Taenebrae 2003[1]
p. fx. kusmaryadi, scj.
MC: (Dengan memakai pakaian
Lektor dalam Misa Kudus)
Ibadat yang kita laksanakan pada hari Jumat Agung petang ini merupakan
adaptasi dari Tanebrae, sebuah ibadat yang biasa dilaksanakan di gereja-gereja
dan biara-biara kuno. Tujuanya adalah untuk (seakan-akan) bersama-sama Maria,
Joseph dari Arimathea, dan para murid menguburkan Jesus. Ibadat juga
dimaksudkan untuk merasakan kondisi dunia ketika Jesus Sang Terang Dunia tidak
berada di tengah-tengahnya. Ibadat ini juga bermaksud memberikan suasana
antisipatif perayaan Malam Paskah.
0. Tata Laksana
§
Gereja dalam keadaan terang.
§
Koor menyanyikan lagu Bleibet Heir. Lagu dinyanyikan
berulang-ulang. Setelah lagu dinyanyikan dengan ¼ suara maka MC, dengan penuh
penghayatan, memberikan introduksi atas upacara yang bersangkutan. Teks
introduksi disediakan.
§
Setelah MC selesai, koor mengeras. Imam dan dua misdinar
masuk. Koor mengecil dan hilang.
1. Pembukaan
§
Pemimpin dan dua misdinar masuk ke ruangan. Bersujud di
depan altar. Kemudian ibadat dinuka dengan doa pembukaan oleh imam.
I :
Terpujilah Tuhan yang mengampuni dosa-dosa kita
U :
BelaskasihNya kekal selama-lamanya.
I :
Tuhan Allah yang Mahakuasa, kepadaMu semua hati terbuka, semua harapan
dinyatakan dan tidak ada satupun hal yang
tersembunyi dihadapanMu. Bersihkan hati dan pikiran kami dengan Roh KudusMu
sehingga kamu dapat mencintaiMu dengan sepenuh Hati dan dengan demikian dapat
memulyakan namaMu dengan perantaraan Kristus Tuhan Kami.
U :
Amin.
I :
Inilah hari pengadilan Tuhan, bahwa terang telah terbit ke atas dunia,
sementara kami lebih mencintai kegelapan daripada terang
U :
Tuhan adalah terang dan hilanglah segala kegelapan.
I :
Karena Allah telah mengutus PuteraNya ke dunia, bukan untuk menghakimi
dunia, namun
untuk menyelamatkanya.
U :
Barangsiapa melakukan kejahatan, tidak mencintai Terang dan tidak datang
kepada Sang Terang. Barangsiapa melakukan yang
benar datang kepada Terang.
I :
Marilah kita datang menyembah dalam Roh dan Kebenaran.
U :
Allah yang penuh belaskasih, pandanglah dengan penuh belaskasihan kepada
kami yang berkumpul di sini, yang untuknya Jesus telah dikhianati,
diserahkan ke tangan-tangan orang berdosa, sengsara, dan wafat di kayu salib.
Kuatkanlah iman kami dan ampunilah pengkhianatan kami sebagaimana kami memasuki
kesengsaraanNya, demi Kristus Tuhan dan Juru selamat kami.
U :
Amin
§
Lampu kapel dimatikan)
§
Koor menyanyikan lagu
§
Imam dan Misdinar pergi ke tempat duduk. Imam diapit
misdinar
2. Renungan Tujuh Sabda
§
Setiapkali satu sabda terakhir
Jesus selesai direnungkan, ketika lagu masih dinyanyikan, misdinar mematikan
satu lilin bergantian sebelah kiri dan sebelah kanan.
I :
Kata-kata terakhir orang yang akan meninggal sangat berharga, terlebih bila
orang itu adalah orang yang kita
kasihi. Kadangkala kata-kata itu adalah ungkapan duka dan derita. Kadang
kata-kata itu suatu penghiburan, atau bahkan pesan-pesan penting yang pantas
diingat. Begitulah, sejak awal, gereja purba mengingat dan merefleksikan
kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Jesus yang mereka cintai, menjelang dia
menghadapi penderitaanNya untuk menemukan makna yang dalam ditengah kehidupan
mereka. Marilah kita melakukan apa yang telah lama dilakukan gereja purba itu
agar kita mendapatkan makna terdalam dari jeritan hati Jesus yang diungkapkan
menjelang akhir hidupNya.
