Search the web
Sign In
New User? Sign Up
rohani · Media sharing pengalaman, iman & rohani

Group Information

  • Members: 1143
  • Category: Devotionals
  • Founded: Nov 22, 2002
  • Language: English
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Messages

  Messages Help
Advanced
Tenebrae - Jumat Agung Seminari Plg   Message List  
Reply Message #404 of 21644 |

 

Taenebrae 2003[1]

p. fx. kusmaryadi, scj.

 

MC: (Dengan memakai pakaian Lektor dalam Misa Kudus)

Ibadat yang kita laksanakan pada hari Jumat Agung petang ini merupakan adaptasi dari Tanebrae, sebuah ibadat yang biasa dilaksanakan di gereja-gereja dan biara-biara kuno. Tujuanya adalah untuk (seakan-akan) bersama-sama Maria, Joseph dari Arimathea, dan para murid menguburkan Jesus. Ibadat juga dimaksudkan untuk merasakan kondisi dunia ketika Jesus Sang Terang Dunia tidak berada di tengah-tengahnya. Ibadat ini juga bermaksud memberikan suasana antisipatif perayaan Malam Paskah.

 

0. Tata Laksana

§        Gereja dalam keadaan terang. Ada 7 lilin menyala yang besarnya sama dan 1 Lilin Besar menyala. Ketujuh lilin melambangkan 7 Sabda terakhir Jesus Kristus, sedang satu lilin besar, melambangkan Jesus Kristus. Altar dan sekitarnya kosong, taplak-taplakpun tidak ada.

§        Koor menyanyikan lagu Bleibet Heir. Lagu dinyanyikan berulang-ulang. Setelah lagu dinyanyikan dengan ¼ suara maka MC, dengan penuh penghayatan, memberikan introduksi atas upacara yang bersangkutan. Teks introduksi disediakan.

§        Setelah MC selesai, koor mengeras. Imam dan dua misdinar masuk. Koor mengecil dan hilang.

 

1. Pembukaan

§        Pemimpin dan dua misdinar masuk ke ruangan. Bersujud di depan altar. Kemudian ibadat dinuka dengan doa pembukaan oleh imam.

 

I           : Terpujilah Tuhan yang mengampuni dosa-dosa kita

U         : BelaskasihNya kekal selama-lamanya.

I           : Tuhan Allah yang Mahakuasa, kepadaMu semua hati terbuka, semua harapan

dinyatakan dan tidak ada satupun hal yang tersembunyi dihadapanMu. Bersihkan hati dan pikiran kami dengan Roh KudusMu sehingga kamu dapat mencintaiMu dengan sepenuh Hati dan dengan demikian dapat memulyakan namaMu dengan perantaraan Kristus Tuhan Kami.

U         : Amin.

 

I           : Inilah hari pengadilan Tuhan, bahwa terang telah terbit ke atas dunia,

                sementara kami lebih mencintai kegelapan daripada terang

U         : Tuhan adalah terang dan hilanglah segala kegelapan.

I           : Karena Allah telah mengutus PuteraNya ke dunia, bukan untuk menghakimi

  dunia, namun untuk menyelamatkanya.

U         : Barangsiapa melakukan kejahatan, tidak mencintai Terang dan tidak datang

kepada Sang Terang. Barangsiapa melakukan yang benar datang kepada Terang.

I           : Marilah kita datang menyembah dalam Roh dan Kebenaran.

U         : Allah yang penuh belaskasih, pandanglah dengan penuh belaskasihan kepada

kami yang berkumpul di sini, yang untuknya Jesus telah dikhianati, diserahkan ke tangan-tangan orang berdosa, sengsara, dan wafat di kayu salib. Kuatkanlah iman kami dan ampunilah pengkhianatan kami sebagaimana kami memasuki kesengsaraanNya, demi Kristus Tuhan dan Juru selamat kami.

U         : Amin

§        Lampu kapel dimatikan)

§        Koor menyanyikan lagu

§        Imam dan Misdinar pergi ke tempat duduk. Imam diapit misdinar

 

2. Renungan Tujuh Sabda

§        Setiapkali satu sabda terakhir Jesus selesai direnungkan, ketika lagu masih dinyanyikan, misdinar mematikan satu lilin bergantian sebelah kiri dan sebelah kanan.

