Skip to search.
sd-islam · Bersama memperbaiki pendidikan

Group Information

? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Messages

  Messages Help
Advanced
Pendekatan Proses dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi   Message List  
Reply Message #1907 of 35429 |

Kompas. Jumat, 7 Juni 2002

FORUM OTONOMI PENDIDIKAN
Pendekatan Proses dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi

PENDEKATAN education production function yang dilakukan dalam
penyelenggaraan pendidikan, di mana lembaga pendidikan berfungsi sebagai
pusat produksi, ternyata tidak cukup efektif untuk menjawab tuntutan
peningkatan kualitas pendidikan. Output yang dihasilkan jauh dari kualitas
yang diharapkan. Pendekatan ini terlalu memusatkan pada input dan kurang
dibarengi peningkatan kualitas output-nya. Hal itu terjadi karena
pendekatan ini kurang memperhatikan proses pendidikan yang berlangsung.

Rendahnya kualitas output pendidikan juga tidak terlepas dari membudayanya
sikap materialisme dan konsumerisme dalam masyarakat yang telah menjalari
bidang pendidikan. Budaya yang serba instan telah mempengaruhi orientasi
pendidikan. Pendidikan tidak lagi berorientasi pada proses, melainkan pada
hasil. Akibatnya bukan hasil baik yang dituai, tetapi kualitas output
rendah yang didapat. Terjadi bias dalam pemahaman pendidikan. Pendidikan
tidak dipahami sebagai suatu proses yang berlangsung terus-menerus,
sehingga proses dalam pendidikan belum menjadi pusat perhatian.

Berdasarkan pengalaman diatas, kiranya penting untuk mempertimbangkan
kembali pendekatan proses dalam penyelenggaraan pendidikan kita, khususnya
dalam pelaksananaan kurikulum berbasis kompetensi yang akan datang.

***

DALAM pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang
pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses
mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi
peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian
integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman
yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam
setiap proses pendidikan yang dialaminya.

Untuk menjadikan peristiwa belajar sebagai proses mengalami, tentu harus
dipikirkan cara atau metode yang sesuai. Pola pengajaran yang selama ini
dilakukan, di mana guru dan siswa atau siswa dengan siswa lain saling
berjarak, harus ditinggalkan. Pola pengajaran yang lebih interaktif, yang
melibatkan peran serta lebih besar dari siswa harus mulai dikembangkan.
Meskipun bukan hal yang mudah untuk mendapatkan materi pelajaran sebagai
suatu pengalaman bagi siswa, namun bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
Dibutuhkan kesabaran, kerendahan hati, keberanian, dan kesetiaan untuk
menjalani proses ini.

Kedua, proses menemukan. Setelah mengalami secara personal, peserta didik
diharapkan dapat menemukan sendiri, baik konsep, prinsip maupun nilai-nilai
dari materi yang telah dipelajarinya. Dengan menemukan sendiri, pemahaman
siswa tentang materi pelajaran pun lebih utuh dan akan bertahan lebih lama
dibandingkan jika siswa menghafalkan materi tersebut. Proses menemukan ini
juga akan memberikan satu kebanggaan sekaligus rangsangan untuk kembali
berproses dan menemukan yang lebih banyak lagi.

Di sisi lain, proses ini akan membantu siswa dalam membangun karakter
pribadinya. Diharapkan nilai-nilai yang ditemukan akan menjadi inspirasi
dalam setiap langkah dan tindakan yang diambil dalam hidupnya, sehingga
peserta didik lebih mempunyai karakter pribadi yang tercerminkan dalam
sikap dan perilakunya sebagai yang "berpendidikan". Pengalaman selama ini,
sulit untuk menemukan siswa yang memiliki karakter pribadi yang kuat,
sehingga seringkali kesulitan untuk memilih siswa untuk suatu kegiatan yang
mensyaratkan karakter pribadi yang cukup matang.

***

KONSEKUENSI dari kedua hal di atas tentu tidak gampang. Membutuhkan kerja
keras, keterbukaan dan kemauan untuk selalu memperbarui diri dan membongkar
budaya "mapan" yang stagnan. Dibutuhkan kerelaan dari semua pihak yang
terlibat untuk setia pada proses yang sedang berlangsung. Bukan hanya
siswa, tetapi juga guru. Pola-pola lama dalam pengajaran pun harus
diperbarui.

Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas untuk menemukan pola pengajaran
baru yang lebih sesuai. Guru harus rela untuk melepaskan diri dari yang
serba tahu, menjadi pendamping dan fasilitator bagi peserta didik untuk
mengalami dan menemukan sendiri. Atau, bahkan bersama-sama dengan peserta
didik sebagai orang yang belajar.

Dalam pendekatan proses ini, juga dibutuhkan ruang refleksi bersama. Dari
refleksi inilah pengalaman-pengalaman itu dikristalkan untuk dimaknai
bersama sebagai temuan nilai yang bisa dimiliki bersama. Kiranya, kurikulum
berbasis kompetensi akan semakin lengkap apabila pendekatan proses ini
diikutsertakan dalam implementasinya. Dengan begitu, pendidikan akan
menjadi proses yang menyeluruh, tidak hanya aspek kognitif yang
dikembangkan. Namun aspek-aspek yang lain, seperti aspek afektif, aspek
psikomotorik, sikap dan perilaku pun ikut dikembangkan.

HJ SRIYANTO, Guru Matematika SMU Kolese de Britto Yogyakarta






Fri Jun 7, 2002 9:24 am

arifb@...
Send Email Send Email

Message #1907 of 35429 |
Expand Messages Author Sort by Date

Kompas. Jumat, 7 Juni 2002 FORUM OTONOMI PENDIDIKAN Pendekatan Proses dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi PENDEKATAN education production function yang...
Moch Arif Bijaksana
arifb@... Send Email
Jun 7, 2002
9:23 am
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help