PUSAT STUDI ISLAM DAN KENEGARAAN UNIVERSITAS PARAMADINA
Mengundang bpk/ibu/sdr/i untuk hadir pada Acara Kajian Agama, Politik, dan Kebudayaan
I Pemutaran Film: TRAGEDI KARBALA Kamis, 11 Februari 2010, Pkl.
19.00-21.00 di ruang B. 1.1. Universitas Paramadina
II Diskusi: "Al-Husain di Mata Anak Muda: Refleksi Kesejarahan atas Relasi Agama dan Misi Keadilan Para Nabi" Pembicara: M. Subhi-Ibrahim (Dosen FA) A. Zainal Fikri (Mahasiswa FA) Moderator: A. Bafaqih (Mahasiswa HI) Jumat, 12 Februari 2010, pkl. 16.00-17.30 di Ruang Granada (rektorat) Universitas Paramadina
Salam Hangat,
M. Subhi-Ibrahim (Direktur Eksekutif PSIK Universitas Paramadina)
Kami mengundang rekan sekalian untuk hadir dalam diskusi kecil tentang gerakan buruh Indonesia.
Tanggal: 15 Februari 2010
Tempat: Auditorium Center for Japanese Studies (Pusat Studi Jepang), Universitas Indonesia, Depok
Pembicara:
1. Fahmi Panimbang, “Tantangan-tantangan Konsolidasi Gerakan Buruh Indonesia Pasca-Reformasi”
2. Sahat Lumbanraja, “Gerakan Buruh Pasca Orde Baru 1998-2008 (Studi Kasus di Medan, Sumatera Utara)”
3. Endang Rokhani, “Problem Internal Gerakan Buruh Indonesia”
4. Rina Herawati, “Penelitian dalam Gerakan Serikat Buruh Indonesia”
5. Tubagus Abu Mufakhir, “Membangun Media Serikat Buruh: Perkembangan dan Persoalan Terbitan Berkala Serikat Buruh Saat ini”
6. Agus Rakasiwi, “Industri Pers, Pabrik Media Massa dan Gerakan Buruh Pers”
7. Jafar Suryomenggolo, “Mempertimbangkan otobiografi dalam penulisan sejarah buruh di Indonesia”
Diskusi dimulai dari pukul 13.40 sampai pukul 16.10. Setiap pembicara diberi waktu 20 menit untuk menyampaikan bahannya.
Diskusi ini merupakan bagian dari Seminar Dua Hari 15-16 Februari “New Frontiers of Indonesia-Japan Relationship” . Seminar Dua Hari ini menampilkan topik-topik bahasan terkini tentang Indonesia dan Jepang, seperti: tentang kebijakan energi, prospek ekonomi, keamanan regional, dan lain-lain, dengan pembicara dari Indonesia dan Jepang. Untuk informasi lengkap tentang Seminar, dapat menghubungi Jafar Suryomenggolo (jafar@asafas. kyoto-u.ac. jp)
Kami mengundang rekan sekalian untuk hadir dalam diskusi kecil tentang gerakan buruh Indonesia.
Tanggal: 15 Februari 2010
Tempat: Auditorium Center for Japanese Studies (Pusat Studi Jepang), Universitas Indonesia, Depok
Pembicara:
1. Fahmi Panimbang, “Tantangan-tantangan Konsolidasi Gerakan Buruh Indonesia Pasca-Reformasi”
2. Sahat Lumbanraja, “Gerakan Buruh Pasca Orde Baru 1998-2008 (Studi Kasus di Medan, Sumatera Utara)”
3. Endang Rokhani, “Problem Internal Gerakan Buruh Indonesia”
4. Rina Herawati, “Penelitian dalam Gerakan Serikat Buruh Indonesia”
5. Tubagus Abu Mufakhir, “Membangun Media Serikat Buruh: Perkembangan dan Persoalan Terbitan Berkala Serikat Buruh Saat ini”
6. Agus Rakasiwi, “Industri Pers, Pabrik Media Massa dan Gerakan Buruh Pers”
7. Jafar Suryomenggolo, “Mempertimbangkan otobiografi dalam penulisan sejarah buruh di Indonesia”
Diskusi dimulai dari pukul 13.40 sampai pukul 16.10. Setiap pembicara diberi waktu 20 menit untuk menyampaikan bahannya.
Diskusi ini merupakan bagian dari Seminar Dua Hari 15-16 Februari “New Frontiers of Indonesia-Japan Relationship”. Seminar Dua Hari ini menampilkan topik-topik bahasan terkini tentang Indonesia dan Jepang, seperti: tentang kebijakan energi, prospek ekonomi, keamanan regional, dan lain-lain, dengan pembicara dari Indonesia dan Jepang. Untuk informasi lengkap tentang Seminar, dapat menghubungi Jafar Suryomenggolo (jafar@...)
Assalam WR WB Dengan Hormat, Sebelumnya, saya mohon maaf atas keterlambatan email ini. Saya Thaufan dosen komunikasi Unand Padang dan Mahasiswa Pascasarjana ICAS Paramadina. Sejak kuliah di ICAS Paramadina Maret 2007 hingga sekarang terlibat aktif sebagai peserta dalam diskusi yang diadakan oleh PSIK, Forum Muda Paramadina, Yayasan Wakaf Paramadina dan ICAS Paramadina. Saya juga mengagumi pemikiran yang dikembangkan dalam diskusi PSIK dan membaca dengan khidmat tulisan bapak Yudi Latif baik bukunya seperti Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia maupun tulisannya di Kompas. Saya ingin mengembangkan wacana demokrasi dan Islam di tengah-tengah masyarakat kampus terutama mahasiswa-mahasiwa dan rekan dosen di Unand dan kota Padang karena itu saya berharap dapat menjadi peserta dalam pertemuan nasional SoD PSIK-Indonesia 2010 ini. Saya melampirkan
surat kesediaan dan sedikit Curricullum Vitae saya. Terima Kasih Banyak Hormatku, Muhammad Thaufan A Prodi Komunikasi Unand Padang
--- On Tue, 12/22/09, Dida Darul Ulum <filsuf_kita@...> wrote:
From: Dida Darul Ulum <filsuf_kita@...> Subject: Bls: [psik_paramadina] Und. Pertemuan Nasional SoD PSIK-Indonesia 2010 To: psik_paramadina@yahoogroups.com Date: Tuesday, December 22, 2009, 3:34 AM
Pak Dubbun,
Mohon maaf saya tidak bisa ikut berpartisipasi dalam acara pertemuan SoD yang dilaksanakan oleh PSIK-Indonesia pada Januari 2010. Sebab, ada hal-hal yang tidak bisa saya tinggalkan, namun saya tetap support acara tersebut dan semoga sukses.
Hormat Saya, Dida Darul Ulum
--- Pada Jum, 4/12/09, Abdul Hakim <hakim.psik@yahoo. com> menulis:
Dari: Abdul Hakim <hakim.psik@yahoo. com> Judul: [psik_paramadina] Und. Pertemuan Nasional SoD PSIK-Indonesia 2010 Kepada: psik_paramadina@ yahoogroups. com, jaringan-demokrasi@ yahoogroups. com Tanggal: Jumat, 4
Desember, 2009, 3:56 AM
Und. Pertemuan Nasional SoD PSIK-Indonesia 2010
Kepada Yth. Peserta Sekolah Demokrasi Semua Angkatan Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh,
Dengan hormat, Sehubungan
dengan tindak lanjut kegiatan Sekolah Demokrasi yang sudah diadakan di
6 regional di Indonesia: Jakarta, Banjarmasin, Riau-Kepri, Padang,
Bandung-Jawa Barat, dan Makassar, maka PSIK-Indonesia mengundang para
aktivis yang pernah terlibat dalam Sekolah Demokrasi untuk menghadiri
Pertemuan Nasional di Jakarta. Acara akan dilaksakan pada pertengahan
Januari 2010 setelah melalui tahap seleksi oleh Tim PSIK-Indonesia. Untuk
itu kami akan menyeleksi seluruh peserta SoD baik dari semua angkatan
untuk mengikuti pertemuan nasional di Jakarta dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Menyerahkan lembar kesedian mengikuti acara
Pertemuan Nasional sampai selesai dan secara aktif berpartisipasi dalam
diksusi dan kegiatan yang sudah dirancang oleh panitia PSIK-Indonesia 2. Menyerahkan resume curriculum vitae yang meliputi: a. aktivitas enam bulan terakhir (terhitung sejak bulan Juli 2009 sampai Desember 2009) b. aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan jaringan di lingkungan kampus maupun ekstra kampus c. kegiatan
publikasi baik di dalam kampus maupun ekstra kampus d. keterlibatan kelembagaan serta kegiatan lembaga tersebut selama enam bulan terakhir e. curriculum vitae dibagi dalam tiga bagian:
i.kegiatan jaringan
ii.kegiatan publikasi
iii.keterlibatan kelembagaan/ kegiatan lembaga tersebut
3.
Resume curriculum vitae/surat kesediaan peserta diserahkan
selambat-lambatnya tgl 20 desember 2009 kepada panitia melalui alamat
email:psik_indonesi a@.... id sebagai prasyarat dalam seleksi Tim
PSIK-Indonesia untuk menyatakan kelayakan keikutsertaan dalam Pertemuan
Nasional 4. Resume curriculum vitae yang dinyatakan memenuhi 3
bagian pada nomor 2.e akan dinyatakan lulus sebagai peserta tahap
pemberkasan kemudian diseleksi dan disupervisi oleh Tim PSIK-Indonesia
5. Pemberitahuan keikutsertaan dalam Pertemuan Nasional akan
dikomunikasikan melalui email, telepon, dan ditampilkan di mailing list
psik-demokrasi@ yahoogroups. com..
Wassalam,
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia
Ttd.
Yudi Latif, Ph.D Ketua PSIK-INDONESIA
lampiran 1. LEMBAR KESEDIAAN PESERTA
Yang
bertandatangan di bawah ini (ditulis dengan huruf balok):
Bersedia menjadi peserta aktif dan bersedia untuk mengikuti Pertemuan Nasional hingga akhir acara pada Januari 2010.
Partisipan diwajibkan untuk melampirkan atau mengirimkan (psik_indonesia@ yahoo.co. id) 1. Resume curriculum vitae yang meliputi: a. aktivitas enam bulan terakhir (terhitung sejak bulan Juli 2009 sampai Desember 2009) b. aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan jaringan di lingkungan kampus maupun ekstra kampus c. kegiatan publikasi baik di dalam kampus
maupun ekstra kampus d. keterlibatan kelembagaan serta kegiatan lembaga tersebut selama enam bulan terakhir e. curriculum vitae dibagi dalam tiga bagian: i. kegiatan jaringan ii. kegiatan publikasi iii. keterlibatan kelembagaan/ kegiatan lembaga tersebut
Mohon maaf saya tidak bisa ikut berpartisipasi dalam acara pertemuan SoD yang dilaksanakan oleh PSIK-Indonesia pada Januari 2010. Sebab, ada hal-hal yang tidak bisa saya tinggalkan, namun saya tetap support acara tersebut dan semoga sukses.