 

I     : Kata-kata terakhir orang yang akan meninggal sangat berharga, terlebih bila orang   itu adalah orang yang kita kasihi. Kadangkala kata-kata itu adalah ungkapan duka dan derita. Kadang kata-kata itu suatu penghiburan, atau bahkan pesan-pesan penting yang pantas diingat. Begitulah, sejak awal, gereja purba mengingat dan merefleksikan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Jesus yang mereka cintai, menjelang dia menghadapi penderitaanNya untuk menemukan makna yang dalam ditengah kehidupan mereka. Marilah kita melakukan apa yang telah lama dilakukan gereja purba itu agar kita mendapatkan makna terdalam dari jeritan hati Jesus yang diungkapkan menjelang akhir hidupNya.

 

1.      “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”

Mereka telah menyiksa Jesus dan meletakkan mahkota duri di atas kepalanya. Merekapun mempermalukan Jesus, dan akhirnya memakunya pada penghinaan. Sesungguhnya apa yang mereka lakukan lebih mempermalukan diri mereka sendiri daripada Jesus. Untuk itulah Jesus bersabda, “Mereka tidak tahu apa yang mereka kerjakan.” Benar mereka tidak tahu yang mereka lakukan sebab inti dalam hati kita yang paling dalam semestinya sadar untuk tidak menginjinkan seorangpun memperlakukan apa yang diri sendiri tidak mau menerima.

Dan pada masa kini hal yang dibuat oleh para penyalib Jesus masih saja terjadi. Saat ini, memperlakukan orang lain diluar batas-batas kemanusiaan masih merupakan kejadian harian kita. Bisa jadi kita sendiri memperlakukan orang lain di luar batas-batas normal kemanusiaan? Atau bisa juga bahwa kita pernah merasakan perbuatan yang demikian. Kita sering merendahkan harga diri kita justru oleh perbuatan sendiri. Dalam kehidupan manusia, ada banyak tindakan salah yang membutuhkan pengampunan. Kita pasti ingat akan tindakan bodoh yang kita lakukan, seperti yang dilakukan para penyalib Jesus. Dalam keadaan itu, kata-kata yang ingin kita ucapkan adalah, “Kawan maafkanlah saya. Tuhan ampunilah saya.” Dan kitapun mendambakan kata-kata, “Aku memaafkanmu.”

Doa Jesus diatas membesarkan hati dan sekaligus melegakan sebab doa Jesus itu menampakkan kemaharahiman Allah yang sulit dibayangkan. Doa itu menampakkan bahwa Tuhan telah melangkah lebih jauh dalam hal pengampunan daripada yang bisa kita bayangkan. Mengapa? Sebab kendati tentara-tentara dan para penghojat itu tidak pernah memohon pengampunan kepada Allah, namun Jesus malah justru memohonkanya. Marilah bersama-sama kita bermohon: “O…Jesus, O… Tuhan Jesus ampunilah aku.”

§        Christe Domini Jesu.

§        Misdinar dengan penuh hormat mematikan satu lilin.

 

2.      “Hari ini engkau akan bersamaku di Firdaus.”

Jawaban atas doa penjahat di sebelah kananya, ”Tuhan ingatlah aku bila Engkau masuk dalam kerajaanMu,” adalah, “Hari ini engkau akan bersamaKu di Firdaus.” Dan benar, bahwa pada saat paling akhir hidupnya, penjahat itu merasakan pengampunan, damai, dan keselamatan. Kita memang tidak tahu bagaimana nasip, penderitaan dan kesengsaraan si penjahat. Kemungkinan besar dia juga mengalami ganas, hilang, dan matinya  kemanusiaan. Barangkali secara fisik dia juga mengalami kesengsaraan hebat seperti Jesus Sang Imam Agung yang menderita. Tapi penderitaan seberat apapun yang secara fisik tengah dia alami, kalau hati terdalamnya merasakan adanya kedamaian, keselamatan, dan persatuan dengan Tuhan maka penderitaan fisik itu akan tersangga juga. Duka derita pejahat ini justru menjadi pintu gerbang bagi hidupnya yang lebih dalam dan kaya. Karena sabda Jesus itu, saat-saat di Golgota menjadi saat menentukan hidup penjahat itu dimana hidupnya yang lama, dengan segala suka-duka dan luka-lukanya, akan ditinggalkan dan kemudian mengenakan hidup baru yang disebut Firdaus.

