salam... saya kira tulisan yang dimuat dalam milis ini memiliki dua sisi. pertama bahwa tulisan artikel tersebut bersisi klarifikasi danpembelaan atas isu, wacana dan bahkan label yang ditempelkan ke Boediono. Sisi yang kedua, bahwa tulisan ini berisfat ilmiah dalam mendeskripsikan relasi dan bukti-bukti empirik tentang label tersebut.
lalu pertanyaan mendasar saya adalah; tidakah label tersebut telah terintegrasi dengan perilaku politik ekonomi yang dialkukan boediono. apakh ada jaminan sterilisasi terhadap boediono; hanya karena dia pernah membicarakan ataupun menuliskan makalah ttg ekonomi pancasila? --- Pada Sab, 20/6/09, sg wibowo <sgwibowo@...> menulis:
Dari: sg wibowo
<sgwibowo@...> Topik: [SUARA] Boediono dan Neoliberalisme Kepada: "milis ire" <ireyogya@yahoogroups.com>, "milis suara" <suarakorbanbencana@yahoogroups.com> Tanggal: Sabtu, 20 Juni, 2009, 8:07 PM
| ANALISIS : Boediono dan Neoliberalisme ===> Oleh : Revrisond Baswir |
 |
20/06/2009 09:56:25 DALAM
tulisan sebelumnya (KR, 17/5/2009), saya telah mengemukakan secara
singkat pengertian, asal mula dan perkembangan neoliberalisme.
Kesimpulannya sangat jelas, sebagai pembaharuan liberalisme,
neoliberalisme tetap memuja ekonomi pasar. Campur tangan negara,
walaupun diundang, hanya dibatasi sebagai pengatur dan penjaga
bekerjanya mekanisme pasar. Yang menarik, dalam pro-kontra
neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan yang terjadi belakangan ini,
hampir semua pihak enggan disebut sebagai seorang neolib. Bahkan,
sebagaimana dipertontonkan oleh para ekonom pembela Boediono, dengan
sangat memaksa mereka mencoba mengaitkan Boediono dengan ekonomi
Pancasila. Pertanyaannya, mengapa kebanyakan ekonom yang selama ini
sangat pro-pasar tersebut tiba-tiba menghindar disebut sebagai seorang
neolib? Benarkah Boediono seorang pendukung ekonomi Pancasila? Dan
peristiwa apa sajakah yang perlu dicermati untuk mengetahui ideologi
ekonomi seseorang? Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan mudah.
Pertama, andaikan bukan dalam suasana pemilu, sebenarnya para ekonom
pembela Boediono itu tidak memiliki alasan apa pun untuk mengelak dari
tuduhan sebagai seorang neolib. Hal itu tidak hanya karena teori-teori
yang mereka pelajari hampir seluruhnya berbasis liberalisme dan
kapitalisme, tetapi terutama karena dukungan terbuka mereka terhadap
pelaksanaan agenda-agenda Konsensus Washington selama ini. Kedua,
karena dalam pro-kontra neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan itu
neoliberalisme secara langsung dibenturkan dengan konstitusi. Maka
menentang konstitusi secara terbuka jelas bukan pilihan politik yang
bijak. Walau pun demikian, sebagaimana berlangsung 40 tahun terakhir,
hal itu sama sekali bukan jaminan bahwa para ekonom pro-pasar itu akan
berhenti meminggirkan konstitusi. Berangkat dari kedua penjelasan
tersebut, maka upaya untuk mengenali posisi Boediono terhadap ekonomi
Pancasila menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Pertama, secara jujur
harus diakui, sebagai penyumbang tulisan dalam seminar ekonomi
Pancasila yang digelar Fakultas Ekonomi UGM pada 1980 dan turut
menyunting buku kumpulan makalah seminar itu, Boediono memang memiliki
jasa yang cukup besar dalam mengangkat ekonomi Pancasila kepermukaan. Pertanyaannya,
kiprah apa sajakah yang dilakukan Boediono dalam mengembangkan ekonomi
Pancasila setelah seminar tersebut? Beberapa tahun pertama setelah
seminar itu, Boediono memang masih cukup aktif terlibat dalam
perbincangan mengenai ekonomi Pancasila. Ia, misalnya, bersama
Mubyarto, turut berpolemik dengan Arief Budiman. Setelah itu, Boediono
juga turut menyumbangkan tulisan untuk buku Wawasan Ekonomi Pancasila
yang disunting oleh Abdul Madjid dan Sri-Edi Swasono (1981). Tetapi
setelah bergabung dengan Bappenas pada 1984, Boediono serta merta
hilang dari peredaran. Sebagian orang mungkin akan berkata, bukankah
dengan menjadi birokrat Boediono justru memiliki kesempatan untuk
mengamalkan ekonomi Pancasila? Perjalanan karier Boediono ternyata
berbicara lain. Sebagaimana diketahui, setelah berkarir di Bappenas,
Boediono kemudian secara berturut-turut menjabat sebagai Direktur Bank
Indonesia, Kepala Bappenas dalam pemerintahan Habibie, menteri keuangan
Pemerintahan Megawati, Menteri Koordinator Perekonomian Pemerintahan
SBY-JK. Dan terakhir menjadi Gubernur Bank Indonesia. Tentu banyak
catatan yang bisa dibuat mengenai sepak terjang Boediono sepanjang
karier birokrasi dan pemerintahannya tersebut. Yang jelas, setelah
Indonesia mengalami krisis moneter pada 1997/1998 dan Boediono menjabat
sebagai Menteri Keuangan Pemerintahan Megawati, pada masa itulah
privatisasi BUMN berlangsung secara masif. Kemudian, pada 2006,
ketika Boediono menjabat sebagai menteri koordinator perekonomian, pada
masa ini pula pemerintahan SBY-JK sangat gencar menaikkan harga BBM.
Pendek kata, dalam dua pemerintahan terakhir, Boediono terlibat secara
aktif dalam melaksanakan agenda-agenda ekonomi neoliberal di Indonesia. Pertanyaannya,
di antara beragam peristiwa sepanjang karier birokrasi dan pemerintahan
Boediono itu, peristiwa apakah yang sangat tegas mengungkapkan ideologi
ekonominya? Jawabannya dapat ditelusuri dengan menyimak proses
amandemen Pasal 33 UUD 1945 pada 2002. Sebagai menteri keuangan,
Boediono termasuk yang dimintai pendapat oleh MPR mengenai Pasal 33 UUD
1945. Tetapi berbeda dari Mubyarto yang secara mati-matian membela
Pasal 33, Boediono ternyata mendukung amandemen. Mubyarto ketika itu
pasti sangat membutuhkan dukungan Boediono selaku pejabat pemerintah.
Tetapi fakta berbicara lain. Akibatnya, karena merasa dikeroyok oleh
para ekonom neoliberal yang menjadi anggota Tim Ahli PAH IV MPR,
kecuali Dawam Rahardjo, maka Mubyarto memutuskan untuk mundur sebagai
ketua tim tersebut. Boediono, yang ketika menggagas ekonomi
Pancasila berada di sisi Mubyarto, saat amandemen Pasal 33 UUD 1945
ternyata berada di kubu seberang. Kesimpulannya, wallahua’lam. (Penulis
adalah Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM)-e |
|
|
|
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br>
Cepat sebelum diambil orang lain!
|
Syarief Aryfaid <riffighter@...>
riffighter
Offline Send Email
|