|
Mungkin terpengaruh oleh Paulo Freire, atau Ivan Illich, atau AS
Neil, atau Bahruddin atau Roem topatimasang atau Pater Drost, atau Romo
Mangun, atau Andreas Harefa atau teorinya Bandler (NLP), atau Taufik
Pasiak atau Gardner atau Mary Griffin atau Robert T Kiyosaki, atau Toto
Chan, atau Mark FB atau Bill Gates, atau Michael Dell atau Larry
Ellison atau film accepted, atau film freedom writer atau dead poet
society, atau 3 idiots atau karena saya GURU…entahlah
Nyatanya hingga kini, persepsi saya tentang sekolah tidak berubah, penjara dan
pembunuh…*ngeri bener ya*
Penjara dengan dalih pembentukan moral dan akhlak, harus seragam, ikat
pinggang tidak boleh lebih 3cm, kaos kaki putih tidak lebih 10 cm,
sepatu hitam, duduk rapi, tangan di depan, dengarkan guru, guru tidak
pernah salah, sekolah pasti benar, pasti membuat sukses
Pembunuh kreatifitas dan potensi murid-yang dipelajari sama, cara
berpikir dibatasi, tidak boleh memiliki persepsi sendiri, tidak boleh
berbeda, semua sesuai buku dan kunci jawaban
Berapa prosen dari seluruh murid kita yang menjadi orang yang sungguh
tulus, baik hati,sehat jasmani dan rohani, manusia percaya diri dan
bisa menemukan lentera jiwanya? Atau jika ukurannya keberhasilan
olimpiade tingkat internasional berapa persen dari mereka yang seperti
itu?
Tidak sampai 20%-oh please pendidikan untuk siapa si? Pemerintah? Guru? Partai
politik? Orang Tua?
Berapa prosen orang yang merasa “sukses” karena sekolah?
Nyatanya pengangguran terus meningkat, ada yang bilang karena
manusianya saja yang nggak kreatif nah siapa yang membunuh kreatifitas
mereka? Sekolah juga kan,..
Apa buktinya?
Sekolah tidak pernah menghargai PROSES pembelajaran, maunya instant, langsung
baik, langsung bisa, langsung top,
Sekolah tidak pernah memahami keunikan setiap muridnya
Sekolah tidak pernah menghargai perkembangan cara berpikir setiap muridnya
Sekolah masih menggunakan teorinya John Locke "tabularasa" bahwa setiap
murid adalah botol kosong atau ember kosong yang harus diisi oleh
guru….(Taunya waktu ketemuan kemaren, sempet shock juga kenapa teori
ini masih dipakai)
Tapi ada lho yang sudah bisa seperti itu, tidak konvensional, bisa
bikin muridnya asyik n menyenangi belajar, bisa menghargai karakter dan
keunikan muridnya, tapi berapa buanyak?, tapi berapa duit?
Ada tuh, kakak saya sampai tidak mau punya anak lagi karena merasa
takut nggak mampu memberikan pendidikan yang terbaik buat anaknya,
karena masuk TK n SD nya saja sudah habis puluhan juta. “Orang miskin
dilarang sekolah-Eko Prasetyo”
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat,
bangsa dan negara.
Diatas adalah UU Sisdiknas ayat 1…sudahkah dilaksanakan?..
Maunya gimana si?
Guru-guru negeri memiliki dedikasi seperti guru-guru swasta (padahal
masuk sekolahnya muahal, gaji mereka lebih kecil dari guru negeri,
tapi guru-guru swasta tersebut sungguh bisa all in)
Sekolah berani berbeda, sungguh-sungguh memahami PROSES pendidikan dan
pembelajaran hakiki, pendidikan tidak melulu bertujuan ANGKA atau IJASAH,
pendidikan merupakan proses pematangan diri murid untuk menghadapi
kehidupan nyata, pendidikan merupakan proses menuju jiwa sehat jasmani
dan rohani.
Sekolah yang dapat menumbuhkan motivasi belajar sepanjang hayat, bukan
untuk ANGKA dan IJASAH namun sungguh ingin memperoleh ilmu bagi diri
dan lingkungannya
Peace and Love, May 2010
Terima saya sebagai pribadi yang sedang berproses, saya akan selalu berubah
sesuai perkembangan ilmu yang saya peroleh
Amel
[Non-text portions of this message have been removed]
|
Ameliasari Kesuma <leakanzen@...>
leakanzen
Offline Send Email
|