 14:40 WIB
Polisi Masih Buru 15 DPO Poso Mahfudz Jufri - detikcom
Poso - Dua DPO Poso sudah ditembak mati polisi pada
baku tembak 11 dan 22 Januari 2007. Kini, polisi masih terus memburu 15
DPO lainnya.
Perhatikan kejadian tgl 22-Januari-2007 barusan yang menonjol yakni Gempa Bumi yang cukup deras di Indonesia ( klik tabel disini). Hitung jumlah data gempa :
tgl 22-Jan-2007 sejumlah : 11 kali
tgl 21-Jan-2007 sejumlah : 15 kali
tgl 21-Jan-2007 sejumlah : 15 kali
Dengan demikian berita penembakan poso ini merupakan ulangan dari berita gempa dengan jumlah data yang sama, yaitu jumlah 15 DPO poso bersesuaian dengan jumlah gempa 21-jan-2007, kemudian kejadian 22 januari gempa berjumlah 11 kali dimana baku tembak poso pun terjadi tgl 11 dan 22 jan 2007
Apa yang terjadi tgl 11-jan-2007 lalu ? persis gempa dan poso sama dengan tanggal 22 !
- Kamis, 11/01/2007 12:01 WIB Baku Tembak di Poso, 5 Buronan Ditangkap, 1 Tewas Didor
- Kamis, 11/01/2007 22:28 WIB Gempa 6,3 SR Kagetkan Ambon
Tersusunlan 26-12-2004, dimana GAM vs RI akhirnya diselesaikan oleh yang di ATAS (baca Hijrah atau di-hijrahkan) , namun membawa korban tak berdosa seperti 12 tewas bukan DPO di POSO . Apa yang terjadi 26-12-2004 lalu Minggu, 26/12/2004 16:07 WIB Berkekuatan 8,9 SR, Gempa Aceh Terbesar No 5 Sejak 1900 Dengan demikian salah satu tanda Indonesia akan menangis ? karena mirip GAM dengan POSO adalah Minggu, 26/12/2004 15:33 WIB Buntut Gempa, Garuda Batalkan Penerbangan ke Banda Aceh Sesuai dengan artikel tentang Garuda dimana sebelumnya Garuda ini juga merupakan penyusunan artikel Mengenang Munir Pejuang Orang Lemah
Meniru pertanda sebelum Tsunami aceh 2004 yang bemasalah dengan tentara adalah angka kembar di hari kembar Rabu, 22/12/2004 15:28 WIB Ansar Al Sunnah Serang Markas Tentara AS, 22 Orang Tewas
---------------------------------
Wallahu'alam
Rabu, 24 Jan 2007, 12 Tewas Bukan DPO
Mabes Polri Tambah 2 SSK Brimob ke Poso
POSO - Jumlah warga sipil yang tewas dalam operasi penggerebekan para DPO (daftar pencarian orang) kasus kerusuhan Poso Senin (22/1) lalu menjadi 13 orang. Tiga korban luka-luka yang sempat dirawat di RSUD Poso kemarin meninggal dunia karena luka tembak yang cukup parah.
Sayang, di antara 13 korban tewas itu, ternyata hanya satu orang yang masuk dalam DPO, yaitu Tengku Firsan alias Icang. Sedangkan 12 orang lainnya, menurut polisi, adalah para tersangka berbagai kasus kriminal, seperti pembuatan bom dan senjata api, ikut menyembunyikan DPO, serta kasus intimidasi dan teror kepada masyarakat.
Kabid Humas Polda Sulteng AKBP M. Kilat mengatakan, semua korban tewas dalam dua kali operasi telah memiliki bukti-bukti kuat bahwa mereka memang terlibat kasus kriminal di wilayah Sulteng, terutama di Palu dan Poso. Dalam operasi Senin lalu, selain 13 korban meninggal, polisi menangkap 25 orang. Di antara 25 orang itu, hanya dua orang yang masuk DPO, yaitu Wiwin Kalahe dan Tugiran.
