--- On Sun, 6/21/09, sg wibowo <sgwibowo@...> wrote:
From: sg wibowo <sgwibowo@...> Subject: IRE Yogyakarta - Good Governance and Democracy Fw: Tiga Hari Penuh Badai To: "milis ire" <ireyogya@yahoogroups.com> Date: Sunday, June 21, 2009, 10:59 AM
Tiga Hari Penuh Badai, JK!
Majalah Tempo, Edisi Khusus Akhir Tahun, 26 Desember 2005, halaman 32
Tiga Hari Penuh Badai
Inilah kisah di pusat kekuasaan selama tiga hari pertama setelah
tsunami. Mengenang setahun tragedi itu, beberapa sumber termasuk Wakil
Presiden Jusuf Kalla serta Menteri Komunikasi dan Informasi Sofjan
Djalil menuturkan kenang-kenangan mereka kepada Tempo.
****
Baru duduk di jok mobilnya, telepon seluler Jusuf Kalla
berdering-dering. Staf pribadinya melaporkan: “Pak, di Aceh ada
tsunami. Dahsyat sekali.” Pagi itu, 26 Desember 2004, Kalla hendak
menghadiri halal bihalal warga Aceh di Senayan, Jakarta. Kalla lalu
mengirim pesan pendek ke telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
yang pagi itu berada nun jauh di Nabire, Papua. Presiden menemui korban
gempa yang melumat Nabire sehari sebelumnya.
Presiden membalas: “Saya sudah dengar. Tolong koordinasikan.” Kalla
lalu menelepon Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Provinsi Aceh. Gubernur
Abdullah Puteh saat itu telah ditahan di penjara Salemba karena dugaan
kasus korupsi.
Kalla juga mengontak Kapten Didit Soerjadi, pilot pesawat pribadinya.
Didit sedang beristirahat. “Kau segera mandi dan berangkat ke Aceh,”
perintah Kalla. Semuanya serba buru-buru. Perintah terus mengalir saat
Didit mandi. “Lucu juga, saya mandi sambil terima telepon Pak Wapres,”
kenang sang pilot. Wapres menggegas semua stafnya menelepon semua
pejabat di Aceh. Sial, tak satu pun menyahut. Kalla mulai cemas.
Di Aceh, dunia berhenti pagi itu. Bumi berguncang dengan kekuatan 8,6
pada skala Richter, air laut tumpah ke daratan. Beberapa keluarga
sempat mengabarkan soal air bah kepada kerabat di Jakarta. Cuma
sebentar. Lalu telepon putus total.
Halal bihalal warga Aceh di Senayan dibuka pada pukul sembilan lebih,
berlangsung dalam suasana tegang sekali. Berita tsunami sudah menyebar.
Banyak yang sibuk menelepon. Beberapa orang berlinang air mata. Ada
yang histeris, gusar kian-kemari. Kalla berpidato sekenanya. Hampir tak
ada yang mendengar. “Orang-orang ingin acara itu cepat kelar,” tutur
Kalla kepada Tempo. Turun panggung, Kalla menggelar rapat mendadak di
situ.
Dia memerintahkan Sofjan Djalil memimpin rombongan pertama ke Aceh.
“Pakai pesawat saya saja,” kata Wapres. Anggota rombongan 30 orang,
antara lain Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Azhari, Azwar Abubakar, dan
beberapa tetua Aceh. Kalla membekali Sofyan uang Rp 200 juta dan sebuah
telepon satelit. “Begitu kau tiba di Aceh, langsung telepon saya,”
perintahnya. Mereka menjadi rombongan pertama pemerintah yang terbang
ke Aceh di hari pertama tsunami.
Pesawat berputar dua kali di langit Banda Aceh. “Dari udara Aceh
terlihat hancur total,” tutur Kapten Didit. Menara bandara retak. Tak
satu pun petugas di menara. Untung, pesawat mulus mendarat, sekitar
pukul enam sore.
Anggota rombongan membeli beras dan mi instan di beberapa toko dekat
bandara, lalu beranjak ke pendapa kantor gubernur sekitar pukul tujuh
malam. Jalanan sunyi senyap. Gelap gulita. Satu-satunya penerangan cuma
lampu mobil. Sungguh mengerikan. Mayat bergelimpangan di jalan, di
kolong rumah, tersangkut di dahan pohon. Beberapa ekor anjing berlari
ke sana kemari. Anggota rombongan mulai menangis sesenggukan.
Malam itu ratusan orang menumpuk di pendapa kantor gubernur. Banyak
yang luka parah. Puluhan mayat dijejerkan di latar depan pendapa. Aceh
lumpuh total. Koordinasi tak jalan karena aparat pemerintah pusing
mencari sanak keluarga. Kepala Polres Banda Aceh hanyut ditelan tsunami.
Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Aceh, bisa memimpin. Namun, dia sedang
galau. Rumahnya di Blang Padang hancur. Ia tak tahu nasib anak-anaknya.