Hormat Saya, Dida Darul Ulum
--- Pada Jum, 4/12/09, Abdul Hakim <hakim.psik@...> menulis:
Dari: Abdul Hakim <hakim.psik@...> Judul: [psik_paramadina] Und. Pertemuan Nasional SoD PSIK-Indonesia 2010 Kepada: psik_paramadina@yahoogroups.com, jaringan-demokrasi@yahoogroups.com Tanggal: Jumat, 4 Desember, 2009, 3:56 AM
Und. Pertemuan Nasional SoD PSIK-Indonesia 2010
Kepada Yth. Peserta Sekolah Demokrasi Semua Angkatan Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh,
Dengan hormat, Sehubungan
dengan tindak lanjut kegiatan Sekolah Demokrasi yang sudah diadakan di
6 regional di Indonesia: Jakarta, Banjarmasin, Riau-Kepri, Padang,
Bandung-Jawa Barat, dan Makassar, maka PSIK-Indonesia mengundang para
aktivis yang pernah terlibat dalam Sekolah Demokrasi untuk menghadiri
Pertemuan Nasional di Jakarta. Acara akan dilaksakan pada pertengahan
Januari 2010 setelah melalui tahap seleksi oleh Tim PSIK-Indonesia. Untuk
itu kami akan menyeleksi seluruh peserta SoD baik dari semua angkatan
untuk mengikuti pertemuan nasional di Jakarta dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Menyerahkan lembar kesedian mengikuti acara
Pertemuan Nasional sampai selesai dan secara aktif berpartisipasi dalam
diksusi dan kegiatan yang sudah dirancang oleh panitia PSIK-Indonesia 2. Menyerahkan resume curriculum vitae yang meliputi: a. aktivitas enam bulan terakhir (terhitung sejak bulan Juli 2009 sampai Desember 2009) b. aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan jaringan di lingkungan kampus maupun ekstra kampus c. kegiatan
publikasi baik di dalam kampus maupun ekstra kampus d. keterlibatan kelembagaan serta kegiatan lembaga tersebut selama enam bulan terakhir e. curriculum vitae dibagi dalam tiga bagian:
i.kegiatan jaringan
ii.kegiatan publikasi
iii.keterlibatan kelembagaan/ kegiatan lembaga tersebut
3.
Resume curriculum vitae/surat kesediaan peserta diserahkan
selambat-lambatnya tgl 20 desember 2009 kepada panitia melalui alamat
email:psik_indonesi a@.... id sebagai prasyarat dalam seleksi Tim
PSIK-Indonesia untuk menyatakan kelayakan keikutsertaan dalam Pertemuan
Nasional 4. Resume curriculum vitae yang dinyatakan memenuhi 3
bagian pada nomor 2.e akan dinyatakan lulus sebagai peserta tahap
pemberkasan kemudian diseleksi dan disupervisi oleh Tim PSIK-Indonesia
5. Pemberitahuan keikutsertaan dalam Pertemuan Nasional akan
dikomunikasikan melalui email, telepon, dan ditampilkan di mailing list
psik-demokrasi@ yahoogroups. com..
Wassalam,
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia
Ttd.
Yudi Latif, Ph.D Ketua PSIK-INDONESIA
lampiran 1. LEMBAR KESEDIAAN PESERTA
Yang
bertandatangan di bawah ini (ditulis dengan huruf balok):
Bersedia menjadi peserta aktif dan bersedia untuk mengikuti Pertemuan Nasional hingga akhir acara pada Januari 2010.
Partisipan diwajibkan untuk melampirkan atau mengirimkan (psik_indonesia@ yahoo.co. id) 1. Resume curriculum vitae yang meliputi: a. aktivitas enam bulan terakhir (terhitung sejak bulan Juli 2009 sampai Desember 2009) b. aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan jaringan di lingkungan kampus maupun ekstra kampus c. kegiatan publikasi baik di dalam kampus
maupun ekstra kampus d. keterlibatan kelembagaan serta kegiatan lembaga tersebut selama enam bulan terakhir e. curriculum vitae dibagi dalam tiga bagian: i. kegiatan jaringan ii. kegiatan publikasi iii. keterlibatan kelembagaan/ kegiatan lembaga tersebut
Kepada Yth. Peserta Sekolah Demokrasi Semua Angkatan Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh,
Dengan hormat, Sehubungan
dengan tindak lanjut kegiatan Sekolah Demokrasi yang sudah diadakan di
6 regional di Indonesia: Jakarta, Banjarmasin, Riau-Kepri, Padang,
Bandung-Jawa Barat, dan Makassar, maka PSIK-Indonesia mengundang para
aktivis yang pernah terlibat dalam Sekolah Demokrasi untuk menghadiri
Pertemuan Nasional di Jakarta. Acara akan dilaksakan pada pertengahan
Januari 2010 setelah melalui tahap seleksi oleh Tim PSIK-Indonesia. Untuk
itu kami akan menyeleksi seluruh peserta SoD baik dari semua angkatan
untuk mengikuti pertemuan nasional di Jakarta dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Menyerahkan lembar kesedian mengikuti acara
Pertemuan Nasional sampai selesai dan secara aktif berpartisipasi dalam
diksusi dan kegiatan yang sudah dirancang oleh panitia PSIK-Indonesia 2. Menyerahkan resume curriculum vitae yang meliputi: a. aktivitas enam bulan terakhir (terhitung sejak bulan Juli 2009 sampai Desember 2009) b. aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan jaringan di lingkungan kampus maupun ekstra kampus c. kegiatan
publikasi baik di dalam kampus maupun ekstra kampus d. keterlibatan kelembagaan serta kegiatan lembaga tersebut selama enam bulan terakhir e. curriculum vitae dibagi dalam tiga bagian:
i.kegiatan jaringan
ii.kegiatan publikasi
iii.keterlibatan kelembagaan/ kegiatan lembaga tersebut
3.
Resume curriculum vitae/surat kesediaan peserta diserahkan
selambat-lambatnya tgl 20 desember 2009 kepada panitia melalui alamat
email:psik_indonesi a@.... id sebagai prasyarat dalam seleksi Tim
PSIK-Indonesia untuk menyatakan kelayakan keikutsertaan dalam Pertemuan
Nasional 4. Resume curriculum vitae yang dinyatakan memenuhi 3
bagian pada nomor 2.e akan dinyatakan lulus sebagai peserta tahap
pemberkasan kemudian diseleksi dan disupervisi oleh Tim PSIK-Indonesia
5. Pemberitahuan keikutsertaan dalam Pertemuan Nasional akan
dikomunikasikan melalui email, telepon, dan ditampilkan di mailing list
psik-demokrasi@ yahoogroups. com..
Wassalam,
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia
Ttd.
Yudi Latif, Ph.D Ketua PSIK-INDONESIA
lampiran 1. LEMBAR KESEDIAAN PESERTA
Yang
bertandatangan di bawah ini (ditulis dengan huruf balok):
Bersedia menjadi peserta aktif dan bersedia untuk mengikuti Pertemuan Nasional hingga akhir acara pada Januari 2010.
Partisipan diwajibkan untuk melampirkan atau mengirimkan (psik_indonesia@ yahoo.co. id) 1. Resume curriculum vitae yang meliputi: a. aktivitas enam bulan terakhir (terhitung sejak bulan Juli 2009 sampai Desember 2009) b. aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan jaringan di lingkungan kampus maupun ekstra kampus c. kegiatan publikasi baik di dalam kampus
maupun ekstra kampus d. keterlibatan kelembagaan serta kegiatan lembaga tersebut selama enam bulan terakhir e. curriculum vitae dibagi dalam tiga bagian: i. kegiatan jaringan ii. kegiatan publikasi iii. keterlibatan kelembagaan/ kegiatan lembaga tersebut
----- Forwarded Message ---- From: Rahmat Hidayatullah <naura_aletheia@...> To: Dubun <hakim.psik@...> Sent: Mon, November 23, 2009 2:28:56 PM Subject: Re: "Kapolri Minta Maaf Kepada Keluarga Cak Nur"
From: Rahmat Hidayatullah <naura_aletheia@...> To: psik-demokrasi@yahoogroups.com; psik_paramadina@yahoogroups.com; jaringan-demokrasi@yahoogroups.com; psik_indonesia@... Sent: Mon, November 23, 2009 2:15:26 PM Subject: Re: "Kapolri Minta Maaf Kepada Keluarga Cak Nur"
From: Rahmat Hidayatullah <naura_aletheia@...> To: psik-demokrasi@...; psik_paramadina@...; jaringan-demokrasi@yahoogroups.com; psik_indonesia@... Sent: Mon, November 23, 2009 1:41:36 PM Subject: "Kapolri Minta Maaf Kepada Keluarga Cak Nur"
ISTRI CAK NUR: KAPOLRI MINTA MAAF DENGAN KEPALA
TERTUNDUK, SEPERTI BUKAN POLISI
Minggu, 22/11/2009
17:26 WIB
Jakarta – DetikNews.
Dengan kepala tertunduk Kapolri Jenderal BHD meminta maaf kepada keluarga
Nurcholish Madjid karena telah mengaitkan nama Nurcholish dengan kasus pimpinan
KPK nonaktif Chandra M Hamzah.
Kapolri berkali-kali meminta maaf kepada isteri (alm) Cak Nur bahwa pernyataannya
tersebut tidak bermaksud menyinggung kehormatan Cak Nur dan keluarga besarnya.
"Kapolri berkali-kali mengucapkan kata maaf dengan kepala tertunduk. Saya
berpikir ini orang seperti bukan polisi. Benar-benar memperlihatkan
penyesalan,"ujar istri Cak Nur, Omi Komaria, saat dalam jumpa pers
di Yayasan Paramadina, Pondok Indah, Jakarta, Minggu (22 /11/2009). Omi
ditemani oleh Yudi Latief dan penasihat Kapolri, Prof Dr Bachtiar Aly.
Kapolri datang ke rumah Omi di bilangan Tanah Kusir, Jaksel, pada Jumat malam
20 November 2009. Ketika diberitahu bahwa Kapolri hendak datang menemuinya, Omi
sempat gemetar juga.
"Mendapat kabar Kapolri ingin ketemu, saya senang. Kalau bisa lebih cepat
lebih
baik. Jumat lalu Kapolri datang kerumah, saya masih gemetar dan tidak ada
persiapan apa pun. Saya suguhi seadanya saja, kacang dan teh," cerita Omi.