Dari penyidikan sementara terhadap dua DPO tersebut, terungkap beberapa kasus kriminal yang melibatkan mereka. Antara lain, kasus penembakan terhadap Ivon dan Siti pada 2005, penembakan Ny Helmi Tombulung pada 2005, dan penembakan seorang warga di kebun cokelat Kelurahan Sayo pada 2005 juga. Menurut Kilat, dari Wiwin diperoleh juga keterangan tentang penembakan dosen Universitas Tadulako Puji dengan pelaku Umang dan Kana, penembakan Briptu Agus Sulaiman pada 2005 oleh Enal Tao, dan penembakan Sugito oleh Enal Tao pada 2005."Kami optimistis, tertangkapnya beberapa DPO itu akan dapat mengungkap semua kasus kriminal yang terjadi selama konflik di daerah Poso dan Palu," kata Kilat.
Sebelumnya, pada penggerebekan Kamis (11/1) dua pekan lalu, polisi menembak mati satu DPO, yaitu Dedi Parsan (terlibat penembakan jaksa Feri di Palu pada 2003). Selain itu, polisi menangkap dua DPO lain, yaitu Anang Muftadin alias Papa Enal (terlibat penembakan pendeta Susianti di Palu pada 2005) dan Paiman alias Sarjono (terlibat peledakan bom di GOR Poso pada 2004).Sedangkan korban dari pihak polisi, ternyata tujuh orang, bukan tiga orang seperti berita sebelumnya. Ketujuh polisi yang menjadi korban baku tembak dengan warga itu adalah Bripda Rony Iskandar (meninggal), Ipda Maslikan (luka tembak di paha kanan), Bripda I Wayan Pande (luka tembak di pantat), Bripda Abd. Wahid (memar di dada), Brigadir Kosmos (luka tembak di tangan kanan), Aipda Arnol (patah tangan kiri), dan Bripda Dudung Hardi (terkena serpihan bom).
Situasi di Poso kini mulai tenang. Meski demikian, Mabes Polri tetap meningkatkan pengamanan di kota itu dan sekitarnya. Kemarin, dua Satuan Setingkat Kompi (SSK) Sat Brimob Pelopor III Kelapa Dua Jakarta tiba di Bandara Mutiara Palu. Dua SSK atau sekitar 200 personel Brimob itu menumpang pesawat Hercules milik TNI-AU. Setiba di Bandara Mutiara, pasukan diterima Wakapolda Sulteng Kombespol I Nyoman Sindra.
Sebelum diberangkatkan ke Poso via darat, pasukan Brimob tersebut mendapat wejangan dari Wakapolda sekaligus berdoa bersama. Sekitar pukul 14.00 Wita, personel Brimob yang dilengkapi berbagai persenjataan tempur meninggalkan Bandara Mutiara Palu menuju Poso dengan lama perjalanan 4-5 jam.
"Pengiriman pasukan ini untuk menggantikan pasukan yang bertugas sebelumnya," kata Nyoman Sindra. Di Poso, kata Sindra, meski kondisinya mulai relatif aman dan terkendali, aparat tetap disebar di beberapa titik yang dianggap rawan. "Untuk memberikan rasa aman," ujarnya.
Dikubur Masal
Delapan korban tewas di tangan polisi dalam operasi penggerebekan DPO Senin (22/1) lalu dimakamkan secara masal di pekuburan umum Jalan Pulau Tarakan, Kelurahan Cebangrejo, Poso, kemarin. Ratusan warga menyertai prosesi penguburan delapan pemuda tersebut. Suasana penuh haru mewarnai proses pemakaman yang berlangsung mulai pukul 10.00. Semula ratusan orang terlihat tegar. Tapi, isak tangis keluarga dan kerabat mulai terdengar saat satu per satu jenazah diturunkan dari dua ambulans. Kendaraan jenis Kijang itu bolak-balik mengangkut jenazah hingga genap delapan. Dengan iringan takbir, satu per satu jenazah dimasukkan ke liang lahat dalam satu lubang besar berukuran 4 x 10 meter.