Wakil Gubernur ini pulang ke rumahnya ditemani Sofjan Djalil, Jusuf
Azhari dikawal dua tentara. Mobil melaju dalam gelap, menghindari
mayat-mayat yang direbahkan di kiri-kanan jalan. Mobil berhenti
kira-kira 50 meter dari rumah Azwar sebab sampah menggunung menutup
jalan.
Wakil Gubernur turun ditemani seorang tentara. Dipandu nyala senter,
mereka mengendap-endap. Sofjan menunggu dengan cemas. Setengah jam
berlalu, Azwar pulang. “Di rumah banyak mayat, tapi anak-anakku tak
kelihatan,” katanya penuh kecemasan. Mereka lalu balik ke pendapa.
Berkali-kali Sofjan menelepon Jusuf Kalla di Jakarta. Tak bersahut. Di
Jakarta, Wapres menggelar sidang kabinet darurat di rumah dinas Jalan
Diponegoro pada pukul 21.30 WIB. Sembilan menteri dan Panglima TNI
hadir. Sembari rapat, Kalla berkali-kali pula mengontak Sofjan. Tak
bersambung juga. “Sofjan itu bawa telepon satelit kok tidak
sambung-sambung,” kata Kalla.
Di Aceh, Sofjan memutuskan mengirim kabar lewat Orari Angkatan Udara di
Aceh. Orari Jakarta meneruskan pesan itu ke telepon seluler Jusuf
Kalla. Ini laporan pertama Sofjan dari wilayah bencana: ”Pak, korban
sekitar 5.000 hingga 6.000.” “Astagfirullah, astagfirullah,” kata Kalla
berkali-kali sembari mengusap wajah. Sejumlah menteri tertunduk. Hening
menyapu ruang rapat.
Kalla melanjutkan pesan ke Presiden Yudhoyono yang malam itu sudah tiba
di Jayapura. Presiden menyampaikan belasungkawa kepada korban bencana.
Besoknya, Presiden terbang menuju Aceh.
Pukul sepuluh malam, telepon satelit Sofjan sukses menembus Jakarta.
“Eh, ini Sofjan,” ujar Kalla kegirangan. “Apa yang terjadi? Kenapa kau
tak telepon-telepon?” tanya Kalla dengan suara keras. “Saya stres, Pak.
Di sini gelap sekali,” sahut Sofjan dari seberang. “Besok aku susul ke
sana,” ujar Kalla. Percakapan ditutup.
Malam itu Kalla mematangkan persiapan ke Aceh. “Saya minta Anda
menyediakan dana sepuluh miliar uang kontan,” perintah Kalla kepada
Menteri Keuangan Jusuf Anwar. Jusuf tertegun. “Pak, kalau segitu tak
ada,” jawabnya. “Saya tidak mau tahu. Itu urusanmu,” kata Kalla. Rapat
bubar larut malam.
Di larut malam itu, pendapa kantor gubernur di Banda Aceh masih gaduh.
Warga yang luka parah dirawat seadanya. Koordinasi sulit karena aparat
sibuk mencari keluarga masing-masing. Kepala Polda Aceh Bahrumsyah
datang ke pendapa dengan terengah-engah. Wajahnya letih. Si Kapolda
cuma mengenakan pakaian dinas tanpa alas kaki alias nyeker. Orang
hilir-mudik di pendapa membikin Sofjan bingung menjaga uang Rp 200 juta
yang dia bawa dari Jakarta. Ia meminta seorang anggota DPRD dari Partai
Keadilan Sejahtera menjaga uang itu. “Orangnya berjenggot. Uang pasti
aman,” ujar Sofjan.
Sang Menteri lalu merebahkan badan di atas karpet. Belum lagi mata
terpejam, terdengar pekikan, “Gempa! Gempa!” Orang-orang berlari.
Sofjan ikut kabur. Setelah bergoyang beberapa menit, bumi kembali
tenang. Warga kembali ke pendapa. Tak berapa lama, teriakan gempa
terdengar lagi. Semua berhamburan, termasuk Pak Menteri. Malam itu
gempa datang berkali-kali. Lama-lama, Sofjan putus urat takutnya. Saat
orang-orang kabur, ia terlelap. “Sudah jam dua pagi, masak lari-lari
terus. Saya lelah sekali,” kenangnya. Besoknya, orang ramai
menggunjingkan kehebatan nyali Pak Menteri.
*****
Hari kedua, 27 Desember. Entah bagaimana caranya, Menteri Keuangan
berhasil menyediakan uang kontan pagi itu. Jumlah Rp 6 miliar.
Menjelang siang, Kalla terbang ke Aceh membawa serta uang satu peti.
Petang hari, Presiden Yudhoyono mendarat di Lhokseumawe. Wajahnya
sedih. “Tadi pagi saya meninjau Nabire. Sore ini saya di Lhokseumawe
menemui saudara-saudara yang tertimpa musibah lebih besar lagi,”
katanya.