Bukankah hal itu juga dambaan hati kita? Bukankah kita juga menginginkan Firdaus dalam hidup kita? Dari sabda Jesus itu menjadi jelas bagi kita bahwa bila seseorang benar-benar berpaling pada Tuhan, maka yang kemarin penjahat besar hari ini bisa menjadi santo. Dalam sejarah gereja banyak contoh tentang itu. Santo Agustinus menyadari hal itu ketika dengan sepenuh hati dia berucap, “Terlambat aku mencintaiMu Tuhan.” Maka marilah, bersama dengan penjahat itu kita mohon kepada Tuhan untuk mengingat kita. “Jesus remember me, when you come into your Kingdom.”

§        Koor menyanyikan lagu Jesus Remember Me

§        Misdinar mematikan satu lilin

 

3.      “Ibu inilah anakmu,” dan “Itu ibumu.”

Maria telah diberitahu oleh Simeon bahwa sebilah pedang akan menembusi jiwanya. Nubuat itu terjadi berkali-kali dalam sejarah hidupnya: Segera setelah kelahiranya, Maria tahu bahwa Herodes akan membunuh bayi itu. Diapun kemudian harus pergi ke Mesir, ke tanah asing sebagai pengungsi. Ketika Jesus hilang di kenisah Maria kembali ke Jeruslem untuk mencari Jesus dan itu memakan perjalanan selama tiga hari. Ketika anak yang dikasihinya mulai berkarya, justru di Nazarethlah orang banyak akan mencampakkan Jesus ke jurang. Maria merasakan adanya suatu perlawanan dari kelompok-kelompok masayarakat melawan putraNya. Perlawanan itu kini telah berubah menjadi kebencian. Para pemimpin agama dan politik ingin melenyapkanya. Maria merasakan bahaya yang ditimpa puteraNya.

Dan pada saat yang paling ngeri itu, ketika para rasul lari pontang-panting, Maria mengikuti semua proses yang terjadi atas Puteranya. Mengapa? Karena derita Jesus adalah deritanya juga. Di bawah palang penghinaan itu dia berdiri bersama Johanes dan tiga temanya lainya. Bisa dibayangkan bagaimana derita seorang ibu yang mendengar suara anaknya yang sedang menghadapi kesengsaraan dan kematian, ”Ibu inilah Anakmu.” Dan kepada Johanes Da mengatakan, “Itu ibumu.” Seolah-olah Jesus mempercayakan ibunya pada Johanes.

Dan pada saat itu, kendati sulit bagi Maria, perlahan-lahan dia mengucapkan doa yang dulu pernah dia ucapkan ketika menerima kabar gembira dari Malaikat Tuhan, “Terjadilah padaku menurut apa yang Engkau kehendaki.” Maria adalah teladan kesetiaan seorang ibu. Bagaimana dengan kita? Bersama Maria marilah kita ucapkan “Magnificat.”

§        Solis menyanyikan lagu Let It Be.

§        Misdinar mematikan satu lilin

 

4. “AllahKu ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Kehilangan harapan, kekelaman, kesendirian, dan perasaan ditinggalkan, gelap. Itulah kata-kata yang dapat melukiskan apa yang Jesus sedang alami. Itulah pula penderitaan paling ngeri yang Jesus rasakan. Karena dia merasa kesendirian, merasakan ditinggalkan baik oleh sahabat-sahabat dan yah… bahkan Dia merasakan ditinggal oleh BapaNya. Jesus lalu berdoa, “Allahku ya AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Inilah satu-satunya doa dimana Jesus memakai kata, “Allahku, ya AllahKu.” Dalam keadaan biasa kalau Jesus berdoa selalu berucap, ”Bapa” dan bukan “Allah.” Sulit bagi kita untuk mengerti bagaimana Dia yang adalah Putera Allah sampai mengalami hal-hal seperti itu? Kita tidak sepenuhnya tahu. Dan menghadapi hal seperti itu, kita hanya bisa terpaku dalam diam.

Namun bukankah kita juga sering mengalami hal yang sama, misalnya ketika kita dikhianati? Ditinggalkan orang yang semula kita percayai entah dalam bisnis, di tempat kerja atau bahkan di rumah? Bukankah pengalaman Jesus adalah bagian dari hidup harian kita? Yang jelas kita diundang untuk membagikan pengalaman serupa yang juga sering kita alami.