Walau pihak kepolisian tetap menuding bahwa korban tewas adalah kelompok bersenjata (teroris) yang selama ini meresahkan masyarakat, dan melawan saat penggerebekan DPO, sejumlah warga menolaknya. Yasin, 50, orang tua Afrianto, salah satu korban sipil yang tewas, membantah anaknya dituding sebagai kelompok teroris atau mendukung DPO. "Anak saya tidak bersenjata. Tidak melawan. Dia bukan DPO atau pendukungnya, namun dia diberondong tembakan hingga tewas," cerita Yasin dengan meneteskan air mata.
"Saat kejadian, anak saya yang dibonceng sepeda motor oleh temannya melintas di Jalan Pulau Jawa dari Pulau Madura. Melihat ada pasukan Brimob, temannya gugup, lalu berbalik arah untuk pergi. Tiba-tiba anak saya ditembaki dadanya hingga tewas. Saya minta keadilan hukum," tegas Yasin.
Kepada wartawan di lokasi penguburan, warga terlihat sangat kesal dengan ulah polisi selama ini. "Katanya yang diburu DPO. Mengapa yang bukan DPO dibunuh dan ditangkap juga. Lihat, semua yang dikubur ini bukanlah DPO," keluh warga beramai-ramai.
Delapan jenazah yang dimakamkam secara masal itu adalah Afrianto, Yusuf, Huma, Totok, Hiban, Idrus, Yasin, dan Sudar. Sebelumnya, empat korban dimakamkan di tiga tempat berbeda. Firmansyah dan Firzan dimakamkan di Kel. Kayamanya, Muh. Syafri alias Andrias dimakamkan di Kel. Lawanga, dan Nurgam alias Om Gam dimakamkan di kampung halamannya di Ampana Kab. Tojo Unauna Poso.
Sementara itu, jenazah Bripda Rony Iskandar yang tewas dalam baku tembak dengan kelompok bersenjata di Poso kemarin pagi diterbangkan ke kampung halaman di Bogor. Pelepasan jenazah anggota Brimob dari Satpor III Jakarta itu dipimpin Wakapolda Sulteng Kombespol I Nyoman Sindra dari Mapolda Sulteng hingga di Bandara Mutiara Palu. Dua perwira Polda Sulteng, Kombespol I Nyoman Rubrata (Karo Personalia) dan AKP P. Wolor (Kasi Ops Satbrimobda Sulteng) dipercaya mendampingi jenazah Bripda Roni hingga di kampung halaman. (tim jpnn)
Mabes Polri Tambah 2 SSK Brimob ke Poso
POSO - Jumlah warga sipil yang tewas dalam operasi penggerebekan para DPO (daftar pencarian orang) kasus kerusuhan Poso Senin (22/1) lalu menjadi 13 orang. Tiga korban luka-luka yang sempat dirawat di RSUD Poso kemarin meninggal dunia karena luka tembak yang cukup parah.
Sayang, di antara 13 korban tewas itu, ternyata hanya satu orang yang masuk dalam DPO, yaitu Tengku Firsan alias Icang. Sedangkan 12 orang lainnya, menurut polisi, adalah para tersangka berbagai kasus kriminal, seperti pembuatan bom dan senjata api, ikut menyembunyikan DPO, serta kasus intimidasi dan teror kepada masyarakat.
Kabid Humas Polda Sulteng AKBP M. Kilat mengatakan, semua korban tewas dalam dua kali operasi telah memiliki bukti-bukti kuat bahwa mereka memang terlibat kasus kriminal di wilayah Sulteng, terutama di Palu dan Poso. Dalam operasi Senin lalu, selain 13 korban meninggal, polisi menangkap 25 orang. Di antara 25 orang itu, hanya dua orang yang masuk DPO, yaitu Wiwin Kalahe dan Tugiran.