1. “Bapa
ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”
Mereka telah menyiksa
Jesus dan meletakkan mahkota duri di atas kepalanya. Merekapun mempermalukan
Jesus, dan akhirnya memakunya pada penghinaan. Sesungguhnya apa yang mereka
lakukan lebih mempermalukan diri mereka sendiri daripada Jesus. Untuk itulah Jesus
bersabda, “Mereka tidak tahu apa yang
mereka kerjakan.” Benar mereka tidak tahu yang mereka lakukan
sebab inti dalam hati kita yang paling dalam semestinya sadar untuk tidak
menginjinkan seorangpun memperlakukan apa yang diri sendiri tidak mau menerima.
Dan pada masa kini hal
yang dibuat oleh para penyalib Jesus masih saja terjadi. Saat ini,
memperlakukan orang lain diluar batas-batas kemanusiaan masih merupakan
kejadian harian kita. Bisa jadi kita sendiri memperlakukan orang lain di luar
batas-batas normal kemanusiaan? Atau bisa juga bahwa kita pernah merasakan
perbuatan yang demikian. Kita sering merendahkan harga diri kita justru oleh
perbuatan sendiri. Dalam kehidupan manusia, ada banyak tindakan
salah yang membutuhkan pengampunan. Kita pasti ingat akan tindakan bodoh yang
kita lakukan, seperti yang dilakukan para penyalib Jesus. Dalam keadaan itu,
kata-kata yang ingin kita ucapkan adalah, “Kawan
maafkanlah saya. Tuhan ampunilah saya.” Dan kitapun
mendambakan kata-kata, “Aku
memaafkanmu.”
Doa Jesus diatas
membesarkan hati dan sekaligus melegakan sebab doa Jesus itu menampakkan
kemaharahiman Allah yang sulit dibayangkan. Doa itu menampakkan bahwa Tuhan
telah melangkah lebih jauh dalam hal pengampunan daripada yang bisa kita
bayangkan. Mengapa? Sebab kendati tentara-tentara dan para penghojat itu tidak
pernah memohon pengampunan kepada Allah, namun Jesus malah justru memohonkanya.
Marilah bersama-sama kita bermohon: “O…Jesus,
O… Tuhan Jesus ampunilah aku.”
§
Christe Domini Jesu.
§
Misdinar dengan penuh hormat mematikan satu lilin.
2. “Hari
ini engkau akan bersamaku di Firdaus.”
Jawaban atas doa penjahat
di sebelah kananya, ”Tuhan ingatlah
aku bila Engkau masuk dalam kerajaanMu,” adalah, “Hari ini engkau akan bersamaKu di
Firdaus.” Dan benar, bahwa pada saat paling akhir hidupnya,
penjahat itu merasakan pengampunan, damai, dan keselamatan. Kita memang tidak
tahu bagaimana nasip, penderitaan dan kesengsaraan si penjahat. Kemungkinan
besar dia juga mengalami ganas, hilang, dan matinya kemanusiaan. Barangkali secara fisik dia juga
mengalami kesengsaraan hebat seperti Jesus Sang Imam Agung yang menderita. Tapi
penderitaan seberat apapun yang secara fisik tengah dia alami, kalau hati
terdalamnya merasakan adanya kedamaian, keselamatan, dan persatuan dengan Tuhan
maka penderitaan fisik itu akan tersangga juga. Duka derita pejahat ini justru
menjadi pintu gerbang bagi hidupnya yang lebih dalam dan kaya. Karena sabda
Jesus itu, saat-saat di Golgota menjadi saat menentukan hidup penjahat itu dimana
hidupnya yang lama, dengan segala suka-duka dan luka-lukanya, akan ditinggalkan
dan kemudian mengenakan hidup baru yang disebut Firdaus.