Dalam hidup kita, ada saatnya dimana kita mengalami kedamaian hati, yang adalah salah satu anugerah terbaik dari Allah. Saat dimana Cinta Allah nampaknya menyentuh hati kita yang terdalam. Namun ada saatnya bahwa kedamaian hati itu tidak ada lagi. Kita seringkali masuk dalam gelapnya malam gelapnya jiwa kita. Kita mengalami apa yang disebut desolasi yang dapat membawa mengalami kekosongan.

Pada saat seperti itu, seringkali hati kita memberontak, ingin keluar dari suasana. Namun memang ada kalanya, di saat kita menghadapi hal seperti itu, kita diajak untuk terus menerus menelusuri malam gelap jiwa kita, justru agar kita mampu menerima dan memahami kepenuhan hidup yang lebih dalam. Iman kita sering diuji dan diperkembangkan justru lewat gelapnya kehidupan. Pada saat seperti itu yang dibutuhkan dari kita adalah mempercayakan diri pada penyelenggaraan Illahi. Maka jangan takut dan janganlah cemas sebab di dalam Tuhan berlimpah rahmat. Jangan takut, yang penting kita serahkan Tuhan.

§        Koor menyanyikan lagu Nada de Turbe

§        Misdinar mematikan satu lilin

 

5. “Aku haus.”

Yesus begitu lelah oleh penderitaan, hilangnya darah dan keluarnya keringat. Dia mencari dan mengharap seseorang bisa memberinya seteguk air pelepas dahaga. Dan seorang algojo memberiNya anggur asam. Namun barangkali dahaga yang Dia rasakan lebih besar daripada kehausan fisik itu. Kehausan secara fisik itu kemungkinkan hanyalah cermin akan haus yang dirasakan Jesus akan hal-hal lain yang lebih mendalam.

Kita tahu bahwa seluruh hidup Jesus adalah manifestasi Cinta dan barangkali obat dari kehausanya adalah manusia pencinta, yang mencintaiNya sebagai balasan cintakasih yang telah lebih dulu Jesus berikan. Namun yang diterima adalah anggur asam simbol penolakan, penghinaan, hojatan. PerkataaNya “Aku haus,” dalam keseluruhan peristiwa dan sabda di sekitar penyaliban adalah sabda yang paling bercorak personal karena yang dimaksudkanya adalah haus akan dunia yang hidup berdasarkan kasih. Bukankah duka dan derita Tuhan yang paling dalam memang disebabkan cintakasihNya yang ditolak?

Karena dewasa inipun penolakan terhadap cintakasih Allah masih saja berlangsung dalam pelbagai bentuknya. Maka marilah kita mohon diberi cinta kasih, karena dimana ada kasih di situ Tuhan hadir. Ubi Charitas et Amor.

§        Koor menyanyikan lagu Ubi Charitas et Amor

§        Misdinar mematikan satu lilin

 

6. “Sudah selesai.”

Telah selesai, telah komplit. Kata kata itu mengisyaratkan suatu kepenuhan. “Jadilah kehendakMu, bukan kehendakKu.” Ya Bapa, Engkau telah mengutus PuteraMu untuk menebus kami: Memberikan kedamaian dan keadilan. PuteraMu mengembalikan citra Adam Pertama dan mengembalikan hutan belantara ketidak manusiawian hidup kami menuju kebahagiaan kekal yakni Firdaus. Kami ingat kata-kata pilatus, “Lihatlah manusia ini.” Dan inilah orang yang oleh ditunjukkan oleh Pilatus itu adalah hamba Allah yang menderita (Yes 53: 1-12).

Maka ya Tuhan, semoga dengan salib dan sengsaraMu Engkau membebaskan kami.

§        Koor menyanyikan lagu Per Crucem

§        Misdinar mematikan satu lilin

 

7. “Bapa ke dalam tanganMu Kuserahkan jiwaKu.”