Dari penyidikan sementara terhadap dua DPO tersebut, terungkap beberapa kasus kriminal yang melibatkan mereka. Antara lain, kasus penembakan terhadap Ivon dan Siti pada 2005, penembakan Ny Helmi Tombulung pada 2005, dan penembakan seorang warga di kebun cokelat Kelurahan Sayo pada 2005 juga. Menurut Kilat, dari Wiwin diperoleh juga keterangan tentang penembakan dosen Universitas Tadulako Puji dengan pelaku Umang dan Kana, penembakan Briptu Agus Sulaiman pada 2005 oleh Enal Tao, dan penembakan Sugito oleh Enal Tao pada 2005."Kami optimistis, tertangkapnya beberapa DPO itu akan dapat mengungkap semua kasus kriminal yang terjadi selama konflik di daerah Poso dan Palu," kata Kilat.
Sebelumnya, pada penggerebekan Kamis (11/1) dua pekan lalu, polisi menembak mati satu DPO, yaitu Dedi Parsan (terlibat penembakan jaksa Feri di Palu pada 2003). Selain itu, polisi menangkap dua DPO lain, yaitu Anang Muftadin alias Papa Enal (terlibat penembakan pendeta Susianti di Palu pada 2005) dan Paiman alias Sarjono (terlibat peledakan bom di GOR Poso pada 2004).Sedangkan korban dari pihak polisi, ternyata tujuh orang, bukan tiga orang seperti berita sebelumnya. Ketujuh polisi yang menjadi korban baku tembak dengan warga itu adalah Bripda Rony Iskandar (meninggal), Ipda Maslikan (luka tembak di paha kanan), Bripda I Wayan Pande (luka tembak di pantat), Bripda Abd. Wahid (memar di dada), Brigadir Kosmos (luka tembak di tangan kanan), Aipda Arnol (patah tangan kiri), dan Bripda Dudung Hardi (terkena serpihan bom).
Situasi di Poso kini mulai tenang. Meski demikian, Mabes Polri tetap meningkatkan pengamanan di kota itu dan sekitarnya. Kemarin, dua Satuan Setingkat Kompi (SSK) Sat Brimob Pelopor III Kelapa Dua Jakarta tiba di Bandara Mutiara Palu. Dua SSK atau sekitar 200 personel Brimob itu menumpang pesawat Hercules milik TNI-AU. Setiba di Bandara Mutiara, pasukan diterima Wakapolda Sulteng Kombespol I Nyoman Sindra.
Sebelum diberangkatkan ke Poso via darat, pasukan Brimob tersebut mendapat wejangan dari Wakapolda sekaligus berdoa bersama. Sekitar pukul 14.00 Wita, personel Brimob yang dilengkapi berbagai persenjataan tempur meninggalkan Bandara Mutiara Palu menuju Poso dengan lama perjalanan 4-5 jam.
"Pengiriman pasukan ini untuk menggantikan pasukan yang bertugas sebelumnya," kata Nyoman Sindra. Di Poso, kata Sindra, meski kondisinya mulai relatif aman dan terkendali, aparat tetap disebar di beberapa titik yang dianggap rawan. "Untuk memberikan rasa aman," ujarnya.
Dikubur Masal
Delapan korban tewas di tangan polisi dalam operasi penggerebekan DPO Senin (22/1) lalu dimakamkan secara masal di pekuburan umum Jalan Pulau Tarakan, Kelurahan Cebangrejo, Poso, kemarin. Ratusan warga menyertai prosesi penguburan delapan pemuda tersebut. Suasana penuh haru mewarnai proses pemakaman yang berlangsung mulai pukul 10.00. Semula ratusan orang terlihat tegar. Tapi, isak tangis keluarga dan kerabat mulai terdengar saat satu per satu jenazah diturunkan dari dua ambulans. Kendaraan jenis Kijang itu bolak-balik mengangkut jenazah hingga genap delapan. Dengan iringan takbir, satu per satu jenazah dimasukkan ke liang lahat dalam satu lubang besar berukuran 4 x 10 meter.