Kapolri datang didampingi Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan
Soekarna
dan Bachtiar Aly. Kapolri mejelaskan tentang pernyataan yang menyangkut
keluarga
Nurcholish Madjid dan ketidaknyamanan yang timbul akibat peryataan itu.
"Saya ingat ajaran Cak Nur, sebaik baiknya orang yang disakiti adalah
memaafkan. Kami terima permintaan maaf kapolri," ucapnya.(mpr/nrl)
Jakarta - Liputan6.com. Kapolri
Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri telah meminta maaf kepada keluarga Cak
Nur, sapaan akrab almarhum Nurcholish Madjid, atas pernyataannya dalam rapat
dengan Komisi III DPR pada 5 November lalu. Demikian dikatakan anggota Dewan Ahli Nurcholish Madjid Society (NMS),
Yudi Latif, Ahad (22/11).
Seperti telah diberitakan sebelumnya, dalam rapat itu Kapolri secara tidak
langsung mengaitkan almarhum dengan dugaan kasus suap di PT Masaro Radiokom
senilai Rp 17,6 miliar. "Kapolri sudah menyatakan permintaan maaf atas
kesalahan pengaitan keluarga Nurcholish Madjid dengan masalah yang sedang
ditangani dan ketidaknyamanan yang timbul akibat pernyataan tersebut,"
kata Yudi [baca: Keluarga Cak Nur Tuntut Kapolri Minta Maaf].
Menurut Yudi, permintaan maaf itu disampaikan secara langsung oleh Kapolri yang
berkunjung ke kediaman keluarga Cak Nur di daerah Tanah Kusir, Jakarta Selatan,
Jumat lalu. Selain meminta maaf, Kapolri juga menekankan bahwa pihaknya sama
sekali tidak bermaksud menyinggung martabat dan kehormatan Cak Nur dan seluruh keluarga
besarnya.
Dengan begitu, kata Yudi seperti dilansir ANTARA,
persoalan pernyataan Kapolri terkait keluarga Cak Nur telah selesai. Namun,
khusus menyangkut pemberantasan korupsi, sebagaimana komitmen Cak Nur, harus
terus ditegakkan tanpa pandang bulu.
Sementara itu, istri Cak Nur, Omi Komaria Madjid, mengatakan, pihak keluarga
menyambut baik dan menghargai kedatangan Kapolri. Dalam pembicaraan antara
Kapolri dan pihak keluarga telah terjadi saling pengertian. Keluarga dapat
menerima penjelasan dan permintaan Kapolri. "Masalah dianggap telah
selesai," katanya. Omi juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih
kepada semua pihak yang turut menyampaikan simpati dan memberikan dukungan.
Penasihat Ahli Kapolri, Profesor Bachtiar Aly, mengakui perihal permintaan maaf
Kapolri secara langsung kepada pihak keluarga Cak Nur. Bachtiar yang ikut
mendampingi Kapolri saat menemui keluarga Cak Nur, menyatakan, permintaan maaf
Kapolri itu adalah dalam kapasitasnya baik sebagai pribadi maupun sebagai
seorang Kepala Kepolisian Republik Indonesia.
Jakarta – tvOne. Kepala Polri
Jenderal Bambang Hendarso Danuri meminta maaf kepada keluarga Cak Nur,
panggilan akrab dari almarhum Nurcholish Madjid, atas pernyataan Kapolri dalam
rapat dengan Komisi III DPR, 5 November 2009.
"Kapolri sudah menyatakan permintaan maaf atas kesalahan pengaitan keluarga
Nurcholish Madjid dengan masalah yang sedang ditangani dan
ketidaknyamanan yang timbul akibat pernyataan tersebut," kata anggota
Dewan Ahli Nurcholish Madjid Society (NMS) Yudi Latif di Jakarta, Minggu.
Yudi memaparkan, permintaan maaf itu disampaikan secara langsung oleh Kapolri
yang berkunjung ke kediaman keluarga Nurcholish Madjid di daerah Tanah Kusir,
Jakarta Selatan, Jumat (20/11) malam.
Selain meminta maaf, Kapolri juga menekankan bahwa pihaknya sama sekali tidak
bermaksud untuk menyinggung martabat dan kehormatan Cak Nur dan seluruh
keluarga besarnya. "Pada kesempatan tersebut, Kapolri juga menyatakan rasa
hormat dan kekagumannya terhadap pribadi dan perjuangan Cak Nur," katanya.
Yudi juga menegaskan, dengan demikian persoalan pernyataan Kapolri terkait
keluarga Cak Nur telah selesai tetapi khusus menyangkut pemberantasan korupsi,
sebagaimana komitmen Nurcholish Madjid, harus terus ditegakkan tanpa pandang
bulu.
Sementara itu, istri Cak Nur, Omi Komaria Madjid mengatakan, pihak keluarga
menyambut baik dan menghargai kedatangan Kapolri.
Omi memaparkan, dalam pembicaraan antara Kapolri dan pihak keluarga Cak Nur
tersebut telah terjadi saling pengertian, serta keluarga dapat menerima
penjelasan Kapolri dan menerima permintaan maafnya. "Masalah dianggap
telah selesai," katanya.
Ia juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang turut
menyampaikan simpati dan memberikan dukungan.
Penasehat Ahli Kapolri Prof Bachtiar Aly mengatakan, perihal permintaan maaf
Kapolri secara langsung kepada pihak keluarga Nurcholish Madjid adalah benar
apa adanya. "Saya ikut mendampingi Kapolri saat menyampaikan permintaan
maaf," katanya.
Bachtiar menyatakan, permintaan maaf Kapolri itu adalah dalam kapasitasnya baik
sebagai pribadi maupun sebagai seorang Kepala Kepolisian Republik Indonesia.
(Ant)
JAKARTA - SuaraMedia News. Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri meminta maaf
atas kesalahan pengaitan keluarga (Alm) Nurcholis Madjid dengan kasus Chandra M
Hamzah, pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi nonaktif.
Kapolri minta maaf secara langsung kepada keluarga Nurcholis Madjid atau akrab
disapa Cak Nur, yang diwakili oleh istri almarhum, Omi Komaria Madjid, pada
Jumat, 20 November 2009.
Kapolri ditemani Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi
Nanan Soekarna, Penasehat Ahli Kapolri Bachtiar Aly dan Sespri Kapolri
berkunjung ke kediaman keluarga Cak Nur di Jalan Johari, Tanah Kusir, Jakarta
Selatan.
"Kapolri menekankan bahwa sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung
martabat dan kehormatan Cak Nur dan seluruh keluarga besarnya," ujar Omi
Komaria kepada wartawan di Pondok Indah Plaza, Minggu (22/11/2009).
Pada kesempatan itu, sambungnya, Kapolri juga menyatakan rasa hormat dan
kekagumannya terhadap pribadi dan perjuangan Cak Nur.
Sementara itu, Tim Pembela Cak Nur, panggilan akrab cendekiawan muslim
terkemuka nasional almarhum Nurcholis Madjid, menuntut Kapolri Bambang Hendarso
Danuri meminta maaf dan memulihkan nama baik Cak Nur, namun jika tak
memenuhinya mereka akan menyampaikan mosi tidak percaya kepada Kapolri.
"Apabila Kapolri tidak mempunyai itikad baik, tim akan segera menyampaikan
mosi tidak percaya terhadap profesionalitas dan integritas Kapolri, kata Tim
Pembela Cak Nur, dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat.
Tim Pembela Cak Nur menyatakan, Kapolri telah lepas tanggungjawab terhadap
pernyataan dan penyebutan inisial N (diduga Nurcholis) yang dikaitkan dengan
tidak dilanjutkannya pengusutan kasus dugaan suap PT Masaro oleh Wakil Ketua
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra Marta Hamzah.
Menurut tim, pernyataan Kapolri tersebut telah menyerang kehormatan dan
martabat keluarga besar Cak Nur karena kasus itu tidak ada kaitannya dengan Cak
Nur dan keluarganya.
Tim mendesak Kapolri segera meminta maaf secara terbuka kepada keluarga besar
Nurkholis Madjid, serta segera membersihkan dan memulihkan nama besar Nurcholis
yang dinilai Tim Pembela tidak ada hubungannya dengan perkara yang menjerat dua
pimpinan KPK nonaktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.
Mereka mempermasalahkan pernyataan Kapolri dalam rapat dengan Komisi III DPR
pada 5 November 2009 yang menyebut sangkaan korupsi terhadap seseorang
berinisial MK (diduga MS Kaban) sebagai pihak yang menerima dana suap sebesar
Rp17,6 miliar terkait dengan kasus Bibit-Chandra, ditangguhkan KPK karena ada utang
budi dari Chandra kepada MK karena MK memfasilitasi pernikahan Chandra dengan
Nadia.
Kapolri menyebutkan Nadia adalah putri seorang tokoh berinisial N, yang hampir
dapat dipastikan adalah Nucholish Madjid.
Chandra Hamzah memang pernah menikah dengan Nadia Madjid pada 1994, tetapi
telah bercerai pada 2001.
Oleh karena itu, ketika kasus korupsi tersebut bergulir pada 2008, Chandra
sudah tidak memiliki pertalian keluarga lagi dengan keluarga Cak Nur, meski
dinilai masih tetap menjaga hubungan baik.
Kolega dan rekan akrab Cak Nur, Soenanto mengemukakan, dalam pergaulan Cak Nur
sampai akhir hayatnya tidak pernah dekat dan mengenal MS Kaban secara pribadi.
Selain itu, lanjut Soenanto, Kaban tidak pernah diundang dalam pernikahan
Nadia-Chandra, apalagi menjadi wali atau saksi nikah mereka.
Menanggapi tuntutan ini, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri sudah
menyatakan siap menghadapi somasi yang diajukan keluarga Cak Nur.
"Kalau ada somasi silakan, kami akan mempertanggungjawabkan. Kami (akan)
memberikan penjelasan," kata Kapolri dalam Rapat Kerja antara Polri,
Kejagung, dan KPK dengan Komisi III DPR RI, di Jakarta.
Jakarta
- Metrotvnews.com.Kepala
Polri Jenderal polisi Bambang Hendarso Danuri meminta maaf kepada keluarga
Nurcholish Madjid atas pernyataan Kapolri dalam rapat dengan Komisi III DPR, 5
November 2009. Waktu
itu Kapolri mengait-ngaitkan nama Cak Nur--sapaan Nurcholish Madjid--dengan
masalah yang tengah ditangani Polri.
Anggota Dewan Ahli Nurcholish Madjid Society (NMS) Yudi Latif di Jakarta, Ahad
(22/11), mengatakan permintaan maaf itu disampaikan langsung oleh Kapolri yang
berkunjung ke kediaman keluarga Nurcholish Madjid di daerah Tanah Kusir,
Jakarta Selatan, Jumat malam.