Ketika sakit dan duka derita semakin menjadi-jadi, ketika kegelapan hati tengah menyelimuti, atau ketika ada cintakasih yang dilukai, kita merasakan beratnya hidup. Namun sesungguhnya lewat peristiwa-peristiwa itu bisa dinantikan munculnya hidup yang baru. Mengapa? Karena berkat Jesus tragedi kemanusiaan justru diberi makna baru, seperti dikatakan dalam prumpamaan, “Seperti biji gandum yang tumbuh mesti jatuh dulu ke tanah dan mati.” Kematian suatu benih itu tersembunyi di dalam tanah. Tidak kelihatan. Begitu juga kehidupan barunya, seringkali tersembunyi. Hanya bisa dirasakan saja. Mungkin pertumbuhan hidup justru terjadi saat penderitaan kita menjadi semacam teriakan kepada Tuhan untuk minta tolong. Atau juga dapat terjadi pada saat pikiran dan perbuatan kita betul-betul membalik ke arah Allah dimana dambaan Tuhan menjadi menjadi harapan kita, kehendak Tuhan menjadi kehendak kita. Pertumbuhan hidup itu justru sering terjadi ketika kita, dengan tulus hati, bisa berucap bersama dan seperti Jesus, ”Ke dalam tanganMu kuserahkan Jiwaku.”

Doa itu sepanjang sejarah diucapkan oleh tokoh-tokoh besar manakala mereka melalui penderitaan. Maka daya hidup Illahi juga akan tumbuh dalam diri kita kalau kita mau mengijinkanya. Mungkin hal itu justru melalui luka-luka hidup harian kita: Kegelisahan, salah pengertian, kesedihan, kegagalan, pengalaman kesendirian, dll. Marilah kita percaya bahwa Tidak ada Jumat Suci yang tidak mengarahkan kita kepada kebahagiaan dan kemuliaan Paskah. Ketika kita pada Jumat Agung nanti mencium salib, buatlah itu menjadi pertanda dan cara kita untuk mengungkapkan kepasrahan hidup kita pada Tuhan. Maka janganlah takut. Marilah sekali lagi kita serahkan hidup kita ke dalam Tuhan

§        Tenebrae Factae Sunt” Cip. M. Haller

 

3. Prosesi Lilin

§        Lilin terbesar dibawa oleh Pemimpin, diikuti Misdinar keluar ruangan ke sebelah kiri. Sebentar berhenti di sana. Saat lilin mulai diangkat maka kegaduhan dimulai.

§        Semakin lilin menjauh dari altar maka kegaduhan membesar, dan memuncak saat lilin sudah keluar ruangan.

§        Lalu Lilin dibawa lagi ke altar, kegaduhan semakin mengecil dan kemudian hilang.

§        Lalu Lilin diangkat dan dibawa keluar gereja ke arah sakristi, kegaduhan dimulai, saat lilin diangkat. Semakin lilin jauh dari altar, maka kegaduhan semakin kuat: Ini menandakan keadaan dunia ketika dunia tanpa Sang Cahaya: Dunia ada dalam kacau.

§        Akhirnya ketika Gong dibunyikan, sebagai pralambang ditutupnya Batu Nisan kubur Jesus, kegaduhan berhenti. Suasana sunyi, sepi, menantikan kebangkitan Paskah dengan penuh harap.

 

4. Penutup

MC      :

Saudara-saudari, kita telah mengikuti proses penguburan Jesus dan merenungkan ke 7 sabda terakhir Jesus dari atas kayu salib. Jesus telah di kubur. Dunia gelap dan senyap. Bumi menerima tubuh Tuhan. Dunia kini menantikan kebangkitan mulia Kristus yang akan kita rayakan dengan penuh kemuliaan besok malam pukul 19.00 WIB. Saudara-saudari dapat meninggalkan ruangan ini dengan khidmat atau tetap berada di kapel ini untuk menikmati kekosongan, stillness. Kapel tetap dibuka sampai pukul 24.00 malam ini.

 




[1] Tanebrae di Seminari Santo Paulus, Jumat Suci 2003.



Fri Apr 18, 2003 2:27 am

ysamiran30152
Offline Offline
Send Email Send Email

Message #404 of 21644 |
Expand Messages Author Sort by Date

Taenebrae 2003[1] p. fx. kusmaryadi, scj. MC: (Dengan memakai pakaian Lektor dalam Misa Kudus) Ibadat yang kita laksanakan pada hari Jumat Agung petang ini...
Yohanes Samiran SCJ
ysamiran30152 Offline Send Email
Apr 18, 2003
2:29 am
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help