Walau pihak kepolisian tetap menuding bahwa korban tewas adalah kelompok bersenjata (teroris) yang selama ini meresahkan masyarakat, dan melawan saat penggerebekan DPO, sejumlah warga menolaknya. Yasin, 50, orang tua Afrianto, salah satu korban sipil yang tewas, membantah anaknya dituding sebagai kelompok teroris atau mendukung DPO. "Anak saya tidak bersenjata. Tidak melawan. Dia bukan DPO atau pendukungnya, namun dia diberondong tembakan hingga tewas," cerita Yasin dengan meneteskan air mata.
"Saat kejadian, anak saya yang dibonceng sepeda motor oleh temannya melintas di Jalan Pulau Jawa dari Pulau Madura. Melihat ada pasukan Brimob, temannya gugup, lalu berbalik arah untuk pergi. Tiba-tiba anak saya ditembaki dadanya hingga tewas. Saya minta keadilan hukum," tegas Yasin.
Kepada wartawan di lokasi penguburan, warga terlihat sangat kesal dengan ulah polisi selama ini. "Katanya yang diburu DPO. Mengapa yang bukan DPO dibunuh dan ditangkap juga. Lihat, semua yang dikubur ini bukanlah DPO," keluh warga beramai-ramai.
Delapan jenazah yang dimakamkam secara masal itu adalah Afrianto, Yusuf, Huma, Totok, Hiban, Idrus, Yasin, dan Sudar. Sebelumnya, empat korban dimakamkan di tiga tempat berbeda. Firmansyah dan Firzan dimakamkan di Kel. Kayamanya, Muh. Syafri alias Andrias dimakamkan di Kel. Lawanga, dan Nurgam alias Om Gam dimakamkan di kampung halamannya di Ampana Kab. Tojo Unauna Poso.
Sementara itu, jenazah Bripda Rony Iskandar yang tewas dalam baku tembak dengan kelompok bersenjata di Poso kemarin pagi diterbangkan ke kampung halaman di Bogor. Pelepasan jenazah anggota Brimob dari Satpor III Jakarta itu dipimpin Wakapolda Sulteng Kombespol I Nyoman Sindra dari Mapolda Sulteng hingga di Bandara Mutiara Palu. Dua perwira Polda Sulteng, Kombespol I Nyoman Rubrata (Karo Personalia) dan AKP P. Wolor (Kasi Ops Satbrimobda Sulteng) dipercaya mendampingi jenazah Bripda Roni hingga di kampung halaman. (tim jpnn)
24/01/2007 14:40 WIB
Polisi Masih Buru 15 DPO Poso
Mahfudz Jufri - detikcom
Poso - Dua DPO Poso sudah ditembak mati polisi pada baku tembak 11 dan 22 Januari 2007. Kini, polisi masih terus memburu 15 DPO lainnya. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Muhammad Kilat kepada wartawan di Mapolres Poso, Jl. Sumatera, Poso, Rabu (24/1/2007). "Polisi masih memburu 15 orang DPO dan sejulah kelompok anggota bersenjata yang mendukung mereka," kata Kilat.
Kilat juga menyatakan ketiga anggota kelompok bersenjata yang menyerahkan diri Selasa (23/1/2007) kemarin masih terus diperiksa polisi. "Polda Sulteng masih terus memeriksa ketiganya secara intensif," ujar Kilat. Ketiga orang yang menyerahkan diri ke Polda Sulteng adalah Iswadi Larat (kelahiran Parigi, 6 November 1979), Muhammad Yasin (kelahiran Semarang, 6 Juli 1965), dan Falul alias Yakub (kelahiran Palu, 23 Februari 1981). Ketiganya mengaku terlibat baku tembak dengan Densus 88 Polri pada Senin lalu. Kilat juga memastikan bahwa dua DPO kasus terorisme telah tewas dalam baku tembal 11 dan 22 Januari. Keduanya adalah Dedi Parsan yang tewas pada 11 Januari dan Tengku Firzan alias Icang yang tewas pada 22 Januari 2007.