Selain meminta maaf, tambah Yudi, Kapolri juga menekankan pihaknya sama sekali
tak bermaksud menyinggung martabat dan kehormatan Cak Nur dan seluruh keluarga
besarnya. "Kapolri menyatakan rasa hormat dan kekaguman terhadap pribadi
dan perjuangan Cak Nur," ujar Yudi.
Yudi menegaskan, permintaan maaf Kapolri telah menggugurkan persoalan. Tak ada
lagi masalah antara Kapolri dan keluarga Cak Nur. Tapi menyangkut pemberantasan
korupsi, sebagaimana komitmen Cak Nur, tetap harus ditegakkan tanpa pandang
bulu.(Ant/ICH)
JAKARTA – okezone.com. Kepala
Kepolisian RI Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri meminta maaf atas
kesalahan pengaitan keluarga (Alm) Nurcholis Madjid dengan kasus Chandra M
Hamzah, pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi nonaktif.
Kapolri minta maaf
secara langsung kepada keluarga Nurcholis Madjid atau akrab disapa Cak Nur,
yang diwakili oleh istri almarhum, Omi Komaria Madjid, pada Jumat, 20 November
2009.
Kapolri ditemani Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi
Nanan Soekarna, Penasehat Ahli Kapolri Bachtiar Aly dan Sespri Kapolri
berkunjung ke kediaman keluarga Cak Nur di Jalan Johari, Tanah Kusir, Jakarta
Selatan.
"Kapolri menekankan bahwa sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung
martabat dan kehormatan Cak Nur dan seluruh keluarga besarnya," ujar Omi
Komaria kepada wartawan di Pondok Indah Plaza, Minggu (22/11/2009).
Pada kesempatan itu, sambungnya, Kapolri juga menyatakan rasa hormat dan
kekagumannya terhadap pribadi dan perjuangan Cak Nur. (lsi)
Jakarta - CyberNews. Kepala Polri Jenderal Bambang
Hendarso Danuri meminta maaf kepada keluarga Cak Nur, panggilan akrab dari
almarhum Nurcholish Madjid, atas pernyataan Kapolri dalam rapat dengan Komisi
III DPR, 5 November 2009.
"Kapolri sudah menyatakan
permintaan maaf atas kesalahan pengaitan keluarga Nurcholish Madjid dengan
masalah yang sedang ditangani dan ketidaknyamanan yang timbul akibat pernyataan
tersebut," kata anggota Dewan Ahli Nurcholish Madjid Society (NMS) Yudi
Latif di Jakarta, Minggu (22/11).
Yudi memaparkan, permintaan
maaf itu disampaikan secara langsung oleh Kapolri yang berkunjung ke kediaman
keluarga Nurcholish Madjid di daerah Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Jumat
(20/11) malam.
Selain meminta maaf, Kapolri
juga menekankan bahwa pihaknya sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung
martabat dan kehormatan Cak Nur dan seluruh keluarga besarnya. "Pada
kesempatan tersebut, Kapolri juga menyatakan rasa hormat dan kekagumannya
terhadap pribadi dan perjuangan Cak Nur," katanya.
Yudi juga menegaskan, dengan
demikian persoalan pernyataan Kapolri terkait keluarga Cak Nur telah selesai
tetapi khusus menyangkut pemberantasan korupsi, sebagaimana komitmen Nurcholish
Madjid, harus terus ditegakkan tanpa pandang bulu.
Sementara itu, istri Cak Nur,
Omi Komaria Madjid mengatakan, pihak keluarga menyambut baik dan menghargai
kedatangan Kapolri. Omi memaparkan, dalam pembicaraan antara Kapolri dan pihak
keluarga Cak Nur tersebut telah terjadi saling pengertian, serta keluarga dapat
menerima penjelasan Kapolri dan menerima permintaan maafnya. "Masalah
dianggap telah selesai," katanya.
Ia juga menyampaikan
penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang turut menyampaikan simpati
dan memberikan dukungan.
Penasehat Ahli Kapolri Prof
Bachtiar Aly mengatakan, perihal permintaan maaf Kapolri secara langsung kepada
pihak keluarga Nurcholish Madjid adalah benar apa adanya. "Saya ikut
mendampingi Kapolri saat menyampaikan permintaan maaf," katanya.
Bachtiar menyatakan, permintaan
maaf Kapolri itu adalah dalam kapasitasnya baik sebagai pribadi maupun sebagai
seorang Kepala Kepolisian Republik Indonesia.( Ant / CN13 )
KAPOLRI MINTA MAAF Senin,
23 Nopember 2009 | 12:04 WIB
JAKARTA – Surabayapost. Kapolri Jenderal Bambang Hendrarso Danusi minta maaf kepada keluarga
Nurcholish Madjid karena telah mengaitkan nama almarhum dengan kasus pimpinan
KPK nonaktif Chandra M Hamzah.
Kapolri datang sendiri ke rumah keluarga almarhum dan
bertemu istri Cak Nur di Tanah Kusir, Jaksel, Jumat (20/11) malam. .
“Kapolri
berkali-kali mengucapkan permintaan maaf, bahwa pernyataannya tersebut tidak
bermaksud menyinggung kehormatan Cak Nur dan keluarga besarnya,” cerita istri
Cak Nur, Omi Komaria.
Ketika diberitahu
bahwa Kapolri hendak datang menemuinya, Omi sempat gemetar juga.
"Tapi setelah
ketemu, Kapolri mengucapkan kata maaf dengan kepala tertunduk. Saya berpikir
ini orang seperti bukan polisi," kata Omi Komaria kepada wartawan di
Yayasan Paramadina, Pondok Indah, Jakarta, Minggu (22 /11) didampingi Yudi
Latief dan penasihat Kapolri, Prof Dr Bachtiar Aly,
Kapolri datang
didampingi Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna dan
Bachtiar Aly. Kapolri mejelaskan tentang pernyataan yang menyangkut keluarga
Nurcholish Madjid dan ketidaknyamanan yang timbul akibat peryataan itu.
"Saya ingat
ajaran Cak Nur, sebaik baiknya orang yang disakiti adalah memaafkan. Kami
terima permintaan maaf kapolri," ucapnya. wid
Nurcholish Madjid Society
(NCMS) dan Yayasan Kertagama mengundang bapak/ibu/saudara/i untuk menghadiri
Kajian Komunitas TITIK TEMU dengan tema:
“Islam
dan Kebudayaan Jawa:
Sejarah
Akulturasi dan Sejarah Nilai”
Bersama:
Prof. Dr. Abdul Hadi WM
(Budayawan dan Penyair)
Martin Moentadhim Sri
Marthawienata
(Pemerhati Budaya Jawa)
Moderator:
Yudi Latif, Ph.D
Kajian akan diselenggarakan
pada:
Hari&Tanggal: Jumat, 20
Nopember 2009
Waktu: Pukul 14.00 s.d 17.30
WIB
Tempat: Graha STR Lt. 3
Jl. Ampera Raya No. 11,
Kemang, Jakarta
Selatan
NB:
Tempat terbatas hanya untuk 60 orang
RSPV:
Rozi (081316314386)
Keterangan
Lokasi Acara:
-Dari Pasar Jumat naik Kopaja P 20, turun di
lampu merah Cilandak, lalu naik Kopaja 19 atau 605 arah Ampera (kira-kira 200
meter dari sana) lalu turun di lokasi: Graha STR (posisi di sebelah kanan
jalan/persis sebelum gedung Medco).
-Dari Blok M naik Kopaja 605 atau 63, turun di
lokasi: Graha STR (posisi di sebelah kiri jalan/persis setelah gedung Medco).
-Dari terminal Kp. Rambutan naik Koantas Bima
509, turun di Cilandak, lalu naik Kopaja 19 arah Ampera turun di lokasi: Graha
STR (posisi di sebelah kanan jalan/persis sebelum gedung Medco).
-Dari Depok naik Kopaja 63 turun di lokasi:
Graha STR (posisi di sebelah kanan jalan/persis sebelum gedung Medco).
____________ _________ _________ _________ __ Kepada YTH MILIST ISLAT Di TEMPAT
Ass
Lebih dari 1250 kasus sejak pendudukan Qods tahun 1967 Haram Syarief Masjidil Aqsa dinodai, kesuciannya diinjak injak rezim apartheid zionist israel, setelah berminggu minggu upaya aneksasi serdadu zionis dan yahudi fanatik akhirnya al aqsa ditutup,,,Tunjukkan solidaritas kita :
1.Tabligh Akbar, Jumat 30 Okt 09 pkl 13.00-15.00 di Halaman Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru
2.Rally Campaign, Sabtu, 31 Okt 09 14.00-16.00 Monas, Jl. Merdeka Selatan, depan kedutaan USA
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !
From: "maulachela" <maulachela@yahoo. com>
Date: Thu, 29 Oct 2009 03:35:16 -0000
To: <islam_alternatif@ yahoogroups. com>
Subject: [islamalternatif] Re: Apa Pendapat Anda Soal Syahadah Ketiga dalam Azan
Salam,
Sejauh yang saya fahami dari postingnya, Bung Arief menyatakan bahwa perintah Aimmah as bisa dianggap gugur bila ternyata perintah tersebut tidak ditemukan secara dhahir dalam riwayat Nabi saw.
Menurut saya, kesimpulan tersebut agak terburu-buru. Bila diasumsikan benar bahwa memang tidak ditemukan riwayat Nabi saw sekaitan dengan syahadat ketiga, maka belum tentu praktik ini tidak diperbolehkan oleh Nabi saw. Karena, boleh jadi riwayat beliau sebenarnya ada, namun tidak masuk ke dalam kitab-kitab hadis, entah karena apa.
Bahkan, bila ditinjau dari metodologi periwayatan hadis, sahabat bisa menjadi sanad awal, tidak harus Rasulullah saw langsung. Nah, kalau sahabat saja bisa, apalagi keluarga dekat beliau saw. Tentu mereka lebih mengetahui perihal Rasulullah saw ketimbang para sahabat. Hal ini ditegaskan sendiri dalam riwayat Sunni bahwa tidak semua ilmu Rasulullah saw diberikan kepada para sahabatnya, karena beliau mengetahui bahwa tidak semua sahabat beliau mampu menampungnya. Hanya satu yang bisa, yaitu Ali bin Abi Thalib. Berikut salah satu riwayatnya:
Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan: Suatu hari Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Thalib untuk berbicara berdua. Ketika ia (Ali) kembali, kami pun bertanya kepadanya, "Ketetapan apa yang beliau buat untukmu?" Ia menjawab, "Beliau membukakan kepadaku seribu pintu ilmu, dan dari masing-masing pintu itu beliau bukakan seribu pintu ilmu lainnya." [Lihat: Muttaqi al-Hindi, "Kanzul Ummal", jil. 6, hal. 392; Ibn Asakir, "Tarikh Damsyiq", jil. 2, hal, 483; dan lain-lain]
Atau riwayat lain, yang sudah sedemikian masyhur, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Aku adalah kota ilmu, dan Ali pintunya." Saya rasa referensinya tidak perlu saya kutipkan, karena terlalu masyhurnya hadis ini.
