Search the web
Sign In
New User? Sign Up
ppiindia · Milis Nasional Indonesia Internasional
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want your group to be featured on the Yahoo! Groups website? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Mengundang Investor Datang   Message List  
Reply | Forward Message #97351 of 97512 |
Refleksi : Dikatakan bahwa politik dan ekonomi negara saling terkait, kalau
terpisah, teristimewa pada negeri-negeri berekonomi lemah maka kemungkinan besar
negara tsb tak bertambah subur sebab keuntungan perusahaan asing akan akan
ditransfer ke luarnegeri ke negeri induk perusahaan, jadi tidak ada reinvestasi
keuntungan ke sektor atau bidang lain yang sangat dibutuhkan untuk mempertinggi
kehidupan rakyat berjalan pincang. Benarkah demikian?

Ayo jago-jago ekonomi silahkan jelaskan pada rakyat supaya mengerti dan tidak
keseleo kedalam jurang kesusahan hidup yang berkepanjangan. Mengundang tamu
harus bisa juga menuaskan kebutuhan tamu sebaik-baiknya.

Jawa Pos
[ Sabtu, 14 November 2009 ]

Mengundang Investor Datang


PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memanfaatkan betul waktu enam hari
lawatan ke luar negeri untuk menarik investor asing. Kunjungan dengan agenda
pokok menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Forum Kerja Sama Ekonomi
Negara-Negara Asia Pasifik (APEC) di Singapura itu diawali dengan kunjungan
kerja dua hari di Malaysia, 11-12 November. Baru pada Kamis seore (12/11), SBY
terbang ke Singapura untuk kunjungan kerja selama empat hari, 12-16 November.

Pada kunjungan di dua negara tetangga dan di sela-sela agenda KTT APEC, presiden
aktif mengadakan pertemuan bilateral dengan kepala negara tuan rumah serta
sejumlah kepala negara-pemerintahan anggota APEC yang lain, termasuk Presiden AS
Barack Obama.

Dengan bekal segepok data statistik tentang kondisi perekonomian termutakhir, di
Kuala Lumpur, Presiden SBY percaya diri menawarkan sejumlah proyek kerja sama,
antara lain, di bidang agrikultur, pabrik pupuk dan gula, serta industri
manufaktur. Sedangkan di Singapura, presiden ''membujuk'' pengusaha Negeri Singa
itu untuk menanamkan investasinya pada proyek infrastruktur, khususnya listrik.

Pada setiap forum dengan investor, tim presiden selalu memaparkan hebatnya
Indonesia karena termasuk segelintir negara yang tetap mencatat pertumbuhan
positif di tengah kontraksi ekonomi dunia tahun lalu. Tahun ini pun perekonomian
Indonesia diperkirakan masih tumbuh 4-4,5 persen. Citra Indonesia sebagai tujuan
aman investasi juga terpulihkan dengan keberhasilan Polri memberangus kelompok
teroris, bahkan membunuh gembong yang paling dicari, Noordin M.Top.

Sayang, apa yang ditunjukkan kepala negara itu bertolak belakang dengan apa yang
didengar dan dilihat para investor tersebut dari kabar yang datang dari
Indonesia. Dua kasus yang sangat berkaitan dengan kepentingan investor justru
sedang meledak. Pertama, soal perseturuan antara Polri dan KPK yang terus
membuka satu per satu busuknya mental aparat hukum dan yang kedua pemadaman
bergilir listrik yang melanda ibu kota dan meluas ke daerah-daerah di Jawa.

Pebisnis memiliki logika sendiri. Mereka lebih mengutamakan negara yang menjamin
dana yang mereka tanam terus bertambah. Mereka tidak menemukan hubungan data
cemerlangnya perekonomian Indonesia pada saat krisis seperti yang dipaparkan
Presiden SBY dengan pengelolaan pemerintahan yang baik serta bebas korupsi,
kolusi, dan nepotisme.

Kasus ''Cicak melawan Buaya" malah menunjukkan dengan gamblang bahwa wibawa
hukum masih merupakan barang yang sangat mahal. Pasokan listrik yang masih byar
pet di wilayah terpenting, ibu kota, menguatkan anggapan bahwa manajemen suplai
energi di daerah pasti lebih buruk.

Karena itu, tak heran bila setiap pulang dari lawatan ke luar negeri para
pemimpin berkoar berhasil meraih komitmen penanaman modal asing. Namun,
realisasinya masih sebatas mimpi. Sebab, mimpi itu tidak diiringi perbaikan
iklim investasi dalam negeri. Jangankan menarik investasi baru, membuat investor
betah saja tidak mampu. Kita memang membutuhkan kepandaian selain presentasi dan
mengumbar janji.

[Non-text portions of this message have been removed]




Mon Nov 16, 2009 12:59 am

ambon@...
Send Email Send Email

Forward
Message #97351 of 97512 |
Expand Messages Author Sort by Date

Refleksi : Dikatakan bahwa politik dan ekonomi negara saling terkait, kalau terpisah, teristimewa pada negeri-negeri berekonomi lemah maka kemungkinan besar...
sunny
ambon@...
Send Email
Nov 16, 2009
12:59 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help