Bukankah hal itu juga
dambaan hati kita? Bukankah kita juga menginginkan Firdaus dalam hidup kita?
Dari sabda Jesus itu menjadi jelas bagi kita bahwa bila seseorang benar-benar
berpaling pada Tuhan, maka yang kemarin penjahat besar hari ini bisa menjadi
santo. Dalam sejarah gereja banyak contoh tentang itu. Santo Agustinus
menyadari hal itu ketika dengan sepenuh hati dia berucap, “Terlambat aku mencintaiMu Tuhan.” Maka
marilah, bersama dengan penjahat itu kita mohon kepada Tuhan untuk mengingat
kita. “Jesus remember me, when you
come into your Kingdom.”
§
Koor menyanyikan lagu Jesus Remember Me
§
Misdinar mematikan satu lilin
3. “Ibu
inilah anakmu,” dan “Itu ibumu.”
Maria telah diberitahu
oleh Simeon bahwa sebilah pedang akan menembusi jiwanya. Nubuat itu terjadi
berkali-kali dalam sejarah hidupnya: Segera setelah kelahiranya, Maria tahu
bahwa Herodes akan membunuh bayi itu. Diapun kemudian harus pergi ke Mesir, ke
tanah asing sebagai pengungsi. Ketika Jesus hilang di kenisah Maria kembali ke
Jeruslem untuk mencari Jesus dan itu memakan perjalanan selama tiga hari.
Ketika anak yang dikasihinya mulai berkarya, justru di Nazarethlah orang banyak
akan mencampakkan Jesus ke jurang. Maria merasakan adanya suatu perlawanan dari
kelompok-kelompok masayarakat melawan putraNya. Perlawanan itu kini telah
berubah menjadi kebencian.
Dan pada saat yang paling
ngeri itu, ketika para rasul lari pontang-panting, Maria mengikuti semua proses
yang terjadi atas Puteranya. Mengapa? Karena derita Jesus adalah deritanya
juga. Di bawah palang penghinaan itu dia berdiri bersama Johanes dan tiga
temanya lainya. Bisa dibayangkan bagaimana derita seorang ibu yang mendengar
suara anaknya yang sedang menghadapi kesengsaraan dan kematian, ”Ibu inilah Anakmu.” Dan
kepada Johanes Da mengatakan, “Itu
ibumu.” Seolah-olah Jesus mempercayakan ibunya pada Johanes.
Dan pada saat itu,
kendati sulit bagi Maria, perlahan-lahan dia mengucapkan doa yang dulu pernah
dia ucapkan ketika menerima kabar gembira dari Malaikat Tuhan, “Terjadilah padaku menurut apa yang Engkau kehendaki.”
Maria adalah teladan kesetiaan seorang ibu. Bagaimana dengan kita? Bersama
Maria marilah kita ucapkan “Magnificat.”
§
Solis menyanyikan lagu Let It Be.
§
Misdinar mematikan satu lilin
4.
“AllahKu ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Kehilangan harapan,
kekelaman, kesendirian, dan perasaan ditinggalkan, gelap. Itulah kata-kata yang
dapat melukiskan apa yang Jesus sedang alami. Itulah pula penderitaan paling
ngeri yang Jesus rasakan. Karena dia merasa kesendirian, merasakan ditinggalkan
baik oleh sahabat-sahabat dan yah… bahkan Dia merasakan ditinggal oleh
BapaNya. Jesus lalu berdoa, “Allahku
ya AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Inilah
satu-satunya doa dimana Jesus memakai kata, “Allahku,
ya AllahKu.” Dalam keadaan biasa kalau Jesus berdoa selalu
berucap, ”Bapa” dan
bukan “Allah.” Sulit
bagi kita untuk mengerti bagaimana Dia yang adalah Putera Allah sampai
mengalami hal-hal seperti itu? Kita tidak sepenuhnya tahu. Dan menghadapi hal
seperti itu, kita hanya bisa terpaku dalam diam.