Dengan demikian, sekaitan dengan syahadat ketiga tersebut, pembolehan Aimmah as justru menjelaskan bahwa praktik ini diperbolehkan oleh Rasulullah saw. Kecuali, bila ada pernyataan jelas dari Rasulullah saw bahwa praktik syahadat ketiga itu dilarang, seperti pada kasus tarawih Umar misalnya.
Wallahu A'lam.
Wassalam,
Muh. Anis
--- In islam_alternatif@ yahoogroups. com, Khairun Arief <husein_irun@ ...> wrote:
>
> "Oleh karena itu, Syiah memandang bahwa segala bentuk bid'ahâ€"dalam
> pengertian sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasullulah
> sawâ€"adalah haram dan sesat. Ini yang disebut bid'ah dalam pengertian
> syariat."
>
> Itulah problemnya, saya belum pernah menemukan didalam riwayat yang merujuk langsung kepada Rasulullah SAWW, bahwa beliau memerintahkan azan ketiga didalam shalatnya. Mungkin pembolehan dapat kita temukan didalam riwayat yang menggambarkan bahwa para a'immah memperbolehkan adanya azan ketiga didalam shalat (Sebagaimana dikemukakan Bung Anis sebelumnya). .Namun, sebagaimana metodologi yang saya percayai, hal tersebut tampaknya malah tidak masuk akal bila kita memulai dengan asumsi: " Bagaimana mungkin para a'immah yang suci akan merekomendasikan tindakan-tindakan yang menyalahi sunnah rasul??" Dengan kata lain, menurut saya, riwayat-riwayat tersebut bukan saja tidak logis bahkan sudah seharusnya ditolak dari segi matan..
>
> Mengenai asumsi bahwa :Hal tersebut memang tidak bid'ah, namun tidak disyariatkan sehingga dapat dianggap "bermasalah" karena tidak dicontohkan Nabi sebagaimana dikatakan Bung Ejajufri, hal tersebut membuat masalah jadi semakin rumit. Karena, pendefinisian azan dengan cara seperti itu, justru bertentangan dengan asumsi tentang "Bid'ah" itu sebagai "...sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasullulah
> saww" toh? Lagipula, kenapa pula kita harus malu-malu seperti itu dengan mengatakan:" tidak menjadi bid'ah karena memang tidak di syariatkan (tapi
> "bermasalah" [atau dimasalahkan] karena tidak dipraktikkan oleh Nabi
> atau pada zaman Nabi?)
>
> Jika memang tidak ada, ya seharusnya kita katakan saja bahwa ia tidak ada dizaman nabi kenapa harus malu-malu? Ada sebuah asumsi lain yang mengatakan bahwa Azan ketiga tidak disyariatkan namun diperbolehkan karena berwilayah adalah sebuah perintah "umum". Dengan demikian, kita memperbolehkannya dengan asumsi kewajiban secara "Umum".. Asumsi ini menurut saya juga kontradiktif. .Begitu banyak perintah-perintah lain yang diwajibkan, mungkinkah kita harus menambahkan juga didalam ritus dan ibadah kita?
>
> Allah yang paling tahu kebenaran mutlak..
>
--- Pada Kam, 29/10/09, Mohammad Subhi <mohammad.subhi@...> menulis:
Dari: Mohammad Subhi <mohammad.subhi@...> Judul: Undangan Diskusi-Islam di Indonesia dalam Pandangan Dunia Internasional Kepada: "milis" <milis@...> Cc: "tsanisubhie" <tsanisubhie@...> Tanggal: Kamis, 29 Oktober, 2009, 10:57 AM
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina
Mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i dalam DISKUSI SERIAL KAJIAN AGAMA, POLITIK, DAN
BUDAYA
Tema: "Islam di Indonesia dalam Pandangan Dunia Internasional"
Pembicara: 1) Very Aziz, M.Si Direktur Kemahasiswaan Universitas Paramadina 2) Lukman Hakim, M.Ag. Deputi Direktur PSIK
Moderator: Farid Ridwanullah (Peneliti PSIK)
Hari/Tanggal : Jumat, 30 Oktober 2009 Waktu : Pukul 14.00 – 16.00 wib Tempat : Rg. Granada, Universitas Paramadina, Jl.Gatot subroto, kav. 97 Mampang, Jakarta Selatan
Salam Hangat, M. Subhi-Ibrahim Direktur Eksekutif PSIK
This e-mail, and any file transmitted with it, is confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom it is addressed. If you have received this email in error, please contact the sender and delete the email from your system. If you are not the named addressee you should not disseminate, distribute or copy this email.
Email ini, dan berkas yang dilampirkan bersamanya, adalah rahasia dan hanya dikirim kepada orang-orang atau entitas yang dituju
oleh si pengirim email ini. Bila anda menerima email ini karena suatu galat, mohon segera hubungi pengirimnya dan hapus email ini dari sistem anda. Bila anda bukan termasuk orang yang dituju oleh si Pengirim email ini, anda tidak diperkenankan untuk menyebarluaskan, meneruskan atau menyalin isi dari email ini.
--- Pada Rab, 28/10/09, Mohammad Subhi <mohammad.subhi@...> menulis:
Dari: Mohammad Subhi <mohammad.subhi@...> Judul: PSIK-UNDANGAN BEDAH BUKU GUS DUR DAN ILMU SOSIAL TRANSFORMATIF Kepada: "milis" <milis@...> Cc: "tsanisubhie" <tsanisubhie@...> Tanggal: Rabu, 28 Oktober, 2009, 10:04 AM
PUSAT STUDI ISLAM DAN KENEGARAAN (PSIK) UNIVERSITAS PARAMADINA
Mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk berpartisipasi dalam
Diskusi dan Bedah Buku "GUS DUR DAN ILMU SOSIAL TRANSFORMATIF" karya Syaiful Arif
Pembicara: Donny Gahral Adian (Ketua Jurusan Filsafat UI) Ihsan Ali Fauzi (Direktur Program Yayasan Paramadina) M. Subhi-Ibrahim (Direktur Eksekutif PSIK) Syaiful Arif (Penulis Buku)
Moderator: Dida Darul Ulum (Peneliti PSIK)
Waktu: Kamis, 29 Oktober 2009 pukul 15.30-18.00 Tempat: Rg. Granada, Universitas Paramadina, Jl. Gatot Subroto kav.97, Mampang, Jakarta Selatan
This e-mail, and any file transmitted with it, is confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom it is addressed. If you have received this email in error, please contact the sender and delete the email from your system. If you are not the named addressee you should not disseminate, distribute or copy this email.
Email ini, dan berkas yang dilampirkan bersamanya, adalah rahasia dan hanya dikirim kepada orang-orang atau entitas yang dituju oleh si pengirim email ini. Bila anda menerima email ini
karena suatu galat, mohon segera hubungi pengirimnya dan hapus email ini dari sistem anda. Bila anda bukan termasuk orang yang dituju oleh si Pengirim email ini, anda tidak diperkenankan untuk menyebarluaskan, meneruskan atau menyalin isi dari email ini.
Diskusi Buku Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif: Karya Syaiful Arif
Tanggal:
29 Oktober 2009
Waktu:
15:30 - 18:30
Tempat:
Ruang Granada Universitas Paramadina, Jakarta
Nama Jalan:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Kota/Daerah:
Jakarta, Indonesia
Judul: Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif: Sebuah Biografi Intelektual Penulis : Syaiful Arif Penerbit : Koekoesan, Jakarta
Cetakan : I, 2009 Tebal : 330 Halaman
Sosok
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mungkin telah mengalami defisit politik.
Setidaknya hal itu bisa dilihat dari berbagai kekalahan strukturalnya,
sejak kegagalan pencalonan presiden pada Pemilu 2004, hingga
terlepasnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari otoritasnya, pada
Pemilu 2009 ini. Gus Dur seakan hilang dari peta politik nasional, dan
kiprahnya tinggal sejarah yang diperingati.
Namun, membincang
sosok yang sering terdaulat sebagai guru bangsa ini, tak sesempit
politik praktis. Senyatanya, kebesaran cucu Hadratus Syekh KH Hasyim
Asy’ari ini tetap terasakan, dengan bukti seabrek tanya kritis dan
harapan yang tetap tertumpu padanya, dalam konteks pencarian Indonesia
alternatif. Hal ini beralasan sebab perjuangan Gus Dur di negeri ini
tidak sebatas PKB. Perjuangannya, telah menjulur lama sejak negeri ini
terhegemoni negara Leviathan Orde Baru.
Buku karya Syaiful
Arif, santri Pesantren Ciganjur asuhan bertajuk Gus Dur dan Ilmu Sosial
Transformatif:Sebuah Biografi Intelektual, yang membuktikan hal ini.
Buku tersebut bahkan mengcover Gus Dur tidak sebagai politisi,
melainkan pemikir sosial yang mampu menggerakkan diskursus ilmu sosial
transformatif. Jadi tesis utamanya adalah, jika pada era Orde Baru,
Koentowijoyo memiliki ilmu sosial profetik, Cak Nur memiliki
pembaharuan pemikiran Islam, Moeslim Abdurrahman memiliki Islam
transformatif, dan Amien Rais dengan tauhid sosial, maka Gus Dur
sebagai pemikir muslim telah menggerakkan ilmu sosial transformatif.
Hal
ini merupakan penemuan baru dalam jagad penulisan pemikiran Gus Dur,
karena buku ini berhasil menggali akar intelektualitas penulis Jurnal
Prisma ini, bahkan sebelum beliau menjabat Ketum PBNU. Apa yang digagas
Arif adalah satu tesa bahwa Gus Dur merupakan pioneer bagi diskursus
teologi pembebasan yang pada dekade 1970 sedang menggeliat di Dunia
Ketiga, guna mengimbangi hegemoni pembangunanisme. Tak ayal Gus Durpun
terposisi berseberangan dengan ideologi negara tersebut, dan dengan
cantik mampu mengolah keilmuan klasik Islam, sehingga membentuk suatu
teori Islam transformatif yang bertujuan untuk perubahan sosial-politik.
Penulisan
pemikiran dan praksis Gus Dur, sejak 1970 hingga 1990 ini terasa mampu
menyajikan ulasan komprehensif atas intelektualisme Gus Dur. Kenapa?
Karena yang dikaji bukan cabang pemikiran seperti Islam dan demokrasi
misalnya, melainkan struktur politik (baik negara maupun kuasa
pengetahuan) yang melatari pemikiran Gus Dur, dan bagaimana Gus Dur
menanggapi latar politik tersebut. Hasilnya, kita bisa menemukan
keutuhan; berpijak dari apa, struktur pemikirannya apa saja dan
bagaimana, serta untuk membela apa, suatu pemikiran Gus Dur, terlontar.