Pertemuan Tertutup Pejabat
Sementara itu, para pejabat menggelar pertemuan di rumah jabatan Bupati Poso di Jl. Tadulako, Poso. Rapat tertutup itu digelar dari pukul 09.00 hingga 11.00 Wita. Pertemuan membahas penanganan Poso. Sejumlah pejabat yang hadir antara lain, Bupati Poso Piet Ingkiriwang, Kapolres Poso AKBP Rudi Sufahriyadi, Kapolda Sulteng Brigjen Badrodin Haiti, Dandim Poso Letkol Indra Maulana Harahap, Danrem 132/Tadualko Kol Inf Husain Malik, Ses-Menko Kesra, dan sejumlah pejabat di Poso.
Hari kedua pasca baku tembak berdarah 22 Januari 2007, situasi Poso mulai terlihat normal. Sebagian besar toko dan lapak di pasar Sentral Poso mula buka. Lalu lintas kendaraan di jalan-jalan di kota Poso juga tampak padat sama seperti hari-hari biasa.(asy/nrl)
Mahfudz Jufri - detikcom
Poso - Dua DPO Poso sudah ditembak mati polisi pada baku tembak 11 dan 22 Januari 2007. Kini, polisi masih terus memburu 15 DPO lainnya. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Muhammad Kilat kepada wartawan di Mapolres Poso, Jl. Sumatera, Poso, Rabu (24/1/2007). "Polisi masih memburu 15 orang DPO dan sejulah kelompok anggota bersenjata yang mendukung mereka," kata Kilat.
Kilat juga menyatakan ketiga anggota kelompok bersenjata yang menyerahkan diri Selasa (23/1/2007) kemarin masih terus diperiksa polisi. "Polda Sulteng masih terus memeriksa ketiganya secara intensif," ujar Kilat. Ketiga orang yang menyerahkan diri ke Polda Sulteng adalah Iswadi Larat (kelahiran Parigi, 6 November 1979), Muhammad Yasin (kelahiran Semarang, 6 Juli 1965), dan Falul alias Yakub (kelahiran Palu, 23 Februari 1981). Ketiganya mengaku terlibat baku tembak dengan Densus 88 Polri pada Senin lalu. Kilat juga memastikan bahwa dua DPO kasus terorisme telah tewas dalam baku tembal 11 dan 22 Januari. Keduanya adalah Dedi Parsan yang tewas pada 11 Januari dan Tengku Firzan alias Icang yang tewas pada 22 Januari 2007.
Pertemuan Tertutup Pejabat
Sementara itu, para pejabat menggelar pertemuan di rumah jabatan Bupati Poso di Jl. Tadulako, Poso. Rapat tertutup itu digelar dari pukul 09.00 hingga 11.00 Wita. Pertemuan membahas penanganan Poso. Sejumlah pejabat yang hadir antara lain, Bupati Poso Piet Ingkiriwang, Kapolres Poso AKBP Rudi Sufahriyadi, Kapolda Sulteng Brigjen Badrodin Haiti, Dandim Poso Letkol Indra Maulana Harahap, Danrem 132/Tadualko Kol Inf Husain Malik, Ses-Menko Kesra, dan sejumlah pejabat di Poso.
Hari kedua pasca baku tembak berdarah 22 Januari 2007, situasi Poso mulai terlihat normal. Sebagian besar toko dan lapak di pasar Sentral Poso mula buka. Lalu lintas kendaraan di jalan-jalan di kota Poso juga tampak padat sama seperti hari-hari biasa.(asy/nrl)