Setibanya di Banda Aceh, Kalla memerintahkan stafnya memborong beras,
mi instan, dan aneka makanan lain. Karena berasnya kurang, Kalla
bertanya, “Eh, berasnya sedikit sekali. Mana beras dari Dolog?”
Seseorang menjawab, pintu Dolog digembok. Si pemegang kunci tak
diketahui rimbanya. Wakil Presiden menyergah dalam nada tinggi “Buka!
Kalau tak bisa, tembak gerendelnya. Apa perlu tanda tangan Wapres untuk
buka pintu Dolog?” Suasana tegang. Beberapa polisi bergegas membidik
gembok. Beras pun mengalir.
Rombongan Kalla berlalu ke pendapa kantor gubernur. Di Lambaro, mereka
menyaksikan ratusan mayat berjejer di depan toko. “Masya Allah,” ucap
Kalla. Badannya lemas. Di pendapa ia menggelar rapat, lalu keliling
kota bersama Mar’ie Muhammad, Ketua Palang Merah Indonesia, yang datang
sehari sebelumnya. Kota itu lautan mayat.
Mayat-mayat harus segera dikubur karena bau busuk menikam hidung.
Untung, ada seorang ustad. Kalla minta ustad itu mendoakan tumpukan
jenazah sebelum dikuburkan. Tapi siapa yang menjamin sahnya pemakaman?
“Saya jamin,” kata Kalla. Ia mencorat-coret di atas kertas, lalu
membubuhkan parafnya. “Tolong keluarkan ayat yang pantas-pantas saja,”
pintanya kepada ustad.
Sore hari Kalla terbang dengan helikopter ke Lhok Nga untuk menjatuhkan
mi instan dari udara. Helikopter itu tak punya sabuk pengaman. Setiap
pesawat memutar, tubuh Kalla serong ke kiri, serong ke kanan. Rombongan
Kalla terbang ke Medan pukul tujuh malam. Sofjan Djalil yang sudah dua
hari di Banda Aceh minta ikut pulang. “Baru dua hari sudah minta
pulang. Kau tetap di sini,” jawab Kalla. Malam itu Sofjan pusing tujuh
keliling menjaga uang satu peti yang dibawa Kalla. Takut uang itu
dicolong, Menteri Sofjan dan kawan-kawannya tidur mengitari peti itu.
*****
Hari ketiga, 28 Desember. Presiden Yuhdoyono terbang dari Lhokseumawe
menuju Banda Aceh. Kalla yang sudah berada di Medan mendapat kabar
Meulaboh rata tanah. Ia memerintahkan stafnya mencari pesawat ke
Meulaboh. Dapat pesawat Angkatan Udara. Dari udara, Meulaboh tampak
seperti tanah gusuran. “Astagfirullah,” ucap Kalla berkali-kali.
Kalla meminta pilot terbang lebih rendah. Pilot mengangguk. Kalla minta
lebih rendah lagi. Kali ini pilot bilang, “Tak bisa, Pak. Bahaya.” “Kau
ini orang mana?” tanya Kalla. “Saya orang Makassar, Pak,” jawab si
pilot. “Ah, orang Makassar kok penakut,” sergah Kalla. Pilot mengalah,
pesawat melayang cuma beberapa meter di atas pucuk kelapa. Untung saja
arahnya ke laut.
Setelah berkali-kali memutar di atas Meulaboh, pesawat kembali ke
Medan. Kalla langsung rapat dengan Gubernur Sumatera Utara Rizal
Nurdin—kini sudah almarhum. Dia memerintahkan Gubernur mengirim makanan
ke Meulaboh. Keduanya sempat bersoal-jawab.
+ “Bagaimana caranya, Pak?” tanya Gubernur.
- “Lewat udara, buang dari pesawat,” jawab Kalla.
+ “Kalau dibuang nanti pecah, Pak.”
- “Tidak apa-apa, toh sampai di perut pecah juga.”
+ “Ya, tapi nanti basah Pak.”
- “Bungkus saja pakai plastik.”
+ “Pak, nanti jatuh ke GAM,” Gubernur berusaha menjelaskan.
- “ Tidak apa-apa. GAM juga manusia. Perlu makan,” nada Kalla mulai meninggi.
Beberapa orang membisiki Gubernur supaya jangan membantah.
+ “Jadi, bagaimana, bisa atau tidak?” tanya Kalla.
- “Siap, Pak,” jawab Gubernur.
Pesawat pemasok makanan melayang ke Meulaboh. Presiden dan Wakil Presiden kembali ke Jakarta pada hari ketiga.
Lalu, bantuan kemanusiaan mulai mengalir dari segenap penjuru dunia….
|
|
|
sg wibowo <sgwibowo@...>
sgwibowo
Offline Send Email
|