Bagi
publik politik, buku ini bermanfaat karena memberikan peta ulang
ideologi di Indonesia, yakni developmentalisme Orde Baru, dan bagaimana
Gus Dur menghadapi ideologi tersebut, berbasis kekayaan pemikiran Islam
tradisional. Peta ulang ini penting, karena saat ini kita tengah
mengalami pembuyaran ideologi, sehingga arah politik kita tiada jelas.
Bagi kalangan intelektual, buku ini menyajikan ulasan ilmu sosial versi
NU. Satu hal yang masih langka, karena di negeri ini, kalangan
nahdliyin terlihat minim pergulatan dalam hal tersebut. Ilmu sosial NU
mampu mengisi “celah lubang” bagi kekeringan ilmu sosial kita yang tak
mampu berangkat dari tradisionalitas Islam Indonesia. Dalam buku ini,
Arif berusaha menemukan mekanisme epistemik, bagaimana logika NU
menggerakkan ilmu sosial untuk mengimbangi ilmu sosial negara Orde Baru.
Bagi
kalangan NU, buku ini penting sebab NU sekarang –meminjam Arif- telah
kehilangan Gus Dur sebagai supra-intelektual. Dengan kehilangan
tersebut, NU tak mampu lagi mengelaborasi kekuatan kreatifnya guna
menahbiskan diri sebagai oposisi kultural terbesar, vis a vis negara.
NU pasca Gus Dur adalah NU politis, yang tak lagi diperhitungkan dalam
carut politik nasional. Hal ini terjadi sebab NU tiada lagi memijakkan
diri pada pemikiran, padahal pemikiranlah yang menjadi potensi terbesar
bagi kaum sarungan ini. Melalui buku ini, warga nahdliyin bisa
melakukan muhasabah, bagaimana NU melakukan peran idealnya bagi
perjuangan masyarakat sipil, yang teramanatkan oleh Khittah 26.
PUSAT STUDI ISLAM DAN KENEGARAAN UNIVERSITAS PARAMADINA
UNDANGAN DISKUSI & BEDAH BUKU
” Diskusi Buku Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif ”
Karya Syaiful Arif
Pembicara: 1) Dony Gahral Ardian, M.Hum Ketua Jurusan Filsafat Fakultasn Ilmu Budaya Universitas Indonesia 2) Ihsan Ali Fauzi, M.A. Direktur Program Yayasan Universitas Paramadina
3) M. Subhi Ibrahim, M.Hum Direktur Eksekutif PSIK Universitas Paramadina 4) Syaiful Arif Penulis Buku Buku Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif
Tugas terberat seorang
presiden," ujar Lyndon B Johnson, "bukanlah mengerjakan apa yang
benar, melainkan mengetahui apa yang benar." Untuk mengetahui apa yang
benar, seorang presiden harus menemukan panduan dari norma-norma fundamental.
Bahwa praktik demokrasi harus disesuaikan dengan mandat konstitusi, karena
pengertian "demokrasi konstitusional" tak lain adalah demokrasi yang
tujuan ideologis dan teleologisnya adalah pembentukan dan pemenuhan konstitusi.
"Sebagai
presiden," seru Abraham Lincoln, "aku tak punya mata kecuali mata
konstitusi." Dengan mata konstitusi, presiden bisa mengetahui apa yang
benar. Bahwa di mata Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, menteri bukanlah pegawai
tinggi biasa; karena menteri-menterilah yang terutama menjalankan kekuasaan
pemerintah (pouvoir executif). Dan menurut pokok pikiran keempat dalam
Pembukaan UUD 1945 ("Ketuhanan yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab"), sebagai penyelenggara negara, menteri-menteri
wajib memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh
cita-cita moral rakyat yang luhur.
Atas
dasar itu, uji kepatutan atas calon menteri tidaklah seperti memilih para
pencari kerja dalam dunia usaha. Motif utama para pencari kerja adalah hidup dari
pekerjaannya. Adapun menjadi menteri, motif utamanya bukanlah "hidup dari
negara", melainkan "hidup untuk negara". Para
menteri harus bekerja atas dasar "panggilan", bukan atas pengajuan
lamaran demi penghasilan dan kenyamanan--atau, yang lebih buruk lagi, demi
perampokan sumber daya negara bagi kepartaian.
Profesionalisme
memang diperlukan, tetapi bukanlah jaminan untuk menjadi menteri yang benar.
Seperti disinyalir Clement Attlee, mantan Perdana Menteri Inggris, "Sering
kali para ahli menjadi menteri terburuk dalam bidangnya sendiri." Untuk
menjadi menteri yang benar, seorang profesional harus bisa memelihara jiwa
amatirisme. Jiwa yang tidak bekerja semata demi uang, tetapi karena panggilan
patriotisme; jiwa yang tidak terbelenggu batas-batas teknis, melainkan mampu
meletakkan keterampilan teknis dan kebijakan sektoralnya dalam kerangka
"kebenaran besar", dalam semesta pembangunan nasional yang saling
terkait, yang secara integral mengarah pada pemenuhan keadilan dan
kesejahteraan umum.
Dengan
mata konstitusi, presiden dan para menterinya juga mengemban tugas untuk
melindungi dan meliputi bangsa seluruhnya, yang mampu mengatasi kepentingan
golongan dan perseorangan. Betapapun mereka tampil karena dukungan partai atau
kelompok tertentu, sekali mereka terpilih anasir-anasir partikularistik harus
dikesampingkan demi kemaslahatan bersama. Untuk mengetahui apa yang benar,
presiden dan menterinya harus bisa mentransendensikan diri dari kepentingannya
dengan memperkuat empati terhadap suara kaum minoritas-marjinal serta jeritan
rakyat miskin yang terempas dan terputus.
Pada
akhirnya, untuk mengetahui apa yang benar, presiden dan menteri-menterinya
harus terbuka bagi suara-suara alternatif di seberang pemerintah. Kebenaran
tidak selamanya terungkap dalam kekuasaan yang cenderung korup. Demi kebaikan
pemerintah sendiri, perlu ada kelapangan jiwa untuk menerima kehadiran oposisi.
Mandat
reformasi menghendaki peran parlemen yang kuat, tidak lagi sekadar stempel
pemerintah sebagaimana sebelumnya. Parlemen diharapkan mampu mengembangkan checksandbalances yang dapat mengatasi kemungkinan persekongkolan
destruktif antara legislatif dan eksekutif yang dapat mengarah pada apa yang
disebut Bung Hatta sebagai "negara kekuasaan", "negara
penindas".
Dalam memenuhi
tuntutan tersebut, parlemen diberikan fungsi pengawasan terhadap pemerintah.
Fungsi ini hanya bisa berjalan efektif sejauh ada kekuatan alternatif di luar
partai-partai penyokong pemerintah. Peran kekuatan alternatif ini sangat vital
sebagai corong untuk menyuarakan aspirasi publik maupun sebagai peniup peluit
peringatan agar publik waspada akan adanya hal-hal yang tak beres dalam
kebijakan pemerintah.
Dengan
demikian, betapapun kecilnya suara alternatif ini, akan segera bersambung
dengan suara publik di luar gedung parlemen, yang bisa mencegah pemerintah dari
hal-hal yang tidak terpuji.
Tugas
terberat presiden untuk mengetahui mana yang benar itu makin penting disadari
karena lima tahun mendatang
merupakan periode pembuktian bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di tengah
keraguan dan ketidakpastian. Reputasi Yudhoyono sebagai jago pencitraan tak
diragukan, tetapi kualitas kinerjanya masih perlu dibuktikan.
Citra
tanpa bukti kinerja akan melahirkan kekecewaan dan apatisme. Padahal, seperti
kata Robert Maynard Hutchins, "Kematian demokrasi bukanlah karena tikaman
oleh penyerangan, melainkan suatu kepunahan secara perlahan oleh apati,
ketidakhirauan, dan kekuranggizian."
Demokrasi
memang merupakan pemerintahan dengan perdebatan, tetapi hanya akan mencapai
efektivitasnya bilamana pemerintah mampu menyurutkan suara rakyat karena
kepuasan mereka terhadap kinerja pemerintah.
Maka
dari itu, seperti nasihat publik Amerika Serikat kepada Jimmy Carter,
"Kurangi bicara dan kembalilah ke meja kerja!
The complex
pathways between global secularization and religious revival.
The Context of Indonesian Islam
PSIK - PARAMADINA-IRASEC
Workshop
With the support
of the French Embassy
Thursday,
October 22sd 2009
Recent
developments concerning the place of Islam in Indonesian society may seem
paradoxical. The Muslim religion is undeniably more visible in public life
since a few years: national and regional authorities are increasingly adopting
laws and decrees presented as being in compliance with Islamic law or morality.
In the economic world, banks and companies step up efforts to bring both
products and management in line with Islamic guidelines. Yet at the same time,
Indonesian political Islam is declining. Muslim parties have lost almost a
quarter of their electorate in the 2009 general elections. The radical
transformation projects conducted in the name of Islam (MMI, FPI, the Khalifah movement) now appear to have
lost some ground.
By comparing the Indonesian
situation with other countries, this workshop explores
this apparent paradox and tries to answer the following questions:
Do these Indonesian
developments reflect a religious revival that would bring the country further
away from the secularization process which has characterized Western modernity?
Or rather should we consider this "re-enchantment of the Archipelago"
as a “cultural” way to accommodate a wide adherence to a universal model of
society introduced by globalization? On a more general
perspective, recent trends show that Islam throughout the world tends to be
more and more open to the outside world, to the influence of globalization. The
workshop will also try to review on how this tendency for openness results in
new ways to apprehend secularization and religion.
--- Pada Kam, 15/10/09, Mohammad Subhi <mohammad.subhi@...> menulis:
Dari: Mohammad Subhi <mohammad.subhi@...> Judul: undang diskusi PSIK- pemikiran politik Sunni dan Syiah Kepada: "milis" <milis@...>, tsanisubhie@... Tanggal: Kamis, 15 Oktober, 2009, 3:59 PM
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina
mengundang Bpk/ibu/Sdr/i untuk berpartipasi dalam:
DISKUSI SERIAL KAJIAN POLITIK, AGAMA, DAN KEBUDAYAAN
Tema: "Pemikiran Politik Islam di Dunia Sunni dan Syiah" Pembicara: 1) Nanang Tahqiq, MA (pakar Filsafat Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah) 2) M. Subhi-Ibrahim, M. Hum (Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina) Moderator: Misbahuddin (peneliti PSIK Universitas Paramadina) Waktu: Jumat, 16 Oktober 2009 Pukul 14.00-16.00 WIB Tempat: Rg. Granada, Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto Kav. 97 Mampang, Jakarta
Salam hangat, M.Subhi-Ibrahim Direktur Eksekutif PSIK Universitas Paramadina
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jl. Gatot
Subroto Kav. 97 Mampang, Jakarta 12790 Indonesia T.+ 62-21-7918-1188 (ext.138) F.+ 62-21-799-3375
This e-mail, and any file transmitted with it, is confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom it is addressed. If you have received this email in error, please
contact the sender and delete the email from your system. If you are not the named addressee you should not disseminate, distribute or copy this email.