Namun bukankah kita juga
sering mengalami hal yang sama, misalnya ketika kita dikhianati? Ditinggalkan
orang yang semula kita percayai entah dalam bisnis, di tempat kerja atau bahkan
di rumah? Bukankah pengalaman Jesus adalah bagian dari hidup harian kita? Yang jelas kita diundang untuk membagikan
pengalaman serupa yang juga sering kita alami.
Dalam hidup kita, ada
saatnya dimana kita mengalami kedamaian hati, yang adalah salah satu anugerah
terbaik dari Allah. Saat dimana Cinta Allah nampaknya menyentuh hati kita yang
terdalam. Namun ada saatnya bahwa kedamaian hati itu tidak ada lagi. Kita
seringkali masuk dalam gelapnya malam gelapnya jiwa kita. Kita mengalami apa
yang disebut desolasi yang dapat membawa mengalami kekosongan.
Pada saat seperti itu,
seringkali hati kita memberontak, ingin keluar dari suasana. Namun memang ada
kalanya, di saat kita menghadapi hal seperti itu, kita diajak untuk terus
menerus menelusuri malam gelap jiwa kita, justru agar kita mampu menerima dan
memahami kepenuhan hidup yang lebih dalam. Iman kita sering diuji dan
diperkembangkan justru lewat gelapnya kehidupan. Pada saat seperti itu yang
dibutuhkan dari kita adalah mempercayakan diri pada penyelenggaraan Illahi.
Maka jangan takut dan janganlah cemas sebab di dalam Tuhan berlimpah rahmat.
Jangan takut, yang penting kita serahkan Tuhan.
§
Koor menyanyikan lagu Nada de Turbe
§
Misdinar mematikan satu lilin
5.
“Aku haus.”
Yesus begitu lelah oleh
penderitaan, hilangnya darah dan keluarnya keringat. Dia mencari dan mengharap
seseorang bisa memberinya seteguk air pelepas dahaga. Dan seorang algojo
memberiNya anggur asam. Namun barangkali dahaga yang Dia rasakan lebih besar
daripada kehausan fisik itu. Kehausan secara fisik itu kemungkinkan hanyalah
cermin akan haus yang dirasakan Jesus akan hal-hal lain yang lebih mendalam.
Kita tahu bahwa seluruh
hidup Jesus adalah manifestasi Cinta dan barangkali obat dari kehausanya adalah
manusia pencinta, yang mencintaiNya sebagai balasan cintakasih yang telah lebih
dulu Jesus berikan. Namun yang diterima adalah anggur asam simbol penolakan,
penghinaan, hojatan. PerkataaNya “Aku
haus,” dalam keseluruhan peristiwa dan sabda di sekitar
penyaliban adalah sabda yang paling bercorak personal karena yang dimaksudkanya
adalah haus akan dunia yang hidup berdasarkan kasih. Bukankah duka dan derita
Tuhan yang paling dalam memang disebabkan cintakasihNya yang ditolak?
Karena dewasa inipun
penolakan terhadap cintakasih Allah masih saja berlangsung dalam pelbagai
bentuknya. Maka marilah kita mohon diberi cinta kasih, karena dimana ada kasih
di situ Tuhan hadir. Ubi Charitas et Amor.
§
Koor menyanyikan lagu Ubi Charitas et Amor
§
Misdinar mematikan satu lilin
6.
“Sudah selesai.”
Telah selesai, telah
komplit. Kata kata itu mengisyaratkan suatu kepenuhan. “Jadilah kehendakMu, bukan kehendakKu.”
Ya Bapa, Engkau telah mengutus PuteraMu untuk menebus kami: Memberikan
kedamaian dan keadilan. PuteraMu mengembalikan citra Adam Pertama dan
mengembalikan hutan belantara ketidak manusiawian hidup kami menuju kebahagiaan
kekal yakni Firdaus. Kami ingat kata-kata pilatus, “Lihatlah manusia ini.” Dan inilah orang yang
oleh ditunjukkan oleh
Maka ya Tuhan, semoga dengan salib dan sengsaraMu
Engkau membebaskan kami.
§
Koor menyanyikan lagu Per Crucem
§
Misdinar mematikan satu lilin
7.
