PADUAN SUARA "AMIN"
Bacaan : Filipi
1:1-11
Sabtu, 28 Januari
2012
Bacaan Setahun :
Kejadian 43-45
Nats : Aku mengucap
syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari
pertama sampai sekarang ini (Filipi 1:5)
Ketika mengunjungi
kebaktian be-berapa gereja di Korea Selatan, ada satu hal yang membuat saya
penasaran. Jemaat yang hadir berulang kali menanggapi pengkhotbah dengan kata
"Amin". Menariknya, suara mereka nyaris selalu bersamaan, seperti
sebuah paduan suara. Saya tahu di Indonesia tanggapan "Amin" ada,
namun umumnya sendirisendiri. Rasa penasaran saya terjawab setelah mengikuti
kebaktian kesekian kalinya, dan mendengar tentang partisipasi nyata
gereja-gereja Korea Selatan dalam pemberitaan Injil ke seluruh dunia. Semua
gereja dari pelbagai latar-belakang mendidik jemaatnya untuk mengabarkan Injil
dan mendukung pekabaran Injil. Tidak heran, ketika kalimat-kalimat khotbah
berisi ajakan memberitakan Injil, tanggapan spontan mereka pastilah
"Amin".
Partisipasi dalam pemberitaan
injil juga merupakan kesan kuat yang tertanam di hati Paulus setiap kali
mengingat jemaat di Filipi (ayat 5). Salah satu wujudnya, mereka memberikan
bantuan untuk mencukupi kebutuhan Paulus sebagai pemberita injil lintas budaya
(lihat pasal 4:15, 16, 18). Tindakan kasih tersebut tentunya didasari kerinduan
agar injil diberitakan, bukan hanya dari satu orang, tapi seluruh jemaat. Surat
Filipi memuat ucapan terima kasih dari sang rasul kepada mereka.
Ada satu hal yang
sama-sama "diaminkan" baik oleh gereja-gereja di Korea Selatan,
maupun jemaat Filipi. Hati mereka penuh kerinduan memberitakan Injil ke segala
bangsa. Apakah keyakinan dan kerinduan yang sama juga meliputi hati kita dan
menggerakkan tindakan kita untuk mengambil bagian secara nyata? --PAD
KETIKA HATI MENYATU
DALAM BERITA SUKACITA LANGKAH KITA PUN AKAN BERPADU UNTUK MENGABARKANNYA
Sumber: http://renunganharian.net/
Tertunda
Markus 5:21-24, 35-43
Sabtu, 28 Januari
2012
Mungkin Anda pernah
merasakan bahwa Tuhan begitu lama menjawab permohonan Anda. Bisa jadi Anda
malah mengira bahwa jawaban-Nya bagi Anda adalah "Tidak". Namun bisa
jadi Tuhan memang menunda jawaban-Nya untuk maksud melatih iman kita.
Yairus, kepala rumah
ibadat, ternyata percaya pada kuasa Yesus. Ketika anaknya sakit, ia datang
kepada Yesus lalu memohon agar Yesus menyembuhkan anaknya (21-23). Namun di
tengah jalan, terjadilah peristiwa yang menghambat perjalanan Yesus. Kalau kita
membaca ayat 25-34, kita tentu bisa mengira-ngira bahwa peristiwa itu memakan
waktu yang tidak sebentar. Jadi kita bisa bayangkan betapa resah dan cemasnya
hati Yairus selama peristiwa itu berlangsung, bila mengingat anaknya yang
sedang sekarat.
Benar saja. Di akhir
peristiwa itu, datanglah orang yang berkata bahwa anak Yairus sudah mati (35).
Orang itu pun mengusulkan untuk tidak lagi merepotkan Yesus. Namun kematian
bukan merupakan kekalahan bagi Yesus. Kematian bukanlah jalan buntu bagi Yesus.
Yesus meminta dua hal dari Yairus, yaitu "Jangan takut, percaya saja"
(36). Yairus harus berhenti dari rasa takutnya, karena takut dan percaya tidak
bisa berjalan seiring. Apa yang harus Yairus percayai? Perkataan Yesus. Semua
orang akan berkata bahwa tidak ada harapan bagi Yairus, tetapi perkataan Yesus
membawa pengharapan.
Orang-orang yang
meratapi dan menangisi kematian anak Yairus kemudian menjadi tertawa ketika
Yesus mengatakan bahwa anak Yairus tidak mati, melainkan tidur (38-39). Yesus
kemudian membuktikan perkataan-Nya. Dengan disaksikan oleh Yairus dan istrinya,
juga ketiga murid-Nya yaitu Petrus, Yakobus, Yohanes (37, 40), Yesus
memerintahkan anak itu untuk bangung (41). Anak itu pun bangun dan berjalan
(42).
Kadang-kadang Tuhan
membiarkan kita berada dalam situasi yang membuat kita nyaris kehilangan
pengharapan
untuk menyatakan bahwa Dia ada dan berkuasa. Dalam situasi demikian, mintalah
kekuatan agar Anda dapat melangkah maju dalam iman.
Sumber: http://sabda.org/
[Non-text portions of this message have been removed]