Email ini, dan berkas yang dilampirkan bersamanya, adalah rahasia dan hanya dikirim kepada orang-orang atau entitas yang dituju oleh si pengirim email ini. Bila anda menerima email ini karena suatu galat, mohon segera hubungi pengirimnya dan hapus email ini dari sistem anda. Bila anda bukan termasuk orang yang dituju oleh si Pengirim email ini, anda tidak diperkenankan untuk menyebarluaskan, meneruskan atau menyalin isi dari email ini.
--- Pada Kam, 15/10/09, Mohammad Subhi <mohammad.subhi@...> menulis:
Dari: Mohammad Subhi <mohammad.subhi@...> Judul: undang diskusi PSIK- pemikiran politik Sunni dan Syiah Kepada: "milis" <milis@...>, tsanisubhie@... Tanggal: Kamis, 15 Oktober, 2009, 3:59 PM
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina
mengundang Bpk/ibu/Sdr/i untuk berpartipasi dalam:
Diskusi Serial
Kajian Agama, Politik dan Kebudayaan
Tema: "Pemikiran Politik Islam di Dunia Sunni dan Syiah" Pembicara: 1) Nanang Tahqiq, MA (pakar Filsafat Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah) 2) M. Subhi-Ibrahim, M. Hum (Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina) Moderator: Misbahuddin (peneliti PSIK Universitas Paramadina) Waktu: Pukul 14.00-16.00 WIB Tempat: Rg. Granada, Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto Kav. 97 Mampang, Jakarta
Salam hangat, M.Subhi-Ibrahim Direktur Eksekutif PSIK Universitas Paramadina
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto Kav. 97 Mampang, Jakarta 12790 Indonesia T.+ 62-21-7918-1188 (ext.138) F.+ 62-21-799-3375
This e-mail, and any file transmitted with it, is confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom it is addressed. If you have received this email in error, please contact the sender and delete the email from your system. If you are not the named addressee you should not disseminate, distribute or copy this email.
Email ini, dan berkas
yang dilampirkan bersamanya, adalah rahasia dan hanya dikirim kepada orang-orang atau entitas yang dituju oleh si pengirim email ini. Bila anda menerima email ini karena suatu galat, mohon segera hubungi pengirimnya dan hapus email ini dari sistem anda. Bila anda bukan termasuk orang yang dituju oleh si Pengirim email ini, anda tidak diperkenankan untuk menyebarluaskan, meneruskan atau menyalin isi dari email ini.
Kepada Yth: Bapak & Ibu YTH Hadirilah diskusi terbatas bersama pakar politik internasional dengan tema:
"DEMOCRACY & The World's Religion: Crafting The Twin Tolerations".
Bersama: Prof. Alfred Stepan
Ruang : Granada, pukul. 13.00 - selesai.
Hari : Selasa, 13 Oktober 2009.
Kami sangat senang bila Bapak dan Ibu dapat hadir pada acara tersebut.
Berikut CV yang bersangkutan:
Alfred C. Stepan is a comparative political scientist and Wallace S. Sayre Professor of Government at Columbia University, where he is also director of the Center for the Study of Democracy, Toleration and Religion.
Stepan
gained his PhD from Columbia University in 1969 and subsequently taught
at Yale University, before being appointed Dean of the School of
International and Public Affairs at Columbia in 1983. He became the first Rector of Central European University
in 1993 and in 1996 was appointed Gladstone Professor of Government at
All Souls College, Oxford University. He returned to Columbia
University in 1999.[1] He has been a Fellow of the American Academy of Arts and Sciences since 1991 and a member of the British Academy since 1997.[1]
He has authored and edited a large number of books, including "Arguing Comparative Politics", (Oxford University Press, 2001), and, co-authored with Juan Linz, Problems of Democratic Transition and Consolidation: Southern Europe, South
America, and Post Communist Europe, (Johns Hopkins University Press, 1996).
Kami mengundang Ibu/Bapak untuk hadir dalam diskusi terbatas (25
peserta) dengan Prof. Alfred Stepan (Columbia University), dengan tema
"Democracy & The World's Religions: Crafting The Twin Tolerations",
di Kampus Paramadina, Jl. Gatot Subroto Kav. 97 Mampang, Jakarta,
(Selasa, 13 Oktober, pukul 09.30 - 12.00), dilanjutkan dengan makan
siang. Konfirmasi silahkan hubungi Aan Rukmana (0812-1887988).
--- Pada Kam, 3/9/09, mohammad subhi <tsanisubhie@...> menulis:
Dari: mohammad subhi <tsanisubhie@...> Judul: undangan buka puasa dan diskusi transisi demokrasi di indonesia dan malaysia Kepada: isyraq@yahoogroups.com, "penulislepas" <penulislepas@yahoogroups.com>, "psik demokrasi" <psik-demokrasi@yahoogroups.com> Tanggal: Kamis, 3 September, 2009, 10:35 AM
Assalamu alaikum Wr Wb,
Dept. Falsafah & Agama Univ Paramadina, bekerja sama dengan PSIK Univ Paramadina, mengundang anda untuk menghadiri acara:
"Buka Puasa & Diskusi "Transisi Demokrasi di Indonesia & Malaysia"
Hari/Tanggal/Jam : Sabtu, 5 Sept 2009, Jam 16.00-19.00 Tempat : Ruang A1-10, Kampus Universitas Paramadina Jakarta Susunan Acara : (1). Diskusi "Transisi Demokrasi di Indonesia & Malaysia", Pembicara: Taufiqurrahman, Wartawan The Jakarta Post & Alumni Dept. of Political Science, Northern Illinois University/NIU, USA (2). Pemutaran Film Dokumenter "Urban Sufism Days 2009" & "20 Tahun Paramadina" (3) Buka puasa bersama (4) Ramah tamah
Kami menunggu kehadiran anda dan terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu alaikum Wr Wb,
Suratno Head of Philosophy & Religion Dept Paramadina University Jln Gatot SUbroto Kav. 97 Jakarta 12790 Indonesia Telp. 62-21-791881188, Fax.
62-21-7993375, HP. 62-8159075467 www.paramadina.ac.id, www.suratno77.multiply.com
KHAZANAH
HIKMAH RAMADHAN 1430 H... "ISLAM INDONESIA; SEJARAH, POSISI, KONTRIBUSI
DAN PROYEKSINYA UNTUK MASA DEPAN INDONESIA YANG LEBIH MAJU DAN
BERPERADABAN".
"KEBUDAYAAN ISLAM ITU BUKAN KEBUDAYAAN ARAB" Perkembangan
Islam di nusantara dengan segala keragaman dan budayanya, tidak bisa
dilepaskan dari konteks sejarah masuknya Islam di nusantara. Munculnya
Nahdhatul Ulama yang lebih akulturatif terhadap kebudayaan dan
Muhammadiyah yang puritan juga tidak bisa lepas dari konteks ini.
Tentang bagaimana Islam masuk ke nusantara dan perkembangannya.
Secara
kultural, Islam Indonesia berbeda dengan Islam yang ada di Timur
Tengah, juga dengan Islam yang ada di Afrika Utara dan Eropa, apa
karakteristik utamanya yang menyebabkan itu berbeda?
Karena
faktor-faktor historis perkembangan Islam Indonesia, di sisi lain
adalah masa yang berkembang, kemudian corak Islam yang berkembang yang
dibawa ke Indonesia pada permulaannya, di mana Islam hanya sebagai
proses informasi. Informasi itu kan melalui media juga bisa, melalui
dialog, atau juga bisa melalui intergrasi. Dari situ bisa terjadi
proses dengan sendirinya.
Di Indonesia itu pertamanya secara
mazhab fiqh, dalam mazhab orang-orang Syafi'i yang berbondong-bondong
pada abad ke tiga belas setelah perang Salib menaklukkan Mongol. Kenapa
kok mereka yang nongol? Orang-orang Sunni di Baghdad itu biasanya itu
selalu berkonflik dengan orang-orang Syiâah atau dengan pengikut
Hanafi. Dan ketika terjadi konflik, mereka berkumpul di Yaman. Dan
mereka itu selalu mengungsi ke Yaman, dan memang Yaman adalah pelabuhan
raja. Di mana mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Afrika dan Timur
Tengah.
Sedangkan mazhab Hanafi itu, kalau lari pasti ke Asia
Tengah. Sedangkan kalau Syi'ah, tentu saja tadi. Tentu saja kemudian,
di antara penganut-penganut itu bukan saja dari Arab Saudi, tetapi
orang-orang Arab, Turki, Persia, itu loh ya? Yang membawa kebudayaan
Turki, Persia. Untungnya itu kultur tertutupi. Oleh karena itu tidak
mengherankan jika pertumbuhan Islam di dunia Melayu sudah bercorak
intelektual? Itulah yang bisa dicatat dalam dimensi yang sangat kuat.
Itu yang sampai ke dunia Melayu.
Nah, di Dunia Melayu kebetulan
terjadi kekosongan kultur, setelah hancurnya kerajaan Sriwijaya yang
dihancurkan oleh Majapahit. Agama Budha sudah mati, disebarkan agama
Hindu, Islam juga berkembang, dalam pertarungannya dan kemudian
agama-agama tersebut akhirnya memeluk agama Islam.
Dan karena
agama Islam yang masuk itu melalui masyarakat penduduk luar? Para
pedagang-pedagang, dan itu tidak sulit bagi raja-raja Islam di
kepulauan Melayu. Maka terintegrasilah kebudayaan Melayu dengan Islam.
Sehingga tidak bisa dipisahkan antara Islam dengan Melayu. Seperti
tidak bisa memisahkan antara orang India dengan orang Hindu? Seperti
orang Thailand dengan orang Budha? Jadi seperti melekat begitu.
Dalam
Islam banyak sekali peradaban-peradaban yang masuk. Seperti India, ada
Arab Persia, Arab Turki, lalu apa sumbangannya terhadap Islam itu
sendiri?
Pertama, kalau bicara peradaban Islam dari segi
keterpelajarannya, tradisi keintelektualnya, yang meliputi penulisan
kitab kuningnya, keagamaan, dan kesusastraan. Kalau anda membaca
manuskrip-manuskrip yang ditulis dari abad ke-14 sampai ke-19, di dalam
bahasa Melayu terutama 99 lebih itu ditulis dalam bahasa Melayu. Di
dalam bahasa-bahasa nusantara lainnya juga seperti itu.