“Bapa ke dalam tanganMu Kuserahkan jiwaKu.”
Ketika sakit dan duka
derita semakin menjadi-jadi, ketika kegelapan hati tengah menyelimuti, atau
ketika ada cintakasih yang dilukai, kita merasakan beratnya hidup. Namun
sesungguhnya lewat peristiwa-peristiwa itu bisa dinantikan munculnya hidup yang
baru. Mengapa? Karena berkat Jesus tragedi kemanusiaan justru diberi makna
baru, seperti dikatakan dalam prumpamaan, “Seperti
biji gandum yang tumbuh mesti jatuh dulu ke tanah dan mati.”
Kematian suatu benih itu tersembunyi di dalam tanah. Tidak kelihatan. Begitu
juga kehidupan barunya, seringkali tersembunyi. Hanya bisa dirasakan saja.
Mungkin pertumbuhan hidup justru terjadi saat penderitaan kita menjadi semacam
teriakan kepada Tuhan untuk minta tolong. Atau juga dapat terjadi pada saat
pikiran dan perbuatan kita betul-betul membalik ke arah Allah dimana dambaan
Tuhan menjadi menjadi harapan kita, kehendak Tuhan menjadi kehendak kita.
Pertumbuhan hidup itu justru sering terjadi ketika kita, dengan tulus hati,
bisa berucap bersama dan seperti Jesus, ”Ke
dalam tanganMu kuserahkan Jiwaku.”
Doa itu sepanjang sejarah diucapkan oleh tokoh-tokoh besar manakala
mereka melalui penderitaan. Maka daya hidup Illahi juga akan tumbuh dalam diri
kita kalau kita mau mengijinkanya. Mungkin hal itu justru melalui luka-luka
hidup harian kita: Kegelisahan, salah pengertian, kesedihan, kegagalan,
pengalaman kesendirian, dll. Marilah kita percaya bahwa Tidak ada Jumat Suci
yang tidak mengarahkan kita kepada kebahagiaan dan kemuliaan Paskah. Ketika
kita pada Jumat Agung nanti mencium salib, buatlah itu menjadi pertanda dan
cara kita untuk mengungkapkan kepasrahan hidup kita pada Tuhan. Maka janganlah
takut. Marilah sekali lagi kita serahkan hidup kita ke dalam Tuhan
§
“Tenebrae
Factae Sunt” Cip. M. Haller
3. Prosesi Lilin
§
Lilin terbesar dibawa oleh Pemimpin, diikuti Misdinar keluar
ruangan ke sebelah kiri. Sebentar berhenti di
§
Semakin lilin menjauh dari altar maka kegaduhan membesar,
dan memuncak saat lilin sudah keluar ruangan.
§
Lalu Lilin dibawa lagi ke altar, kegaduhan semakin mengecil
dan kemudian hilang.
§
Lalu Lilin diangkat dan dibawa keluar gereja ke arah
sakristi, kegaduhan dimulai, saat lilin diangkat. Semakin lilin jauh dari
altar, maka kegaduhan semakin kuat: Ini menandakan keadaan dunia ketika dunia
tanpa Sang Cahaya: Dunia ada dalam kacau.
§
Akhirnya ketika Gong dibunyikan, sebagai pralambang
ditutupnya Batu Nisan kubur Jesus, kegaduhan berhenti. Suasana sunyi, sepi,
menantikan kebangkitan Paskah dengan penuh harap.
4. Penutup
MC :
Saudara-saudari, kita telah mengikuti proses penguburan
Jesus dan merenungkan ke 7 sabda terakhir Jesus dari atas kayu salib. Jesus
telah di kubur. Dunia gelap dan senyap. Bumi menerima tubuh Tuhan. Dunia kini
menantikan kebangkitan mulia Kristus yang akan kita rayakan dengan penuh
kemuliaan besok malam pukul 19.00 WIB. Saudara-saudari dapat meninggalkan
ruangan ini dengan khidmat atau tetap berada di kapel ini untuk menikmati
kekosongan, stillness. Kapel tetap dibuka sampai pukul 24.00 malam ini.