Search the web
Sign In
New User? Sign Up
syiar-islam · Syiar Islam
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
(Kisah teladan) Khalifah Umar Dan Gadis Jujur   Message List  
Reply | Forward Message #23255 of 23968 |
Bissmillahirrohmaanirrohiim
 
Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang
malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah
gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala.
 
Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.

Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang
mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang
ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

 
"Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini," kata anak perempuan itu.

 
"Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit."

"Benar anakku," kata ibunya.

 
"Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan
gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak," harap anaknya.

 
"Hmmm....., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari
hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan," kata
ibunya.

 
Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah
terisi susu.

 
"Nak," bisik ibunya seraya mendekat. "Kita campur saja susu itu dengan air.
Supaya penghasilan kita cepat bertambah."

 
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu
begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang
yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

 
"Tidak, bu!" katanya cepat.

 
"Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air." Ia
teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang
kepada pembeli.

 
"Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak
akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu," gerutu ibunya kesal.

 
"Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku
curang pada pembeli?"

 
"Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam
begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan
kita," kata ibunya tetap memaksa.

 
"Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!"

 
"Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur
susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala
perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya,"tegas anak itu. Ibunya
hanya menarik nafas panjang.

 
Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun,
jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.

 
"Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku
yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,"kata anak
itu.

 
Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya
menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.

Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
 
" Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!" gumam khalifah Umar. Khalifah Umar
beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

 
Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di
ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

 
" Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya," kata
khalifah Umar. " Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur
seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha
Melihat."

 
Ashim bin Umar menyetujuinya.

 
Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak
perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di
tangkap karena suatu kesalahan.

 
" Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu.
Tuan jangan tangkap kami....," sahut ibu tua ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak
menyunting anak gadisnya.

 
"Bagaimana mungkin?
 
Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin
seperti anakku?" tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.

 
" Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya
ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah," kata Ashim
sambil tersenyum.

 
" Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur," kata Khalifah Umar.
Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya.
Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.

 
" Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar
pembicaraan kalian...," jelas khalifah Umar.

 
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai
seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia.
Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Bebrapa tahun
kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan
memimpin bangsa Arab.


 
 
Sumber Kisah kisah Teladan




[Non-text portions of this message have been removed]




Sun Jul 12, 2009 9:11 pm

mujiarto_karuk
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #23255 of 23968 |
Expand Messages Author Sort by Date

Bissmillahirrohmaanirrohiim   Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari...
Mujiarto Karuk
mujiarto_karuk
Offline Send Email
Jul 13, 2009
2:34 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help