Dengan
datangnya Islam lewat Melayu, membuat tradisi intelektual juga
berkembang di kalangan-kalangan etnik-etnik yang bukan berbahasa Melayu
juga berkembang. Baik itu sastra Bugis, sastra Minangkabau, Madura, dan
lain-lain juga berkembang pesat pada saaat itu. Di waktu yang sama,
sastra Jawa saja yang berkembang, tidak terpusat pada lokasi.
Pola
yang kedua, pola ini lahir di Jawa. Di Jawa, Islam datang dari kalangan
bawah, terus menengah, tapi setelah Islam di peluk oleh masyarakat
banyak, di pedalaman itu masih meneruskan sistem legitimasi jaman
Majapahit. Yang pada saat kekuasaan jaman Majapahit Hindu dengan Islam
itu berbeda. Pola Hindu itukan raja mendapat legitimasi dari langit.
Sebagai suatu agama, ya sudah semestinya merakyat. Kulturnya juga
mempengaruhi, tetapi sebagai gerakan soaial politik, oposan Islam itu
dianggap sebagai sumber pembangkangan terhadap kekuasaan.
Di
dunia Melayu itu kan kolonial sekali, iya kan? Coba saja kamu tinggal
di wilayah Melayu dengan datangnya modernisasi, praktis kok? Konfliknya
tidak terlalu berjalan lama, kecuali di Aceh. Di Brunei, di Malaysia,
dan kerajaan-kerajaan Melayu. tetapi Islam menjadi gelisah ketika di
Aceh dan di Jawa. Karena ini berhadapan dengan kekuasaan feodal dan
juga kekuasaan kolonial. Itu benar-benar secara politik. Jumat, 4 September 2009 Tema diskusi : Kebudayaan Islam di Indonesia
pembicara: Prof. Dr. Abdul Hadi WM & Lukman Hakim MA...
Umat
muslim di Australia memang tergolong minoritas. Namun, hidup mereka
tetap bahagia dan penuh warna. Gambaran ini bisa tercermin dalam mini
seri dokumenter Halal Mate, yang ditayangkan di Discovery Channel.
Di
Australia, khususnya di Melbourne, umat Muslim hidup dalam sebuah
komunitas kecil dan seolah terpinggirkan. Meski begitu, mereka
menjalani rutinitas sehari-hari seperti tanpa beban. Mereka bisa aktif
dan bekerja di beberapa tempat dengan tetap memegang teguh ajaran
Islam. Potret kaum Muslim di Australia ini bisa terekam dalam Halal
Mate [HM], sebuah film televisi dokumenter produksi Rebel Films,
Australia. HM adalah mini seri yang terdiri dari empat episode dengan
cerita berbeda. Episode pertama bertajuk Afifa’s Match, episode 2: The
Brothahood, episode 3: Love Me Tender, dan episode 4: Changing Time.
Dalam
episode Afifa’s Match dikisahkan seorang pemain sepakbola perempuan
bernama Afifa Saad. Di sebuah liga, Afia menjadi pemain bintang.
Kegembiraannya dinobatkan sebagai pemain bintang tak melupakan rasa
syukurnya sebagai Muslimah. Bagi Afifa, sepakbola dan Islam adalah satu
keterpaduan yang sudah menjiwai hidupnya. Namun suatu kali, Afifa
bertemu Walid, lelaki asal Lebanon. Lelaki ini jatuh hati pada Afifa.
Kisah cinta ini mewarnai kehidupan Afifa sebagai pemain sepakbola dan
sebagai Muslimah yang taat.
Pada epidode The Brothahood,
diceritakan empat remaja Muslim yang menyiarkan nilai-nilai Islam lewat
musik rap. Lewat rap, mereka ingin mematahkan anggapan Muslim yang
dianggap konservatif.
Sedangkan dalam episode Love Me Tender,
ditampilkan sosok tukang daging bernama Houssam. Lelaki tambun ini
begitu serius mendalami Islam pada usia 32 tahun. Houssam berkenalan
dengan Asghar yang kebetulan jadi pembelinya. Kedua orang ini
sebenarnya pekerja sibuk, tapi mereka tak pernah meninggalkah shalat.
Dalam cerita ini Houssam dan Asghar sama-sama berjuang dengan tujuan
berbeda. Houssam berjuang ingin menurunkan berat badannya, sedangkan
Asghar berjuang untuk mendapatkan calon istri.
Sementara dalam
episode keempat, Changing Teams, dikisahkan seorang perempuan mualaf
bernama Margie. Sebelum memeluk Islam, Margie adalah seorang Katolik
keturunan Irlandia. Margie bisa masuk Islam setelah lama merasa
tergugah nila-nilai dalam ajaran Islam.
“Kami ingin
memperlihatkan sisi kehidupan Muslim di Australia secara utuh dan
sesuai dengan realitas sebenarnya. Lewat film ini, kami bisa
menggalinya lewat empat tokoh utama yang menjalani kehidupan secara
berbeda-beda,” ujar Claudia Role yang bekerja sama dengan David Batty
dalam urusan penyutradaraan.
Hal senada juga diakui Batty.
Menurutnya, HM sengaja dibuat dalam format dokumenter supaya umat
Muslim yang menonton film ini merasa terlibat dengan kehidupan
tokoh-tokoh di dalamnya. Sementara itu, produser HM, Jeni McMahon
mengatakan, HM harus dibuat karena kehidupan kaum Muslim di Australia
sedikit sekali yang masuk dalam pemberitaan media. Akibatnya, mereka
seperti malu-malu untuk menampakkan diri di depan umum.
Mini
seri 4 episode ini berdurasi 25 menit dan mengambil syuting di
Australia, Inggris, dan Lebanon. Selain ditayangkan di Discovery
Channel, HM disiarkan pula di ABC TV, dan juga stasiun televisi di Hong
Kong dan Singapura. Meski dengan format dokumenter, HM berhasil menarik
perhatian beberapa stasiun mancanegara karena kisahnya yang istimewa
dengan menggabungkan tema cinta, olahraga, pergaulan, dan keyakinan
beragama.
Hadirilah diskusi PSIK Universitas Paramadina dengan menghadirkan:
NARASUMBER: Mr. Steven Barraclough {Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Australia}
“Pola Integrasi Mayoritas dan Minoritas: Belajar dari Pengalaman Australia”
apakah Islam dan sastra compatible (sesuai)? pertanyaan ini muncul seolah-olah Islam dan sastra tidak ada relasinya. lihat saja, misalnya, reaksi umat islam terhadap cerpen "Langit Makin Mendung" karya kpanjikusmin yang diterbitkan majalah Sastra pada 1968 atau novelnya nazib mahfud, "aulad haratina" yang dianggap menghina Tuhan, Islam dan Nabi Muhammad SAW. dahsyatnya lagi, reaksi umat Islam terhadap novelnya salman rusdi, satanic verses (Ayat-ayat Setan), yang menghalalkan darah penulisnya. sejatinya kontroversi ini tidak perlu terjadi jika pendekatan yang digunakan adalah dengan disiplin kesusasteraan. ikuti diskusi yang akan mengupas tentang berbagai aspek teori dan kritik sastra Arab di Indonesia. Hadirilah
diskusi PSIK Universitas Paramadina dengan menghadirkan:
NARASUMBER:
PROF. DR. ABDUL HADI WM.
DR. SUKRON KAMIL
NANANG TAHQIQ, MA
TEMA BEDAH BUKU:
“TEORI KRITIK SASTRA ARAB KLASIK DAN MODERN”
WAKTU:
Rabu, 29 Juli 2009, Pukul 09.30 – 12.30 WIB
TEMPAT:
Ruang Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina
Rekrutmen PNS merupakan kerja
tahunan birokrasi untuk mengisi kekosongan jabatan di berbagai instansi
pemerintah. Tahun 2005 saja, pemerintah merekrut 300.000 CPNS untuk berbagai
formasi jabatan, dan sebagian besar (70 %) dari jumlah tersebut diperuntukan
bagi tenaga honorer. Sehingga pada tahun 2009 ini, seluruh tenaga honorer yang
diperkirakan mencapai 1,5 juta, diharapkan dapat diangkat menjadi PNS. Pertanyaannya,
apakah rekrutmen tersebut diadakan sesuai dengan kebutuhan? Apakah proses dapat
berjalan dengan fair? Seberapa baguskah jaminan kualitas dari proses rekrutmen
PNS ini untuk menopang kinerja birokrasi? Dan seberapa massif masyakarat
memiliki andil atau keterlibatan dalam proses rekrutmen tersebut? Hadirilah
diskusi PSIK Universitas Paramadina dengan menghadirkan:
PEMBICARA:
Irjen Pol Herman
S Sumawiredja
(mantan)
Kapolda Jatim
TEMA:
“Reformasi
Birokrasi di Indonesia: Antara Cita dan Fakta”
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Islam Iran dan Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Mengundang
Bapak/Ibu, Saudara/i untuk menghadiri:
SEMINAR DEMOKRASI DI NEGERI MUSLIM: PERBANDINGAN PEMILU DI IRAN DAN
INDONESIA
Pidato Pembuka: Anies R. Baswedan, Ph.D (Rektor Universitas Paramadina)
Keynote Speaker: Dr. Behrooz Kamalvandi (Duta Besar Republik Islam Iran)
Pembicara: Prof. Dr. Amir Ahmadi (Pakar Politik Iran, Tarbiat Modarest University, Iran) Bima Arya Sugiarto, Ph.D (Pengamat Politik Indonesia, Universitas Paramadina) Musa Kazim, S.Ag (Pengamat Sosial Keagamaan) Fahmi Salsabila, M.Si (Peneliti ISMES) Chery Augusta, S. Ip (Peneliti PSIK)
Moderator: Syafiq Basri Assegaf, MA
Waktu : Selasa, 23 Juni 2009, pukul 09.30-12.30 WIB Tempat: Aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina
M. Subhi-Ibrahim Direktur Eksekutif PSIK
============ ========= ========= ======= Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (Center for Islam and State Studies) Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto Kav. 97 Mampang, Jakarta 12790
Indonesia T. +62-21-7918- 1188 ext. 138 F. +62-21-799-3375 Contact Person: Lukman Hakim (081578757215)
This e-mail, and any file transmitted with it, is confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom it is addressed. If you have received this email in
error,
please contact the sender and delete the email from your system. If you are not the named addressee you should not disseminate, distribute or copy this email.
Email ini, dan berkas yang dilampirkan bersamanya, adalah rahasia dan hanya dikirim kepada orang-orang atau entitas yang dituju oleh si pengirim email ini. Bila anda menerima email ini karena suatu galat, mohon segera hubungi pengirimnya dan hapus email ini dari sistem anda. Bila anda bukan termasuk orang yang dituju oleh si Pengirim email ini, anda tidak diperkenankan untuk menyebarluaskan, meneruskan atau menyalin isi dari email ini.